Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
21. Meeting Di Undur


__ADS_3

Aina dan Riyan sudah sampai di lantai bawah, mereka langsung ke kantin dan mencari tempat duduk. Suasana kantin sangat ramai,hingga mereka agak lama mencari tempat duduk. Baru dua orang yang duduk keluar, barulah mereka bisa duduk.


Mereka tidak menyadari bahwa kedatangan mereka banyak mengundang mata beberapa orang karyawan lainnya. Ada mata sinis yang menatap Aina. Suara bisik-bisik pun sudah terdengar serasa pasar. Aina menoleh sekeliling tempatnya duduk, dia merasa risih dengan keadaan itu.


Mereka menatap Aina dengan sedikit curiga, mengapa karyawan yang belum sebulan itu sudah duduk bersama dengan orang paling di hormati, bahkan terlihat lebih akrab. Aina merasa tidak nyaman, lalu dia pamit untuk pergi ke toliet.


Sepasang mata yang sejak tadi menatap sinis pada Aina. Dia bangkit dari duduknya kemudian dengan jarak yang jauh, dia menyusul Aina dengan tergesa-gesa. Sampai di toliet, dia menghampiri Aina dan bersandar di pinggir westafel.


Aina yang sedang cuci muka pun menoleh pada wanita itu yang ternyata adalah rekan kerjanya, Citra. Dia pun santai saja Citra ada di sampingnya sambil bersedakap dan melihatnya cuci muka.


"Enak banget ya, meninggalkan pekerjaan lalu makan siang sama pak Riyan."kata Citra dengan sinis dan penuh rasa iri. Aina hanya diam, dia meneruskan mencuci tangannya.


"Kamu menggunakan apa sampai pak Riyan bisa dekat sama kamu?" katanya lagi.


"Maksudnya apa?" tanya Aina heran.


"Kamu dekat sama pak Riyan, kamu rayu-rayu dia supaya bisa makan bareng sama dia!" kata Citra semakin marah pada Aina.


"Siapa yang merayu? Jangan asal bicara ya." bantah Aina kesal pada Citra.


"Halah! Perempuan seperti kamu itu mudah di tebak, merayu-rayu bos terus dekati dia lalu mau di ajak jalan, terus morotin bos. Ngga menyangka, kelihatan kalem tapi sifatnya busuk!" dengan tatapan sinis, Citra masih saja menuduh Aina.


Aina malas meladeni Citra, dia pergi tanpa mempedulikan tatapan sinis itu. Citra makin geram dia ingin mengejar Aina, tapi Aina sudah jauh dan sudah berada di meja tempatnya dengan Riyan.


"Kok lama di toiletnya?" tanya Riyan heran, di lihatnya wajah Aina yang tampak kesal.


"Iya, tadi ngantri di toiletnya." kata Aina berbohong.


Di lihatnya makanan yang tadi di pesan sudah tersaji di meja. Tak menunggu lama, Aina langsung makan dengan lahap. Pikirnya dia harus cepat selesaikan makannya lalu pergi dari kantin, karena suasana kantin jadi kurang nyaman bagi Aina.


Semua menatap Aina dan masih saja berbisik-bisik. Tentu saja setelah Aina bertemu Citra di toliet, bisik-bisik itu makin santer dan ada yang terang-terang menyindir.


"Kamu makannya buru-buru banget, nanti kesedak Aina."ucap Riyan yang sejak tadi memperhatikan Aina makan dengan cepat.


"Iya pak, saya harus segera menyelesaikan tugas yang tadi pak Wisnu ralat. Kalau ngga sekarang, nanti repot. Besok kan harus sudah siap dan di presentasikan di depan klien pak Wisnu." jawab Aina berbohong.


Dia tidak mau gosip-gosip yang tidak benar akan menyebar. Entahlah, Aina sebenarnya bingung. Dia baru dua kali makan bersama dengan Riyan, tapi kenapa semua menatap tidak suka.


