Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Mengingat.


__ADS_3

Hari demi-demi hari Ray lalui. Kerja, pulang kerja membersihkan badan terus langsung meluncur ke rumah sakit. Berganti menggantikan Ibu Killa untuk menjaga Killa yang masih belum sadarkan diri.


Ray setia, mengahabiskan sisa waktu hanya untuk menjaga Killa, menemani Killa. Berharap wanita yang sangat dicintai segera siuman.


Ray sadar. Jika dalam kondisi seperti itu yang dibutuhkan pertolongan dari sang pencipta. Allah.


Selama Killa koma, Ray tidak berhenti berdoa, setiap ada waktu luang, selalu berdoa kepada sang pencipta untuk segera membangunkan Killa agar sadar dari komanya.


Selama Killa koma juga, Ray lebih banyak mendalami ilmu agama. Belajar tentang lebih dalam ilmu agama. Berharap dengan begitu Allah segera membangunkan Killa dari tidur panjangnya. Mendekat diri kepada sang pencipta.


Menghabiskan malam untuk bermunajat kepada Allah. Sholat malam, berdoa sampai menangis. Mengaji--membaca kitab suci--disamping tubuh Killa. Berharap lantunan ayat suci itu bisa menggetarkan jiwa Killa agar segera sadar.


Delapan bulan rutinitas itu selalu dilakukan Ray. Akan tetapi Ray harus merasakan asam diatas luka. Sakit, perih.


Di hari libur, dimana semua orang tersayang sedang menjenguk Killa. Ray yang sedang duduk di kursi samping ranjang melihat jari lentik Killa bergerak. Segera Ray memanggil dokter untuk memeriksanya.


Ray seperti menghirup udara segar. Selama ini hanya ada udara kotor yang Ray hirup, membuat sesak didada.


Kata dokter--yang bernama Hana--memberitahu jika hal itu sinyal baik untuk kondisi Killa. Kemungkinan besar Killa akan segera sadar.


Ternyata benar kata dokter. Jam 3 siang mata Killa terbuka--Killa sadar.


Semua orang yang ada disitu bahagia bukan main, bahagia sangat. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Hari dimana ingin melihat Killa membuka matanya.


Setitik kristal bening keluar dari kedua pelupuk mata ibu Killa. Bahagia. Begitu pun Ray. Mata Ray menjadi memburam karena air mata yang menggenang. Pelan tapi pasti, air mata keluar tanpa disuruh. Air mata bahagia.


Namun, beribu namun. Kesadaran Killa yang dianggap akan menjadikan momen bahagia. Ini malah menjadikan momen yang menyakitkan. Menaruh asam di bekas luka. Perih!


Killa menangis, menjerit, marah. Marah? kenapa dirinya masih hidup? Kenapa dirinya tidak mati saja?


Coba bayangkan, betapa pedihnya hati Ray. Wanita yang dicintai menangis tidak terima karena masih diberi kesempatan hidup.


Semua orang yang ada di sekitar berusaha menenangkan Killa, tapi nihil. Killa tetap tidak terima. Killa pengin mati. Tidak mau hidup kembali. Memarahi orang sekelilingnya.

__ADS_1


"Killa! Apa yang kamu lakukan?" bentak Kiara saat Killa mau melepas alat medis. Killa tidak menjawab. Berderai air mata dengan berusaha memberontak dari jeratan sang ayah dan Ray. "Sadar kamu, Kill! Kami disini menunggumu sadar dari koma. Dan kau bukanya bersyukur malah marah! Kenapa kau ingin meninggal. Kami disini sayang ke kamu. Kami. Kami tidak mau kehilangan kamu. Apa kau tega ingin meninggalkan kami setelah kami berusaha untuk kesembuhanmu?"


Dua mata Kiara sudah sejak tadi mengeluarkan air mata. Membuat pandangan Kiara buram. Dada Kiara kembang kempis menahan gejolak nyeri dihati. Melihat sang sahabat menangis-marah karena terselamat dari ajal.


Berapa banyak manusia yang ingin bertahan agar tetap hidup. Dan kini Killa malah ingin mati. Tidak mau hidup. Siapa yang tidak akan sedih melihat dan mendengar itu dari orang tersayang. Nyeri hati.


Ibu. Ibu Killa sudah sejak tadi menangis, usia yang sudah tidak mudah membuat perempuan baru baya itu lemas, tak berdaya. Beruntung ada Nadia dan Ibu Ray yang menjaga, memegangi Ibu Ami agar jangan tumbang jatuh ke bawah.


