
Ray itu suka gelap mata kalau lihat ayam kecap, rasanya ingin semuanya untuk dirinya. Tidak mau berbagi sama siapa pun.
"Apa benar kamu belum memakan ayam kecapnya?" bertanya dengan malu.
Killa pun menganggukan kepala, "saya sudah makan ikan gorengnya tuan. jadi tidak masalah Tuan memakannya."
"Maaf telah egois." Ray menyerahkan ayam kecap ditanganya yang masih tersisa ke Killa. "Ini masih ada tapi sisa ku, Ambilah." seperti orang bodoh, ngasih sisaan, mana mau Killa menerimanya. Ray benar benar kehilangan akal sehatnya, yang terpikir hanya malu, malu dan malu. turun sudah harga dirinya didepan Killa.
"Tidak masalah Tuan. Lagian saya lebih suka ikan dibanding ayam." Killa malah merasa tidak enak, lagian tinggal dimakan aja gitu tidak usah nawarin. Kan Killa jadi merasa tidak enak hati.
Saat ayam kecap itu mau ditarik kembali kedirinya, Nadia langsung mencomotnya dan langsung melahapnya. Ray tidak marah karena Ray sudah telanjur malu ke Killa. Ifan yang punya ide, Nadia yang dapat, Ifan jadi lesu tapi terhibur dengan raut wajah Ray yang berubah jadi merah padam, menahan malu. mungkin Ray lupa bahwa sarapan pagi ini ada Killa, mati gaya deh Ray.
Nadia mengunyah ayam kecapnya sangat lahap, lau berucap terimakasih ke Killa, karena Killa Nadia masih punya jatah ayam kecap, meski bekas kakanya yang nyebelin si.
Setelah mencuci tangan Nadia tak segan-segan lansung memeluk Tubuh Killa, Membuat Killa kaget, mendapatkan pelukan mendadak dari orang yang semalam menatap tajam kedirinya.
***
Di kantor pusat BIAS Group, ditengah sibuk sibuknya kerja. Teman yang kehadiran tidak diinginkan datang mengomelin Ray. Membuat Ray jengah.
"Lo kemana aja bray? gila lo! hampir dua bulan nggak pernah kumpul. Sudah lupa ama kita? hah!" ucap Alex temanya Ray, yang geram dan gemes karena Ray akhir-akhir ini tidak ada kabar.
"Maaf. gue sibuk. Jadi tidak sempat kumpul. " Ray meringis untuk merilekskan suasana.
"Sibuk- sibuk, cih! sok sibuk lo! Alasan aja lo. Gua mau lo nanti malam kumpul! temen-temen nanyain semua." timpal Gio yang sama geramnya seperti Alex.
"Hmmm, Kalau bisa yah." melirik kearah temanya sambil tersenyum simpul. "Tapi tenang bakal aku usahakan bisa si." lalu sibuk lagi berkutat dengan berkas berkasnya, membaca isi berkasnya.
"Gua kira lo sudah mati! " saut Alex, lalu merebahkan badanya disofa.
__ADS_1
"Jahat! Gue masih sehat. Bahkan sangat sehat! apa kalian mau gue mati?" Ray melebarkan mata, tidak terima.
"Iyaps! haha." Saut berbarengan Gio dan Alex.
"Dasar B****** tengik!"Ray melempar bolpoin. Dan terkena Alex, membuat Alex mengaduh kesakitan. Lalu mengusap ngusap bagian kepala yang terkena lemparan Bolpoin yang lumayan keras. "Pergi kalian!"
"Haha. Santai bro, hidup lo serius amat si?haha," Gio.
"Sakit tau, ini!" Alex mengaduh kesakitan.
"Gitu saja sakit, manja Lo!" Sengit Ray.
***
Semua kerjaan yang dilakukan pak Haris, sekarang dilakukan oleh Killa. Gak semua si, ada beberapa yang tidak dipindah alihkan ke Killa. Killa diberi kerjaan oleh Ray menjadi asisten pribadinya. Memang aneh si, kenapa Ray memberi perkerjaan itu ke Killa? Tapi itu yang diberikan Ray.
