Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Bertatap


__ADS_3

Melihat Tuan Ray yang tiba tiba muncul membuat para pelayan yang ada disituh kaget! Bahkan ini pertama kali bagi mereka bisa berdekatan dengan Tuan Ray, kecuali bi Siti.


Kalau Bi Siti sering bertatapan langsung dengan Tuan Ray, biasanya jarak mereka dan Tuan Ray jauh, jika dekat saja mereka akan menunduk tidak berani menatap tapi kali ini mereka sangat kaget, akhirnya menatap wajah Tuan Ray.


Tuan Ray hampir tidak pernah ke dapur, jika perlu apa-apa Tuan Ray hanya memanggil pak Haris, momen Langka.


" Tuan. maafkan Bibi, tadi Bibi sudah melarang Non Killa agar tidak memasak, dan Nona Killa juga patuh, beliau tidak memasak. Saya sedang bujuk Nona agar kembali lagi ke kamarnya." ucap Bibi ketakutan, Bibi takut kalau tuan Ray akan marah kepadanya, apalagi Killa yang baru sembuh.


Ray tersenyum ke arah Bibi, lalu beralih ke arah Killa.


"Kenapa kau mau memasak? Istirahatlah, nanti kalau bibi sudah selesai masak, Bibi akan panggil kamu untuk makan." Ray memandang Killa.


" Tuan, maaf." Killa menunduk, rasanya dipandang seperti itu oleh Ray, Killa risih.


"Saya hanya bosan, saya juga bingung mau ngapain. Please tuan izinkan saya memasak." Killa merasa tidak enak hati, cuma makan tidur, makan tidur tidak ada kerjaan, sedangkan dirinya hanya numpang! Numpang lho. Tolong kata Numpangnya di Garis bawahin. Biar Killa nambah Sadar. Bahwa dirinya hanya numpang!


Ray Tidak menggubris keinginan Killa. Ray menyuruh Killa agar kembali istirahat. Killa pun patuh dengan ucapan Ray. Namun, wajah Killa berubah jadi sedih, menunduk cara jitu untuk menutupi kesedihannya agar tidak terlihat.


***


Pagi-pagi buta dan jam menunjukan pukul setengah enam. Ray mengetuk pintu kamar Killa. Memanggil-manggil nama Killa. Membuat yang ada dikamar keheranan. Killa menyauti panggilan Ray. Dia berjalan menuju pintu kamar untuk membukakan pintu. Dalam berjalan melangkah, hati Killa dipenuhi tanda tanya.


Ada apa pagi-pagi buta Tuan memanggil aku? Apa sudah waktunya aku pergi dari rumah ini? Huh... kabar baik. Jika benar aku disuruh pergi dari rumah ini. Sebuah kebahagian yang ku inginkan. Dengan senang hati aku menerimanya.


"Maaf Tuan. Lama buka pintunya." ucap Killa ketika pintu sudah dibuka.


Beruntung Killa punya kebiasaan baik, yaitu mandi sebelum Adzan subuh dikumandangkan. Jadi pagi-pagi buta berhadapan dengan Ray. Wajah Killa sudah cerah tidak menampakan wajah bantal.


"Tidak masalah. Oh iya kamu beneran sudah sehat kan?"

__ADS_1


Tuh kan benar, apa yang ku pikir. Sudah waktunya jangan jadi tuan putri lagi.


"Iya tuan. Saya sudah sehat." Killa Tersenyum menandakan bahwa dirinya memang sudah sehat.


"Syukurlah kalau begitu, ayok ikut saya," ucapnya lalu jalan menurunin anak tangga. Killa pun mengekor mengikuti dibelakangnya.


Mau kemana? tinggal bilang saja. Kill beres kan barang-barang mu, sudah waktunya kamu pergi dari rumah ini. Gitu kan beres. hihi.


"Kill, kita akan memasak, aku rasa tidak masalah jika memasak. Buat menghilangkan rasa bosan yang kau rasa." Ray lalu berhenti melangkah.


Membuat Killa yang berada di belakang Ray menabrak Ray, karena Killa jalan menunduk dan tidak tahu kalau Ray berhenti jalan. Hampir terjatuh, tapi Ray segera menangkapnya, hingga Killa jatuh ke pelukan Ray dan saling bertatap. Tatapan mata yang jaraknya sangat dekat membuat jantung Ray berdebar sangat kencang, pasalnya ini pertama kali Ray saling bertatapan dengan Killa jarak yang sangat dekat. Mata Killa yang indah, bulu mata yang lentik, saling pandang satu sama lain. Tangan Ray bergemetar tak kuat jika harus menahan Killa. Tiba-tiba kekuatannya redup, berhadapan mata dengannya membuat tenaga Ray berkurang. Ray berusaha menahan tubuh Killa agar tidak terjatuh, berusaha menormalkan pikirannya yang sudah menari-nari kesana kemari.


