Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
36. Panitia Pernikahan


__ADS_3

Di masjid sebelah rumah Aina, sudah berkumpul tamu undangan. Termasuk keluarga dari pengantin laki-laki sudah datang separuhnya. Rombongan pengantin laki-laki sedang di perjalanan menuju masjid untuk akad nikah.


Aina bolak-balik ke depan rumah menengok siapa tahu rombongan pengantin sudah datang. Dan beberapa menit kemudian rombongan pun datang. Mereka memasuki masjid dan langsung menuju tempat akad nikah yang sudah tersedia.


Penghulu juga sudah menunggu, tinggal pengantin wanita yang belum datang ke masjid. Aina berlari kecil memberi tahu bahwa rombongan pengantin laki-laki sudah datang. Lalu ibu Aina pergi ke kamar Shella untuk segera membawa ke masjid.


Tak berapa lama, Shella sudah siap dengan dandan ala pengantin pada umumnya. Ibu Erni dan Aina tersenyum melihat Shella yang begitu berbeda seperti biasanya, lalu merangkul Shella dengan erat. Airmata ibu Erni mengalir terharu, begitu juga Aina yang juga ikut bahagia dengan pernikahan adiknya itu. Walau sebenarnya dia juga merasa miris dengan nasibnya.


Selanjutnya mereka ke masjid yang sudah di mulai dengan pengajian. Baik ibu Erni, Aina dan juga Shella masih di ruang terpisah. Ketika mempelai laki-laki sudah duduk di hadapan penghulu dan calon ayah mertuanya. Begitu ucapan penghulu dan ayah Aina terucap, lalu di sahuti Arya dengan suara lantang.


Dan di ucapkan ulang kata 'sah' oleh undangan yang hadir, riuh rendah tepuk tangan orang-orang menggema di dalam masjid. Semua merasa lega ijab kabul terlaksana dengan lancar. Lalu setelah selesai, Shella akhirnya keluar dari persembunyiannya.


Untuk bertemu suaminya dan menanda tangani surat nikah. Shella menyalami Arya yang kini sudah jadi suaminya. Kemudian mereka bergantian menyalami kedua orangtua mereka. Beberapa menit kemudian, semua rombongan keluarga pengantin laki-laki dan tamu undangan di persilahkan masuk ke rumah hajat yang telah di hiasi begitu meriah.


Kedua pengantin duduk manis di depan pelaminan menyapa tamu undangan. Tak lupa sesi foto keluarga dengan pengantin secara bergantian. Riyan yang sejak tadi diam menatap pengantin di pelaminan, merasa terkejut ketika melihat sosok perempuan yang dia kenal.


Lalu dia menghampiri perempuan tersebut yang sedang menata prasmanan di meja, mengecek apakah ada yang sudah habis atau belum. Riyan berdiri tepat di belakang perempuan itu,yang tak lain adalah Aina.


"Panitia pernikahannya ngga kalah cantik dengan pengantinnya ya?" ujar Riyan sambil tersenyum simpul.


Aina menoleh ke belakang, melihat siapa yang bicara dengannya. Dia terkejut dengan laki-laki di hadapannya itu, lalu dia pun ikut tersenyum. Riyan tersenyum senang, di acara sepupunya itu ada perempuan yang membuatnya nyaman.


"Pak Riyan ada di sini? tamu undangan pengantin laki-laki?" tanya Aina heran.


"Lebih tepatnya sih saudara dari pengantin laki-laki. Kamu di sini sambil jadi panitia pernikahan atau sebagai tamu undangan perempuan, Ai?" tanya Riyan.


Aina malah tersenyum. Lalu dia mengajak Riyan untuk makan hidangan yang tersedia, Riyan pun tak menolak.


"Ai, ambilin dong." ucap Riyan sedikit manja.


"Berasa jadi istri deh, heheh." ucap Aina sambil tertawa, Riyan pun ikut tertawa.


"Ngga apa-apa sih kalau kamu mau jadi istri aku." goda Riyan, Aina malah melebarkan matanya dan tersenyum begitu manis di mata Riyan.


"Mau makan apa?" pada akhirnya Aina menuruti Riyan.


"Apa aja, yang penting enak." lalu Aina mengambil menu yang di kiranya Riyan menyukai.

