Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
39. Kegelisahan Riyan


__ADS_3

Di kantornya, Riyan begitu gelisah setelah menghubungi Aina tadi. Niatnya hanya ingin melepas kangen yang entah tiba-tiba datang menguasai hatinya siang ini. Pikirannya kacau, berbagai pertanyaan muncul di benaknya.


Apakah Aina pacaran dengan laki-laki yang kemarin dia lihat bersama Aina. Dia mengatur napasnya sekaligus mengontrol emosinya, untung saja bertemu klien Wisnu pagi tadi. Kalau siang nanti sesudah makan siang, bisa kacau pikirannya.


Tidak fokus dengan presentasinya di depan klien. Besok dia akan menanyakan langsung pada Aina kalau sudah masuk kantor.


Tok-tok-tok...


"Masuk"


"Pak Riyan di panggil pak Wisnu ke ruangannya." kata Sesil OB di gedung kantor Wisnu.


"Ck! Kenapa ngga nelepon aja sih tuh orang." gumamnya kesal.


Lalu Riyan bangkit dari duduknya dan pergi ke lantai tujuh belas menemui Wisnu. Pikiran Riyan masih terpaku pada Aina, siapakah laki-laki yang bersamanya itu. Hingga dia sampai di kantor, dia tidak sadar karena memikirkan Aina.


Riyan mengetuk pintu ketika dia sadar sudah berada di depan pintu ruangan Wisnu. Kemudian dia langsung masuk ke dalam. Di kursi Wisnu sedang mengotak atik laptopnya. Riyan duduk di sofa dengan tangan di lipat di dadanya sambil menatap Wisnu tajam. Mulutnya masih terkatup rapat, setelah beberapa menit beralu akhirnya tidak tahan juga.


"Ada apa sih manggil gue? Ganggu aja!" kata Riyan kesal,


Yang di ajak bicara masih setia dengan laptopnya. Riyan mendengus kasar, lalu dia bangkit dan hendak keluar. Suara deheman Wisnu menghentikan langkah Riyan, dia berbalik dan menatap tajam pada sahabatnya itu. Kemudian kembali duduk di sofa.


"Cepat! Gue lagi kesel nih!" ucap Riyan dengan geram.


Wisnu tertawa dan pandangannya beralih ke sahabatnya itu yang sedang kesal. Dia baru tahu Riyan kesal dan bisa terlihat sikap kesalnya, biasanya tidak seketus itu jika sedang kesal.


"Sensi banget sih lho, seperti cewek lagi PMS aja." ledek Wisnu masih dengan tawanya.


Riyan mendengus kesal, dia benar-benar di kerjai sahabatnya. Lalu memejamkan matanya lalu menarik nafas panjang. Bukan saatnya dia kesal, tapi entah kenapa rasa kesal itu tidak juga hilang dari hatinya.


"Lo kenapa sih keliatannya lagi kesal banget. Perasaan tadi pagi baik-baik aja deh." tanya Wisnu penasaran,


Tadi pagi sahabatnya itu baik-baik saja, entah apa yang merasuki pikiran Riyan Wisnu tidak tahu. Riyan hanya diam, pikirannya kembali pada Aina. Dia menghela napas panjang untuk mengembalikan moodnya yang tadi kacau.


"Ada apa Lo memanggil gue?" tanya Riyan pelan, dia tidak lagi bicara ketus seperti tadi.


"Gue mau melamar Viola." jawab Wisnu sambil tersenyum.


Riyan menatap Wisnu tajam, dia kaget dengan rencana sahabatnya yang secara tiba-tiba itu.


"Lo yakin mau melamar dia?" tanya Riyan tidak percaya.

__ADS_1


"Yakinlah, gue masih cinta banget sama Viola." ucap Wisnu penuh semangat.


"Tapi Lo bilang, waktu Lo tidur dengan dia udah ngga virgin lagi." kata Riyan.


"Terus kenapa kalau dia ngga virgin lagi? Yang jelas gue masih cinta sama dia." bantah Wisnu sedikit tersinggung dengan ucapan Riyan.


"Ya ngga apa-apa sih, tapi kan Lo belum tahu secara keseluruhan dia kenapa menghilang dari Lo selama setahun itu. Masa Lo percaya begitu aja dengan ucapannya dia, belum lagi cara dia mendekato Lo seperti itu. Menurutku aneh."ucap Riyan, Wisnu terdiam. Entah dia berpikir dengan ucapan Riyan atau tidak


Sedangkan Riyan tidak menyangka sahabatnya begitu percaya dengan ucapan Viola tanpa di selidiki dulu. Bahkan dia curiga Viola datang tiba-tiba, bahkan memginap di apartemennya. Sampai Wisnu melakukan di luar kendalinya.


"Paling ngga, Lo selidiki dulu. Lagi pula belum tentu kan dia masih cinta sama Lo, mungkin aja cuma manfaatin Lo doang." ujar Riyan lagi.


"Gue takutnya dia hamil, bro."


"Hahah! Hamil? Iya kalau hamil anak Lo tinggal tanggung jawab. Tapi kalau dia memang hamil dan bukan anak Lo, terus Lo tetap mau tanggung jawab begitu?" tanya Riyan.


