
Kita mau makan apa mas?" tanya Aina setelah mereka selesai sholat di kosan Aina.
Riyan mengajak makan malam Aina, dan dia akan mengajaknya ke rumahnya, bertemu dengan kedua orang tuanya. Karena waktu itu ketika di ajak pergi makan malam batal karena Riyan tiba-tiba membatalkannya sendiri pada mamanya, dan jadinya hanya jalan-jalan saja.
"Nanti kita lihat di sana ada apa." jawab Riyan yang semakin bingung Aina.
"Makannya di mana?" tanya Aina lagi.
"Ada deh." jawab Riyan yang semakin membuat Aina penasaran.
Aina hanya diam,,dia memperhatikan jalanan yang masih tampak padat dengan kendaraan orang-orang yang pulang dari aktifitasnya.
"Mas Riyan main rahasia-rahasiaan segala sih, cuma makan aja kok di rahasiakan." ucap Aina makin penasaran.
"Makan malamnya spesial, jadi di rahasiakan." masih dengan teka teki Riyan dengan senyum yang mengembang.
"Oke." singkat jawab Aina, dia malas bertanya lagi.
"Ngga nanya lagi?" tanya Riyan yang masih senyum di bibirnya, dia tahu Aina sedikit kesal.
"Nanti jawabnya rahasia lagi, jadi buat apa tanya lagi." tanpa memandang Riyan, Aina berucap.
Riyan tertawa kecil, tanpa sadar tangannya mengacak rambut Aina yang di kuncir kuda. Aina kaget dengan perlakuan Riyan, senyum tipis Aina mengembang. Rasanya usapan tangan di rambutnya membuat dia merasa di sayang, tapi itu hanya perasaannya saja.
Mobil Riyan sampai di sebuah rumah besar, mobil Riyan berhenti di gerbang dan membunyikan klakson. Seorang satpam menghampiri dan membukakan gerbang, lalu mobil masuk dan berhenti depan teras. Aina yang sejak tadi penasaran akhirnya bertanya juga.
"Mas Riyan, kita mau ke rumah siapa?",tanya Aina dengan mata yang masih memandang rumah besar itu.
"Ayo keluar, sudah di tunggu di dalam.",ajak Riyan tanpa menjawab pertanyaan Aina. Aina masih diam tanpa beranjak.
"Mas, ini rumah siapa?" sekali lagi Aina bertanya.
"Keluar dulu, nanti aku jawab pertanyaan kamu." Riyan tak mau kalah. Mau tidak mau Aina turun dari mobil.
Lalu Riyan mengajak Aina masuk, dengan ragu Aina mengikuti langkah Riyan. Sampai di ruang tamu, Riyan menyuruh Aina untuk duduk lalu dia masuk ke dalam mencari sosok mamanya yang tadi sore menelepon tak tahu waktu.
"Mama mana Bi Sumi?" tanya Riyan pembantu di rumah mamanya yang sedang menyiapkan makan malam.
"Eh, den Riyan sudah datang. Nyonya ada di kamarnya, den.",kata Bi Sumi.
Lalu Riyan menuju kamar mamanya, dia melangkah tergesa kemudian mengetuk pintu setelah sampai di depan kamar mamanya.
Tok-tok-tok...
"Mama aku masuk yah?" kata Riyan.
"Masuk aja sayang, ngga di kunci."
Lalu Riyan mendorong pintu kemudian masuk dan menghampiri mamanya yang sedang merapikan baju yang baru saja di setrika.
"Ada apa, kok kelihatannya lagi senang banget." tanya mamanya aneh.
"Kelihatan ya mah?" wajah ceria Riyan masih jelas terlihat.
"Ya iyalah, kamu kalau lagi suntuk juga mama tahu. Oya, kamu bawa teman cewek kamu kan?" tanya mamanya penasaran.
__ADS_1
"Iya ma, sekaligus mauengenalkan dia sama mama dan papa." jawab Riyan singkat.
"Hmm, sepertinya ceweknya cantik ya. Sampai kamu senang banget?" tanya mamanya menggoda anaknya itu.
