
"Minta izin untuk apa?"
"Di kantor aku di pindah tugaskan kerjanya di kantor pusat. Katanya di sana membutuhkan tenaga ahli untuk bagian keuangan." jelas Aina.
"Tenaga ahli?" tanya ayahnya penasaran.
"Maksudnya karyawan yang sudah berpengalaman di bidangnya yah. Aku di usulkan untuk di pindahkan di sana. Karena kantor pusat sedang merevisi dan mengecek keuangan dalam satu bulan kedepan, jadi untuk mengambil karyawan baru akan membutuhkan waktu yang lama.
Maka di usulkan mengambil tiap karyawan yang terbaik di setiap cabang untuk mempercepat penyelesaian laporan. Ya, akhirnya aku yang di pilih untuk di tugaskan di sana Yah." jawab Aina panjang lebar, berharap ayahnya mengerti dan memberinya izin.
"Memang ngga ada pegawai lain selain kamu, Ai?" tanya ayahnya.
"Kata kepala cabangnya akylu yang paling berkompeten untuk tugas itu, Yah. Ya aky pikir ngga ada salahnya kan untuk memajukan karirku di sana. Siapa tahu nanti Aina bertemu jodoh di sana kan yah?" Aina beralasan agar rencananya tidak gagal.
Ayah hanya menghela napas panjang, dia merasa berat harus berpisah dengan anak sulungnya itu. Tapi, jika itu untuk membuat anaknya senang. Kenapa harus di larang?
"Nanti kamu akan jauh dari keluarga sayang." sambung ibunya.
"Ngga kok Bu, aku akan sering-sering memberi kabar pada kalian. Aina juga agak berat sih Bu, tapi ini juga buat karirku." kata Aina beralih memandang ayahnya.
Dia mencari jawaban dari sang ayah tercinta. Berharap dalam hati ayahnya mengizinkannya. Tanpa ada drama atau pertanyaan lainnya.
"Kakak mau meniinggalkan kita semua?"tanya Jhody tidak terima.
"Ya enggaklah, Jhody. Kakak hanya pindah tugas, bukan pergi planet Mars." Aina berseloroh.
"Ish, kakak ni macam mana pula itu." jawab Jhody menirukan logat serial kartun Upin dan Ipin.
Aina terkekeh dengan tingkah adiknya yang lucu. Perpaduan cemberut dan logat bicara kaya kak Ros di film Upin Ipin menjadi santai yang tadinya sedikit tegang. Ada senyum di setiap wajah ayah dan ibunya, serta Shella dengan tingkah Jhody dan Aina.
"Tapi kan kakak sudah janji sama aku." kata Jhody lagi.
"Janji apa?"
"Tuh kan, sudah lupa. Padahal baru beberapa jam yang lalu ngomongnya, tapi sudah lupa. Apa lagi kalo sudah jauh, akan lupa selamanya." sambil pura-pura mengucek-ucek matanya kaya anak kecil yang minta di belikan es krim.
Dahi Aina mengkerut, dia berpikir beberapa jam lalu dia berjanji apa pada adiknya itu. Dia kemudian ingat dengan obrolan singkatnya setelah pulang dari kerjanya.
"Oh, itu. Kamu tenang aja, sebelum kakak berangkat kita jalan-jalan dulu." kata Aina.
"Asyiiik!" ucap Jhody kegirangan.
Sekolahnya sih sudah kelas satu SMP, itu berarti sudah berumur tiga belas tahun. Tapi kalau sama Aina manjanya seperti anak TK. Aina hanya tersenyum melihat tingkah adik bungsunya itu.
"Aku ikut dong, kak?" ini yang ngomong Shella yang sejak tadi hanya diam.
Usianya terpaut lima tahun dari Aina. Jika dia berumur sembilan belas tahun, maka Aina berumur dua puluh empat tahun. Terpaut jauh, tapi Aina sangat menyayangi Shella juga. Hanya akhir-akhir ini dia jarang mengobrol lama dengan adiknya itu.
"Ngga boleh!" cegah adiknya Jhody.
