
Siang hari, seperti janjinya Riyan ke kantor Wisnu setelah makan siang bareng bersama istrinya. Dia langsung menemui Wisnu di ruangannya. Memang rencananya hari ini dia masuk kantor Wisnu untuk membicarakan sesuatu, tapi setelah makan siang.
"Ada apa Lo memanggil gue?" tanya Riyan tanpa basa-basi. Dia duduk di sofa masih menatap Wisnu dengan serius.
"Ck, lo tuh asisten gue. Ya jelaslah gue panggil Lo ke sini. Di tunggu dari pagi, Lo masuknya siang." sungut Wisnu kesal.
"Gue di restoran lagi sibuk banget. Banyak yang harus gue perhatikan di sana. Ada apa sih?" tanya Riyan penasaran.
Wisnu menghela napas panjang, lalu dia menghampiri Riyan dan duduk di sampingnya. Pandangannya ke depan dengan membuang nafas berat.
"Bulan depan papa mau audit perusahaan. Katanya kok ada kejanggalan dalam keuangan. Gue bingung, padahal gue dapet laporan ngga ada yang janggal,mereka melaporkan semua baik-baik saja." kata Wisnu berat.
"Bukannya wajar jika om Hutama memeriksa laporan keuangan setiap bulan. Lagi pula kenapa Lo jadi bingung?" tanya Riyan.
"Ya bingunglah, kata di bagian keuangan semua aman terkendali, tapi kenapa papa bilang ada kejanggalan. Papa tahu laporan dari siapa coba?" tanya Wisnu heran sendiri.
"Mungkin ada mata-mata om Hutama." kata Riyan.
"Lha, mau apa papa punya mata-mata di kantor gue. Kayak gue koruptor aja yang mau mencuri uang perusahaan. Lo tahu sendiri gue, ngga pernah melakukan apapun dengan uang perusahaan." kata Wisnu. Riyan diam, dia tampak berpikir.
"Lo percaya sama laporan di bagian keuangan itu?" tanya Riyan.
"Ya gue percaya karena gue udah memeriksanya sendiri. Kejanggalannya di mana?" tanya Wisnu.
"Mungkin ngga sih ada oknum bagian keuangan yang memanipulasi laporan itu?" tanya Riyan curiga. Wisnu diam, mungkin ada benarnya juga ucapan sahabatnya itu.
"Bisa jadi sih. Bisa jadi laporan ke papa itu palsu atau laporan ke gue yang di palsukan." ucap Wisnu mengerutkan dahinya.
"Nah itu dia maksud gue. Dua kemungkinan itu bisa sama-sama jadi tersangkanya. Harus di selidiki itu." kata Riyan.
"Lo ada solusi ngga untuk masalah ini?"
"Nanti gue pikirkan."ucap Riyan.
Mereka serius membahas permasalahan yang di hadapi Wisnu. Tiba-tiba pintu di ketuk dari luar. Kemudian Aina masuk, dia melihat suaminya menatapnya dan tersenyum.
"Ada apa, sayang?" tanya Riyan. Aina kaget dengan panggilan Riyan, dia menunduk.
"Ck, panggil sayang-sayang segala. Kalau mau romantis di rumah aja, jangan di sini. Ini kantor!"ucap Wisnu sinis.
"Ada yang mengiri. Ada apa cantik, sini duduk?" Riyan malah meledek Wisnu. Aina makin malu dengan tingkah suaminya.
"Udah deh, jangan sok-sokan romnatis.A,da apa Aina?",tanya Wisnu.
"Itu, di luar ada tamu perempuan pak. Mau ketemu pak Wisnu." jawab Aina ragu.
"Siapa?" tanya Wisnu penasaran.
__ADS_1
"Katanya namanya Viola." jawab Aina lagi.
Wisnu langsung berbinar, dia langsung menyuruh masuk tamunya itu. Riyan heran, kenapa Viola bisa masuk ke kantor Wisnu.
"Dia sering ke sini?",tanya Riyan pada Wisnu.
"Baru dua kali ini." jawab Wisnu. Lalu Riyan keluar menyusul istrinya.
Dia melihat Viola dengan pandangan tajam ketika berpapasan di pintu. Viola hanya tersenyum kaku, lalu dia masuk ke ruangan Wisnu. Aina menatap suaminya bergantian dengan Viola yang sudah masuk ke dalam.
"Mas, kenapa melihatnya begitu banget?" tanya Aina tak suka.
"Cemburu?" tanya Riyan dengan senyum menggoda.
"Ish,,siapa yang cemburu." elak Aina keki.
"Yuk ke ruanganku aja. Biar mereka berduaan di dalam, kita mesra-mesraan juga di ruanganku." kata Riyan mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Tapi aku masih kerja mas, masa di tinggal sih. Ngga enak." ucap Aina, dia tidak tahu suaminya itu akan melakukan apa di ruang kerjanya bersamanya.
"Ya udah, buatkan kopi terus bawa ke ruangan ku. Sekarang." ucap Riyan, dia agak kesal juga. Tapi dia juga tidak mau istrinya mendapat masalah di jam kantor.
Aina mengangguk dan langsung menuju pantry. Dia sudah hafal takaran gula dalam kopi Riyan. Aina mengetuk pintu ruang kerja Riyan, lalu masuk membawakan kopi untuk suaminya. Dia melihat suaminya duduk di kursi kerjanya sambil memejamkan mata. Aina menghampiri dan meletakan kopi di meja.