"Iyalah, ma. Dia cantik dan pintar juga." kata Riyan
"Mana orangnya, mama pengen lihat, pengen kenalan juga. Soalnya jarang-jarang kamu bawa teman cewek ke rumah." tanpa menunggu jawaban anaknya, Sarah langsung pergi dan menuju ke ruang tamu.
"Ma, tunggu dulu. Jangan bicara macem-macem ya.,Kenalan aja yang wajar, dia orangnya pendiam." sergah Riyan sebelum mamanya bertemu Aina. Dia tidak mau Aina jadi malu karena tingkah mamanya.
"Iya bawel!" lalu Sarah menemui Aina di ruang tamu yang sedang duduk di kursi tamu.
Sejenak Sarah melihat Aina, mengamati sebelum Aina sadar ada orang di situ. Memang cantik, dan agak mirip dengan istri keponakannya. Kemudian ibu Sarah melangkah mendekat pada Aina yang sedang duduk.
"Ehm, ada tamu rupanya." kata mama Riyan membuyarkan Aina dari pandangannya pada ponselnya.
Aina mendongak, lalu bangkit dari duduknya. Sejenak dia merasa canggung, bingung siapa wanita paruh baya di hadapannya. Aina melangkah dan menyalami Sarah.
"Saya Aina Tante, temannya.."
""Riyan?"
"Iya."
"Silakan duduk lagi." lalu Aina duduk kembali.
Kini Aina dan Sarah didih bersebelahan. Rasa canggung Aina rasakan. Dia sebenarnya belum tahu siapa wanita di sebelahnya. Apa mungkin mamanya mas Riyan? tanyanya dalam hati.
"Saya mamanya Riyan, kamu teman Riyan atau..." belum sempat ibu Sarah ngomong, Aina sudah memotongnya, takut salah paham, pikirnya.
Belum lama obrolan keduanya, Bu Sumi sudah memanggil bahwa makan malam sudah siap.
"Ayo, Aina. Kita ke meja makan, makan malam sudah siap." ajak ibu Sarah.
Ragu-ragu Aina bangkit. Dia masih berdiri di tempat, sedangkan ibu Sarah sudah masuk ke dalam. Dia menatap Riyan, meminta persetujuan dari orang yang mengajaknya makan malam yang katanya sepesial.
"Aina, ayo kita ke belakang." kata Riyan yang sudah menemui Aina di ruang tamu. Tetapi Aina masih ragu, di tatapnya Riyan yang tersenyum manis. Lama Aina masih diam, dengan tidak sabar Riyan menarik tangan Aina lalu berbisik lembut di dekat telinga Aina.
"Ini makan malam spesial, aku sudah bilang kan tadi." sambil tersenyum dan menatap Aina lembut.
Mau tidak mau Aina tersenyum, wajahnya memerah karena malu dan gugup. Lalu Aina dan Riyan berjalan masuk menuju ruang makan, yang di saja sudah menunggu ibu Sarah, suaminya dan Juli adik Riyan mereka semua sudah menunggu.
Wajah senang dari ibu sarah terpancar ketika mereka duduk bersebelahan Yang kebingungan dengan adanya orang selain keluarganya adalah pak Johan, papa Riyan. Dia menatap Riyan dengan bertanya penuh isyarat, Riyan hanya tersenyum lalu mengangguk pelan.
"Ehm, ada yang lagi senang nih. Kenalin dong kak, siapa ceweknya." kata Juli pada kakaknya.
Aina hanya tersenyum kaku, dia merasa canggung dengan keadaan semuanya penuh tanya. Semua menatapnya bingung sekaligus senang.
"Iya Yan, siapa perempuan yang kamu bawa ini." tanya pak Johan akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya.
Pasalnya, baru kali ini anak laki-lakinya itu membawa seorang perempuan ke rumahnya, apa lagi makan malam bersama.
"Dia Aina pa, satu kantor dengan Riyan di kantor Wisnu. Dan juga calon istri Riyan." ucap Riyan memperkenalkan Aina di hadapan semua keluarganya.
