
Munggu pagi, Aina dan Riyan sudah berada di rumah ibu Sarah dari kemarin. Karena hari Minggu ini ibu Sarah meminta akan mengadakan tujuh bulanan. Acaranya pengajian dan juga acara adat, meski mendadak tapi tidak mengapa bagi ibu Sarah. Dia senang mengundang teman-teman arisan untuk hadir di acara anaknya, sekaligus menyambut cucu baru.
"Mas bangun, mandi terus sholat subuh." kata Aina.
Dia sudah berpakaian rapi, mandi junub setelah mereka melakukan percintaan semalam. Aina terus membangunkan suaminya, namun justru tangan Riyan menarik kembali tubuh Aina dengan cepat. Membuatnya terkejut dan kembali merebah saling berhadapan.
"Mas, kamu itu. Di perutku ada isinya ini, jangan asal tarik aja." ucap Aina kesal.
"Maaf sayang, aku ingin peluk kamu." kata Riyan dengan suara seraknya.
"Tapi kamu bau mas, mandi dulu sana." kata Aina berusaha bangun lagi.
"Sebentar aja, sini dong. Kan nanti kamu akan sibuk dengan teman-teman mama setelah keluar dari kamar ini." kata Riyan dengan manjanya.
Aina menghela nafas panjang, dia membayangkan betapa melelahkannya nanti dengan rangkaian siraman dan juga acara lainnya. Belum pengajian serta ceramah ustad yang di undang mertuanya itu. Tadi malam dia menghubungi kedua orang tuanya apakah bisa hadir di acara tujuh bulanan Aina, tapi pak Edi ayahnya Aina sedang pergi ke Semarang.
"Ayah sama ibu ngga bisa datang sayang?" tanya Riyan.
"Sedang pergi ke Semarang. Ayah di beri tugas kesana, jadi ibu ikut ayah ke Semarang." jawab Aina.
"Lalu, Jody sama siapa di rumah?" tanya Riyan lagi.
"Paling ke rumah Shela, dia menginap di sana. Anak itu kan penakut." jawab Aina.
"Hmm, laki-aki kok penakut."
"Ya, dia juga manja banget sama aku. Dia ngga berani minta sesuatu sama ibu, kalau aku pulang dia minta apa saja. Mumpung aku pulang katanya, lucu sekali anak itu." kata Aina mengingat adik bungsunya.
"Kamu kangen sama keluargamu?" tanya Riyan menatap istrinya itu.
"Setiap hari juga aku kangen mereka mas. Kenapa memangnya?"
"Ngga, aku takut kamu jadi sedih karena ngga pulang-pulang ke Cirebon menemui keluargamu." kata Riyan.
"Kan perutku besar mas, mana bisa pulang ke Cirebon. Kata ayah kalau aku melahirkan, semua akan datang ke Jakarta. Sekalian menjengukku juga dan cucunya nanti." kata Aina.
__ADS_1
Riyan memeluk istrinya itu, dia sangat senanf Aina tidak rewel ketika hamil minta pulang bertemu keluarganya. Karena dia pernah mendengar ada temannya, istrinya hamil dan selalu menangis. Ternyata ingin bertemu dengan keluarganya di kampung.
"Anak kita laki-laki atau perempuan ya?" tanya Riyan.
"Kemarin waktu periksa, dokter menawarkan di USG kamu ngga mau lihat mas." kata Aina.
"Biar untuk kejutan sayang. Tapi, aku menebak dia pasti perempuan. Soalnya kamu ngga rewel waktu ngidam. Ngga minta yang aneh-aneh, justru aku yang minta di buatkan masakan sama kamu." ucap Riyan.
"Hahah, mas Riyan jadi ya ngidam ya."
"Ngga apa-apa, yang penting kamu sehat. Ngga ngidam bukan berarti ngga bagus kan."
"Iya, justru kata orang kalau ngidam bisa makan apa aja, namanya ngidam kebo."
"Kebo? Apa itu?"
"Ngidam yang bisa makan apa aja, tanpa harus mual atau pantangan gitu. Itu kata orang-orang di sana mas."
"Emm, begitu ya."
"Udah sana, mandi."