"Emang kenapa ngga boleh?"
__ADS_1
"Kak Shella pergi aja sana sama pacarnya. Mau ikut-ikutan aja sih."kata Jhody ketus.
Shella cemberut, kesal juga dengan ucapan adiknya itu.
"Udah-udah, kenapa kalian pada ribut sih?" kata ibunya melerai pertengkaran kedua anaknya itu.
Ayahnya hanya menggelengkan kepalanya melihat keributan anak-anaknya itu. Dia melihat aina lagi dan bertanya tentang rencana pindah kerjanya itu.
"Kapan rencananya akan pindah tugas, Ai?" tanya ayahnya.
"Katanya sih harus Minggu depan, Yah." jawab Aina.
Dia yakin akan di beri izin jika ayahnya sudah menanyakan kapan kepindahannya. Senyumnya sedikit mengembang, dia senang sekali. Berharap izin keluar dari mulut ayahnya.
"Kok cepet banget sih pindahnya. Ngga bisa nunggu sebulan gitu untuk siap-siap?"
"Di kantor pusatnya minta deadline Yah mengerjakan laporannya. Jadi laporan keuangan seluruh cabang yang ada harus di kumpulkan minggu depan, mau tidak mau harus berangkat saat itu juga.
Tadi juga kerjaan Aina suruh bawa pulang untuk di selesaikan secepatnya, karena mau di kumpulkan dengan yang lain supaya gampang untuk mengeceknya." kata Aina panjang lebar.
Ayahnya hanya manggut-manggut saja. Dia mengerti pekerjaan seperti itu membutuhkan waktu yang lama, apa lagi anaknya itu di tempatkan di bagian keuangan, jadi butuh waktu dan konsentrasi maksimal.
"Ayah tenang aja, Aina bakal sering memberi kabar kok dan di usahakan bisa sering pulang." kata Aina lagi.
"Ya sudah kalo itu jadi keputusan kamu. Ayah tunggu pulangnya Aina bawa calon yang baik ya." kata pak Edi.
"Terima kasih ayah, insya Allah" jawab Aina menghambur kepelukan ayahnya. Dia sangat senang sekali.
Aina terkekeh mendengar ucapan ayahnya, lalu dia melepas pelukannya dan beralih ke ibunya.
"Ish! ayah ngomongnya tuh kaya di peluk sama selingkuhan aja.Tapi awas yah kalo ayah selingkuh?!" kata Jhody mengancam.
"Kamu tuh, anak kecil tahu apa tentang selingkuh." kata ayahnya.
"Tahulah, itu yang di tivi-tivi film azab tentang suaminya selingkuh."
"Hadeeh ... Jhody, kamu nontonnya seperti emak-emak aja." kata Shella.
"Habisnya suka keliatan kalo
au ibu sedang nonton film itu." jawabnya sambil garuk-garuk kepala.
Semua hanya geleng-geleng kepala. Anak bungsu pak Edi dan ibu Erni itu memang banyak tingkah, ada saja kelakuannya yang membuat semua keluarganya geleng kepala.
"Jadi malam ini kita ngobrolnya selesai ya, ayah sudah kelah pengen istirahat." kata ayahnya mengakhiri pertemuan keluarga itu.
Akhirnya semua membubarkan diri dan masuk ke kamarnya masing-masing. Aina tidak langsung pergi ke kamarnya, dia menuju dapur untuk mengambil air dingin di kulkas. Entah kenapa tenggorokannya kering sedari tadi dia tahan karena tidak mau menghentikan acara obrolan penting tadi.
Dia membuka kulkas dan mengambil air mineral kemudian langsung meneguknya. Rasa dahaga sejak tadi di tahan sekarang sudah hilang. Setelah selesai dia mengambil lagi untuk di bawa ke kamarnya. Karena malam ini dia akan lembur merapikan laporan keuangan yang dia bawa tadi.
Tak lupa dia mengambil dua buah apel yang ada di kulkas. Lalu pergi ke kamarnya, karena dia juga sangat lelah sekali. Sampai di kamar, dia melihat Shella sudah duduk di tepi ranjangnya sambil membaca novel yang dia ambil dari meja kakaknya itu.
