
Riyan menatap laptop yang ada di depannya, dia mainkan kursor untuk menunjuk angka-angka yang terpampang di layar laptop dengan serius. Memeriksa pendapatan bulan ini yang beromset cukup besar. Riyan menatap puas hasil kerja kerasnya selama lima tahun belakangan ini.
Dia akan memberi bonus pada karyawannya di semua cabang. Lalu Riyan menelepon Arief dan menyuruhnya datang ke ruangannya. Tak berapa lama Arief pun datang dan duduk di kursi depan meja kerja Riyan.
"Rief, berapa seluruh karyawan di semua cabang restoran ini?" tanya Riyan pada Arief.
"Kan sudah ada catatannya pak di laporan." kata Arief sopan.
"Saya males buka laporan, kamu hitung aja. Kamu kan cukup pintar menghitung angka-angka dengan cepat, jadi hitung aja sekarang." kata Riyan lagi.
Lalu Arief berpikir dan memulai menghitung jumlah karyawan. Tangannya menghitung, keningnya berkerut dan matanya menajam dengan hitungan di tangannya. Riyan memperhatikan apa yang di lakukan oleh Arief.
"Semua cabang apa yang di sini aja pak?" tanya Arief memastikan.
"Semua Rief, tadi kan saya sudah bilang semua cabang." sahut Riyan.Arief hanya nyengir kuda.
"Yang di Kemang ada dua puluh enam, di pondok indah ada dua puluh, di Depok ada tujuh belas. Di Bekasi ada lima belas dan di blok M ada delapan belas. Jadi totalnya ada sembilan puluh enam, pak." ucap Arief mantap.
"Itu sudah termasuk satpam dan tukang parkir ngga?" tanya Riyan.
"Satpam masuk, tapi tukang parkir ngga masuk pak." jawab Arief ragu.
"Kenapa ngga di masukkan juga?"
"Tapi tukang parkir kan bukan karyawan pak Riyan?" lanjut Arief lagi.
"Ngga apa-apa, masukin aja semua jadi berapa orang?"
"Kalau di tambah tukang parkir enam jadinya seratus dua, pak."
"Oke, kamu boleh pergi dan tolong Wina suruh ke ruangan ku." kata Riyan.
"Baik pak, saya permisi."
"Emm."
Hanya itu jawaban Riyan, kemudian Arief keluar. Riyan masih mengutak-atik laptopnya. Memeriksa laporan bulanan setiap restoran yang ada. Dia membuat daftar bonus untuk semua karyawannya. Tak berapa lama, pintu di ketuk.
Tok tok tok.
"Masuk." lalu pintu di buka dan masuklah Wina yang tadi di panggil oleh Riyan.
"Ya pak Riyan, ada apa?" tanya Wina yang ternyata dia bagian keuangan.
"Sebentar, saya lagi mengetik dulu." kata Riyan masih memainkan laptopnya.
Lima belas menit Wina menunggu, lalu Riyan mengeprint catatan yang tadi dia ketik di laptop dan menyerahkannya pada Wina.
"Ini daftar karyawan yang dapat bonus bulan ini, sudah termasuk tukang parkir enam. Kamu berikan pada mereka nanti kalau gajian di bagikan." ucap Riyan.
Mata Wina berbinar, dia senang mendapat mandat itu. Tak hentinya menatap lembaran kertas tertulis catatan bonus karyawan.
"Bulan ini omsetnya cukup besar, jadi saya kasih bonus pada mereka semua." ucap Riyan lagi.
Yang tahu Wina sangat senang dengan kabar itu.
"Baik pak Riyan, terima kasih." jawab Wina senang.
__ADS_1
"Jangan sampai telat memberikan gajiannya, Wina." ucap Riyan lagi.
"Beres pak, saya akan membagikan gaji mereka tepat waktu." kata Wina.
"Bagus, jangan sampai keringat mereka menetes dulu sebelum gaji keluar."
"Baik, pak."
"Kamu boleh keluar."
"Baik pak, saya permisi dulu."
Lalu Wina pergi dari ruangan Riyan. Riyan merasa puas dengan tindakannya ini, baginya menyenangkan orang lain adalah kebahagiaannya. Apa lagi karyawannya yang sudah lima tahun bekerja padanya, sudah sepantasnya sebagai bos memberikan bonus ketika pendapatan meningkat.
Dia diam sejenak, lalu entah mengapa pikirannya melayang pada Aina. Dia rindu Aina yang sedikit manja jika bertemu di hari libur kerja. Dia tersenyum-senyum sendiri, hingga tak sadar pintu terbuka dan berdiri wanita paruh baya menatapnya heran.
Tangan kedua wanita itu di lipat depan dadanya,masih menatap Riyan yang sedang senyum-senyum sendiri. Menyadari kehadirannya tidak di sadari Riyan, wanita itu pun berdehem.
"Ehm!"
