Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
43. Bertemu Anto Lagi


__ADS_3

Dua Minggu setelah kerjasama perusahaan Wisnu dan perusahaan Anto di mana bekerja, Aina semakin sibuk dengan pembuatan proposal baru yang akan di ajukan ke bank untuk peminjaman modal. Kontrak kerja dan proposal proyek yang di ajukan serta lembar kerja sama telah dia siapkan.


Aina telah menyiapkan berkas yang akan di kirim ke perusahaan Pramana corps. Satu amplop cokelat sudah di siapkan, dan menuliskan alamat yang di tuju. Lalu berkas yang sudah dia siapkan tadi di masukkan ke dalam amplop cokelat, kemudian merapikannya supaya tidak ada yang tercecer.


Setelah selesai, dia hendak menuju lobi untuk ke meja resepsionis menyampaikan amplop itu pada kurir yang harus di kirim secepatnya. Saat hendak kembali ke ruangannya, ponsel Aina berbunyi. Dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya di saat jam kerja belum selesai.


Tertera di sana nama ayahnya yang melakukan panggilan telepon. Lalu Aina menekan tombol hijau dan menyapa ayahnya.


"Assalamu Alaikum ayah, apa kabar?" tanya Aina sambil berjalan menuju lift ,sampai di depan pintu lift Aina langsung menekan tombol nomor gedung yang akan di tujunya tanpa menghentikan sambungn teleponnya.


"Wa Alaikum salam, ayah baik aja. Oya, ayah mau tanya libur panjang nanti kamu pulang ngga?" tanya ayahnya di sana.


Aina tampak berpikir, hari ini Selasa Jum'at besok tanggal merah. Oh ya, libur panjang ya?


"Gimana Ai, bisa?" tanya ayahnya lagi.


"Nanti Aina lihat jadwal kerjaan dulu yah, kalau banyak yang harus di kerjakan, ya Aina ngga bisa pulang." jawab Aina.


"Ya udah, nanti kabari aja kalau pulang." terdengar nada kecewa ayahnya. Aina merasa bersalah.


"Nanti Aina kabari ayah kalau mau pulang. Memang ada apa yah, menyuruh Aina pulang?" tanya Aina penasaran.


"Ngga ada apa-apa sayang, ayah cuma pengen berkumpul keluarga secara lengkap aja. Mumpung libur panjang."


Aina menghelan nafas panjang, sejujurnya dia juga rindu keluarganya. Tapi dia malas ketemu dengan suami adiknya, entahlah. Mungkin karena minder atau memang dia memang malas ketemu saja.


"Iya, Aina usahakan untuk pulang, yah." jawab Aina akhirnya.


Lalu sambungan telepon terputus ketika Aina sampai di meja kerjanya. Dia masukkan lagi ponselnya ke dalam tasnya, pintu lift terbuka dan Aina pun melangkah keluar dari lift.


_


Setengah jam Aina sampai di gedung PT Pramana corps setelah dia naik taksi, entah kenapa bosnya menyuruh menyerahkan langsung pada direktur perusahaan ini. Dia malas bertemu dengan Anto lagi. Aina membuang napasnya kasar, setelah sampai di depan gedung itu, lalu melangkah menuju meja resepsionis.


"Mba, bisa bertemu dengan pak direktur?" tanya Aina pada resepsionis itu.


"Ibu dari mana?" tanya resepsionis itu sopan.


"Saya sekretarisnya pak Wisnu, mau menyerahkan, ..." belum selesai ngomong, dari arah lobi suara seseorang memanggilnya.


"Aina!"


Aina pun menoleh ke arah suara itu. Anto sedikit berlari menghampiri Aina yang terkejut dengan kedatangan Anto. Anto tersenyum lalu mengajak Aina duduk di kursi tunggu di lobi. Mau tidak mau Aina mengikuti langkah Anto. Lalu mereka duduk bersama.


"Saya hanya mau menyerahkan berkas ini ke pak direktur saja, setelah ini saya langsung pulang." kata Aina tak mau berbasa basi.

__ADS_1


"Iya, aku tahu. Kamu tahu, aku yang meminta pada pak Wisnu untuk kamu menyerahkan langsung ke sini. Sini, aku yang akan menyerahkan pada direktur, lalu kita makan siang bareng." kata Anto dengan senyum mengembang di bibirnya.


Wajah kesal Aina tampak jelas, kenapa dia harus terjebak sama orang yang telah mengecewakannya. Dan akhirnya Aina menyerahkan berkas proposal yang tadi dia bawa dari kantor.


"Jangan kesal begitu dong mukanya, Ai." seolah tahu.


Anto lalu mengajak Aina masuk ke ruang direktur, kemudian mereka langsung pergi makan siang setelah beberapa bagian berkas di jelaskan oleh Aina pada direktur Anto. Anto juga meminta izin untuk makan siang dengan sekretaris Wisnu itu.


Tak jauh dari kantor tempat Anto bekerja, mereka memilih restoran yang biasa saja. Sambil menunggu pesanan datang, Aina dan Anto sibuk dengan ponselnya masing-masing.


"Sudah lama kita ngga keluar bareng lagi ya Ai." kata Anto membuka pembicaraan.


"Hemm." hanya itu jawaban Aina. Anto melirik ponsel Aina yang sibuk dengan membuka sosial medianya.


