
Setelah belanjaan mereka sedah terpenuhi, akhirnya mereka pun keluar dari mall. Menenteng belanjaan setiap orang beberapa keresek yang ada di tangan mereka.
"Bu, kita mampir dulu ya ke warung soto. Ayah tadi mau di bawain soto pulangnya." kata Aina setelah keluar dari mall.
"Belinya di mana Ai?" tanya ibu Erni.
"Kata ayah sih yang enak di belakang mall ini. Kita belinya sekalian yang banyak ya Bu, Aina juga lapar." kata Aina.
"Ya udah, ayo kita beli sekalian. Biar nanti malam ibu ngga masak lagi. Dan lagi, nanti keburu malam pulangnya, bisa-bisa ayahmu ngomel-ngomel terus." kata ibu, Aina hanya tersenyum.
"Kak, kok ke mallnya sebentar banget sih?" tanya Jhody dengan wajah masam.
"Udah sore, Jhody. Ayah udah menunggu di rumah. Kasihan kalau kelaparan."jawab ibu.
"Yah, tapi kan aku belum puas jalan-jalan sama kak Aina."
"Nanti lagi jalan-jalannya."
"Ngga seru kaya gini sih, ini sih ibu yang seneng dapat dua bodyguard yang bawa belanjaannya. Mana bawa belanjaan banyak banget lagi." gerutu Jhody.
"Kamu bawel banget sih jadi anak!" ibu marah-marah pada anaknya itu, sedangkan Jhody kembali cemberut.
"Ya udah, nanti kita atur jadwal lagi." kata Aina menengahi agar adiknya tidak kesal.
"Kapan kak?"
"Kalau sekolah kamu libur."
"Minggu besok sekolah libur."
"Hari Minggu kakak berangkat ke Jakarta, jadi ngga bisa."
"Yah, ngga ada kesempatan jalan-jalan dong."
"Nanti kalau kerja kakak libur cuti."
"Yah, itu sih lama banget. Kak Aina kan mau pindah kerja, baru pindah kerja mana ada langsung libur cuti."
"Ya nanti juga ada, libur cuti."
"Iya tapi kapan?"
"Jhody, kamu jangan cerewet kaya anak kecil gitu dong. Sekolah yang bener, anak udah SMP, tapi kelakuan kaya anak TK aja." kali ini ibunya sudah kesal dengan rajukan anak bungsunya itu.
Yang di omeli makin cemberut. Aina hanya tersenyum, tangannya mengelus kepala adiknya dengan lembut. Jhody masih kesal, di ajak jalan-jalan malah dia yang di suruh membawakan barang belanjaan ibunya.
"Maaf ya, kakak belum sempat ngajak kamu jalan-jalan. Lain kali kakak janji akan ajak kamu jalan-jalan." kata Aina menghibur adiknya.
Jhody hanya mengangguk, pandangannya ke arah ibunya yang sejak tadi sudah kesal padanya. Mereka sampai di depan mall, tukang becak sudah menunggu, lalu Aina dan Jhody naik becak untuk membeli soto pesanan ayahnya. Mereka menyuruh tukang becak jalan ke belakang maal, untuk membeli soto.
Setelah selesai membeli soto, mereka langsung menyetop taksi yang lewat. Mobil pun berhenti, ketiganya pun masuk ke dalam mobil. Lalu mobil yang mereka tumpangi melaju dengan cepat, karena jalanan sudah mulai sepi pengendara.
_
Hari ini adalah hari pertunangan Shella dan Arya. Tepatnya malam nanti jam tujuh tepat. Di kediaman rumah Aina keadaannya sangat sibuk, semua orang mengurusi tugasnya masing-masing. Aina kebagian tugas menghubungi keluarga terdekat dan saudara jauh.
Sudah di pastikan, segala macam pertanyaan dari saudara jauh 'kenapa adiknya dulu yang dapat jodoh atau kenapa kakaknya belum punya calon juga. Risih juga sebenarnya Aina menanggapi semua pertanyaan itu dengan santai, tapi telinganya dia buat setebal mungkin dan menguatkan hati sesabar mungkin.
Karena kenyataannya, Aina di dahului adiknya. Lagi pula tidak masalah jika jodohnya yang duluan datang adalah adiknya, namun begitu tidak semua orang akan mengerti situasi yang Aina hadapi.