"Kenapa kalian menyelamatkan aku? Aku tidak minta itu! Kenapa tidak membiarkan aku begitu saja hingga ajal aku datang!"suara Killa melemas, tapi sangat menyakitkan.


"Sayang, lihat bapak. Kami melakukan itu karena kami sayang ke kamu. Bapak belum siap kehilangan Putri bapak." Bapak Killa yang sedang memeluk tubuh Killa dari arah samping, mengunci tangan Killa supaya tidak bergerak. Merasa nyeri ulu hatinya melihat kondisi sang Putri yang tidak mau hidup.


Hingga akhirnya karena Killa berusaha memberontak, menangis, teriak, membuat Killa mau tidak mau harus disuntik penenang.


Frans menjelaskan jika Killa bisa mengalami setres berat. Dengan susah payah Frans berucap


jika setres yang dialami Killa bisa membuat Killa kehilangan akal. Lebih tepatnya gangguan jiwa.


Frans mengangguk, "Iya, tuan."


Deg!


Semua orang orang yang ada disekitar tidak percaya jika Killa akan mengalami hal sejauh itu. Separah itu. Hati yang sesak dari tadi semangkin tambah sesak. Air mata terus mengalir.


"Apa tidak bisa disembuhkan, Frans?" Ray melemah.


"Kemungkinan bisa,tuan. Hanya saja bisa lama kesembuhannya. Nona Killa perlu terapi. Tuan tenang. Dirumah sakit ini ada dokter psikiater hebat. Dia yang akan membantu."


"Lakukan yang terbaik untuknya. Saya percayakan ke kamu, Frans." sorot mata Ray langsung menuju ke Killa.


Sedalam apa kau mencintai lelaki itu, Kill? Hingga kau sampai segitunya.


Kiara segera mengambil hape ditas jinjingnya. Kiara segera menghubungi seseorang. Kiara yakin jika orang yang di telepon itu bisa membantu menyadarkan Killa. Mencerahkan pikiran Killa.

__ADS_1


***


Setelah menunggu lama Akhirmya Killa sadar. Efek obat biusnya sudah hilang. Killa terbangun dalam keadaan kaki dan tangan sudah terikat. Mengenaskan sekali nasib Killa.


Orang yang ditelepon Kiara--ka Nisa segera mendekat ke Killa yang sedari tadi sudah teriak-teriak.


"Hay." ka Nisa melempar senyum hangatnya ke Killa. Killa tidak menjawab hanya menatap ka Nisa dan berhenti teriak minta dilepas.


Ka Nisa masih ragu, bingung mau mulai dari mana.


"Kamu tahu? Apa yang kau lakukan itu salah besar. Apa ini benar Killa yang ka Nisa kenal? Sepertinya Killa yang aku kenal tidak seperti ini."


Ka Nisa adalah orang yang ucapanya selalu Killa dengar denga baik-baik. Bagi Killa ucapan yang terucap dari mulut ka Nisa selalu menghipnotis dirinya. Mudah masuk ke hati. Dan mudah dicerna.


"Betul! Aku bukan Killa yang kau kenal!" Killa mengalihkan pandangannya ke arah lain. Killa tidak mau beradu pandang dengan ka Nisa.


"Kau tahu kan. Jika semua perbuatan di dunia ini akan ada pertanggung jawabannya. Berapa kali dulu, kaka sering mengingatkan. Jangan pernah mencintai seseorang melebihi mencintai ke Allah dan Nabi muhammad. Jika kita sudah mencintai seseorang melebihi ke Allah dan Nabi Muhammad. Hal ini akan terjadi. Kita jadi sulit menerima takdir buruk yang menimpa kita. Tapi Kalau Kita mencintai seseorang dibawah mencintai Allah dan Nabi Muhammad. Kita akan lebih mudah menerima takdir apapun yang menimpa kita."


***


Kau pernah mencintai sedalam itu ke orang yang salah, Sayang. Orang yang memberi luka begitu besar.


Ray mengusap muka secara kasar. Merasa kasian dengan sang istri yang pernah mencintai orang yang salah.


Ifan yang sedari tadi memperhatikan Ray dari bilik kaca spion. Merasa jika ada sesuatu yang dipikirkan oleh Ray.


"Ada yang bisa saya bantu, tuan? Sepertinya ada hal yang mengganjal di pikiran tuan."


"Tidak ada, Fan."


Bodoh! Ray berbohong ke Ifan. Tidak bisa. Ifan orang yang peka. Tidak mudah di bohongi oleh Ray.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2