
Sementara itu, di kamar Aina. Sepasang pengantin baru masih mengobrol setelah ada gangguan telepon dari Wisnu.
"Mas Riyan kok gitu sih, malu tahu mas."
"Biarkan aja, siapa suruh ganggu tidur aku. Sini sayang, aku belum puas cium-cium kamu." kata Riyan menarik tangan Aina.
"Ish, ngga mau!"
"Dosa lho menolak ajakan suami." ucap Riyan.
Aina diam, dia menatap suaminya. Lalu dia mendekati Riyan yang masih senyum penuh kemenangan. Riyan kembali mencumbu bibir Aina dengan lembut, rasa bahagianya telah menikah dengan Aina membuat hatinya semakin membuncah. Aina pun membalas ciuman Riyan yang lembut itu.
"Nah gitu dong, istri yang baik harus menurut sama suami." kata Riyan melepas ciumannya pada Aina.
Sebenarnya Aina masih grogi dengan perlakuan Riyan padanya, karena dia sama sekali belum pengalaman. Riyan kembali akan mencium Aina, tapi Aina mendorongnya pelan.
"Nanti kebablasan mas, aku kan lagi dapat." ucap Aina mengingatkan Riyan
"Aku tahu sayang, cuma cium aja ngga lebih. Mana bisa aku melakukan itu." ucap Riyan menatap Aina lembut, dan Aina pun kembali tersenyum. Keduanya kembali memagutkan bibirnya, tangan Riyan mencoba meraba bagian dada Aina dan menekannya cepat. Membuat Aina terkejut.
"Mas Riyan!"
"Heheh."
Aina cemberut, kemudian dia berbaring di kasur. Riyan pun mengikuti Aina berbaring, mereka saling menatap. Riyan membelai wajah Aina dengan lembut, lalu mengecup kening Aina.
"Oya, mas. Nanti resepsinya di Jakarta?" tanya Aina mengalihkan pembicaraan, dia malu Riyan menatapnya begitu penuh cinta. Pipinya merona.
"Aina Saraswati." ucap Riyan tanpa menjawab pertanyaan istrinya.
"Ya?"
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." ucap Riyan penuh perasaan, membuat Aina semakin merona lalu wajahnya dia sembunyikan di dada Riyan karena malu.
"Aku juga mencintai mas Riyan." ucap Aina tidak berani menatap Riyan.
"Tatap mataku sayang, aku ingin melihat dari matamu ungkapan cintamu." kata Riyan menarik dagu Aina untuk menatapnya.
"Coba katakan sekali lagi."
"Kan sudah tadi."
"Katakan sambil menatapku, seperti apa yang aku lakukan. Aku akan semakin yakin jika kamu mengatakannya dengan menatapku." kata Riyan menatap Aina lebih dalam.
__ADS_1
Sejenak Aina menatap Riyan, pipinya merona. Namun dia pun akhirnya beranikan diri menyatakan cinta dengan menatap Riyan lebih dalam.
"Aku mencintai mas Riyan, sangat." kata Aina, lalu dia kembali menyembunyikan wajahnya di dada Riyan.
Riyan tersenyum, dia lalu memeluk Aina dengan erat. Rasa bahagia karena perasaannya dan perasaan Aina sama. Mencintai satu sama lain.
"Mas, acara resepsinya di Jakarta kan?" tanya Aina.
"Iya, kan sudah di bicarakan sama ayah dan mama papa. Satu bulan lagi resepsinya di adakan." kata Riyan yang masih memeluk erat istrinya.
Mereka pun kini kembali memejamkan mata, untuk beristirahat. Karena besok harus berangkat lagi ke Jakarta. Dalam pelukan itu, degup jantung keduanya berdetak kencang. Membuat mereka membuka matanya dan saling menatap.
Tanpa membuang peluang, Riyan kembali mencium bibir Aina. Riyan langsung Melu*at bibir Aina dengan rakus. Awalnya pelan, namun lama kelamaan jadi lebih bergairah. Sesuatu di balik celana sudah mengeras. Tapi Riyan terus saja mencium bibir Aina dengan rakus,hingga Aina kehabisan napas.
