Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
38. Janjian Dengan Aldo


__ADS_3

Jam satu siang Aina janjian ketemu dengan Aldo di sebuah kafe terdekat, karena malam nanti Aina harus balik lagi ke Jakarta. Aldo ingin bicara dengannya di kafe, entah apa yang mau dia bicarakan dengan Aina.


Setelah turun dari taksi, Aina langsung mencari tempat di mana Aldo sudah menunggunya. Aina sendiri sebenarnya tidak tahu, kenapa dia mau bertemu Aldo. Sedangkan dia sendiri tidak terlalu kran dengan Aldo.


Hanya kisah masa lalu yang menyakitkan yang mempertemukan mereka dan saling mengenal. Tapi Aina ingin berdamai dengan egonya, dia ingin menerima pertemanan jika itu yang di inginkan, tapi untuk lebih jauh Aina masih belum bisa.


Karena pada dasarnya Aina belum berani melangkah jika ada seseorang dengan berani langsung menghadap ayahnya, dan memintanya untuk di jadikan istri. Itu yang jadi akan pertimbangan Aina nanti pada laki-laki. Mata Aina berkeliling, dan di pojok kafe Aina melihat lambaian tangan Aldo yang sejak tadi memberi isyarat


Tapi Aina baru menyadarinya. Kemudian Aina menghampiri Aldo dan duduk berhadapan dengan Aldo. Aldo tersenyum padanya, menatap Aina yang terlihat cantik kali ini.


"Kamu cantik sekali Aina." ucap Aldo basa basi.


"Terima kasih, aku ngga punya uang receh." ucap Aina.


"Hahah! Kamu bisa aja, ya udah kamu mau minum apa?" tanya Aldo ketika Aina duduk.


"Jus alpukat aja." jawab Aina singkat.


Lalu Aldo memanggil waiters dan memesan jus yang di inginkan Aina. Sekalian dia juga pesan brownis coklat lumer andalan kafe ini. Mencoba sesuatu yang sedang populer di kafe anak remaja itu.


"Ada apa ingin bertemu denganku?" tanya Aina langsung saja bertanya pada Aldo.


Aldo tertawa renyah, dia maklum dengan Aina yang begitu tanpa basa basi. Dia juga suka gaya Aina yang tidak mau bertele-tele. Tapi dia juga ingin berlama-lama mengobrol dengan Aina. Rasanya ada yang berbeda jika dia bicara dengan Aina.


Jika dulu waktu kuliah ada Arya yang sedang mendekati Aina. Karena anda maksud lain, tapi sekarang Aldo ingin mendekati Aina baik-baik. Itu yang di rencanakan Aldo sejak Arya memutuskan bertunangan dengan Shella, adik Aina.


"Aku hanya mau mengobrol saja dengan kamu Ai. Kangen sama teman lama." Aldo memberi alasan.


"Kita tidak sedekat itu sampai kangen mengobrol dengan teman lama segala." jawab Aina datar.


Aldo mengerutkan dahinya, melihat sikap Aina yang berbeda jadi heran. Kemarin Aina begitu hangat menemaninya mengobrol di pesta pernikahan Arya.

__ADS_1


"Oke, aku hanya ingin dekat sama kamu aja Ai. Apa kamu sudah punya pacar?" kali ini Aldo langsung saja menanyakan hal yang sensitif bagi Aina.


Aina menghela nafas panjang. Dia menatap waiters yang sudah datang mengantarkan pesanannya.Kemudian dia ambil jus alpukat dan menyedotnya dengan cepat. Aina belum menjawab, tapi Aldo sudah menatapnya sedari tadi. Dan menunggu jawaban Aina tentang pertanyaannya itu.


"Apa urusannya jika aku belum punya lacar atau apa urusannya juga kalau aku sudah punya pacar." jawaban Aina sebenarnya membuat Aldo bingung, namun dia tidak ingin menyerah.


"Ya kalau kamu udah punya pacar, aku mundur dekati kamu, tapi kalau belum tolong nomor ponsel kamu kasih ke aku." kata Aldo lagi.


Aina mendengus, dia tahu sebenarnya Aldo akan bertanya itu, namun Aina masih malas untuk menanggapi Aldo. Kemudian satu panggilan telepon masuk ke ponsel Aina, dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang meneleponnya.


Pikiran Aina berjalan, setidaknya ini waktu yang pas untuk menghindar dari Aldo. Lalu Aina mengangkat sambungan telepon itu, dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Halo, ada apa mas?" tanya Aina.


"Ngga, cuma ingin tanya aja. Kamu sedang apa?" tanya Riyan yang ternyata meneleponnya.


Aina masih tersenyum, dia senang di perhatikan seperti itu. Melirik ke arah Aldo yang menatapnya curiga, dan kesal.


Aldo yang melihat Aina menerima telepon yang di kiranya adalah laki-laki, dia mendengus kesal dengan percakapan Aina dengan orang yang di telepon itu.


"Teman siapa? perasaan kamu ngga punya teman deh." ucap Aldo.


"Yang kemarin mengobrol itu waktu makan." kata Aina lagi.


"Sedang apa kamu sama dia?" tanya Riyan penasaran, dia tersulut emosi ketika mendengar Aina ngobrol sama temannya yang kemarin terlihat akrab.


"Ih, mas Riyan ingin tahu aja ya. Hahah!" ucap Aina dengan tawanya.


"Hahah! ya ngga apa-apa kan. Ya udah kalau begitu, aaku tutup aja teleponnya takut ganggu."


Klik!

__ADS_1


Lalu telepon pun berhenti, Aina hanya tersenyum dengan tingkah Riyan yang terlalu ingin tahu walaupun sebenarnya dia senang di telepon Riyan. Lalu Aina masukkan lagi ponselnya.


"Dia pacar kamu?" tanya Aldo penuh selidik. Aina hanya tersenyum tak menjawab, menyeruput jus alpukatnya dengan cepat.


Tak lama telepon Aldo pun berbunyi, lalu Aldo mengangkat teleponnya dan berbicara serius. Setelah selesai bicara di telepon, Aldo mematikan sambungan teleponnya.


"Aku harus pergi Ai. Ada yang harus aku urus di kantor." kata Aldo.


"Kamu sibuk sekali." kata Aina.


"Ya, aku di promosikan naik jabatan. Jadi aku banyak pekerjaan di kantor." jawab Aldo.


"Baiklah, terima kasih traktirannya ya."


"Itu hanya jus saja, ngga sempat makan."


"Hahah! Tetap saja jusnya gratis."


"Duh, aku merasa aneh dengan kamu. Tadi waktu baru datang ketus banget. Sekarang sepertinya kamu benar-benar ramah."


"Haish, kamu itu. Ya sudah, sana pergi ke kantor dulu. Katanya di tunggu di kantor." ucap Aina.


"Iya, aku pergi dulu, maaf ya Aina."


"Ya."


Lalu Aldo bangkit dari duduknya setelah berpamitan pada Aina dan membayar bill yang tadi di pesannya. Aina justru menghabiskan jus alpukatnya, bahkan brownis lumer pesanan Aldo dia makan. Aina pikir sangat sayang jika tidak di makan karena sudah di bayar.


_


_

__ADS_1


*********************


__ADS_2