__ADS_1
Aina duduk di kursinya lalu membuka laptopnya. Dia tidak menyapa Shella terlebih dahulu, karena dia yakin adiknya itu ada maksud dengannya. Entah hanya sekedar ngobrol saja atau mengucapkan terima kasih karena dia tidak keberatan rencanany menikah muda dengan Arya.
"Kak?"
"Yah?" sahut Aina tanpa beralih dari monitor laptopnya.
Di gerakkanya kursor di tangannya, matanya menatap tajam pada angka-angka yang terpajang rapi di sana. Meneliti bagian mana yang mesti di perbaiki dan di tambahkan. Shella melihat kakaknya ragu.
"Kakak sibuk yah?"
"Hmm, ya." jawab Aina, tanpa menoleh.
"Ya udah deh, aku keluar aja kalau ganggu kakak." kata Shella.
"Kamu kalau mau ngomong, ngomong aja. Jangan pedulikan kakak sedang apa, kakak mendengarkan kok." ucap Aina.
"Kalau ngomong ngga di lihat sama orangnya serasa di cuekin, kak." kata Shella.
Aina menghela napas, kegiatannya berhenti kemudian menatap adiknya itu. Diam, dia menatap mata adiknya yang sama menatapnya juga.
"Mau ngomong apa?" tanyanya lagi, Shella tersenyum.
"Kata kak Arya mau ketemu sama kak Aina." jawabnya takut-takut.
"Mau apa?"
"Ya, mau ngobrol aja.Katanya mau sekalian minta izin sama kakak." jawab Shella.
"Ngga usah. Bilang aja kakak udah mengizinkan kalian nikah lebih dulu. Lagi pula Kakak lagi banyak kerjaan, ngga bisa di ganggu. Juga harus menyiapkan semua yang mau di bawa nanti." kata Aina beralasan.
Mau apa Arya mengajak bertemu, Tidak ada yang perlu di bahas. Aina yakin bukan cuma minta izin, tapi juga mungkin minta maaf secara langsung padanya.
"Tapi katanya, cuma sebentar aja kak. Mau ya?" bujuk Shella.
"Shella, kakak banyak kerjaan. Ngga ada waktu untuk sekedar ngobrol atau jalan-jalan. Kalau sudah ketemu, ngga mungkin sebentar pasti lama. Kamu bilang aja sama Arya, kakak ngga bisa. Lagi pula kalau cuma minta izin, sudah cukup izin dari ayah aja. Restu ayah itu sama dengan restu kakak, ngga usah kecewa ngga dapet restu dari kakak langsung." kata Aina lagi.
Shella diam, di tatapnya kakaknya itu. Aina mengalihkan pandanganya ke laptop kembali, dia mainkan jari-jarinya di atas tombol keyboard. Mencari sesuatu agar tampak sibuk.
"Ya udah, kak. Terima kasih kak Ai udah memberi izin secara langsung sama Shella untuk menikah lebih dulu." kata Shella.
"Maaf ya, bukannya kakak ngga mau. Tapi kamu kan tahu sendiri kakak banyak kerjaan dan juga harus siap-siap buat tugas baru. Kakak juga belum cari kos-kosan di sana. Tunggu selesai pekerjaan dulu baru memikirkan cari kosan di mana." kata Aina.
"Iya kak." lalu Shella keluar dari kamar Aina.
Aina hanya menghela napas panjang, pikirannya kacau dengan pembicaraan tadi. Niatnya dia mau fokus malam ini, tapi satu gangguan datang tak terduga. Dia pikir, masuknya Shella ke kamarnya untuk bertanya tentang kepindahannya.
Akhirnya setelah lama pikirannya terpecah gara-gara tadi, dia memutuskan untuk menyudahi kerjaannya lalu menuju ke ranjangnya untuk tidur. Dan untuk laporannya, besok dia lanjutkan di kantor.
_
_
__ADS_1
**************