"Mas, ini kopinya." kata Aina.
Riyan membuka matanya, Aina sudah ada di sampingnya. Dia menarik tubuh Aina dan jatuh di pangkuannya. Aina kaget, dia langsung berpegangan pada pundak Riyan. Tanpa aba-aba, Riyan menekan tengkuk Aina dan meraih bibirnya lalu ******* bibir itu dengan rakus.
Lalu dia mencium leher itu, Aina mendesah. Tangannya mencengkeram pundak Riyan, menikmati setiap sentuhan dan ciuman suaminya itu. Sejenak Aina masih terbuai dengan sentuhan Riyan, lalu dia berusaha melepas dekapan suaminya itu.
"Mas, nanti lagi. Ini di kantor, nanti ada yang lihat." ucap Aina dengan suara berat, dia masih mendesah.
"Aahaah, mas Riyan udah." Aina merasa geli dengan rangsangan suaminya. Tapi Riyan semakin asyik dengan ulahnya.
"Mas,aku ngga mau bertanggung jawab kalau adikmu berontak." jurus andalan Aina untuk menghentikan aksi suaminya itu.
Riyan langsung berhenti, dan menatap Aina kecewa. Dia menunduk, memperhatikan sesuatu di balik celana sudah mengeras sejak tadi. Dia prihatin, belum bisa menuntaskan hasratnya.
"Sayang, masih lama ngga sih?" tanya Riyan memelas.
"Sabar mas, tiga empat hari lagi." kata Aina.
Dia kasihan juga pada suaminya. Tapi sebenarnya dua hari lagi juga sudah selesai,hanya saja dia agak takut membayangkan malam pertama itu. Ponsel Riyan berbunyi, Wisnu memanggil.
"Ck, ada apa sih? Ganggu aja?" ucap Riyan kesal setelah panggilan itu di jawab.
"Gue tahu Lo lagi mesra-mesraan. Makanya gue telepon Lo."
__ADS_1
"Ada apa?!"
"Gue keluar sama Viola. Jaga kantor ya, pulang jangan siang-siang. Tunggu malam kalau mau enak-enakan. Jadi pegawai yang baik, jangan pulang seenaknya" lalu sambungan telepon terputus.
Klik!
"Sialan,,dia tutup telepon seenaknya.",umpat Riyan.
"Aku ke ruanganku dulu ya mas." kata Aina bangkit dari duduknya di pangkuan Riyan. Tapi Riyan malah menahannya.
"Ngga usah, bosmu juga lagi keluar sama pacarnya.",kata Riyan membelai pipi Aina yang memerah itu, lalu menciumnya.
"Perempuan tadi pacar pak Wisnu?" tanya Aina heran.
"Iya.,Dia pacar yang dulu kabur entah kemana." Riyan menyuruh Aina bangun dan mereka beralih duduk di sofa. Aina tampak berpikir.
"Sepertinya aku pernah lihat perempuan itu waktu di toserba, tapi dia bukan sama pak Wisnu.",kata Aina mengingat kejadian waktu membeli baju buat adiknya.
"Kapan?" tanya Riyan penasaran.
"Waktu mau pulang kampung kemarin. Yang sebelum nikah itu. Dia kayaknya sama laki-laki lain, tapi mirip dengan pak Wisnu mukanya." Riyan tampak berpikir siapa laki-laki itu.
Dia teringat, yang mirip dengan Wisnu itu cuma Rama, sepupunya. Apa jangan-jangan Viola jalan juga dengan Rama?
"Waktu itu lihat Viola bagaimana?" tanya Riyan menyelidik.
"Maksudnya?" tanya Aina tidak paham.
"Ya, dia bagaimana sama laki-laki itu. Apa berlebihan atau bagaimana?" jawab Riyan.
"Emm, kelihatannya sih seperti pacaran, itu perempuamnya nempel terus dan manja sama laki-laki itu." kata Aina. Dia tidak tahu, Riyan sedang memikirkan sesuatu. Ah, dia terlalu curiga.
Riyan kembali mencium Aina lagi, dia ingin mencumbu istrinya itu meski tidak bisa melakukan lebih. Hanya menekan beberapa kali buah dada Aina, Aina sendiri membiarkan suaminya melakukan itu. Bahkan dia hampir saja terbuai dengan sentuhan Riyan.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Semua karyawan berhamburan keluar dari gedung perusahaan Wisnu untuk pulang. Begitu juga sepasang suami istri yang baru menikah beberapa hari lalu.
"Kita jadi kan belanja ke supermarket untuk beli keperluan dapur?" tanya Aina ketika mereka sudah di mobil.
"Oya aku lupa.,Padahal tadi aku udah janji pulang kantor mampir ke rumah mama dulu." kata Riyan.
"Memang tadi mama nelepon?"
"Iya, waktu di restoran. Aku lupa kalau hari ini mau belanja keperluan dapur. Ya udah aku telepon mama dulu."
Lalu Riyan menghubungi mamanya, membatalkan janjinya untuk mampir ke rumah mamanya. Sebagai gantinya dia besok akan mampir bersama Aina. Ibu Sarah merasa senang menantunya akan datang ke rumahnya.
_
__ADS_1
_
***************