Aina mendorong dada Riyan, Riyan tetap saja masih menekan tengkuknya. Baru setelah Aina benar-benar kehabisan napas, Riyan menyudahi ciumannya. Dia tersenyum melihat Aina yang menarik nafas banyak-banyak karena ulahnya.
Riyan menyelipkan rambut Aina di balik telinga. Lalu mengecup bibir Aina lagi.
"Tidur lagi yuk, besok kita siap-siap berangkat ke Jakarta." kata Riyan.
"Kok cepat banget?"tanya Aina manja. Riyan mencubit hidung Aina, dia gemas dengan wajah cemberut Aina.
"Mau lagi?" ucap Riyan.
Langsung Riyan kembali melu*at bibir Aina lagi. Aina terus memukul-mukul dada Riyan.R iyan tertawa melihat wajah cemberut istrinya itu.
"Mas Riyan, katanya mau tidur."ucap Aina.
"Katanya mau lagi?" Riyan masih menggoda Aina.
"Siapa yang mau lagi?"
"Hahah! Ya udab, ayo kita tidur lagi. Sudah malam."
Lalu dia menarik tubuh Aina ke dalam pelukannya dan berbaring bersama. Aina menurut saja, dia memang sudah nyaman dengan pelukan suaminya itu.
"Maksudnya, kenapa di rumahnya bentar banget. Masa harus balik lagi ke Jakarta." kata Aina.
"Kamu kan sudah mengajukan cuti waktu pernikahan adikmu, ngga bisa mengambil cuti lagi.Jadi hari Senin harus masuk kantor. Katanya Wisnu mau ketemu klien hari Senin. Lagi pula nanti aku mau bicara penting sama dia" kata Riyan.
"Ya udah. Besok berangkat jam berapa?" tanya Aina.
"Siang aja, biar nanti kalau sampai langsung ke kosan kamu, mengambil baju-baju dan yang berkas penting kamu di bawa ke apartemenku."
__ADS_1
"Harus cepat pindah ya?" tanya Aina polos.
"Ya iya sayang, kamu itu udah jadi istri aku. Jadi harus cepat pindah dari kosan kamu. Memang mau di kosan aja?"
"Ya ngga sih. Heheh."
"Terus, kenapa protes?"
Aina hanya menampilkan giginya yang rapi itu. Riyan jadi gemas dengan wajah manis di depannya itu. Riyan mengecup bibir Aina sekilas.
"Biasanya berapa lama kalau lagi dapat?"
"Bisa lima hari, bisa enam hari." jawab Aina sambil mengeratkan pelukannya.
"Kok lama sih?"
"Iya, biasanya segitu. Kadang tujuh hari, kalo lelah bisa sampai sepuluh hari." senyum jail Aina mengembang.
"Hah?,Lama bener. Memang ngga bisa dua hari aja?" jawab Riyan.
"Ya ngga bisa mas. Memang siklusnya segitu, enam hari atau tujuh hari. Ngga bisa di tawar-tawar." masih merasa lucu dengan ucapan Riyan. Riyan hanya mendesah berat.
"Sabar ya."
"Tapi kalau cium-cium sama pegang ini sih ngga apa-apa kan?" tangan Riyan merem*s dada Aina kuat.
"Aw, sakit ih. Mas Riyan iseng banget deh." rajuk Aina kesal pada suaminya itu.
"Ngga apa-apa, biar tambah besar kalau sering di rem*s begini" jawab Riyan santai, tangannya masih merem*s buah dadanya.
"Tapi jangan keras-keras juga, sakit tahu!"
"Kalau pelan ngga apa-apa ya."
"Mas, tidur. Kalau begini terus aku ngga mau tanggungjawab ya adikmu itu berontak.".ucapan Aina membuat Riyan berhenti merem*s dadanya. Lalu mengecup bibir Aina.
"Yuk kita tidur."
Lalu keduanya memejamkan mata, pelukan mereka makin erat. Meski sedikit tersiksa di bagian bawahnya, namun dia bisa menahannya sampai pagi. Tapi dia tidak mau melepas pelukannya pada Aina. Malam makin larut, dua sejoli itu hanya bisa menikmati keromantisan hanya dengan berpelukan saja.
_
_
__ADS_1
**********************