
Sejak hari itu, Aina bingung dengan atasannya. Dia harus bersikap seperti apa jika di kantor,pasalnya dia di tembak oleh atasannya. Ada rasa senang dan juga bingung. Senang pada akhirnya ada yang menyatakan suka padanya, sekaligus bingung apa dia yang dia harapkan.
Entahlah yang jelas sejak saat itu Aina semakin bingung. Memang dia belum memberikan jawaban tetapi, dia pikir lagi apa salahnya mencoba menerima apa yang dia terima. Mungkin lambat laun perasaannya akan berubah.
Sesuatu yang dulu di ragukan dan menjadi ketakutannya selama ini akan dia kikis perlahan dengan hadirnya seseorang yang mencoba masuk ke dunianya. Dia bertekad akan memberi jawaban setelah berpikir lama dan matang.
Flashback:
"Aina, maukah kamu jadi pacarku?" tanya Wisnu begitu tiba-tiba ketika Aina di antar pulang ke kos-annya.
Sontak saja, Aina kaget karena atasannya itu menembaknya. Dia hanya diam dan terlalu cepat. Wisnu yang tahu kekagetan Aina, dia pun mengalihkan pandangannya.
"Ngga usah di jawab sekarang, seminggu setelah ini kamu boleh kasih jawaban. Kamu boleh pikirkan dulu kata-kataku." kata Wisnu yang tahu keterkejutan Aina.
Keduanya diam, Aina hanya menunduk. Ini terlalu cepat baginya untuk jatuh cinta, apa lagi menerima ungkapan seseorang yang secara mendadak. Dia baru dua bulan lebih bekerja di kantor Wisnu, tapi bosnya sudah tertarik dengannya.
"Apa yang membuat pak Wisnu tertarik pada saya?" tanya Aina heran.
"Saya suka kamu dengan kemampuanmu dalam bekerja dan juga cekatan. Kamu juga manis, kalau aku lihat kamu lama-lama jadi diabetes." ucap Wisnu ngegombal.
Aina tertawa kecil, lucu juga. Ada sisi lain dari bosnya itu yang Aina baru tahu, bahwa dia suka humor juga. Wisnu pun ikut tertawa.
"Kok tertawa aja sih?" tanya wisnu sambil melirik ke arah Aina.
l
"Pak Wisnu bisa gombal juga yah? Saya baru tahu sisi lain dari pak Wisnu yang kelihatannya galak itu." kata Aina masih tersenyum, Wisnu ikut tersenyum
"Memang aslinya aku humoris Ai, tapi kalau di kantor sama bawahan, jangan harap ada humor dalam bekerja." kata Wisnu, Aina mengangguk tanda setuju.
"Jadi bagaimana?" tanya Wisnu lagi.
"Apanya?" tanya Aina pura-pura tak mengerti.
"Ya, jawabannya?"
"Mm ..., boleh di pending dulu kan jawabannya, pak?" tanya Aina.
"Boleh sih, tapi jangan lama-lama. Minggu depan harus sudah ada jawabannya." kata Wisnu.
Oke, saya jawab Minggu depan pak."
"Aina?"
"Ya pak Wisnu?"
"Di ganti dong manggilnya,jangan pak aja."
"Tapi kan pak Wisnu atasan saya."
"Tapi kalau tidak di kantor, aku bukan atasan kamu lagi. Minggu depan aku udah jadi pacar kamu."
"Hahah! Kalau begitu, Minggu depan saja saya ganti panggilan pak Wisnu."
Wisnu hanya menghela napas, agak susah juga menaklukan Aina, pikir Wisnu.
__ADS_1
"Ya, tapi setidaknya kalau lagi berdua begini ganti kamu aku aja, jangan saya saya lagi." kata Wisnu.
"Ngga bisa, saya belum biasa pak." kata Aina.
"Ya makanya di biasakanlah Aina." kata Wisnu kesal.
"Mm, pak Wisnu kan lebih tua dari saya, saya panggil mas aja yah?" tawar Aina.
"Nah, itu lebih baik." kata Wisnu senang.
"Tapi di luar jam kantor saja, kalau masih jam kantor saya kurang berani. Takut ngga sopan." ucap Aina lagi.
"Oke, nanti kalau sudah jadi pacar harus lebih mesra lagi panggilnya."
"Pak Wisnu pede banget saya akan terima bapak jadi pacar saya." kata Aina meledek.
"Tuh kan, masih panggil pak aja. Ngga ada mesra-mesranya kamu Ai." kata Wisnu, Aina hanya tersenyum.
Sejujurnya Aina terlalu kaget dengan semua ini, terlalu mendadak. Tapi dia akan pikirkan baik-baik. Setidaknya, jika dia menerima tawaran Wisnu jadi pacarnya. Dia bisa membawa pasangan untuk di kenalkan pada ayahnya ketika pernikahan adiknya sebulan lagi.
