Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
41. Bertemu Anto


__ADS_3

Hari ini Aina berangkat lebih pagi, karena dia tahu selama di tinggal cuti tiga hari kerjaan numpuk. Riyan yang menggantikannya menemani Wisnu bertemu klien tidak bisa menggantikan kerjaan Aina sepenuhnya.


Pukul tujuh tiga puluh Wisnu sampai di kantor, dia merasa senang Aina menepati janjinya hanya cuti tiga hari.


"Selamat pagi pak Wisnu." sapa Aina sambil menundukkan kepalanya.


"Pagi juga, Aina. Tolong buatkan kopi,bawa ke ruangan ku." kata Wisnu, lalu masuk ke ruangannya.


Aina pun langsung menuju pantry membuat kopi yang Wisnu minta. Setelah selesai, Aina langsung memberikan kopi bosnya itu.


"Ini kopinya pak Wisnu." ucap Aina menyodorkan segelas kopi di depan Wisnu.


"Aina, hari ini kita akan bertemu klien lagi di restoran." kata Wisnu sebelum Aina pergi.


"Baik pak." jawab Aina lalu keluar dari ruangan Wisnu.


Sesuai jadwal tadi pagi, pukul sepuluh Wisnu dan Aina bertemu klien yang sudah di jadwalkan hari ini.


"Kata sekretarisnya, pak direktur tidak ikut meeting dengan kita, tapi dia mengutus asistennya saja." ucap Aina setelah mereka sampai di restoran yang sudah di sepakati.


"Oya? Baiklah, semoga asistennya itu bisa di andalkan dalam meeting kali ini." jawab Wisnu.


"Ini kan restoran mas Riyan" gumam Aina yang di dengar oleh Wisnu.


"Iya, ini restoran Riyan. Kamu ternyata sudah begitu dekat dengan Riyan, sampai panggilan pun berubah." Wisnu menjawab dengan heran.


Aina diam tertunduk, dia sedikit malu dengan ucapannya. Ternyata bosnya mendengar apa yang dia ucapkan. Lalu mereka mencari meja yang sudah di reservasi sebelumnya. Pelayan menunjuk meja yang sudah di pesan, dan terlihat seorang sedang duduk membelakangi dengan kepala agak menunduk. Fokus pada laptopnya.


Wisnu dan Aina menghampiri laki-laki itu dan menyapanya.


"Selamat siang, apa anda perwakilan dari PT Pramana Corps?" tanya Wisnu.


Laki-laki itu pun mendongak ke atas dan langsung menyalami Wisnu dan memperkenalkan diri. Dia tersenyum senang.


"Selamat siang pak Wisnu, benar saya dari Pramana Corps. Kenalkan, saya Anto Wijaya. Asisten dari pak direktur Budi Gunawan." ucap Anto dengan senyum ramahnya.


Di belakang Wisnu, Aina terkejut dan diam terpaku. Wajahnya pucat dan hanya bisa menunduk menyembunyikan wajahnya, tidak berani menatap ke depan. Jantungnya berdetak lebih cepat, dia tidak menyangka akan bertemu dengan masa lalu yang menyakitkan itu.


Anto melirik seseorang yang di belakang laki-laki di depannya, dan kembali menatap Wisnu sambil bertanya.


"Apa anda tidak memperkenalkan sekretaris anda pak Wisnu?" tanya Anto.


Wisnu tersenyum, lalu dia bergeser dan mempersilakan Aina menyapa dan memperkenalkan diri. Dengan ragu Aina mengangkat wajahnya dan menyalami Anto. Wajah Anto berubah, yang sedari tadi tersenyum ramah, kini dia terlihat tegang.


Beberapa detik kemudian, dia kembali tersenyum dan mengulurkan tangan. Menyambut tangan Aina yg terlihat bergetar. Dia senang bisa bertemu Aina kembali setelah sekian lama tidak pernah bertemu dan tanpa memberi kabar sejak lulus SMA dulu.


"Saya sudah mengenal Aina, pak Wisnu." ucap Anto masih dengan senyumnya setelah uluran tangan Anto dan Aina lepas.


Tanpa di duga, Anto mengatakan bahwa dia sudah kenal dengan Aina. Wisnu menatap Aina, mencari kepastian. Yang di tatap pun hanya bisa mengangguk pasrah.


"Ya sudah, untuk bernostalgianya lain kali saja, kita lanjut dengan urusan kerjaan. Aina, bisa kamu jelaskan pada pak Anto dengan baik proposal kerja samanya?" titah Wisnu dengan santai.