Wajah Aina langsung berubah tegang, tenggorokannya tercekat. Aina menoleh ke arah laki-laki yang di sampingnya. Apa ini benar? atau hanya sekedar alasan saja untuk tidak ada pertanyaan selanjutnya, pikir Aina.
__ADS_1
Tapi sebenarnya jauh di lubuk hatinya, Aina merasa senang dengan jawaban Riyan. Tapi dia kan belum mengatakan cinta padanya, pikir Aina lagi. Senyum kaku Aina tunjukan untuk menutupi rasa canggungnya.
"Ya sudah, ayo kita makan dulu. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi." ucap pak Johan.
****
Di dalam ruang kerja papanya, di sini Riyan di ajak untuk berbicara berdua dengan papanya setelah makan malam selesai. Sedangkan Aina masih mengobrol dengan ibu Sarah dan adiknya. Riyan duduk di sofa sedangkan papanya duduk di kursi kerjanya.
Lama mereka masih diam satu sama lain, Riyan sibuk dengan laporan pegawai restorannya di ponsel sedangkan papanya sibuk memgotak-atik laptop di depannya. Beberapa menit kemudian, setelah Riyan selesai lalu melihat papanya yang masih saja sibuk.
"Papa mau ngomong apa?" tanya Riyan pada akhirnya. Papanya pun berhenti sejenak dan menatap putranya itu,lama.Lalu menghela napas panjang.
"Papa kira kamu ngga punya pacar." diam sejenak memperhatikan reaksi putranya. Riyan masih diam, menunggu kalimat selanjutnya.
"Kenapa?" tanya Riyan heran.
"Papa berniat menjodohkan kamu sama anak temannya papa." menghela nafas lagi.
"Sejak kapan kamu kenal sama gadis itu?" tanya papanya.
"Sejak tiga bulan lalu pa. Kenapa pa?" tanya Riyan penasaran.
"Apa secepat itu kamu ingin menikahinya? Kalian baru kenal." tanya papanya lagi.
"Riyan yakin dia terbaik buat Riyan, pa. Riyan sudah mantap ingin menikahi Aina." jawab Riyan mantap penuh keyakinan.
"Apa gadis itu juga suka sama kamu, papa lihat dia orangnya tertutup. Memang sih dia kelihatan manis, sopan dan pandai membawa diri." ujar pak Johan tampak berpikir.
"Nah kan, papa juga suka sama Aina." kata Riyan.
"Ya tapi, tetap aja kamu baru kenal kan sama dia. Belum kenal betul sisi lain dari sifatnya." kilah papanya.
"Riyan sudah yakin pa, papa sendiri tahu Riyan susah banget jatuh cinta sama perempuan. Nah, makanya Riyan bawa pulang untuk di kenalkan sama papa dan mama. Lagi pula papa mau mengenalkan perempuan anak temannya papa juga baru kenalkan."ucap Riyan meyakinkan papanya.
"Iya. Tapi kan papa tahu dia seperti apa papanya. Jadi, papa juga tahu dong anaknya seperti apa." kata pak Johan lagi.
"Papanya baik, belum tentu anaknya juga begitu pa. Banyak kan kejadiannya, papanya baik banget tapi anaknya justru suka foya-foya dan sombong." kata Riyan memberi alasan.
Pak Johan berpikir, memang benar apa yang di katakan oleh anaknya itu. Lagi pula, Riyan sudah dewasa. Bisa menentukan jodohnya sendiri.
"Ya udah, kalau kamu seyakin itu teruskan aja. Papa sih ngga mau kamu salah pilih jodoh." ucap pak Johan akhirnya.
"Aku yakin Aina adalah jodohku yang sesungguhnya pa." kata Riyan lagi.
"Papa terserah kamu. Itu hidupmu, jadi kamu yang menentukan siapa pendamping hidupmu kelak."
"Oke sip, pa. Minggu besok Riyan mau ngelamar dia di kampungnya. Doakan ya pa." kata Riyan.
"Pasti."
Lalu percakapan pun berakhir. Tak ada kendala yang berarti di keluarga Riyan, karena pada dasarnya kedua orangtuanya tidak terlalu memaksakan tentang jodoh anak-anaknya.
_
_
__ADS_1
******************