Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Selesai.


__ADS_3

Ray semenjak tahu siapa Nisa dan semenjak Ray menikah dengan Killa, Ray jadi manggil Nisa dengan sebutan ka. Mengikuti panggilan Killa ke ka Nisa.


Pengawal yang sudah di intruksi Ifan, mereka langsung beraksi. Mengusir pengunjung cafe dan menyuruh karyawan harus bungkam, Kasus ini jangan sampai publik tahu, jika sampai tahu, akan lebih mudah menyebar dan heboh diberitakan.


Melihat ka Nisa menghampirinya dengan tatapan elang, ada rasa takut dihati Ray. Ini pertama kali Ray melihat ka Nisa berekspresi masam. Daffa pun tertegun melihat mimik wajah Nisa, ini juga pertama kali Daffa melihatnya.


Ray mengucapkan salam dan selamat malam sambil tersenyum. Ka Nisa dan Daffa menjawab salamnya, sama-sama memasang wajah yang tidak bersahabat. Tidak ada rasa takut dihati Nisa maupun Daffa dengan sikapnya yang sekarang. Rasa kecewa dan marah yang mengendalikan membuat rasa takut sirna.


"Ada keperluan apa tuan kemari?" tanya Nisa sambil mengulas senyum sedikit untuk menyambut pengujung yang tidak diinginkan.


"Maaf, jika kehadiran saya menggagu. Saya hanya ingin menjemput istriku."


"Istri yang kau sakiti, Tuan!"


"Tidak! Aku tidak menyakitinya," jawab Ray lantang. Ray tahu, pasti Killa sudah bercerita dengan Nisa. Maka sebab itulah Nisa saat ini bersifat dingin.


Nisa ketawa kecil, "Tidak salah lagi."


"Demi Allah, saya tidak menyakitinya," Ray membela diri.


"Jangan bersumpah untuk hal yang bohong, jangan hargai sumpah dengan harga murah. Maaf Tuan. Bukannya saya ingin ikut campur urusan tuan dan Killa. Hanya saja, saya ingin melindunginya. Terlalu kejam tuan menyakitinya. Aku kira tuan orang yang tepat untuk Killa, nyatanya tuan ... orang yang Allah kirim untuk menguji keimanan Killa. Biarlah Killa beristirahat, jangan mengganggunya. Dia baru istirahat setelah setengah hari dihabiskan untuk menangis." Wow, panjang kali ucapan Nisa, dan ucapan Nisa tidak bisa Ray menyelanya. Di ucapan terakhir dengan halus Nisa mengusirnya.


"Ini hanya kesalah pahaman. Demi Allah, saya tidak menyakitinya apa yang ka Nisa kira." tukas Ray. Menatap wajah Nisa dengan sendu. Berharap ka Nisa bakal percaya.


"Maaf Tuan, bukannya saya tidak percaya perkataan tuan, hanya saja saya percaya ucapan orang, Tidak ada maling ngaku, semua maling akan beeusaha mencari pembenaran." Nisa makin sinis buat Ifan geram setengah mati. Mengepalkan tangannya kuat-kuat dan dengan menggertakan gigi.


"Benar kata Nisa!" timpal Daffa, "sepertinya kehadiran tuan Ray sangat mengganggu, masih tahukan jalan keluar cafe ini." sinis Daffa tidak mau kalah.


"Bisakah kalian tidak menghina tuanku? Ucapan kalian berdua sangat menjatuhkan tuan muda! Kalian berdua tidak tahu menahu, jangan sok tahu!" Ifan sudah tidak tahan lagi menahan geramannya. Berucap tidak terima sambil melangkah maju, menatap tajam Nisa dan Daffa bergantian.


"Sudah, Fan," cegah Ray, menarik bahu Ifan untuk kembali ke belakang. "Mereka hanya tidak tahu, ka Nisa dan Daffa melakukan itu karena mereka sayang ke istriku, ingin melindunginya."

__ADS_1


"Untuk Ka Nisa dan tuan Daffa yang terhormat, terimakasih. Tapi percayalah aku tidak menyakitinya, ini murni kesalahan pahaman. Mana mungkin aku tega menyakitinya di kasus yang sama dan mana mungkin aku menyakitinya sementara aku sudah berjanji akan membuat Killa bahagia."


Ray kemudian membuka hapenya, memutar video cctv diruangan kerjanya saat kejadian. Cctv diruangan Ray bukan menampakan video yang tidak ada suaranya, tapi cctv yang terpasang, cctv canggih. Dimana cctv itu juga ada suaranya. Didalam video tersbeut jelas, bahwa Ray tidak berselingkuh.


