
Sementara di rumah Aina, pagi-pagi dia sudah di berondongi pertanyaan oleh ibunya. Dia jadi bingung harus menjawab apa. Sedangkan ayahnya hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah istrinya itu. Sarapan pagi ini Aina tidak terlalu menikmati karena pertanyaan yang tidak juga berhenti.
"Bu, sudahlah. Aina bingung jadinya dengan kekonyolan ibu. Lihat, dia jadi tidak selera makan karena pertanyaan ibu yang banyak itu." kata pak Edi yang tahu anaknya sedang bingung.
"Ibu senang aja yah, anak kita sudah di lamar. Dan ibu penasaran dengan cerita ketemunya bagaimana?" ibu Erni berdalih.
"Kan sudah di jawab tadi, dia itu teman kerjanya Aina. Ngapain juga sampe buat bingung anakmu." kali ini pak Edi sedikit kesal.
"Ya kan ibu pengen tahu yah, salah ya ibu terlalu senang?" kata ibu Erni sedih.
"Ya senang sih boleh aja, tapi jangan terlalu banyak ingin tahu sama urusan pribadi anak." ibu Erni hanya menunduk, lalu mengangguk pelan.
Aina makin bersalah, lalu dia menenangkan ibunya.
"Ibu ngga apa-apa kok tanya-tanya sama Aina. Cuma saat ini Aina belum bisa jawab semua pertanyaan ibu, Aina juga lagi menunggu penjelasan mas Riyan." ibu Erni tersenyum lalu memeluk Aina.
"Ngga apa-apa sayang, ibu terlalu bahagia. Makanya ibu pengen tahu banget sama cerita kamu. Lagi pula ngga pernah bawa laki-laki ke rumah, eh tahu-tahu udah di lamar aja. Kan ibu jadi penasaran."kata ibu Erni.
"Iya itu, Aina juga ngga tahu tiba-tiba mas Riyan datang melamar Aina. Jadi ya, begitu."
"Begitu apa? Kamu menyesal di lamar olehnya?"
"Eh, ngga yah. Maksudnya ya aneh begitu, kan ngga menyangka mas Riyan langsung melamarku. Soalnya selama ketemu dan jalan sama mas Riyan ngga pernah ngomong apa-apa atau menyatakan cinta ke Aina." jawab Aina malu-malu.
"Ya tanyakan itu sama calon suamimu. Tapi benar kan kamu ngga menyesal di lamar olehnya?" tanya pak Edi memastikan anaknya itu benar dengan pilihannya.
"Ngga yah, Insya Allah dia yang terbaik buat Aina." kata Aina meyakinkan ayahnya.
__ADS_1
"Sayang, tidak semua laki-laki itu cinta pada perempuan harus di ucapkan. Ada yang menunjukkan cintanya melalui tindakan, contohnya ayah kamu." kata ibu Erni sambil melirik ke suaminya. Pak Edi mengacungkan jempolnya tanda setuju.
"Nah, mungkin Riyan ini seperti ayah kamu, cintanya melalui sikap dan tindakan. Tapi kalau kamu masih penasaran, tanyakan saja jangan malu." ucap ibu Erni.
"Tapi tadi malam dia mengatakan cinta sama kamu, sayang. Ngga dengar?" tanya pak Edi.
"Dengar yah. Mm..yah, mas Riyan mengajak jalan siang ini. Boleh kan?" tanya Aina ragu.
"Asal jangan di bawa kabur aja." ucap pak Edi sambil bangkit dari duduknya dan keluar untuk menemani si burung kesayangannya. Aina tersenyum senang, ibu Erni memeluk anaknya dari samping. Dia senang Aina akhirnya bisa bahagia juga.
"Jhody ngga ikut sarapan Bu?" tanya Aina sambil membereskan piring-piring di meja.
"Anak itu kalau libur ya susah di bangunka, siang terus bangunnya. Udah biarkan aja." kata ibu Erni.
Lalu Aina membawa piring kotor dan peralatan masak yang di dapur di bawa ke tempat pencucian piring. Dia harus cepat menyelesaikan tugasnya membantu ibu Erni di dapur. Dan setelah itu dia akan bersiap untuk pergi jalan-jalan dengan Riyan, tapi entah kemana tujuannya.
_
Aina mematut di depan cermin berharap tidak ada yang kurang dari penampilannya. Dia tersenyum menatap wajahnya yang tiba-tiba merona ketika mengingat pujaan hatinya. Rasa tak percaya ketika Riyan melamarnya tadi malam.
Ah, tiba-tiba jadi kangen sama sosok laki-laki itu, dia menghela nafas panjang. Padahal kan mau bertemu, kenapa hati Aina jadi lebih sendu sedari semalam. Satu ketukan pintu terdengar dari luar, dia lalu membuka pintu dan muncul Jhody adiknya memberi tahu bahwa Riyan sudah menunggunya di depan.
"Udah di tunggu tuh di luar." kata Jhody.
"Iya, tunggu sebentar." ucap Aina.
Aina masuk ke dalam kamarnya, memastikan penampilannya cukup rapi dan wangi. Dia pun langsung keluar setelah di rasa penampilannya cukup pantas untuk kencan. Aina melihat Riyan tampak berbeda dari biasanya, walau pun hanya pakai kaos panjang berwarna putih dan celana jeans biru.
__ADS_1
Biasanya penampilan Riyan setiap hari memakai jas dan kemeja tapi kali ini lebih santai. Riyan tampak tersenyum melihat Aina yang sudah berdiri di depan pintu. Ayah Aina pun ikut menoleh dan tersenyum tipis. Dia sangat bahagia ketika melihat wajah anaknya yang begitu ceria dan bahagia.
"Ayah, Aina pergi jalan dulu ya." kata Aina pada ayahnya.
"Iya sayang." kata pak Edi, dia tersenyum senang.
Karena baru kali ini pak Edi melihat wajah bahagia dari anak kesayangannya. Walaupun anaknya itu tidak pernah bercerita tentang kehidupannya dulu tapi sebagai seorang ayah dia merasakan bahwa anaknya telah banyak mengalami kekecewaan dengan teman-temannya.
Pak Edi mendesah, lalu dia bangkit dan menghampiri Aina, menatapnya lalu berucap lagi dengan pelan.
"Bersenang-senanglah sayang, tapi ingat batasannya ya." kata pak Edi memberi pesan pada anak kesayangannya itu.
"Iya yah, terima kasih." Aina menyalami ayahnya sebelum ayahnya masuk ke dalam.
"Saya bawa Aina jalan dulu, om. Sore saya bawa pulang lagi." kata Riyan izin pada pak Edi.
"Ya, kamu harus membawanya pulang sebelum maghrib tiba." kata pak Edi pada Riyan.
"Iya om, pasti." kata Riyan.
Dia lalu bersalaman pada calon mertuanya itu, lalu dia berjalan di belakang Aina. Ingin dia menggandeng tangan Aina, tapi ayah Aina masih berdiri di depan dan melihat keduanya naik mobil. Setelah mobil itu melaju pelan, pak Edi pun masuk ke dalam rumah.
_
_
****************
__ADS_1