Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Mewujudkan


__ADS_3

Kumpul bersama keluarga memang asik. Ngobrol, bercanda, sampai lupa waktu. Berniat hanya ingin sampai acara kejutanya selesai kemudian bakal pulang, tapi siapa yang menyangka? Keasikan ngobrol bersama besan, anak dan mantu membuat mengulur waktu untuk pulang.


Mereka pulang setelah makan malam. semuanya pulang, tidak ada yang mau menginap. Memberi peluang untuk Ray berduan dengan istrinya.


Tinggalah Ray, Killa dan para pekerja sekarang. Karena rasa capek dan letih membuat Killa ingin langsung istirahat. Masuk ke kamar bareng Ray. Betapa kagetnya Killa saat pertama kali pintu kamar dibuka. Bunga-bunga pemberian Ray dan dari keluarga sudah tertata rapih didalam vas bunga yang sudah terisi air bertujuan supaya bunga tidak mudah layu. Membuat kamar seperti taman bunga.


"Haha, Sayang," menepuk-nepuk lengan Ray.


"Gimana, suka?"


"Suka, banget. Makasih."


"Untuk," menyipitkan mata.


"Untuk semuanya," Killa langsung mencium pipi sang Suami.


Tubuh Ray seperti tersengat listrik dapat ciuman di pipinya. Ray kaget, ini pertama kalinya Killa yang mencium tanpa diminta. Kecupan kecil, tapi mampu hatinya tergelitik. Killa harus tanggung jawab sudah bangunin macan tidur.


Menarik pergelangan Killa. Memegang bahu sang Istri, karena tubuh Killa tingginya hanya sedada, buat Ray menunduk dan Killa mendongak. Baru saja mau mencium Killa malah memeluk tubuh kekar suami, menyembunyikan wajahnya didada Ray. Membuat Ray membalas pelukanya kemudian mencium pucuk kepala Killa.


"Sayang, sudah malam. Aku dulu yang mandi, atau kamu dulu?" katanya berusaha melepaskan pelukanya.


"Gimana kalau mandi bareng?"


Nggak papa tadi nggak jadi, jadiin saja sekalian mandi bareng. Batin Ray dengan tersenyum menggoda.


"Hah, nggak mau!" Menjauh, Killa tahu apa yang di mau Suaminya.


"Kenapa?" mendekat ke arah Killa.


"Nggak papa, kalau gitu Aku yang mandi dulu," Killa langsung lari masuk ke kamar mandi. Pintu langsung ditutup dan langsung di kunci. Selamat.


***


Selesai mandi, Killa kesal. Kebiasaannya, Killa selalu ganti baju di dalam kamar mandi, dan ketika keluar sudah pakai baju.


Namun, sekarang ... karena tadi masuk buru-buru, buat Killa tidak bawa baju ganti. Masa iya pake baju kotor yang tadi di pake? Kotor dan bau keringat.

__ADS_1


Mau tidak mau Killa keluar hanya memakai handuk kimono dan handuk kecil di kepala, membungkus rambut yang basah.


Meski sudah bersuami istri, jujur, Killa masih malu-malu dan takut jika Ray minta kewajibannya.


Saat Killa keluar, Ray sedang duduk bersandar di kepala ranjang dan sudah menggunakan baju tidur.


Melihat Killa sudah selesai mandi, Ray bangkit menghampiri Killa.


"Sudah selesai?" tanya Ray saat sudah berdiri di sampingnya.


"Sudah. Sayang, sudah ganti baju, memang sudah mandi?" tanya balik Killa, melangkah ke samping berusaha menjaga jarak.


"Sudah, mandi di kamar kamu dulu. Cantik." puji Ray. Killa menjauh, Ray mendekat, tidak mau Killa menggeser posisinya lagi, Ray melingkarkan tangan ke pinggang Killa.


"Nunggu Aku lama ya? Maaf, Aku keramas jadi lama, nggak sengaja siram rambut jadi keramas deh." Meringis. "Aku ganti baju dulu, ya?" Killa berusaha melepaskan jeratan Ray. Alih-alih melepaskan, Ray justru memperketat, hembusan napasnya terasa di leher jejang Killa.


"Ganti bajunya nanti, keringkan rambut kamu dulu, kemarilah." Ray melepas pelukannya kemudian menarik pelan pergelangan Killa. Bukanya Killa yang disuruh duduk di kursi rias, justru Ray yang duduk di kursi rias. Killa yang masih berdiri di sampingnya, Ray segera menarik lembut tubuh Killa untuk duduk di pangkuanya.