"Maaf. Saya hanya membantu agar kamu tidak terjatuh." melepaskan pelukan yang tanpa sengaja.


"Tidak, Tuan. Saya yang harus minta maaf ke Tuan. Maafkan saya yang jalan tidak hati-hati. Bahkan hampir membahayakan Tuan. Maafkan saya, Tuan." menundukkan kepala, gugup. Apa yang dirasa Ray, Killa pun merasakan bergejolak hatinya, menatap dekat dengan Ray, Ray yang memiliki wajah rupawan, alis tebal, mata sipit.


Ahhh, beliau sangat rupawan. Killa kagum atas ciptaan Tuhan yang indah.


"Salah saya, yang menghentikan langkah tanpa memberi aba-aba, hingga kau menabrak saya. Yasudah ayok kita ke dapur. Kamu mau memasak kan?"


Mendengar kata memasak Killa antusias. Dia bahagia, dia tidak akan jadi orang pengangguran lagi. Killa akan jadi orang yang sedikit berguna. Walau cuma masak, tapi setidaknya Killa ada kesibukan. Dan dia bisa mengurangi rasa ketidak enakan hati yang hanya makan tidur, makan tidur, seperti manusia yang tidak ada gunanya. Pikiran tentang di suruh pergi ternyata salah.


Sampai di dapur Killa dibuat kagum. Dimana semua bahan masakan sudah tertata rapi. Sayuran yang sudah dipotongin bahkan sudah dicuci, ikan yang sudah di bersihin, bumbu masakan sudah siapkan, terpisah dengan rapih antara yang diuleg atau yang hanya di iris. Semua keperluan masak tuk saat ini sudah siap. Tinggal Sreng ... Sreng ... doang. Luar biasa kan? Namanya juga tuan Putri. Tidak boleh capek-capek, mau masak pun sudah disiapkan. Memang benar, 'HORANG KAYA' ma bebas. Haha iya kan?


Belum cukup sampai disitu. Bahkan Killa hanya disuruh duduk saja.


Semua diambil alih oleh Ray, mulai yang menggoreng, menumis, menyayur semuanya diambil alih oleh Ray. Killa hanya duduk memperhatikan Ray memasak dan memberi petunjuk cara masak. Luar biasa kan? Masak macam apa ini? oh iya ini ma namanya sedang masak-masakan. Intinya sama saja Killa tidak berkerja lagi. Dia jadi tuan putri lagi, menjadi tuan putri yang bukan haknya.


"Killa, ini gimana balik ikannya? kenapa minyaknya jahat, auwww. Aku jadi kena minyak." teriak Ray dengan menjauh dari kompor dan memegang tutup panci sebagai pelindung.

__ADS_1


Killa terkekeh melihat Ray.


"Tuan, sini biar saya yang balik." ucap Killa dengan mengambil alih.


"Yah, gosong ..."


"Kenapa bisa sampai gosong? " pertanyaanya yang seharusnya jangan di tanyakan, akan tetapi terucap di bibir Ray.


Hah! dia tanya kenapa? bukanya dirinya yang goreng?


"Tuan." dengan nada sedih. "Kenapa apinya besar? Bukanya tadi saya nyuruh pake api kecil? "


"Mmm, maaf tadi aku di besarin apinya, aku pikir biar cepet matang, bukanya dengan api yang besar memudahkan ikan cepat matang?" jawab Ray dengan memelas dan merasa bersalah.


"Kalau menggoreng ikan menggunakan api besar, bukanya cepat matang, Tuan. namun cepat gosong."jawab Killa ketawa.


"Memang seperti itu?" Tanya Ray yang tidak percaya.


"Iya Tuan, nih buktinya." Killa Tersenyum saat menuding Ikan yang gosong. Dibalas dengan ketawa tuan Ray, yang tidak menyangka bahwa dirinya tidak bisa memasak.


Ray mengajak untuk langsung sarapan dengan masakan yang sudah matang, dan membuang ikan yang gosong.


Killa dengan cekatan, menyiapkan makanan untuk disajikan di meja makan. Jangan tanyakan kemana para pelayan? para pelayan semua disuruh jangan ada yang masuk ke dapur. Jangan mengganggu Ray dan Killa, Siapkan bahan masakannya saja, dan siapkan sebelum tuan Ray dan Nona Killa ke dapur. Itu perintah pesan singkat dari Ifan ke pak Haris, dan pak Haris langsung menyampaikannya keseluruh pelayan.


Bersambung


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa jadiin favorit ya, biar bisa dapat notifikasi saat novel ini up. Salam hangat dari Push🤗


__ADS_2