Wisnu diam, dia berpikir lagi. Ada benarnya juga pendapat Riyan. Bahkan bisa saja dia hamil anak orang lain, tapi nanti yang di suruh tanggung jawab dirinya.


"Lagi pula, om Hutama mau ngga punya menantu Viola? Sudah meninggalkan kamu tanpa kabar, sekarang kembali lagi." kata Riyan lagi.


"Viola ngga minta kembali sih sama gue."


"Terus gue harus gimana?"


"Ya selidiki dulu dia, motifnya apa deketin Lo lagi. Gue sih tetap curiga sama tuh cewek."


"Bantuin gue dong buat selidiki dia."


"Males banget, kayak ngga ada kerjaan aja gue suruh selidiki cewek itu. Lo tuh punya duit, suruh lah orang selidikin dia. Hadeeh, kenapa sahabat gue jadi beggo gini sih?" ucap Riyan kesal, Wisnu mendengus sebal. Dari tadi sahabatnya itu mengatakan beggo terus padanya.


"Sialan lo!"


"Udah sih, gue mau pulang. Suntuk gue di sini terus." ucap Riyan sambil bangkit dari duduk dan keluar dari ruangan Wisnu.


Sejak keluar dari kantor Wisnu, Riyan masih saja memikirkan Aina. Hari ini katanya berangkat ke Jakarta, besok dia sudah masuk kantor.


"Apa aku telepon Aina lagi aja ya." gumamnya.


Baru beberapa menit, dia memikirkan Aina. Ponselnya berdering nyaring, dia ambil ponsel yang di letakkan di dasboard mobil. Dia melihat di layar nama Arif, pegawai di restoran miliknya.


"Ada apa Rif?" tanya Riyan serius. Karena tidak biasanya Arif menelepon jika dia ada di kantor Wisnu.

__ADS_1


"Maaf pak, salah sambung. Saya kira sambungan ke ibu saya, maaf" kata Arif takut-takut di seberang sana.


"Haish! Kamu tuh ada-ada aja. Ya sudah, saya tutup!" ucap Riyan kesal.


Sejak tadi dia gelisah, di kira telepon penting malah salah sambung. Setelah setengah jam perjalanan, mobil Riyan sampai di parkiran apartemen yang dia tempati. Dia keluar dari mobil dan menuju lobi dan langsung masuk ke dalam lift, lalu memencet tombol angka yang menuju unit apartemennya.


Tiga menit dia sampai pada unit yang dia tuju, kemudian pintu lift terbuka dan Riyan langsung menuju apartemennya dan langsung masuk setelah kode dia pencet. Riyan masuk kamar dan membuka jasnya. Dia hendak mandi dan beristirahat sebentar dan langsung pergi lagi untuk mengunjungi restoran yang di Kemang.


_


Sore ini Aina berangkat dengan kereta api Cirebon ekspres. Dia harus sampai di Jakarta sebelum jam sepuluh malam, karena jam segitu taksi atau ojol sudah mulai sepi. Sehingga dia harus berangkat sore ini.


Iseng-iseng Aina mengaplod Poto di status wasthapnya yang sedang menunggu kereta berangkat. Senyum manis di Poto membuat satu pesan berbunyi di ponselnya. Aina membuka pesan itu dan membacanya, dia tersenyum siapa yang mengiriminya pesan.


'Jam berapa sampai stasiun?' kira-kira begitu pesan yang di baca Aina di washtap.


'Jam sembilan sampe stasiun.' begitu balas Aina.


'Oke, aku jemput.'


'Iya, terima kasih sebelumnya.'


Lalu Aina memasukkan kembali ponselnya dalam tas, tak lupa dia atur musik di headsetnya.


Tepat jam sembilan malam, Aina sampai di stasiun Gambir. Dia keluar dari gerbong kereta dan langsung keluar dari peron langsung menuju pintu keluar. Aina menunggu jemputan di depan pintu keluar, dia celingak celinguk mencari sosok yang akan menjemputnya.


Tujuh menit Aina menunggu, akhirnya datang juga orang yang menjemputnya yang tak lain adalah Riyan. Aina melambaikan tangan dan tersenyum kearah Riyan yang sedang menoleh ke kanan kiri mencarinya.


Riyan menghampiri Aina dan langsung mengambil koper yang Aina bawa. Aina merasa tidak enak dengan perlakuan Riyan padanya.


"Mas Riyan, terima kasih ya udah jemput dan bawa koperku juga."ucap Aina tulus.


"Aku sengaja jemput kamu. Ini udah malam, kalau kamu naik taksi takutnya di sasar sama sopirnya entah kemana. Kamu itu perempuan, takut nanti di apa-apakan."


Lalu mereka pergi meninggalkan stasiun menuju mobil Riyan. Dalam mobil keduanya masih saling diam, tidak ada yang berani bicara. Aina pun hanya melirik ke arah Riyan yang diam tanpa mau bicara. Jadi Aina pun tidak berani bicara lebih dulu.


_


_


*******************

__ADS_1


__ADS_2