Cuma tiga atau empat hari Killa harus membuang botol alkohol yang kosong, lalu menyiapkan lagi yang baru.
Alkohol yang begitu banyak, tersimpan rapih diberbagai lemari. Ada yang di lemari es ada juga dilemari khusus penyimpanan. Selama Killa tinggal di Rumah Ray, rasanya ingin membuang minuman haram itu. Mata Killa terasa sakit, hati Killa juga sakit saat melihat botol alkohol itu, untuk menyentuh botol tersebut rasanya ogah, melihatnya saja tak sudi!
Tapi apa! sekarang Killa harus memegang dan menyajikan dikamar Ray, rasanya Killa ingin
memberontak, tapi Killa tak seberani itu. Rasanya Killa ingin memberi nasihat ke Ray, agar tidak mengonsumsi minuman haram tersebut. Killa tahu membiarkan orang bermaksiat itu tidak boleh, kewajibannya sebagi umat manusia harus menegur, menberi masukan dan Nasihat yang baik, yang tidak menyinggung perasaanya.
***
Pulang dari kampus Nadia minta ditemenin ke mall. kata Nadia itu juga perintah ka Ray, untuk mengajak Killa jalan-jalan. Killa tak membantah, dia patuh dan mau pergi ke mall.
Sudah dua pekan ini Nadia menginap dirumah Ray, membuat hubungan Nadia dan Killa semangkin dekat, BAHKAN Nadia sudah menganggap Killa sebagai kakanya. Killa pun dilarang keras memanggil Nadia dengan sebutan NONA. Nadia memilih dipanggil namamya saja.
__ADS_1
Killa yang punya sifat tidak suka dengan belanja-belanja yang tidak penting. Dia tidak membeli sesuatu apapun, bagi Killa untuk apa? sedangkan tidak ada barang yang dibutuhkan.
Dia hanya menemani Nadia, beli barang barang yang menurutnya tidak harus dibeli. baju, sepatu, tas menurut Killa itu barang tidak dibutuhkan, toh... Nadia punya banyak itu, ngapain harus beli lagi. mubazir bukan?
Beli lah apapun sesuai kebutuhan. Agar uangnya bisa dipakai dihal yang bermanfaat buat di akhirat Kelak. prinsip hidup Killa.
Setelah serasa selesai membeli barang-barang yang diinginkan. Lalu Nadia mengajak Killa untuk makan.
Karena belum waktunya makan malam, Nadia memilih masuk ke kedai Kopi, untuk memakan, makanan ringan dengan menikmati segelas Kopi. duduk istirahat menikmati makanan dan minuman.
***
Saat Nadia sedang jalan, ada laki laki yang jalanya tidak fokus, Nadia juga tidak fokus akhirnya bertabrakan. Nadia sampai jatuh kelantai.
"Kalau jalan pake mata!" suara laki laki yang nabrak Nadia.
"Awww! dimana-mana kalau jalan pake kaki!." saut Nadia tidak mau kalah. "Sakit tau,Bantuin kek." Nadia mengoceh dengan nada keras tanpa melihat ke arah bicara.
"Bantuin? Cih! bangun saja sendiri! lo yang nabrak! " keras kepala pria yang menabrak Nadia.
Killa dengan sigap membantu Nadia "Sudah Nad jangan berdebat, Ayok kaka yang bantu berdiri. Kamu tidak apa apa kan, tidak ada yang luka, atau kaki kamu sakit?" cemas khawatir kini bersatu.
"Tidak apa-apa ka, tidak ada yang sakit." Nadia beranjak berdiri dengan dibantu Killa.
Killa mendongak mengarahkan wajahnya ke arah lelaki didepanya, untuk meminta Maaf atas kesalahan yang diperbuat Nadia. Saat bertatapana mata dengan lelaki yang bertabrakan dengan Nadia. Killa dibuat kaget, terkejut, mata membesar, mulut terbuka mengangah. Tidak percaya ternyata itu lelaki yang Killa kenal.
" Killa!" Sang lelaki tersebut sama sama kagetnya seperti yang Killa rasa.
Bersambung...
__ADS_1