Akhirnya sampai di kost-an Aina, mobil Wisnu berhenti tepat di depan pagar rumah kost-an Aina. Aina langsung membuka pintu mobil dan keluar.
"Terima kasih atas tumpangannya, pak Wisnu." kata Aina tersenyum.
"Aku tunggu jawabannya, Ai." kata Wisnu sambil menatap Aina.
Aina kembali tersenyum, Wisnu berpamitan. Kemudian mobil melaju dan Aina melambaikan tangan,kemudian dia masuk ke dalam kotanya.
Flash back off
Baru saja Aina membuka laptop di hadapannya, bunyi ponsel berdering. Dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. Terlihat di sana ayahnya memanggil, lalu Aina pun menjawab teleponnya.
"Assalamu Alaikum ayah?" ucap Aina sopan.
"Wa Alaikum salam, Ai. Apa kabar kamu, nak?" tanya ayahnya di seberang sana.
"Alhamdulillah, Aina baik yah. Ayah sendiri gimana?" tanya Aina balik.
"Baik juga. Kenapa kamu tidak memberi kabar lagi pada ayah?"
"Maaf ayah, Aina sibuk banget. Ngga sempat memberi kabar ayah lagi." kata Aina.
"Tapi kan pulang kerja kamu bisa telepon ayah."
"Iya yah, Aina minta maaf. Lain kali Aina akan kasih kabar ayah terus. Oya, ada apa ayah telepon Aina?" tanya Aina.
"Ayah mau mengingatkan kamu, kalau tiga Minggu lagi Shella menikah. Jangan lupa pulang ya Ai?"
"Iya yah, Insya Allah Aina pulang. Satu Minggu sebelum acara, Aina mau mengajukan cuti. Ayah tenang aja." ucap Aina lagi.
"Ayah hanya takut kamu lupa. Jangan lupa sholatnya di jaga ya."
"Iya yah."
"Jangan lupa janji kamu juga Ai."
__ADS_1
"Janji apa yah?" Aina tampak berpikir.
"Janji kalau pulang bawa calon kamu Ai." kata ayahnya.
"Hahah! Insya Allah, ayah doakan saja semoga Aina dapat jodoh secepatnya." Aina tertawa kaku.
Dia sendiri sedikit bingung, mungkinkah dia akan menerima Wisnu jadi pacarnya. Untuk di tunjukkan pada ayah dan ibunya.
"Ya udah, ayah hanya mau katakan itu saja. Jangan lupa makan teratur ya."
"Iya yah."
"Ya udah, ayah tutup dulu teleponnya. Assalamu Alaikum."
"Wa Alaikum salam."
Lalu Aina menutup teleponnya dan menyimpan ponselnya di tasnya. Lagi, di depannya seseorang sedang memperhatikan Aina. Beberapa detik Aina baru sadar ada yang memperhatikannya. Lalu dia mendongak dan terlihat senyum mengemban di bibirnya. Aina pun ikut tersenyum.
"Pagi, Ai?" sapanya.
"Pagi pak Riyan." jawab Aina.
"Hari ini bos kamu adalah saya, Wisnu sedang ke luar kota. Dua hari lagi dia balik. Apa kamu sudah tahu?" tanyanya.
Aina mengambil ponselnya dan mengecek isi pesan di ponselnya. Di sana pesan dari Wisnu mengatakan kalau dia tidak masuk selama dua hari dan di gantikan oleh Riyan asisten pribadinya.
"Oh, ini baru saya cek pak pesan dari pak Wisnu." lalu Aina menyimpan ponselnya lagi.
"Jadwal hari ini apa Ai?" tanya Riyan.
Lalu Aina membuka tab yang sejak tadi tergeletak di mejanya. Dia memeriksa tabnya dan mencari jadwal untuk hari ini, membacanya berulang kali dalam diam.
"Hari ini cuma kunjungan ke proyek yang ada di Bekasi pak, terus sesudah makan siang ada kunjungan lagi ke mall yang di Depok. Ada peresmian mall di sana dan pak Riyan di undang untuk pengguntingan pita ya." kata Aina membacakan jadwal hari ini.
"Coba kamu hubungi pihak di sana, kalau CEO kita tidak bisa hadir dan di gantikan oleh saya, apakah di teruskan oleh saya atau di ganti yang lain." ucap Riyan.
"Baik pak."
Lalu Aina menghubungi mall di Depok tersebut. Menanyakan apakah bisa di gantikan, karena Wisnu tidak ada. Setelah dapat jawaban Riyan pun tanda setuju untuk berkunjung ke sana.
"Jam berapa acaranya?"
"Jam sepuluh, pak."
"Ya sudah, kita berangkat sekarang. Takut terjebak macet." kata Riyan.
"Baik pak."
Kemudian Aina dan Riyan berangkat sesuai jadwal hari ini. Mereka menuju parkir mobil dan segera berangkat. Aina memikirkan kenapa Wisnu tidak datang, pergi keluar kota. Ada apa?
_
_
******************
__ADS_1