__ADS_1


Setelah selesai mengambil makanan, Aina memberikan piring berisi makanan serta lauknya. Tak lupa juga minuman untuk Riyan. Dia merasa senang Riyan ada di acara pernikahan adiknya. Jadi dia tidak terlalu sedih dengan banyaknya orang-orang yang menatapnya kasihan karena di dahului oleh adiknya.


Keduanya mencari tempat duduk untuk mengobrol santai. Tak peduli orang-orang menatap Aina dengan heran.


Pak Riyan saudara dari Arya apanya?" tanya Aina penasaran.


"Ai, aku udah bilang ini bukan kantor ya. Panggil aku jangan embel-embel pak, dong. Kamu susah banget di beri tahu."sungut Riyan agak kesal.


"Iya maaf, soalnya sudah kebiasaan di kantor. Heheh." kata Aina dengan tawa kecilnya.


Riyan membola matanya, namun dia pun tersenyum. Mana bisa dia marah lama-lama sama Aina, hatinya sudah suka dengan gadis itu.


"Jadi mas Riyan itu apanya Arya? tadi katanya saudaranya." tanya Aina lagi.


"Dia sepupuku, anaknya Tante Irma adiknya mamaku. Kamu sendiri, siapa pengantin wanita?" Riyan balik tanya.


Aina hanya terkejut, kemudian diam mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia tidak menyangka Arya adalah sepupunya Riyan. Menarik nafas panjang.


"Aina?" tanya Riyan.


Aina malah menunduk beberapa detik. Kemudian dia menatap Riyan sambil tersenyum. Meminum minumannya dan menghabiskannya.


"Hahah! Nas Riyan sekarang suka gombal ya." suara tawa Aina begitu renyah di dengar Riyan, dia malah semakin ingin mencium pipinya.


Ups!


"Aina, kamu siapanya pengantin perempuan. Jangan bilang kamu saudaranya juga." kata Riyan lagi.


"Aku kakak iparnya Arya beberapa jam yang lalu." ucap Aina.


Pikiran Riyan melayang tentang cerita Aina ketika dulu makan siang bersama. Bercerita jika dia salah menyangka pada teman satu kampusnya, yang ternyata adalah Arya.


"Ai?" panggil Riyan menggantung dan menatap Aina lekat.


"Kenapa mas Riyan? Ada yang aneh?" tanya Aina heran.


"Kita nikah yuk?" ajakan Riyan tiba-tiba, membuat Aina terkejut.

__ADS_1


Matanya melebar, dia menatap Riyan lekat. Sedetik kemudian dia tertawa lebar sehingga giginya terlihat. Riyan tersenyum malu dengan ucapannya tadi.


"Kenapa tertawa?"


"Lucu aja, mas Riyan ini .Tiba-tiba bercanda gaya baru." Riyan mengerutkan alisnya.


Oke, sekarang kamu anggap ini lucu dan bercanda, batin Riyan. Lalu dia tersenyum kembali, meneruskan makannya dengan pelan.


"Yan, kamu di sini ternyata." ucap Sarah yang datang tiba-tiba datang. Riyan dan Aina menongok ke arah sumber suara.


"Eh, mama. Ada apa ma?" tanya Riyan langsung berdiri menghampiri mamanya.


"Itu, bantu Tante Irma suruh ambil baju di mobil. Katanya di titipkan di mobil kamu." kata ibu Sarah.


"Oh, nanti Riyan ambil deh." ucap Riyan.


"Sekarang Riyan, bukan nanti." kata ibu Sarah lagi.


"Memangnya untuk apa? Kan tante Irma udah pakai baju, cantik pulan." kata Riyan.


"Bukan untuk tantemu, tapi untuk Arya, siang nanti dia kan harus ganti baju." kata ibunya lagi.


"Iya."


"Mama tunggu di depan." kata ibu Sarah lagi.


Ibu Sarah pergi dari hadapan Riyan, sedangkan Aina sejak tadi memperhatikan ibu Sarah yang terlihat masih muda itu.


"Aina, aku ambil baju Arya dulu ya. Nanti aku kemari lagi." kata Riyan.


"Iya mas Riyan."


Lalu Riyan pamit pada Aina keluar untuk mengambil baju Arya di mobilnya, sedangkan Aina meneruskan merapikan hidangan prasmanan yang di sediakan untuk tamu.


_


_

__ADS_1


********************


__ADS_2