"Nanti lagi mas, kan ini udah siang." kata Aina, dia menatap suaminya yang berubah kecewa.
"Nanti habis mandi terus sholat deh." kata Aina akhirnya mengalah, tidak baik juga menolak ajakan suami.
"Benar ya."
"Iya, kan ini udah siang. Ngga boleh telat sholat subuh lho."
"Oke sayang. Cup."
Riyan bergegas turun dari ranjangnya. Pukul lima tiga puluh sebenarnya, Riyan dengan cepat mandi wajib dan segera sholat subuh. Setelah itu dia akan meminta jatah lagi sama istrinya. Meski agak memaksa, entah kenapa dia selalu ingin bercinta dengan Aina. Tubuhnya yang kini sedang hamil tua justru membuat Riyan semakin suka dengan Aina.
Tapi hanya dalam hati saja, pikiran liar tentang istrinya yang sedang hamil. Lagi pula, kata dokter jika hamil tua boleh sering berhubungan suami istri. Namun sekarang justru sedang sibuk mengadakan acara tujuh bulanan anaknya.
__ADS_1
_
Rangkaian acara tujuh bulanan Aina sungguh sangat meriah. Riyan sebagai suaminya juga ikut dalam acara adat itu, menyiram istrinya dan juga memecahkan kendi, melempar barang-barang yang di sediakan di sana di jadikan saweran bagi para pengunjung yang kebanyakan ibu-ibu arisan dan ibu-ibu kompleks rumah ibu Sarah dan pak Johan.
Aina senang dengan acara tersebut, dia menatap mertuanya yang begitu antusias dengan acara tujuh bulanan. Setelah selesai menyirami, kini Aina harua berganti pakaian yang kering agar tidak masuk angin jika lama-lama memakai baju yang sudah basah karena siraman tadi.
Begitu juga Riyan, pakaiannya basah karena semua bermain air. Juli, adiknya yang menyiram Riyan sampai basah kuyup.
"Kamu juga basah mas?" tanya Aina yang baru keluar dari kamar mandi.
"Iya nih, si Juli ada-ada aja deh. Mengguyur air sama aku, kukira dia mau apa. Ternyata mau menyiramku sampai basah begini." jawab Riyan.
"Ya udah sana mandi sekalian, ganti baju." kata Aina mengelap rambutnya yang basah.
"Tadi dia rewel ngga?" tanya Riyan mengelus perut Aina.
"Ngga, dia anteng banget. Tadi pagi aja tuh habis di tengokin, jadi keram perutnya." ucap Aina.
"Emm, biasanya juga ngga rewel di tengok sama daddy." ucap Riyan mengecup perut Aina.
"Ya, tapi kamu nengok lagi, jadinya dia kesal daddy." ucap Aina.
"Emm, ngga enak ya di panggil daddy." kata Riyan sambil berpikir.
"Memang ngga enak dengarnya mas, ya udah sana mandi. Tuh airnya pada menetes di lantai, licin kan nantinya." ucap Aina.
"Iya sayang. Cup." kata Riyan mencuri ciuman pada bibir Aina kemudian pergi menuju kamar mandi.
Aina hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah suaminya. Dia duduk di kursi, di depan kaca rias untuk menyisir rambutnya yang basah. Sejenak dia diam, mengelus perutnya kemudian tersenyum bahagia. Banyak cinta yang dia dapatkan dari suaminya juga mertuanya.
Dia tidak menyangka, akhir bahagia medapatkan cinta yang begitu besar. Meski dulu perjalanan cintanya sangat pahit. Anto, sahabat masa SMAnya justru bertemu lagi dengannya pada keadaan berbeda dan malah dia menyukai Aina. Perasaan kecewa pada Anto dulu, malah dia berbalik menyukai sahabat sendiri.
Arya yang dia kira menyukainya, kini sedang berbahagia juga. Shela adiknya sedang mengandung baru dua bulan. Lebih lambat dari Aina, mungkin karena Shela masih terlalu muda. Tapi karena mungkin mendengar Aina sudah hamil, jadi mertuanya tante Irma merasa iri sama kakaknya yang sebentar lagi punya cucu.
_
__ADS_1
_
*********************