"Ai, bude Diyah udah kamu hubungi belum?" tanya ibunya.
"Belum Bu, nanti Aina sekalian ke rumahnya aja. Kan dekat, sekalian Aina mau ketemu si Boby sekarang mungkin sudah sebesar apa dia." jawab Aina yang masih sibuk memencet nomor-nomor untuk di hungungi.
"Kalau bisa secepatnya Ai, ngga ada waktu lagi. Nanti marah Lho dia kalau di beri tahunya mendadak." kata ibu Erni.
__ADS_1
"Paling ngomel aja Bu, bude diyah sih ngga terlalu cerewet kaya Tante Rossi." kata Aina.
"Ya, tapi tetap saja harus cepat di beri tahu. Ibu lupa kemarin mampir ke bude Diyah waktu pulang dari arisan."
"Iya Bu, nanti selepas dzuhur aku ke rumah bude Diyah. Mobil ayah ngga ke pakai kan Bu?"
"Si Yanto lagi ibu suruh ke minimarket beli tisu sama air mineral, jadi ngga ada supir." jawab i u Erni.
"Kan habis dzuhur Aina pakainya Bu, pasti mang Yanto udah pulang." kata Aina.
"Ya udah, tunggu aja. Oh ya, cepat kamu kasih tahu tante Rossi. Di telepon aja."
"Iya."
_
Jam satu siang, Aina siap-siap pergi ke rumah bude Diyah. Tak lupa dia membawakan cemilan buah tangan untuk Boby anaknya bude Diyah. Aina keluar dari kamarnya, dia berpapasan dengan ayahnya yang sibuk dengan telepon di tangannya. Ayahnya memandang ke arah Aina yang kelihatan rapi.
"Ai, mau kemana? Rapi benar." tanya ayahnya heran.
"Mau ke rumah bude Diyah yah, kan belum di kasih tahu."
"Astaghfirullah ... Ayah lupa. Ya udah cepat sana berangkat, keburu sore. Kalau bisa sih kamu pulangnya sekalian di ajak budenya. Sekalian bantu-bantu di sini juga, repot kalau cuma bertiga yang mengurus persiapannya." kata pak Edi.
"Ya, paling juga berangkatnya sama pade Saman, yah." kata Aina.
"Coba aja, bilang kita lagi butuh bantuannya."
"Ayah sih kenapa bisa lupa begitu?"kata Aina heran.
"Ya maklum, ayah gantengmu ini lagi sibuk kerjaan juga." jawab ayah narsis.
"Idih, percaya diri sekali ayah bilang ganteng. Udah ubanan juga masih narsis aja. Hahah!." kata Aina tertawa kecil.
"Ya sudah, Aina pergi dulu ya yah." pamit Aina.
"Amiin ..." Aina tersenyum.
Lalu dia berlalu dari hadapan ayahnya langsung menuju keluar rumah.Di sana sudah menunggu supir pribadi ayahnya. Aina masuk ke dalam mobil, duduk di kursi belakang. Tak lupa oleh-oleh untuk kepondakannya, Boby yang suka sekali makan cemilan.
"Mang ke rumah bude Diyah ya." kata Aina.
"Siap non!" jawab Yanto sambil mengacungkan jempol.
Tak lama mobil pun bergerak meninggalkan rumah Aina. Menuju bude Diyah, kakak dari pak Edi. Selama di perjalanan, Aina selalu berdoa agar sampai di rumah budenya. Tidak terlalu banyak pertanyaan, karena dia di langkahi adiknya.
_
Sampai di rumah bude Diyah, Aina langsung masuk dan berucap salam. Masuk lebih ke dalam karena pintunya terbuka.
"Assalamu Alaikum, bude." kata Aina sambil mencium tangan budenya ketika sudah bertemu.
"Wa Alaikum salam, Ai. Tumben ke sini, ada apa?" tanya bude Diyah.
"Ini bude, di undang ibu dan ayah menghadiri acara pertunangan nanti malam." kata Aina.
"Pertunangan kamu, Ai?" tanya bude Diyah.
"Bukan bude, pertunangan Shella." jawab Aina.
"Lho, kok Shella dulu yang tunangan?" tanya bude Diyah heran.
"Ya ngga apa-apa bude. Sudah jodohnya sekarang, kenapa harus di tunda." kata Aina santai.