Aina menatap Wisnu ragu, lalu dia mengangguk. Mau tidak mau dia harus menjelaskan, karena itu perintah. Anto begitu senang bisa bertemu Aina lagi, apa lagi sekarang Aina yang menjelaskan semua proposal kerja samanya. Jadi dia lebih leluasa memandang Aina yang berbeda dari yang dulu.

__ADS_1


Satu jam mereka membicarakan kerjasama,belum ada kesepakatan yang jelas. Aina sudah tidak sabar untuk kembali ke kantor,dia tidak suka dengan situasi di mana Anto selalu mencuri pandang di sela meetingnya. Hatinya gelisah, jam yang melingkar di tangannya terus saja jadi perhatiannya.


Sesekali dia menenggak sisa air minum di gelas. Akhirnya, obrolan yang begitu panjang selesai juga. Akhirnha Aina merasa lega, dia agak risih juga dengan Anto yang selalu melirik padanya.


"Aina, nanti catat ya yang harus di perbaiki, lalu di cetak lagi dan kirim ke kantornya pak Anto." ucap Wisnu pada Aina.


"Baik pak." jawab Aina singkat. Lalu dia merapikan laptop dan berkas yang tadi di bawanya.


"Pak Wisnu, ini waktunya jam makan siang. Apa boleh saya pinjam sekretaris bapak dulu sebentar?" tanya Anto pada rekan bisnisnya.


Wisnu menatap Aina, lalu beralih ke Anto lagi. Winsu hanya memastikan Aina pulang ke kantor tepat waktu dan tidak akan bernostalgia di waktu yang salah.


"Pak Wisnu tenang saja, saya akan mengantar Aina sebelum jam makan siang selesai." kata Anto lagi berharap Wisnu mengijinkan sekertarisnya ikut dengannya.


Yang di ajak malah terkejut, berharap Wisnu tidak mengijinkannya. Tapi harapan Aina pupus, setelah Wisnu mengangguk.


"Boleh, asal nanti jam satu sudah ada di kantor." jawab wisnu.


Aina duduk lemas, dia mendesah kesal. Dia tidak tertarik jika Anto membicarakan masa lalu lagi. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada alasan untuk menghindar dari Anto. Karena dia sebenarnya ingin menemui seseorang di restoran ini, jika ada orangnya.


Anto tersenyum senang, lalu Wisnu pergi meninggalkan Anto dan Aina. Sambil berjalan meninggalkan Aina dan Anto berdua, Wisnu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, entah itu siapa. Aina hanya memandangi Wisnu yang begitu cuek meninggalkannya.


Lima menit, Aina dan Anto masih diam. Tidak ada pembicaraan, hanya pandangan Anto yang tidak bisa lepas dari Aina yang sejak tadi menikmati makanan yang sudah mereka pesan sejak tadi. Aina benar-benar lapar, dia tidak peduli Anto yang sejak tadi hanya menatapnya.


Setelah makan selasai, nanti akan menanyakan maksud Anto tersebut, pikir Aina. Setelah selesai makan, belum ada suara dari Anto. Aina hanya mendesah,,di liriknya jam di tangan. Sudah lima belas menit dia menunggu, kesabarannya sudah habis. Lalu dia menatap Anto, Anto tertunduk.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Aina dengan kesal.


"Aku minta maaf, dulu aku salah percaya begitu saja. Hingga aku memutuskan hubungan persahabatan kita. Kamu benar, Reni hanya mempermainkanku saja. Hingga kita lulus, dia bilang semuanya, jika dia hanya berniat memisahkan kita saja waktu itu." Aina masih mendengarkan.


Sejujurnya dia juga merasa bersalah karena menghindar setelah Anto ke rumahnya. Setelah beberapa Minggu lulus sekolah untuk minta maaf. Hatinya begitu sakit kala itu, sehingga dia selalu menghindar jika Anto ke rumahnya.


"Ai, apa kamu mau memaafkan aku?" tanya Anto.


Lama Aina diam, kasihan juga Anto pikirnya. Aina melihat ketulusan di mata Anto.


"Iya, aku memaafkanmu sudah lama. Dan jangan ungkit lagi masalah yang lalu, itu sudah selesai bagiku." jawab Aina penuh penekanan.


"Jadi, bisakah kita bersahabat lagi seperti dulu?" tanya Anto bersemangat.


"Aku ngga bisa, cukup waktu itu saja kamu jadi sahabatku. Dan..." belum selesai Aina berucap, dari belakang suara seseorang menyapanya.


"Aina, kamu sedanv apa?" tanya laki-laki yang baru saja datang.