Ah, mungkin pak Riyan adalah kepercayaan CEO perusahaan ini dan lagi pula wajahnya cukup tampan. Pasti semua pada iri, kalau saja tahu sekarang Aina jadi sekretaris CEO. Maka lebih sadis lagi itu gosip beredar.


Belum juga sebulan dia bekerja, sudah di terpa gosip yang tidak sedap. Tapi Aina mencoba tenang dan santai, karena banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan. Terasa berat jika dia harus meladeni gosip atau tuduhan Citra padanya.


"Pak, saya sudah selesai. Saya ke kantor dulu yah." kata Aina beranjak dari duduknya.


"Lho, kita ke sini bersama, pulang juga harus sama-sama." cegah Riyan.


"Ngga apa-apa kalau pak Riyan belum selesai, selesaikan saja. Saya juga mau sholat dulu di mushola." elaknya dengan sedikit takut.


"Ya sudah, kita ke mushola sama-sama. Saya juga mau sholat. Ayo." tanpa melihat Aina.


Riyan langsung bangkit dan mendorong pundak Aina untuk segera jalan. Aina hanya menurut saja. Bisik-bisik itu terdengar lagi, tapi Aina hanya menunduk saja. Riyan juga tahu, kenapa Aina begitu cepat makannya dan menghindar dari gunjingan orang-orang di kantin.

__ADS_1


_


"Aina keruanganku." suara telepon yang tadi di angkatnya.


"Baik pak." jawab Aina.


Lalu Aina bangkit dari duduknya lalu menuju ruang pak Wisnu. Dia mengetuk pintu lalu membukanya dan masuk ke dalam ruangan Wisnu.


"Ada apa pak?" tanya Aina.


"Besok kamu siapkan yang tadi kamu ralat, terus jangan lupa di pelajari karena besok kamu yang akan menjelaskan proposal itu pada klien." kata Wisnu.


"Kenapa saya pak?" tanya Aina sedikit kaget.


"Kamu kan sekretaris saya, jadi tugas sekretaris itu ya membantu saya menjelaskan pada klien. Kamu itu bagaimana sih?" kata Wisnu santai.


"Maaf, saya tidak tahu pak." jawab Aina.


"Ya sudah, kamu kembali sana."


Aina diam tidak langsung keluar. Wisnu menatap Aina heran. Kenapa dia belum juga pergi dari ruangannya, biasanya dia akan langsung pergi.


"Ada apa lagi?"


"Sekarang sudah jam enam sore pak, apa saya boleh pulang?" Wisnu melirik jam di tangannya lalu menatap Aina.


"Ya, kamu boleh pulang."


" Aina, besok kamu menjelaskannya pakai bahasa Inggris ya, karena pak Tanaka tidak mengerti dengan bahasa kita." kata Wisnu. Membuat Aina hanya diam terpaku.


"Bisa kan?" tanya Wisnu lagi dengan cuek.


"Sedikit pak, tapi kalo saya salah nanti bagaimana?" tanya Aina ragu.


"Resikonya, kerjasama ini akan batal. Jadi kamu pelajari dengan benar proposal itu." kata Wisnu.


"Baik pak, saya akan berusaha belajar dengan baik." kata Aina sambil membungkuk hormat, lalu pergi dari ruangan Wisnu.


_


Pagi ini, Aina sudah siap dengan berkas di tangannya. Semalam dia mempelajari berkas proposal itu dengan sangat gigih. Pasalnya dia harus giat karena menggunakan bahasa Inggris yang jika ada kesalahan.


Maka tugas pertama jadi sekretaris akan gagal.Kalo gagal, dia memang tidak berbakat jadi sekretaris. Toh kemampuan Aina di bidang manajemen keuangan, bukan sekretaris. Tapi setidaknya dia harus coba dengan belajar sungguh-sungguh.


Anggap saja itu adalah tantangan untuknya untuk mencoba hal baru, pikirnya. Aina sudah sampai terlebih dulu dari atasannya, dia harus mempelajari kembali proposal yang akan di bawanya. Suara ponselnya berbunyi, dengan pelan.


