
Jam enam sore Aina sampai di stasiun Senen. Dia berangkat sendiri. Sejak tadi pagi mengantar Aina ke kantor, Riyan belum menghubunginya. Ada rasa kehilangan pada Aina, Riyan tidak meneleponnya atau mengiriminya pesan hari ini.
Rindu, itu yang ada di hati Aina. Dia tersenyum, wajahnya merona ketika ingatannya dengan makan malam spesial, di mana ketika dia berbincang dengan mamanya Riyan ibu Sarah setelah makan malam bersama.
Buru-buru dia membuyarkan pikirannya tentang makan malam sepesial dengan keluarga Riyan. Dia tidak mau berbesar kepala dengan mengingat makan malam itu, karena Riyan belum mengatakan apa-apa tentang keseriusannya dengan Aina.
Kereta datang pukul enam tiga puluh, jadi Aina ada waktu untuk melakukan sholat maghrib di mushola stasiun. Dengan di jamak takdim dengan waktu isya, Aina akan sholat lebih cepat. Dia takut akan ketinggalan kereta nantinya.
Setelah selesai sholat, Aina segera meninggalkan mushola. Dia pergi menuju peron yang sebentar lagi kereta Cirebon Ekspres memasuki stasiun. Menenteng tas besarnya dan juga tas selempang, seperti yang lainnya dia menunggu di jalur dua yang menuju ke arah jawa tengah.
Tak lama kereta yang dia maksud pun sudah datang, dengan perlahan kereta mulai berhenti. Aina segera masuk gerbong kereta di gerbong nomor empat, di kursi bagian tiga belas C. Setelah menemukan kursinya, dia langsung duduk bersebelahan dengan satu ibu membawa balitanya.
Aina hanya tersenyum saja pada ibu itu. Lalu dia pun memasang head setnya untuk mendengarkan lagu-lagu yang dia suka. Tiba-tiba perutnya lapar, sejak pulang dari kantor dia belum mengisi perut. Sibuk merapikan baju yang dia bawa dan juga oleh-oleh untuk adiknya Jhody.
Aina pun mengambil roti yang dia beli sewaktu pergi ke mall. Sengaja dia beli memang untuk memgganjal perut ketika di dalam kereta, dengan sebotol air mineral. Sambil makan dia memeriksa ponselnya, berharap ada pesan wathsap dari Riyan. Tapi ternyata tidak ada.
"Mas Riyan sibuk banget ya, ngga sempat mengirimiku pesan atau meneleponku." gumam Aina.
Memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya, lalu menyelesaikan makan roti lalu dia akan tertidur sebentar. Karena Aina memang sangat lelah dan mencoba untuk memejamkan matanya sejenak.
_
Tiga jam dalam perjalanan kereta, kini kereta Cirebon Ekspres sudah memasuki stasiun Jatibarang. Aina terbangun dari tidurnya dengan suara dering telepon di ponselnya. Cepat-cepat dia ambil ponselnya, tapi dia kecewa setelah melihat siapa yang menelepon. Kemudian Aina mengangkat teleponnya.
"Assalamualaikum, ayah.." ucap Aina.
"Walaikum salam, Ai. Kamu sudah sampai stasiun?" tanya ayahnya yang tadi menghubunginya.
"Iya, Aina sebentar lagi sampai stasiun yah, baru sampai stasiun Jatibarang." jawab Aina.
"Ya sudah. Nanti kalau sudah sampai stasiun Kejaksan langsung hubungi ayah ya." kata ayahnya.
"Iya ayah." jawab Aina singkat.
__ADS_1
Aina menutup sambungan teleponnya. Satu notif pesan berbunyi, buru-buru dia buka. Tapi dia kembali kecewa, bukan dari Riyan melainkan dari Anto. Menarik nafas panjang, rasanya entah seperti apa hatinya yang selalu menunggu pesan singkat dari Riyan.
'Sudah sampai Cirebon, Aina?" begitu pesan singkat dari Anto.
'Sudah,' jawab Aina singkat.
'Besok aku main ke rumahmu ya.' pesan terkirim dari Anto lagi di ponsel Aina.
Tapi Aina tidak membalasnya, dia masukkan lagi ponselnya. Dia benar-benar masih mengantuk, Tapi sebentar lagi sampai stasiun. Hatinya benar-benar berharap Riyan mengiriminya kabar, meski hanya pesan singkat.