Aina mendongak melihat orang yang menyapanya. Dia terkejut, Riyan sudah berdiri di sampingnya yang sedang menatap Aina dan bergantian menatap Anto. Wajahnya terlihat tidak suka, dengan kedekatan Aina dengan laki-laki di depan Aina.


"Mas Riyan, ada di sini? Kapan datang?" Aina malah balik tanya. Yang di tanya masih menatap Anto dengan tatapan dingin.


"Kamu sama siapa, Ai?" Riyan tidak menggubris pertanyaan Aina dan melirik Anto dengan sinis.


"Saya Anto, sahabatnya Aina." jawab Anto dengan cueknya. Riyan masih menatap kesal.


"Anda siapa ya?" tanya Anto lagi ketika Riyan diam saja dirinya memperkenalkan diri.

__ADS_1


Aina buru-buru bangkit dari duduknya, dia tahu posisi seperti ini tidak enak. Maka dari itu dia harus segera pergi dan menyudahi ketegangan yang di ciptakan Riyan. Seolah dia adalah seseorang penting bagi Riyan pikir Aina. Ups!


"Anto, maaf saya harus ke kantor dulu. Waktu makan siang sudah habis, lagi pula ini sudah jam satu lewat,,nanti saya di marahi pak Wisnu." kilah Aina. Dia hendak pergi, tapi tangan Aina di tahan Anto.


"Tunggu, biar aku antar kamu ke kantor." ucap Anto.


Laki-laki di samping Aina terkejut dan kesal, dia langsung melepas paksa tangan Aina yang di pegang Anto.


"Biar Aina saya yang antar, anda tidak tahu kantor Aina." kata Riyan dingin.


Tak membuang kesempatan, Riyan langsung menarik tangan Aina untuk pergi dari restoran dan mengantar Aina ke kantor. Aina bingung dengan sikap Riyan baru saja, sedikit takut Aina dengan sikap Riyan yang terlihat posesif padanya. Tanpa bertanya dan pamit pada Anto,Aina mengikuti kemauan Riyan.


****


Dalam perjalanan,baik Aina maupun Riyan tidak ada yang duluan berbicara. Suasana tegang tercipta ketika Riyan diam dan tak menoleh ke arah Aina. Wajah dinginnya masih tampaklah jelas terlihat, membuat Aina serba salah. Aina memberanikan diri bertanya, walau hatinya takut.


"Mas Riyan, kok tadi bisa ada di sana?" tanya Aina ragu.


"Aku tadi berkunjung ke restoranku, tapi lihat kamu sama cowok lain jadi penasaran." jawab Riyan tanpa menoleh ke arah Aina.


Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, wajah dinginnya berubah menjadi tenang kembali. Menarik nafas panjang dan melihat ke arah Aina yang masih merasa takut padanya.


"Laki-laki itu siapa kamu, Ai?" tanya Riyan tiba-tiba.


"Hah?" ucap Aina kaget, dia bingung karena sejak tadi melamun.


"Pacar kamu?" tanya Riyan lagi.


"Bukan, dia dulu sahabatku waktu SMA dulu." jawab Aina cepat, dia tidak mau Riyan salah paham.


"Oh."


Hanya itu yang di ucapkan Riyan. Aina sedikit kecewa dengan jawaban singkat Riyan, hanya kata pendek tanggapan Riyan. Keduanya kembalu diam.


"Sudah sampai, kamu langsung masuk kantor aja, aku nggak masuk kantor di kantor Wisnu hari ini." kata Riyan masih bersikap dingin pada Aina.


"Mas Riyan mau ke restoran lagi?"


"Nggak, hanya ada urusan mendesak di Bogor. Ya udah, aku pergi dulu ya." ucap Riyan.


"Iya mas, terima kasih mengantarku ke kantor lagi." ucap Aina.


"Hmm." jawaban singkat Riyan.


Dia langsung melajukan mobilnya setelah menurunkan Aina di depan gerbang kantor Wisnu. Aina hanya terpaku dengan jawaban Riyan tadi. Dia bingung dengan sikap Riyan sejak dari restoran tadi dan sekarang. Ada yang aneh dengan mas Riyan, pikir Aina.


Lalu dia masuk ke gedung kantor tempatnya bekerja itu, Aina tidak mau pusing dengan kejadian beberapa jam tadi. Yang akan di lakukan adalah bekerja dengan baik. Tidak peduli dengan sikap Riyan dan juga bertemu masa lalunya, Anto.


_


_


******************

__ADS_1


__ADS_2