Karena sengaja dia pelankan agar nanti tak mengganggu meetingnya dengan klien. Dia mengambil ponselnya kemudian mengangkatnya, "Halo?"


"Halo Aina, laporan yang kemarin kamu bawa sudah di kerjakan?" tanya orang di seberang sana yang ternyata pak Andi, sang kepala bagian keuangan.


"Belum pak, saya mengejar tugas dari pak Wisnu dulu untuk hari ini. Nanti kalau sudah selesai baru saya kerjakan." kata Aina.

__ADS_1


"Kapan bisa kamu selesaikan? Laporan itu banyak lho, jangan sampai tidak selesai ya Aina." pak Andi mengingatkan.


"Iya pak, Insya Allah besok kalau tidak banyak tugas dari pak Wisnu langsung selesai." kata Aina meyankinkan pak Iwan.


"Ya sudah, saya tunggu besok ya."


"Iya pak."


Lalu Aina menutup teleponnya, dia tidak sadar bahwa ada yang memperhatikannya. Aina menoleh, dia kaget sampai terlonjak ke belakang. Tangannya mengelus dada, degub jantungnya terlalu cepat dengan reaksi kagetnya itu.


"Kaget ya?" tanya orang itu sambil terkekeh.


"Pak Riyan mengagetkan saya saja. Kenapa tiba-tiba berdiri di samping saya?" tanya Aina masih mode kagetnya.


"Tadi kamu serius banget, jadi aku penasaran. Kelihatannya lagi bingung." kata Riyan penuh tanda tanya.


"Ya, sedikit bingung dan gugup juga." jawab Aina.


"Bingung kenapa?"


"Ya bingung aja, tugas satu belum selesai di tunggu tugas lain harus secepatnya selesai. Saya cuma punya satu otak dan dua tangan, mana semua harus secepatnya selesai." Aina mendengus.


Wajahnya masih kebingungan, membuat Riyan merasa kasihan. Dia pun duduk di meja, memperhatikan apa yang Aina lakukan.


"Terus, gugup kenapa?" tanya Riyan lagi.


"Ya, nanti meeting dengan Mr Tanaka harus berbahasa Inggris, karena beliau tidak akan paham bahasa kita. Mana lagi pak Wisnu memberitahunya mendadak. Semalaman saya belajar dengan giat, agar lancar bahasa Inggris saya..Saya takut akan mengecewakan beliau." jelas Aina.


Raut wajahnya sedikit takut. Dia melirik arloji di tangannya, jarum menunjukkan pukul tujuh empat puluh lima menit. Dia melirik ruangan atasannya.


"Dia datangnya telat, jam sembilan baru datang." kata Riyan seolah tahu tingkah Aina.


"Lho, hari ini kan mau meeting pak, kenapa telat?Katanya meeting ini penting." kata Aina heran.


"Kamu ngga di kasih tahu meeting jam berapa?" tanya Riyan. Aina menggeleng.


"Ck, orang itu. Bisabisanya ngga memberitahu kapan waktunya meeting." Riyan sedikit kesal dengan tingkah sahabat sekaligus bosnya itu.


"Memang jam berapa meetingnya pak?" tanya Aina penasaran.


"Kemarin dia bilang sih jam sembilan, tapi katanya di undur karena Mr Tanaka pesawatnya delay. Jadi mundur dua jam." ucap Riyan.


Dia lihat Aina kecewa dengan pengunduran waktunya, dia tahu Aina gugup.


"Dari pada bingung, kita ngobrol aja di pantry sekalian bikinkan kopi untukku."ajak Riyan.


Aina menghela nafas panjang, lalu dia pun mengangguk. Dari pada memikirkan meeting yang katanya di undur, lebih baik kenghilangkannya dengan minum kopi dengan Riyan. Lalu mereka menuju pantry untuk membuat kopi.


_


_

__ADS_1


*****************


__ADS_2