
Setelah tadi malam acara pertunangan Shella selesai, pagi ini Aina beres-beres barang yang akan di bawanya nanti di tempat kerja baru. Dia masukkan pakaian yang kemarin belum sempat dia bereskan karena kesibukannya menyiapkan acara adiknya itu.
Ada beberapa barang yang sudah dia bereskan, tapi masih banyak yang perlu dia bereskan lagi. Tak lupa juga berkas-berkas yang akan di bawanya sudah dia rapikan. Semua benda-benda yang penting dia masukkan ke dalam koper.
Tidak banyak baju yang dia bawa,hanya beberapa baju kerja dan baju santai. Dia pikir,nanti setelah mendapatkan kos-kosan akan membeli baju lagi untuk selanjutnya. Suara dering ponsel di atas meja rias Aina berbunyi sangat keras.
Aina tidak segera mengangkat telepon,dia masih merapikan barang-barangnya.tapi dering telepon itu terus saja berbunyi. Mau tidak mau Aina bangkit dan mengambil ponsel yang ada di meja itu.Dia melihat nama bosnya yang menelepon, lalu dia mengangkatnya.
"Halo, pak Sony."
"Gimana Ai, kamu sudah siapkan?" tanya pak Sony di seberang sana.
"Iya pak, saya sudah siap." kata Aina.
"Istri saya nanyain kamu terus, kamu kapan kesininya."
"Masih beres-beres sedikit lagi, pak. Nanti kalau sudah siap, saya langsung ke rumah bapak." kata Aina.
"Oke, Ai saya tunggu ya."
"Iya pak."
Lalu pembicaraan telepon itu terputus, kemudian Aina melanjutkan kegiatannya lagi.
Tok tok tok.
Suara pintu di ketuk dari luar. Aina menoleh ke arah pintu, lalu berkata, "Siapa?"
"Ayah, Ai."
Aina memuju pintu kamarnya dan membukanya, dia melihat ayahnya berdiri depan pintu, "Ada apa yah?" tanya Aina.
""Kamu sedang apa?" tanya ayah.
"Lagi beres-beres, yah." jawab Aina.
Ayahnya masuk kamar, Aina mengikuti dari belakang. Dia ikut duduk di tepi ranjang setelah ayahnya duduk. Pak Edi memperhatikan satu persatu tas dan koper yang akan di bawa Aina.
"Berangkat jam berapa?" tanya ayahnya lagi.
"Habis duhur, yah." kata Aina.
Dia menatap ayahnya, ada rona kesedihan di wajah ayahnya. Aina mendekat dan memeluk ayahnya dari samping, pak Edi membalas pelukan anak kesayangannya itu.
"Sama siapa berangkatnya?"
"Bos Aina mau antar yah, sampai di tempat penginapan yang sudah di sediakan di sana." kata Aina.
"Ya sudah, nanti ayah antar sampai rumah bos kamu ya." kata pak Edi.
__ADS_1
"Ngga usah Yah, kan ayah mau berangkat ke Semarang. Ada mang Yanto nanti yang mengantar Aina kok." tolak Aina,
Dia tidak mau ayahnya repot karena harus mengantarnya. Karena jam setengah tiga nanti ayahnya mau pergi ke Semarang dengan ibunya.
"Ayah ingin antar kamu sayang, lagi pula ini kan hari Minggu. Ayah masih santai di rumah." kata pak Edi.
"Lho, tadi katanya waktu sarapan mau ke berangkat ke Semarang yah sama ibu." tanya Aina,
Dia merasa senang saja di antar ayahnya. Apa lagi sampai Jakarta, tapi ayahnya belum tahu tempat penginapan di sana. Belum nanti agak repot harus mencari asisten pribadi sang CEO.
"Sebenarnya ayah juga ingin antar kamu sampai Jakarta Ai, tapi ayah ngga bisa. Mendadak harus pergi ke Semarang." kata ayahnya sedikit kecewa.
"Iya, yah ngga apa-apa kok. Aina berangkat sama bos Aina, lagi pula nanti kalo ayah yang antar, Aina bingung mau ketemu asisten CEO nya, yah. Kalo sama bos Aina, Aina bisa langsung ketemu dan langsung ke penginapan yang sudah di sediakan di sana. Nanti langsung di kasih penjelasan." jawab Aina panjang lebar.
"Nanti kamu di sana harus jaga diri ya, Ai. Ngga boleh bergaul dengan sembarang orang. Di Jakarta itu kan banyak sekali godaannya, dalam bergaul harus hati-hati." nasehat ayahnya.
"Iya yah, Aina akan jaga diri. Nanti kalo sudah dapat kos-kosan, ayah sama ibu bisa mengunjungi Aina kalo ayah ngga sibuk." katanya.
"Iya, nanti jika ayah sempat dan ada kunjungan ke Jakarta. Oya, nanti kalo sudah sampai Jakarta, kabari ayah sayang." kata pak Edi.
"Iya yah."
"Ayah keluar dulu, mau menyiapkan berkas yang akan di bawa nanti sore." kata ayahnya beranjak dari tempat tidur Aina.
