Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
60. Akhirnya Riyan Mendapatkannya


__ADS_3

Lima hari Aina dan Riyan menjalani kegiatan seperti biasa. Pagi Aina ke kantor dan Riyan ke restoran, siangnya ke kantor Wisnu. Semenjak menikah dengan Aina ,Riyan rajin ke kantor Wisnu walau hanya siang hari dia bisa masuk kantor.


Tak ayal Wisnu sering meledek Riyan dan sering menyuruh tanpa tahu kondisi. Kadang kesal juga Riyan dengan bosnya itu, mau bagaimana lagi ini demi lebih dekat dengan sang istri dan memantau istrinya jika sewaktu-waktu di beri kerjaan oleh Wisnu lebih banyak. Dia akan protes jika itu terjadi.


Rencana untuk meminta Aina resign dari kantor Wisnu sudah bulat, tapi menunggu pembicaraan dengan Aina lebih dulu. Karena belum di bicarakan dengan istrinya itu.


Hari Sabtu tiba, jam pulang kantor lebih cepat dari hari biasanya. Baik Aina dan Riyan sudah pulang lebih dulu. Sengaja Riyan mengajak Aina pulang lebih cepat. Karena dia senang, akhirnya Aina selesai juga tamu bulannya.


Dia memang sengaja menunggu hari Sabtu dan akan melakukannya malam Minggu, supaya jika Aina pagi kesakitan hari Minggu libur kerja. Jadi Aina di rumah saja. Rencana-rencana Riyan memang matang, dia selalu tersenyum membayangkan malam pergulatan panjang akan dia lakukan bersama istrinya nanti.


Aina sendiri heran kenapa suaminya minta langsung pulang. Tapi dia tidak berkata apa-apa selain menuruti ajakan suaminya.


Jam setengah enam mereka sampai di apartemen, Riyan langsung masuk kamar mandi dan membersihkan badannya. Sedangkan Aina merapikan baju-baju kotor yang hendak di cuci besok lalu menuju dapur. Dia akan memasak untuk makan malam, yang simpel saja.


Setelah berpikir masakan apa yang akan di masak, dia jatuhkan pilihan membuat sambel cumi dan oseng kangkung. Lalu Aina menyiapkan bahan-bahan dan dengan cekatan semua bahan siap untuk di masak.


Ketika Aina sibuk di dapur, Riyan masuk ke dapur mengambil jus jeruk yang di kulkas dan meminumnya. Dia memperhatikan istrinya yang sedang asyik masak.


"Bikin apa?" tanya Riyan.


"Sambel cumi sama oseng kangkung. Suka ngga?" tanya Aina.


"Emm, sepertinga enak." kata Riyan, Aina tersenyum.


"Sebentar lagi sekesai, mas Riyan duduk aja di kursi meja makan." lalu Riyan berlalu dari dapur menuju meja makan.


Setelah selesai, Aina menata makanan di meja makan. Dengan cekatan semua tertata rapi dan siap untuk di santap. Riyan menghirup aroma masakan Aina,,lalu mencicipi sambel cumi yang sejak tadi membuatnya penasaran.


Satu suap, dia resapi kemudian mengambil lagi. Aina tersenyum, dia senang suaminya suka masakannya.


"Enak banget ini sambel cumi, sayang.I ni akan jadi menu favorit aku." kata Riyan masih terus melahap makanannya.


"Suka banget ya mas?"


"Iya, kayaknya tiap hari di masakin ini ngga bosen deh." ucap Riyan.


"Ehmm, akunya yang bosan mas, masak cumi terus." Aina melahap suapan terakhir, dia malah suka oseng kangkungnya.

__ADS_1


"Masakan rumahan ini bisa juga ya untuk menu restoran baru di Bogor. Tapi konsepnya harus rumahan. Besok aku bicarakan sama Denis." ucap Riyan seperti bermonolog.


Setelah selesai acara makan malam sederhana, mereka kembali ke kamarnya. Aina sempat ragu masuk kamar, karena dia sendiri takut suaminya akan meminta jatahnya malam ini. Tentu saja, ketika Aina membuka pintu kamar Riyan sudah ada di ranjangnya dengan bertelanjang dada.


Jantung Aina berdebar-debar, dia ragu untuk melangkah lebih dekat ke arah suaminya itu. Riyan yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya melihat Aina masuk, senyumnya mengembang. Ponsel yang sejak tadi di pegang, dia letakkan di atas meja.


Sambil menatap Aina penuh cinta, dia tahu Aina gugup. Tapi kali ini dia tidak akan membiarkan Aina tidur lebih awal. Karena sebelumnya sesudah tamu bulanannya selesai, Aina langsung tidur.


"Sayang, sini duduk samping aku." kata Riyan begitu lembut.


Aina pun menurut, tak ada alasan kali ini Aina menghindar. Jantungnya berdebar kencang, menatap Riyan dan tersenyum kaku.


"Mas Riyan udah sholat isya?" tanya Aina berbasa-basi. Dia duduk di samping Riyan.


"Udah dong, kan aku nunggu kamu." kata Riyan ambigu.