"Kamu masih marah Ai sama aku?" Aina menatap Anto sebentar dan menarik napas panjanh, lalu dia menghentikan kegiatan tangannya.


"Ngga."


"Kamu apa kabar, Ai?" Aina menatap Anto lagi dengan heran, beberapa detik dia kaget dengan ucapan Anto.


"Aku baik.Baik-baik saja. Kan kamu lihat aku baik-baik aja kan?" terasa telat Anto menanyakan kabar Aina.


"Aku senang, kamu ngga terlalu kaku lagi ngomong sama aku." ucap Anto.


"Kamu bukan kayu, tapi bunga yang sedang mekar.",gombalan Anto membuat senyum Aina mengembang.


"Jangan gombal deh. Aku bukan gadis yang suka di gombali." ucap Aina tersenyum tipis.


Anto hanya tertawa melihat ekspresi wajah Aina yang sekarang terlihat lebih dewasa. Ada yang berbeda, di hati Anto. Entah kenapa sejak pertemuan kemarin, melihat Aina yang dewasa membuat hatinya senang. Bahkan merasakan getar halus di hatinya.


"Ai, kamu sudah punya pacar?" pertanyaan Anto membuat Aina diam kaku.


"Makanan sudah datang, kita makan dulu." Aina mengalihkan pembicaraan.,Mereka diam, memperhatikan pelayan yang sedang merapikan pesanan.


"Aina?"


"Aku lapar, aku langsung makan aja ya." Aina memotong ucapan Anto.


Anto menghela nafas panjang, dan akhirnya mereka makan tanpa bersuara. Setelah selesai, mereka pun keluar dari restoran tersebut. Lalu Aina pamit hendak masuk kantor lagi, karena jam makan siang sudah hampir habis. Pembicaraan tadi sampai tidak di teruskan karena Aina meminta pulang ke kantornya lagi.


"Aku antar kamu ke kantor." kata Anto.


"Ngga usah, aku bisa naik taksi kok." kilah Aina.


"Udah jangan menolak. Ayo masuk." lalu Aina terpaksa masuk ke mobil Anto.

__ADS_1


Dalam perjalanan, mereka mengobrol santai seperti biasa. Anto tidak membahas masalah pacar pada Aina lagi, dia senang Aina tidak marah terlalu lama padanya. Sepuluh menit perjalanan, akhirnya mobil Anto berhenti di depan kantor Wisnu.


Aina keluar dari mobil Anto setelah mobil itu berhenti di depan gerbang kantor. Bertepatan dengan Aina turun dari mobil Anto, mobil Riyan masuk dan tepat di tengah jalan mobil berhenti, dan kaca jendela kaca mobil pun terbuka.


"Aina, Kamis besok saya pulang ke Cirebon. Kalau kamu pulang juga, kita pulang bareng, nanti aku jemput. Di mana alamat kost-an mu?" tanya Anto.


Belum sempat jawab, Riyan yang sejak tadi melihat Aina keluar dari mobil Anto akhirnya memanggil Aina dengan agak keras. Aina menoleh ke arah sumber suara, wajah kaget dan bingung dengan sikap Riyan.


"Dari mana kamu Ai?" tanya Riyan setelah keluar dari mobilnya dan menghampiri Aina yang masih berdiri di luar gerbang kantor.


"Saya dari kantor PT Pramana Corps, pak Riyan?" jawab Aina jujur.


"Sedang apa kesana?" tanya Riyan heran, matanya melirik ke arah Anto yg masih menunggu jawaban Aina.


"Menyerahkan berkas kerjasama ke pimpinannya, kata pak Wisnu saya yang harus menyerahkan langsung ke direkturnya." masih jujur Aina menjawab pertanyaan Riyan.


"Ck,itu cuma modus asistennya aja. Aku tahu dia cari-cari alasan." kata Riyan sedikit kesal.


Entah kenapa Riyan sangat kesal dengan yang namanya Anto. Aina hanya diam, sejujurnya diapun juga berpikir begitu. Tapi bosnya memaksa, mau tidak mau harus di turuti.


"Terus, itu teman kamu mau apa masih di sana?" tanya Riyan sambil menunjuk mobil Anto. Yang di tunjuk pun terlihat kesal karena Aina lebih memilih berbicara pada laki-laki di depan Aina.


"Ai, bagaimana?" tanya Anto lagi.


"Aku belum tahu, To." jawab Aina singkat.


"Ya udah, besok jam makan siang aku tunggu." kata Anto lagi.


"Besok Aina makan siang sama saya, jangan menunggu lagi." jawab Riyan ketus.


"Ish! Ya udah, aku ke kantor dulu Ai."


Aina hanya mengangguk dan melambaikan tangan ke Anto. Mobil Anto pun bergerak pelan, Anto sekali lagi melirik pada Aina yang masih berdiri dan bicara dengan Riyan.


"Ya udah pak, saya masuk dulu. Takut pak Wisnu menunggu hasil kerja saya." kata Aina.


"Ya." singkat jawaban Riyan.


Aina masuk gedung dan Riyan masuk ke mobilnya memarkirkan mobilnya ke area parkir khusus para penjabat tinggi perusahaan.


_


_


********************

__ADS_1


__ADS_2