
Pagi-pagi sekali Aina bangun, dia langsung ke kamar mandi untuk sikat gigi dan berwudhu. Jam menunjukkan pukul setengah lima, Aina menunaikan sholat subuh sebelum membantu ibu di dapur.
Sebelum ke dapur, Aina memeriksa ponselnya. Di aplikasi WhatsApp sebuah pesan terkirim dari orang yang sejak kemarin di tunggunya. Aina tersenyum, kemudian membuka pesan tersebut. Tiga panggilan tak terjawab dan beberapa pesan belum Aina buka.
'Nyampe rumah jam berapa?'
'Maaf ya,baru sempat kirim pesan. Soalnya lagi sibuk banget.'
'Ko ngga di jawab?'
'Udah tidur ya?'
'Ya udah, selamat tidur ya, mimpi indah ...'
Begitu rentetan pesan yang di kirim Riyan tadi malam. Kembali Aina tersenyum, lalu dia menjawab satu persatu pertanyaan pesan Riyan. Setelah selesai, dia keluar menuju dapur. Saat ini hatinya senang. Senyum di bibirnya tak pernah berhenti, hingga membuat ibu Erni keheranan dengan tingkah anaknya.
"Kelihatannya lagi ada yang senang nih, pagi-pagi udah senyum-senyum aja." goda ibu Erni pada Aina.
Yang di goda jadi tersipu-sipu, dia kembali tersenyum. Lalu mengambil pisau untuk membantu mengiris bawang membantu ibunya. Senyuman Aina menghilang seiring ibunya terus memperhatikan wajahnya.
"Memang lagi senang Bu, kan pagi-pagi Aina bisa masak bareng ibu seperti dulu lagi. Rasanya menyenangkan bisa bantu ibu di dapur." kilah Aina.
"Yang benar? Tapi bukan karena pagi-pagi di telepon sama pacar." selidik ibu Erni dengan senyum godaannya.
"Ngga Bu, Aina belum punya pacar. Siapa yang mau sama Aina yang kaku begini." kata Aina.
"Banyak Ai, contohnya si Aldo tuh. Dia kelihatannya suka sama kamu." kata ibu Erni.
"Aldo cuma teman aja, Bu. Ngga lebih." Hati Aina jadi rusak mood-nya gara-gara ibu Erni membahas Aldo.
Tiba-tiba Jhody menghampiri ibu Erni dan Aina di dapur masih dalam muka bangun tidur, mulutnya menguap. Aina menepuk pipi Jhody.
"Ish, kamu itu jorok banget sih! Sana sikat gigi dan sholat subuh." kata ibu Erni memarahi anak bungsunya itu.
"Kak Aina, nanti siang jadi kan jalan-jalannya?" tanya Jhody tidak menghiraukan omongan ibunya.
"Iya. Sudah sana sikat gigi, bau mulut kamu dan sholat dulu." kata Aina.
"Sholatnya di masjid Jhody." ujar ibu Erni.
"Lagi males Bu, di kamar aja." jawab Jhody sambil berlalu dari dapur.
"Kamu itu laki-laki Jhody, sholat di masjid." tapi dasar Jhody, dia terus saja masuk kamar.
Aina dan ibu Erni hanya geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan anaknya itu. Mereka meneruskan memasak makanan kesukaan Aina dan yang lainnya.
_
"Kak, kita kemana dulu?" tanya Jhody pada Aina.
"Ke mall aja, lalu makan siang di rumah makan nasi jamblang." jawab Aina.
Matanya fokus ke arah depan. Siang ini jalanan tidak terlalu ramai, Aina lebih leluasa mengendarai motor metiknya. Matanya sesekali menatap beberapa pedagang di pinggir jalan.
"Kenapa ngga minta antar mang Yanto aja sih kak, kan panas kalau naik motor." ucap Jhody lagi.
__ADS_1
"Enakan pakai motor, bisa menyalip kalau lagi padat. Terutama di pintu rel kereta kalau habis lewat kereta ,pasti padat dan macet." kata Aina.
"Tapi kan panas kak, mana lagi asap kendaraan." ucap Jhody lagi.
"Udah deh jangan bawel, tinggal ikut dan duduk aja kok rewel banget sih. Konsentrasi kakak jadi buyar nih kamu ajak ngobrol terus." omel Aina.
Akhirnya Jhody diam, tapi mulutnya masih tetap cemberut. Jhody lebih manja pada Aina di banding dengan ibunya, karena ibunya akan langsung memarahinya jika mulut cerewetnya keluar.
Mereka pun sampai di sebuah mall terbesar, lalu Aina memarkirkan motornya. Sedangkan Jhody menunggu di pos satpam. Setelah memarkirkan motor, Aina dan Jhody langsung masuk ke mall. Mereka jalan-jalan melewati beberapa outlet-outlet.
Jika ada sesuatu yang menarik, mereka langsung mampir dan membeli barang yang di sukainya. Memilih untuk di beli dan sebagai aksesoris saja. Seperti gantungan kunci berbentuk huruf, terlihat lucu bagi Aina.
"Kak, kita ke tempat baju ya?" ucap Jhody.
"Mau apa? Kemarin kan kakak udah bawa kaos tiga buat kamu." kata Aina heran.
"Bukan beli kaos, tapi beli baju kemeja kak." kata Jhody lagi.