Lalu Aina melanjutkan kembali kegiatan yang tadi tertunda. Satu jam lewat sepuluh menit sudah Aina beres-beres, akhirnya dia selesai juga. Tak lupa menyiapkan baju untuk keberangkatannya.
Jam menunjukkan pukul sebelas lewat lima menit, itu artinya Aina harus segera mandi dan berdandan. Tak lupa sholat duhur dan menjama' sholat asar di tunaikan nanti sesudah azan duhur berkumandang. Dia tidak mau pak Sony, lebih tepatnya istrinya itu menunggunya lama sekali.
"Allahu Akbar ...."
_
"Bu, Aina lama banget keluarnya. Katanya harus cepat berangkat." kata ayah tidak sabar menunggu di mobil.
"Ngga tahu yah, mungkin ada yang ketinggalan." ujar ibu menenangkan ayah yang sedang gelisah.
"Ibu panggil Aina, katanya tadi ngga mau bosnya menunggu lama, kenapa dia yang lama sekali." kata ayahnya lagi dengan wajah gelisah.
"Sabar yah, ya sudah ibu menyusul Aina dulu ke ke kamarnya." lalu ibu Erni masuk ke rumah menyusul Aina.
"Ah, kamu di tunggu ayah dari tadi, Ai. Ayahmu ngga sabar banget." ucap ibu setelah ibu berpapasan dengan Aina yang segera keluar.
"Aina tadi ada yang ketinggalan, Bu. Jadi masuk kamar lagi untuk mengambilnya." kata Aina.
"Ya udah yuk, keluar. Nanti ayah tambah senewen lagi." lalu keduanya keluar menghampiri ayah yang sejak tadi gelisah.
"Ayo cepet masuk mobil Ai,"
"Iya yah, Aina pamit dulu sama ibu dan adik-adik dulu." lalu Aina memeluk ibunya, ibu Erni pun membalas pelukan Aina dengan erat.
__ADS_1
"Jaga diri ya sayang, sering-sering telepon ayah dan ibu. Jaga pola makannya juga, supaya ngga gampang sakit." kata ibu Erni sambil matanya berkaca-kaca.
Aina melepas pelukannya, dia melihat ibunya sudah menetes airmatanya. Aina menghapus air mata itu,lalu tersenyum.
"Iya, Bu. Aina akan sering telepon ayah sama ibu." kemudian Aina mencium kedua pipi ibunya dan mencium tangan ibunya dengan khidmat.
Kemudian dia beralih ke adik-adiknya yang sejak tadi hanya diam. Mereka tak tahu harus berkata apa. Aina memeluk Shella dan bergantian memeluk Jhody.
"Kak Aina jangan lupa, sering pulang ya." kata Jhody dengan wajah sedih.
"Insya Allah,"
"Nanti kalau Shella menikah, kak Aina pulangkan?" tanya Shella.
"Tentu saja pulang, acara penting kok ngga pulang." lalu Aina memeluk Shella kembali.
Kemudian diapun melepaskan pelukannya dan pergi menuju mobil,karena ayahnya sudah memanggilnya untuk segera naik. Mobilpun melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah atasan Aina. Setengah jam perjalanan,mobil Aina sampai tujuan.
Mobil berhenti di depan gerbang rumah bertingkat itu. Aina turun dari mobil dan langsung masuk kerumah bertingkat itu. Sedangkan ayah Aina menunggu di mobil.
"Selamat siang, pak Sony." sapa Aina pada atasannya itu. Pak Sony menoleh ke arah suara tersebut.
"Siang, Ai. Ya udah yuk kita langsung berangkat. Koper kamu belum di bawa ke sini?"
"Masih di mobil pak, nanti saya ke mobil ambil koper dulu."
"Langsung masukkan ke bagasi aja, Ai."
Tanpa menjawab Aina langsung menuju mobil ayahnya dan mengambil kopernya di bagasi. Ayah langsung keluar dan membantu Aina mengeluarkan kopernya.
"Langsung di masukin ke mobilnya pak Sony yah."
Setelah selesai memasukkan kopernya ke bagasi mobil pak Sony, Aina kemudian memeluk ayahnya dan mencium tangannya.
"Jaga dirimu ya nak, ayah akan merindukan kamu." kata ayah.
"Iya yah, Aina juga akan merindukan ayah." Aina kembali memeluk ayahnya, sedikit meneteskan air mata lalu dia mengusap lagi agar ayahnya tidak sedih melihatnya.
"Ya udah, ayah pulang dulu." kata ayahnya.
Aina hanya menganggukkan kepalanya serta tersenyum sambil melambaikan tangannya. Mobil pak Edi pun melaju meninggalkan rumah pak Sony. Aina masuk lagi ke rumah pak Sony.
"Ya udah, kita langsung berangkat. Nanti sampe sana kemalaman. Ma, Aina udah sudah menunggu nih!"
Dengan sedikit berlari, istri pak Sony menghampiri suaminya dan Aina. Aina tersenyum padanya,lalu di balasnya senyum itu oleh istrinya. Ketiganya langsung menuju mobil yang sudah di persiapkan oleh sopir keluarga. Tanpa menunggu lama, supir langsung menjalankan staternya dan melaju dengan kecepatan sedang.
_
_
__ADS_1
****************