Untuk meredakan rasa kecewanya, Aina mencoba kembali memainkan musik di ponselnya. Atau sekedar membuka sosial medianya. Dari pada dia selalu bertanya mengapa dia menunggu pesan singkat atau telepon dari Riyan. Meski pun itu aneh baginya.
_
Sampai di stasiun Kejaksan, Aina menghubungi ayahnya. Sambil menunggu ayahnya menjemput, Aina pergi ke warung makan di sekitar stasiun.Dia sangat lapar. Lalu dia memilih warung yang menjual nasi Jamblang, dia rindu dengan makanan khas Cirebon itu.
Satu porsi nasi Jamblang dan lauk sambel goreng ati, sate kentang dan dua potong belekutak (semacam Sontong/cumi) bumbu hitam. Tak lupa es teh manis. Sebelum di santap, makanannya dia abadikan di ponselnya dan meng-upload di wasthap.
"Lapar ya Ai?" tanya ayahnya. Sontak kaget, Aina menoleh.
"Eh ayah, udah sampai?."kata Aina masih mengunyah makanannya.
"Dari tadi, sayang. Kamu kelihatannya lapar banget." ucap pak Edi lagi.
"Iya, dari pulang kantor Aina belum makan, jadi lapar. Maaf ya yah, ayah menunggu Aina selesai makan dulu." ucap Aina.
"Ngga apa-apa, makan aja dulu yang tenang. Jangan buru-buru, nanti kesedak" ucap pak Edi mengingatkan anaknya itu.
Lalu Aina melanjutkan makannya dan segera menghabiskannya, karena dia tidak mau menunggu lama untuk pulang ke rumahnya.
Setelah selesai, Aina dan ayahnya langsung pulang.
Hanya butuh waktu setengah jam mereka sampai di rumah. Dan setelah sampai di rumah, Aina di sambut Bu Erni dan adiknya Jhody.
__ADS_1
"Shella kemana Bu?" tanya Aina heran, setelah masuk kamarnya yang di ikuti oleh Bu Erni.
"Ya di rumah suaminya, Ai. Kamu lupa Shella sudah punya suami?" kata ibu Erni.
"Oh iya, Aina lupa Bu. Heheh..." jawab Aina sambil tertawa kecil.
"Udah Bu, di di situ aja kopernya. Ibu ngga usah repot-repot beresin baju Aina." kata Aina.
"Ngga apa-apa sayang, ibu ngga repot.kok. Lagi pula ibu tuh kangen kamu. Kamu sehat kan sayang?" tanya ibu Erni sambil menatap sendu ke anak sambungnya itu.
Aina yang di tatap seperti itu oleh ibunya, lalu dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Bu Erni kemudian memeluknya erat. Dia tahu, ada perasaan kasihan ibu sambungnya padanya. Namun, dia juga tidak mau merasa di kasihani.
"Aina juga kangen ibu. Kangen juga masakan ibu." ucap Aina manja.
Hati ibu Erni senang, dia tersenyum lalu melepas pelukan Aina dan menatap wajah Aina yang sudah dia anggap anak kandungnya.
"Ya udah, besok ibu masakin makanan kesukaan kamu, sambel ati goreng dan belekutak bumbu hitam." ucap ibu Erni.
Aina tersenyum senang, lalu dia mengangguk. Pintu kamar Aina terbuka,muncul pak Edi menghampiri mereka.
"Bu, ayo keluar. Aina pasti lelah, biarkan dia istirahat dulu." ajak suaminya itu, Bu Erni hanya mengangguk saja.
"Ya udah, kamu istirahat dulu. Besok pagi-pagi sekali ibu ke pasar." kata Bu Erni.
"Iya." singkat Aina menjawab.
Lalu pak Edi dan Bu Erni keluar dari kamar Aina. Aina langsung merebahkan badannya, dia memang sangat lelah dan mengantuk. Sebelum tidur, Aina mengeluarkan ponselnya dan di letakkan di meja kecil lalu merebahkan badannya. Dan beberapa menit kemudian matanya sudah rapat sehingga satu panggilan tidak terjawab masuk di ponselnya. Lama tidak di angkat, akhirnya beberapa pesan masuk di ponsel Aina.
_
_
***********************
__ADS_1