"Kamu cantik." pujinya lagi, mata Ray terus memandangi wajah Killa yang berubah rona merah dengan mata berbinar.


Killa tidak menjawab, dia memalingkan wajah. Jantungnya berdebar tidak karuan. Selalu begini jika berdekatan dengan Ray dalam keadaan sadar.


"Tidak!" Killa ingin bangkit beranjak, tapi kalah cepat, Ray semangkin mempererat.


Ray tidak tahan lagi. Apalagi leher jenjang Killa yang terekspos dan bau wangi sabun dan shampo menggelitik indra penciumannya. Tanpa izin Ray mencium Killa.


"Sayang," Killa kegelian, "sudah, Sayang. Aku mau ngeringin rambut dan ganti baju. Dingin." Killa mengalihkan pemikiran Ray dan agar Ray berhenti. Killa tahu Ray akan bertindak lebih jauh dari ini.


"Ah, Aku lupa. Maaf." pikirannya yang liar membuat lupa tujuan awal.


Killa bangkit kemudian Ray pun bangkit, Ray mendudukan tubuh Killa di kursi rias, "biar aku yang mengeringkan." Ray melepas lilitan handuk. Menggosok-gosokannya lembut rambut basah dengan handuk. Berlanjut mengeringkan rambut Killa menggunakan Hair Dryer.


"Suka nggak bau wangi shamponya?" Ray bertanya ditengah mengeringkan rambut.


"Suka, baunya enak. Perbanduan bunga Lili dan Stroberi sangat pas. Bisa buat rileks."


Ray segera mematikan Hair Dryer. Mengambil sisir. Menyisir rambut Killa dengan telaten dan pelan. Selesai tugas mulainya. Maju menaruh sisir lalu menatap wajah Killa.

__ADS_1


"Makasih, Sayang sudah ngeringin dan menyisir rambutku."


"Sama-sama, Sayang." Mengecup pucuk kepala Killa. "Lain kali Aku boleh mencobanya,"


"Tentu saja boleh, Sayang. Itukan kamu yang beliin. Ya ... walau itu shampo khusus wanita berhijab si, tapi tak apalah, kan sama-sama untuk membersihkan rambut." Killa menarik kedua sudut bibirnya, membuat terlihat sangat manis. Dan buat Ray makin gila.


Kemudian tangan lentik Killa menempel di pipi Ray. Mengelus pelan. Ray tidak mau kalah, tangannya menumpuk di atas tangan Killa, membiarkan tangan istri agar terus di pipi.


"Kalau mencoba Kamu lagi malam ini, boleh tidak?" Senyumnya penuh harap. Melepaskan tangan Killa lalu mengecup punggung tangannya.


Lagi!


Tanggapan expresi Killa yang kaget dan gugup buat Ray makin gemas. Tanpa persetujuan dari sang Istri. Ray mengangkat tubuh Killa. Killa mangkin terperanjat kaget.


"Sa--sayang!" teriaknya.


Ray meletakkan Killa dengan pelan di atas ranjang.


Killa makin gugup saat mata Ray menatap lekat. Membuat saling bertatap. Sesekali Killa menatap kearah lain. Lalu menatap ke Ray lagi.


"Kita wujudkan keinginan orang tua Kita," Ray memajukan tubuh pelan.


"Keinginan orang tua kita?" Killa makin panik.


Kenapa bawa-bawa orang tua? Ini murni kemauanmu, pikir Killa.


"Memberi cucu yang lucu untuknya, Ibu, Bapak, dan Ayah, ingin kita segera mempunyai keturunan, bukanya tadi Mereka berkata seperti itu." Tangan Ray sudah mendarat di perut Killa.


""Hah, cucu?" mata Killa menerjap.


"Iya, Sayang. Kita harus berusaha lebih giat lagi, Sayang." Ray mengangkat tanganya yang berada di perut sang Istri. Memajukan badanya terus. Membuat Killa memejamkan matanya.


Killa yang malu-malu dan gugup buat Ray makin tertantang.


Kini jarak Ray dan Killa hanya beberapa centi. Aroma segar shampo dan sabun menguar memenuhi indera penciuman. Napas Ray makin naik turun.


Jadilah malam itu malam yang indah, sepasang kekasih halal melakukan yang di perbolehkan oleh sang pencipta. dengan sepasang kekasih berharap membuahkan hasil benih janin.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2