"Nunggu apa?" pura-pura tanya.


"Nunggu malam ini terjadi, sayang." tanpa menunggu ucapan Aina selanjutnya, Riyan langsung mencium bibir Aina dengan lembut.,Lama kelamaan berubah jadi ciuman panas.,Riyan berhenti, menatap Aina.


Kembali ******* bibir Riyan daratkan di bibir Aina, kemudian beralih ke leher. Di sana dia mencium dan menggigit kecil setiap kulit yang sentuhnya. Suara lenguhan panjang dan berulang keluar dari mulut Aina.


Satu gerakan tangan memegang buah dada Aina, merem*asnya berulang kali. Aina mendesah pelan,,menikmati setiap sentuhan suaminya.,Ini pertama kalinya buat Aina begitu juga dengan Riyan. Tapi bukan berarti Riyan tidak jago dalam hal itu.


Setelah melakukan pemanasan, Riyan membuka piyama Aina dan melemparnya di sembarang tempat. Terlihat jelas dua pusaka yang tadi dia remas. Kepalanya dia tundukkan dan mulutnya meraih dua gunung kembar itu, Aina kembali melenguh keras.


"Eeeuh mas Riyan."


Dia gigit bibir bawahnya tanda menikmati setiap sentuhan gerakan mulut Riyan. Aina meremeas rambut Riyan, tubuhnya bergerak gelisah kesana kemari. Riyan semakin bersemangat, dia lalu membuka bajunya sendiri.


Kini keduanya sudah bersiap untuk melakukan kegiatan panas. Riyan kembali mencium bibir Aina, lalu tangannya menuntun pusakanya untuk di daratkan ke bagian inti Aina. Awalnya memang susah, beberapa kali di coba dan akhirnya berhasil. Teriakan dan lenguhan panjang Aina dengan permainan Riyan membuat suaminya itu semakin bersemangat untuk melakukan percintaan.


Malam ini, kedua pasangan suami istri itu melakukannya dengan penuh gairah. Tidak hanya satu kali, Riyan meminta berkali-kali, hingga Aina kelelahan dan menyerah. Ternyata suaminya itu kuat juga.


"Mas, sudahan ya. Aku lelah." kata Aina masih terbaring lelah.


"Satu lagi sayang." ucap Riyan, dia kembali menciumi leher Aina yang sekarang jadi tempat favoritnya selain bibir Aina yang selalu menggoda.

__ADS_1


"Kan udah tiga kali. Masih sakit yang di bawah." ucap Aina memelas pada suaminya. Dia benar-benar lelah dan sakit pada pangkal pahanya.


"Ya udah,besok pagi di lanjut lagi." kata Riyan akhirnya menyerah.,


Dia tidak tega melihat istrinya kesakitan. Lalu tak lupa mengecup kening dan bibir istrinya dan memeluknya dengan erat.


"Terima kasih sayang." ucap Riyan, Aina hanya mengangguk dan memejamkan matanya.


_


Menjelang subuh Aina terbangun. Dia melihat suaminya masih tertidur pulas dengan memeluknya. Aina menatap suaminya itu, senyum mengembang di bibirnya. Malam tadi, dia sudah menjadi istri seutuhnya bagi Riyan. Lalu tanpa sadar, dia daratkan satu kecupan singkat di bibir Riyan.


Kemudian beranjak dari tempat tidurnya. Dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya karena sisa-sisa keringat semalam. Rasa sakit yang di rasakan di pangkal pahanya membuat Aina teringat Riyan yang begitu ganas menghujami berkali-kali. Rona wajahnya berubah merah ketika dia ingat bahwa dia juga sangat menikmatinya.


Dia jadi malu sendiri. Guyuran air dingin meluruhkan segala sakit yang dia rasakan. Sedang menikmati kesegaran air di pagi hari pada tubuhnya, suara ketukan dari luar membuat Aina terkejut. Lalu dia buru-buru menyelesaikan mandinya.


Dia memakai handuk dan membuka pintu kamar mandi, terlihat Riyan yang sedang berdiri menatap Aina. Aina pikir Riyan kebelet pipis, dia pun keluar.


"Ada apa mas?" tanya Aina.


Tapi tanpa menjawab pertanyaan Aina, Riyan menarik handuk yang di pakai Aina dan mengangkat tubuh Aina untuk masuk lagi ke kamar mandi. Riyan akan melakukannya lagi di kamar mandi, sedari malam dia tahan karena tidak tega Aina kesakitan. Dan sekarang dia sudah tak bisa lagi di tahan.


"Mas, mau apa?"


"Satu permainan di kamar mandi sayang, aku udah ngga tahan."


"Tapi aku udah mandi."


"Udah nurut aja, nanti kita mandi bareng."


Lalu terjadilah kegiatan semalam di kamar mandi. Aina pasrah saja apa keinginan suaminya itu. Keduanya pun kini dalam kemikmatan bercinta di kamar mandi, dan hanya satu kali Riyan melakukannya karena waktu sudah hampir siang.


_


_


*******************

__ADS_1


__ADS_2