Sontak saja Riyan kaget dan melihat siapa yang tadi mengganggu lamunannya tentang Aina. Riyan membenarkan duduknya, agak terkejut ketika wanita itu adalah sang mama yang sejak tadi memperhatikannya.
"Eh, mama. Sejak kapan mama masuk?" tanya Riyan salah tingkah.
"Sejak kamu senyum-senyum sendiri tujuh menit yang lalu." jawab mamanya sambil melirik jam di tangannya.
Riyan tersenyum malu, ketahuan melamun. Dia mempersilakan mamanya duduk di sofa.
"Duduk mah." ajak Riyan yang menghampiri mamanya untuk duduk di sofa.
"Ada apa mama ke sini?"
"Kamu melamun apa sih?" tanyaamanya penasaran.
"Ngga melamun apa-apa."
"Pasti melamuni seorang gadis kan?" tanya mamanya penuh selidik.
"Ngga mah, aku lagi senang aja habis memberi kebahagiaan pada karyawanku." kata Riyan masih mengelak tebakan mamanya.
"Memberi kebahagiaan apa? Kamu aneh banget."
"Ngga aneh mama sayang, Riyan cuma kasih bonus pada karyawan aja. Bulan ini omsetnya cukup besar, jadi Riyan ngasih mereka bonus. Ya walaupun ngga besar sih, tapi membayangkan wajah bahagia mereka Riyan senang banget." ucap Riyan.
Mmang tidak ada yang bohong, tapi dia menutupi itu supaya mamanya tidak curiga kalau tadi dia memikirkan Aina.
"Mm., bagus juga. Memang sekali-kali mereka harus di kasih bonus."
"Iya mah, setiap omset naik banyak Riyan akan kasih bonus pada mereka." jawab Riyan bangga.
"Bagus itu. Lalu, bonus buat mama mana?" tanya mamanya dengan antusias.
"Mama pengen apa? Nanti Riyan belikan." kata Riyan.
"Mama mau menantu, Riyan." wajah Riyan tegang. Dia menunduk lalu di tatapnya lagi mamanya.
"Iya, Riyan akan kasih mama menantu yang cantik, baik dan juga pintar. Satu lagi Sholeha. Semoga,doakan ya mah." kata Riyan.
__ADS_1
"Mama selalu doakan kamu, tapi kapan mama di kenalin sama calon pacar, calon tunangan atau calon istri.? Mama ngga pernah liat kamu jalan sama cewek, Riyan." kata mamanya.
"Nanti mah, bila waktunya Riyan kenalkan. Mama yang sabar aja."
"Tapi janji yah tahun ini kamu udah dapat calon istri?"
"Insya Allah, mah. Riyan akan kasih bonus spesial menantu buat mama." ucap Riyan menghiburnya.
"Oke, mama tunggu janji kamu yah." Riyan mengangguk.
"Yan, saudara kita yang di Cirebon mau menikahkan anaknya. Kamu ikut mama ya kondangan ke sana?" kata mama Riyan. Riyan berpikir sejenak.
"Tante Irma mau menikahkan anaknya?Siapa?" tanya Riyan penasaran.
"Itu lho si Arya. Masa kamu lupa sih." kata mamanya.
"Sama siapa dia menikah, kok mendahului Riyan sih ma?"
"Sama pacarnya, siapa lagi. Memang kamu ngga punya pacar?." Riyan hanya tertawa kecil.
"Emang papa ngga bisa datang?"
"Papa katanya hari Minggunya ada perjalanan ke Palembang, jadi ngga bisa menemanj mama ke nikahan anak Tante Irma. Makanya mama minta kamu yang temani mama."
"Apa Juli ngga mau temani mama?"
"Juli ada pelatihan karate katanya di kampus."
"Emm, ya udah ngga apa-apa sama Riyan. Kapan acaranya.?"
"Akadnya hari Minggu, tapi mama hari Sabtu aja ke sananya. Gimana?" Riyan tampak berpikir.
"Kalau hari Sabtu Riyan mau ke Bogor, survei tempat untuk buka cabang baru di sana ma. Mama bisa ke sana sama supir dulu, nanti malamnya Riyan menyusul ke sana. Bagaimana?"
"Ya udah, ngga apa-apa. Tapi nanti kamu jangan telat ya, siapa tahu di sana ada yang kecantol sama kamu."
"Hahaha, ... mama bisa aja."
"Ya udah, mama pulang dulu ya. Juli katanya minta di antar beli baju buat persiapan hari Minggu. Papa juga pulang cepat hari ini." ucap mama Riyan.
"Iya ma."
"Kamu pulang ke rumah ngga malam ini?" tanyanya.
"Sepertinya ngga ma, Riyan pulang ke apartemen aja. Besok malam Riyan pulang ke rumah." kata Riyan.
"Ya udah, mama pulang dulu ya."
"Iya ma." lalu Riyan bangkit mengantarkan mamanya keluar dari kantornya. Tak lupa mencium tangan mamanya tanda hormat.
"Assalamualaikum..."
"Wa Alaikum salam."
_
_
__ADS_1
******************