Ka Nisa meminta maaf sebesar-besarnya ke Ray. Dia merasa malu dan juga tidak enak. Sementara Daffa juga meminta maaf ke Ray. Dalam hatinya hancur, baru saja beberapa menit yang lalu dirinya menghayalkan akan berjuang mendapatkan hatinya Killa yang terluka. Kini harapan itu Daffa harus melakukan hal yang sama, menenggelamkan dan mengikhlaskan.


***


Ray jalan naik menaiki tangga, ketika sudah didalam kamar yang ada Killanya. Ray duduk di tepi ranjang, mengusap lembut pipi Killa yang sedang tertidur lelap.


Ray tersenyum lega. Setelah sekian lama hatinya kalut. Akhirnya Ray bisa melihat wajah Killa. Sosok yang dirindukan dan dikhawatirkan itu telah kembali dan kini berada dihadapanya.


Ray menghujani kecupan, lalu memeluk tubuh sang istri. Menumpahkan rasa rindu yang tertahan beberapa jam. Ray tanpa Killa bagaikan masak tidak dikasih garam, ambyar!


Killa menggeliat, dia merasakan hal aneh yang menempel dibadanya, pelan Killa memicingkan mata perlahan.


Betapa shocknya Killa melihat wajah yang tidak diinginkan. Ray tersenyum sementara Killa heran. Ray mengangkat tubuhnya, duduk tegak sambil menatap Killa.


"Kenapa kau datang dalam mimpiku, si! Pergi aku benci kamu!" Killa mengalihkan pemandangannya ke samping.


"Ini tidak mimpi, Sayang. Ini nyata."


"Pergi, aku benci kamu!" air mata menetes pelan.


Ray memeluk Killa, menenangkan. Killa membrontak, Ray semangkin erat memeluk tubuh Killa.


Killa menangis, memberontak. Tangan satu Ray melepas kemudian Ray segera mengambil hape, memberikan bukti bahwa dirinya tidak salah. "Maafkan aku, jangan menangis, kau salah paham, sayang. Lihat ini," melepaskan pelukanya menghadapkan hape didepan wajah Killa.


Setelah melihat video cctv Killa langsung berhambur memeluk Ray. " Maafkan aku, aku sudah salah paham." Killa lega, bersyukur ternyata Killa tidak harus menelan kepahitan bercerai. Ray setia.


"Tidak perlu minta maaf, jangan diulangi ya? Kamu harus percaya kalau aku tidak akan mengkhianati kamu. Kamu kalau marah sangat menakutkan."

__ADS_1


***


Ray mengangkat tubuh Killa. Killa tidak mau, tapi Ray tetap kekeh menggendongnya. Sebelum keluar dari cafe Ray mengucapkan banyak-banyak terimakasih ke ka Nisa dan Daffa.


Didalam mobil Ray memangku tubuh Killa, Ray tidak mau Killa diletakan duduk di kursi sebelahnya. Killa menceritakan betapa kalut hatinya. Didalam hati Ray merasa tergelitik. Merasa bersalah, meski bukan salahnya.


***


Untuk menembus kesahalanya. Ray mempersiapkan kejutan untuk Killa.


Di pagi hari Killa diajak ikut ke kantor menemani Ray. Ray ingin kejutannya di dirumah.


Ray sengaja pulang disiang hari, karena tidak mau membuat Killa bosan menunggu dan juga karena kejutan sudah siap.


Sudah sampai di halaman rumah mata Killa ditutup.


"Kenapa mataku harus ditutup."


"Dah diam, ada kejutan untukmu." Ray segera keluar mobil, memutari mobil membuka pintu mobil untuk Killa.


"Kejutan apa?"


"Rahasia, ayok buruan turun."


Ray memegang tangan Killa, menuntun Killa untuk keluar mobil.


"Ih, apaan aku penasaran, aku buka ya,"


"Eh, jangan! Nanti juga kau tahu."


"Baiklah, tapi tidak berbahayakan dan tidak menakutkan?" selidiknya, takut aja nanti kejutan yang menakutkan.

__ADS_1


"Tidak! mana mungkin aku memberi kejutan yang bahaya, kejutan ini dijamin kamu pasti suka." Ray menuntun jalan Killa sampai di tempat yang sudah di dekor.


Bersambung.


__ADS_2