
Aina sudah menyiapkan surat pengajuan cutinya, tapi dia simpan di laci meja kerjanya. Karena Wisnu belum juga datang sejak malam itu dia meninggalkan Aina sendiri di restoran tempat mereka janjian dulu.
Tapi semua kacau karena orang yang membuat janji tak kunjung datang. Pada akhirnya Aina berpikir, dia tidak perlu menerima Wisnu sebagai pacarnya walaupun dia memaksa. Sudah pukul sembilan tiga puluh, Wisnu belum juga datang ke kantor.
Sampai jadwal yang sudah tersusun untuk satu Minggu harus di rubah lagi. Satu notif berbunyi di ponsel Aina.
'Pending semua jadwal saya untuk empat hari ke depan.'
Hanya itu bunyi pesan yang di kirim Wisnu. Aina kebingungan dengan pesan itu, pasalnya jam sebelas siang Wisnu harus bertemu kembali dengan Mr.Tanaka.
'Jam sebelas siang pak Wisnu harus bertemu dengan Mr.Tanaka, jadi bapak harus ada di kantor jam sepuluh.' begitu balas Aina pada Wisnu. Tapi pesan itu hanya centang satu saja,artinya pesannya belum masuk apalagi di baca.
Aina kesal dengan atasannya, seenaknya saja membatalkan semua jadwal yang sudah tersusun rapi. Ini yang membuat Aina malas jadi sekretaris, jika bos seenaknya saja maka yang repot adalah sekretaris.
Aina mendesah, bagaimana dia menghubungi Mr.Tanaka, karena membatalkan janji dengan Mr.Tanaka akan batal kerjasama itu. Aina menghubungi Wisnu, tapi layanan operator yang menjawab. Lalu Aina menghubungi Riyan.
"Halo Ai, ada apa?" tanya Riyan di seberang sana.
"Pak Wisnu ngga masuk kantor, pak Riyan bisa datang ke kantor ngga?" tanya Aina.
"Ya udah, aku ke kantor. Lima belas menit aku sampai."
Lalu telepon di matikan, Aina menghela napas lega. Setidaknya dia tidak sendirian menghadapi kebingungan ini. Setelah lima belas menit, benar saja Riyan pun datang dengan langkah cepat menghampiri Aina.
"Wisnu udah di hubungi,Ai?" tanya Riyan.
"Udah, tapi ngga aktif. Tadi sih kirim pesan, empat hari ke depan kayaknya ngga masuk. Minta di pending jadwalnya. Saya kirim pesan balik kalau jam sebelas siang ada pertemuan dengan Mr.Tanaka, bagaimana ini pak Riyan?" Aina kebingungan.
"Coba pak Riyan hubungi pak Wisnu, barangkali mau mengangkat teleponnya." saran Aina.
Berharap kekacauan ini segera di atasi. Riyan menghubungi Wisnu, tapi tetap tak ada jawaban.
"Ya sudah, kita tetap temui Mr.Tanaka sesuai jadwal. Kalau dia masih tetap ingin bertemu pak Wisnu, tinggal jadwal ulang lagi aja." ucap Riyan menenangkan Aina.
"Baik,pak."
"Oya, hari ini jadwal yang seharusnya di kerjakan apa lagi?" tanya Riyan selanjutnya.
"Pagi ini sih pak Wisnu cuma tanda tangan dari bagian keuangan pencairan gaji pegawai, jam sebelas itu ketemu Mr.Tanaka. Habis duhur kunjungan ke Bank." kata Aina membacakan jadwal harian Wisnu.
__ADS_1
"Tanda tangan kontrak ngga?"
"Ngga sih, cuma mengajukan kerjasama aja. Kalau sudah deal baru bisa tanda tangan kontrak." jelas Aina.
"Kalau hari ini tidak membutuhkan tanda tangan pak Wisnu, kerjakan semua. Kalau ada yang perlu di tanda tangani, pending aja." kata Riyan tegas.
"Baik, pak." Aina merasa lega dengan adanya Riyan di kantor, setidaknya dia tidak kerepotan dengan kerjaannya itu.
Riyan hendak masuk ke ruangannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia lihat di layar tercantum nama om Hutama. Wajah Riyan berubah tegang, dia diam sebentar kemudian teleponpun di angkatnya.
"Halo om?" sapa Riyan segan.
"Halo Riyan, Wisnu di hubungi kok ngga aktif. Apa dia ada di kantor?" tanya pak Hutama di sana.
Riyan bingung, sejenak dia diam berpikir alasan apa yang akan dia berikan. Selama ini pak Hutama tidak pernah tahu kelakuan anaknya yang sering meninggalkan kantor tanpa memberi tahu dulu, bagi Riyan selama di kantor bisa dia atasi maka hal seperti itu tidak perlu di laporkan. Dia berpikir pak Hutama sudah paham kelakuan anaknya sendiri.
"Riyan, kamu masih di situ?" tanya pak Hutama lagi.
"Iya, om. Saya masih di sini, maaf saya lagi beres-beres berkas di meja yang berantakan. Ada apa om menelepon saya?" tanya Riyan.