Dia sudah mempersiapkan kemungkinan pertanyaan-pertanyaan semacam ini dari orang-orang atau keluarga dekatnya, dan akan di jawab dengan jawaban yang masuk akal dan di tanggapi sesantai mungkin.
__ADS_1
Dan juga, pertanyaan seperti ini akan terus ada dari orang-orang setidaknya sampai nanti malam. Dia akan terus menjawab dan menanggapi dengan santai.
"Memang kamu ngga apa-apa di langkahi adik kamu, Ai?" tanya budenya.
"Ngga apa-apalah bude. Nanti Aina juga ada jodohnya sendiri. Mungkin belum sekarang bude, udahlah jangan bahas itu lagi." kata Aina merasa enggan.
"Kamu kecewa Ai?"
"Ya enggak bude, tapi buat apa Aina kecewa. Ini kan yang menentukan itu Allah SWT, jadi buat apa Aina kecewa." kata Aina.
"Iya juga sih." akhirnya bude Diyah mengerti dengan penjelasan Aina.
"Boby mana, Bud? Kok ngga kelihatan." tanya Aina
Tangan yang sejak tadi membawa oleh-oleh Snack kesukaan sepupu kecilnya itu di letakkan ya di meja makan. Matanya berkeliling mencari anak kecil yang sering sekali dia ajak main sewaktu dia masih sekolah dulu.
"Iya tuh, ngga tahu main kemana. Tadi sih ada temannya datang, jadi sekarang belum pulang."
"Yah, padahal saya bawa Snack kesukaan dia lho bude." ucap Aina kecewa.
Selang beberapa menit berucap seperti itu, anak yang tadi di tunggu muncul sambil histeris dan berlari memanggil Aina. Aina pun kaget.
"Kak Aina!! Boby kangen."ucap Boby sambil menghambur kepelukan Aina.
Aina kaget dan terdorong ke belakang karena saking kencangnya Boby memeluk. Mungkin karena besarnya tubuh Boby jadi Aina terdorong ke belakang.
"Iya, kak Aina juga kangen Boby. Kamu masih gede aja badannya, masih keperti gajah kak Aina jadi mau jatuh nih." kata Aina sambil tertawa.
Yang di ledek wajahnya berubah cemberut. Aina makin tertawa dengan muka lucu Boby. Dia mencubit hidung anak berusia sembilan tahun itu.
"Eh, kak Aina bawa apa?"
"Tuh, lihat aja di meja makan. Seperti biasa, Snack kesukaan kamu." kata Aina menunjuk ke arah meja makan.
"Asyiiik!"
Lalu Boby berlari menuju meja makan dan mengambil Snack yang tadi di bawa Aina. Aina kembali duduk di kursi ruang tamu,dia membaca majalah yang tersedia di sana. Bude diyah pun ikut duduk lagi di sampingnya.
"Bude, kata ayah bude ikut Aina pulang sekarang. Buat bantu-bantu di rumah." kata Aina.
"Pade Saman belum pulang, Ai. Ngga enak pergi tanpa pamit sama suami, rumah nanti ngga dapat ridho suami dapat dosa. Nanti kamu juga kalo udah punya suami harus begitu, Ai." kata bude Diyah mengingatkan Aina.
"Teleponlah, bud. Minta ijin."
"Ngga, udah bude nanti aja ke sananya sama pade Saman." tolak bude Diyah.
"Yah, ayah pasti kecewa nih Bud, Aina ngga bisa bawa bude ikut pulang."
"Ya udah, si Boby aja tuh di ajak. Suruh dia bersih-bersih."
"Iya, suruh bersih-bersih makanan di piring."
"Hahaha! Kamu bisa aja Ai."
"Ya udah deh bude, Aina pamit dulu. Keburu sore, lagi pula di rumah sedang repot, kasihan ibu."
"Iya, maaf ya Ai. Bude ngga bisa bantu-bantu kalian. Bilangin ke ayah sama ibu kamu, bude minta maaf ngga bisa bantu dari awal. Salah ayah dan ibumu kenapa juga ngga kasih tahunya mendadak gini."
"Tahu tuh ayah, so sibuk banget. Kalo gitu Aina pulang dulu bude. Assalamualaikum." kata Aina sambil mencium tangan budenya.
Kemudian dia lalu masuk ke dalam mobil, menyuruh supir ayahnya itu untuk segera pulang ke rumah.
_
_
__ADS_1
*****************