"Apa bedanya? Sehari-hari kamu kan pakai kaos, kenapa minta baju segala." kata Aina.
"Sekarang lagi tren musim baju kemeja kak. Belikan ya?" ucap Jhody dengan manjanya.
"Ini kamu merampok kakak ya. Kakak belum gajian, habis uang kakak buat traktir kamu." ujar Aina lagi.
"Kan ngga setiap hari kak Ai, beli ya?" Jhody memohon.
"Ya udah, sana ambil satu. Kakak tunggu di sini aja" kata Aina.
"Dih, kalau satu nanti ngga ada buat gantinya. Ya udah dua aja mininal, ngga banyak-banyak." Jhody langsung lari ke tempat baju-baju yang dia sukai sebelum Aina memarahinya lagi.
Dengan kesal, Aina mencari tempat duduk. Dia selonjorkan kakinya,,lalu mengambil ponsel di tasnya.,Dia membuka media sosial dan melihat-lihat status yang di kirim orang-orang di media sosial.
"Lagi menemani Jhody beli baju." jawab Aina datar.
Anto ikut duduk di sebelah Aina. Lalu mereka berbincang-bincang sebentar, setelah terpotong oleh suara dering ponsel Aina. Aina melihat siapa yang menelepon, lalu tersenyum dan mengangkatnya.
"Halo mas Riyan." jawab Aina, wajahnya terlihat ceria mendapat telepon dari Riyan.
"Kamu lagi apa?" tanya Riyan di seberang sana.
"Lagi jalan-jalan.",jawab Aina sambil senyum-senyum, tiba-tiba dia merasa kangen sama sosok di balik telepon itu.
"Sama siapa?",tanya Riyan lagi.
"Sama adikku,,dia minta jalan-jalan. Mumpung aku ada di sini.",jawab Aina jujur.
Anto memperhatikan Aina yang sedang menelepon seseorang, ada rasa cemburu dan kesal ketika Aina menerima telepon dengan wajah senang. Dia mendengus kesal, baru juga bicara sebentar dengan Aina ada gangguan telepon masuk, pikirnya.
"Ai, aku ke sana dulu ya." kata Anto dengan nada sengaja di kerasi.
"Ya." jawab Aina singkat.
"Oya Ai, nanti malam aku main ke rumah kamu. Ada yang mau aku bicarakan."kata Anto lagi.
"Ya." jawab Aina singkat.Karena terlalu senang dengan telepon Riyan, dia tidak sadar bahwa Riyan mendengar suara Anto.
__ADS_1
"Kok ada suara laki-laki lain?" tanya Riyan di seberang sana.
"Iya, tadi itu Anto, kebetulan ketemu di sini." jawab Aina masih tidak sadar. Aina tidak tahu Riyan sudah gelisah di sana.
"Dia ngomong apa?" tanya Riyan lagi.
"Nanti malam mau main ke rumah, mau ada yang di bicarakan katanya." masih belum sadar Aina menjawab pertanyaan Riyan dengan jujur.
"....?" Riyan diam sejenak.
"Mas Riyan lagi apa?" tanya Aina.
"Ai, aku tutup dulu ya teleponnya. Mendadak ada urusan yang lebih penting ynag harus di urus." kata Riyan tiba-tiba.
"Oh, ya udah." jawab Aina kecewa.
Klik!
Beberapa menit lalu Aina sangat senang dapat telepon dari Riyan, dia kini terlihat sedih. Dia masukan ponselnya lalu bangkit dari duduknya lalu mencari adiknya.
_
Selepas menghubungi Aina, hati Riyan gelisah. Dia tampak berpikir,kira-kira apa ya yang mau di omongin temannya Aina itu? pikir Riyan.
Tok-tok-tok
Suara pintu di ketuk. Riyan masih diam melamun, namun sekali lagi pintu di ketuk dari luar. Dan kini dia sadar pintu kantornya ada yang mengetuk.
"Masuk."
"Siang pak Riyan."
"Ada apa, Denis?" tanya Riyan masih tidak fokus.
"Mau bilang, kata orang interior siang ini belum bisa ke sini pak, paling nanti ke sini agak sore." kata Denis, asisten Riyan yang mengurusi restoran di Bogor itu.
Riyan tampak berpikir, lalu..
"Den, kalau laki-laki main ke rumah perempuan itu mau apa ya?",tanya Riyan yang langsung membuat Denis heran.
"Kenapa pak?" tanya Denis.
"Jawab aja, jangan banyak tanya." ucap Riyan ketus.
"Biasanya sih, ya ngapel kalau itu ceweknya. Bisa juga mau melamar ceweknya." ucap Denis.
Riyan tampak tegang, diam sesaat. Apakah Anto akan melamar Aina? Tidak! Itu tidak boleh, Aina harus menikah denganku. Pikir Riyan. Lalu dia buru-buru merapikan mejanya dan langsung mengambil kunci mobilnya.
"Pak Riyan mau kemana?" tanya Denis heran.
"Denis, nanti kalau orang dari interior datang membawa sampel, kamu pilih beberapa yang bagus menurut kamu lalu kirim ke email saya. Hari ini saya ada urusan lebih penting." setelah mengatakan pada Denis, Riyan langsung keluar dari kantornya.
Sedangkan Denis hanya diam saja dengan apa yang di lakukan oleh bosnya. Dia lalu merapikan berkas yang ada di meja kerja Riyan.
_
__ADS_1
_
****************