"Wisnu di hubungi kok ponselnya ngga aktif,saya mau menghubungi sekretarisnya ngga tahu nomernya.Apa Wisnu masuk kantor?" pertanyaan tadi di ulang.
"Dua hari lagi saya pulang ke Indonesia, katakan pada Wisnu kalo sudah datang. Saya mau mengunjungi kantor." kata pak Hutama lagi.
Riyan makin bingung, dia harus berkata apa jika sampai Wisnu tidak juga ke kantor dalam dua hari mendatang.
"Iya om." jawab Riyan singkat.
Lalu sambungan telepon di tutup. Riyan berbalik ke arah Aina lagi, dia menghela nafas panjang.
"Buatkan kopi untukku, nanti di antar ke ruangan aja. Aku mau ke bagian administrasi dulu." kata Riyan.
Aina mengangguk, lalu dia menuju ke pantry membuat kopi pesanan Riyan. Dia tidak banyak tanya kenapa Riyan tiba-tiba jadi lesu.
****
Siang ini setelah perdebatan alot dengan Mr.Tanaka, Riyan dan Aina makan siang di restorannya seperti biasa. Riyan diam saja setelah mereka sampai di restoran dan duduk di tempat ruang privasi. Aina yang melihat Riyan diam saja, merasa penasaran dengan sikapnya yang sejak tadi.
Mau menanyakan tapi dia takut di bilang terlalu kepo dengan urusan orang lain.
__ADS_1
"Tanya saja Ai kalau kamu penasaran." kata Riyan seolah tahu pikiran Aina. Aina hanya tersenyum, dia tertunduk malu.
"Kenapa?" tanya Riyan lagi.
"Mmm...pak Riyan punya cabang restoran banyak yah?" akhirnya Aina menanyakan apa yang tadi dia pikirkan.
Sejujurnya bukan hanya itu saja, tetapi sikap diam yang sejak tadi setelah pertemuan dengan Mr.Tanaka.
"Ngga banyak, baru Lima cabang sekitar Jabodetabek. Minggu-minggu ini sebenarnya aku sibuk dengan restoraku, mau buka dua cabang baru di Bogor, tapi di sibukkan urusan kantor begini. Pusing Ai." keluh Riyan.
Aina hanya bisa mendengarkan keluhan Riyan, dia tidak bisa berbuat banyak. Sebenarnya dia tidak enak dengan memanggil Riyan untuk datang ke kantor tadi pagi, tapi dia sendiri bingung dengan keadaan itu.
"Maaf, pak Riyan kalau saya membuat bapak kerepotan." kata Aina dengan raut wajah menyesal dan tidak enak hati.
"Kamu kenapa yang minta maaf, yang salah Wisnu. Kenapa dia meninggalkan pekerjaan seenaknya saja. Dan satu lagi, ini jam makan siang, kamu lupa akan panggilanmu padaku." protes Riyan, dia sedikit kesal sikap Aina kembali lagi seperti dulu jika sudah mulai bekerja.
Kaku dan datar saja. Aina hanya tersenyum.
"Aku sudah hubungi dia berkali-kali tapi selalu ngga aktif. Aku belum sempat ke apartemennya dan mecarinya karena kesibukanku ini. Dua hari lagi om Hutama mau ke kantor. Jika Wisnu belum datang dalam dua hari ke depan, dan om Hutama ngga menemukan anaknya di kantor, perusahaan akan di ambil alih oleh sepupunya." kata Riyan.
"Apakah pak Wisnu sering ngga masuk kantor tanpa kabar?" tanya Aina.
"Semenjak dia di tinggal pacarnya satu tahun lalu dia sering ngga masuk. Tapi aku ngga tahu dia melakukan apa dan kemana jika meninggalkan kantor, ujung-ujungnya aku yang menghandle kerjaannya dia. Kadang-kadang aku kesal, tapi aku kasihan sama dia." kata Riyan lagi.
"Apa pak Hutama tahu pak Wisnu seperti itu?"
"Aku ngga pernah laporin kelakuannya dia, selama aku bisa mengatasinya ya aku atasi.Tapi ini sudah keterlaluan. Kalau aku keluar dari perusahaan, kasihan dia. Tapi aku juga punya kesibukan sendiri, kalau sudah begini aku yang jadi korban. Semua urusanku terbengkalai." panjang lebar Riyan cerita.
Semua dia ungkapkan unek-unek yang selama ini di simpan. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, acara makan siang mereka sudahi dan di akhiri sholat duhur di mushola restoran.
"Kita langsung ke bank, setelah itu aku ingin ke apartemen Wisnu, kali aja dia ada di apartemennya." kata Riyan menaiki mobilnya lalu dengan cepat mobil melaju menuju bank yang di tuju.
Aina hanya mengikuti kemana Riyan mengajaknya, di pikirannya setelah ini dia akan mengajukan cuti, mudah-mudahan Wisnu sudah bisa masuk kantor sehingga hari Jum'at. Aina sudah pulang kampung karena ayahnya sudah menyuruhnya segera pulang.
_
_
*******************
__ADS_1