
Membenci dan mencintai satu orang yang sama itu sangat menyakitkan.
Satu sisi kita sangat membenci dan ingin berpisah darinya. Tapi disatu sisi lain kita sangat mencintainya dan tidak mau berpisah dengannya.
Itu, yang dirasa Killa. Killa membenci dan mencintai diwaktu yang sama, orang yang sama.
Killa Benci ketika situasi dimana Killa tidak bisa ngendaliin semuanya.
Killa capek ketika harus berpura-pura tegar padahal dalam keadaan hancur.
Emosi dan benci kini menyelimuti pikiran dan hati Killa.
Killa berjalan pelan kearah keluar, menyembunyikan pisau dibalik tubuhnya. Reva sedikit lega. Pikiran Reva menangkap kalau Killa akan membunuh Putra.
"Bagus, Nona! Aku kalau di posisi itu, akan ku tekuk-tekuk burung lelaki itu ... baru aku ngabisin nyawanya!" ucap Reva lirih sambil menggertakkan gigi, tangan satu mengepal di gesek-gesekkan ketelapak tangan kiri.
[Ada apa? Nona Killa mau apa?] suara Arga yang masih tersambung telepon.
"Nona ingin membunuh Putra!"
[Apa???] Arga dan Gustaf.
***
Putra yang melihat Killa sedang jalan ke arahnya, dengan expresi datar. Putra tersenyum simpul. Beranjak, jalan menuju kearah Killa.
Entah itu senyuman mengejek atau senyuman bahagia karena sudah berhasil membalas dendamnya. Membuat Killa sakit hati!
Killa menatap Putra dengan tatapan tanpa berekspresi. Datar!
Kata orang bijak, sabar itu tidak ada batasnya. Sabar itu sampai mati, karena hidup tempatnya ujian.
Akan tetapi, kata orang yang tidak bijak, sabar itu ada batasnya.
Killa terkoceh dengan ucapan itu. Hingga akhirnya Killa memilih kata orang yang tidak bijak.
Sruk ... pisau tajam yang Killa bawa, menusuk tepat didada kiri Putra. Darah mengalir keluar, deras. Putra melemah, kemudian jatuh ke lantai dengan pelan.
"Mas Putra!" Bella yang sedang duduk, jalan berlarian kearah Putra.
Itu dalam pikiran Killa. Rasanya Killa ingin membunuh Putra.
Sedetik kemudian pikiran itu berubah. Killa masih berjalan lurus kearah Putra, dengan expresi datar. Dan pikiran dangkal.
Benar kata ibu Saras. Aku lupa berkaca! Siapa aku dan siapa Putra.
Putra lebih serasi dengan Bella dibanding aku. Aku bodoh!
Putra yang menyadari Killa sedang jalan kearahnya. Putra melepaskan pelukanya dengan Bella. Menatap ke arah Killa.
__ADS_1
Baru saja ingin beranjak. Mata Putra harus melihat Killa menusukan benda tajam ke perut.
"A--a--a," suara Killa terengah-engah.
Kulit Killa menjadi dingin dan pucat, nafas manjadi cepat, detak jantung menjadi cepat, kebingungan, merasa lemah, bibir dan kuku membiru, hingga akhirnya Killa kehilangan kesadaran.
"Brugh!" Badan Killa yang sudah lemas jatuh ke lantai. Darah segar mengalir keluar pas ditusukan pisau.
Jika dirinya membunuh Putra. Killa sendiri lah yang akan terluka. Killa lebih memilih mengakhiri hidupnya, bagi Killa itu jalan yang benar dan tepat.
Cerai atau kabur, bisa Killa lakukan dengan mudah, tapi Killa tidak sanggup jika berpisah dengan Putra.
Cinta Killa ke Putra sudah terlalu dalam, mendarah daging. Sudah berakar.
Kepergian Killa dulu saat menjelang pernikahan. Jujur Killa sangat terpukul.
Berjauhan dengan Putra hal yang tidak mau Killa lakukan lagi. Killa tidak mau menahan rindu. Rindu itu curang! kian hari makin bertambah, tanpa tau caranya berkurang.
Killa di posisi sulit untuk memilih, bertahan sakit, pergi juga sakit.
Dan bunuh diri lah, cara yang tepat untuk mengakhiri rasa sulit ini.
"Killa!" Putra terpaku sebentar merasa shock kemudian berhambur memeluk tubuh Killa yang sudah tergeletak di lantai.
Putra tidak menyangka jika Killa akan melakukan hal ini.
"Killa!"
Suara Reva dan Bella berbarengan. Reva berlari kencang menghampiri Killa. Reva tidak menyangka ternyata pisau yang dibawa Killa untuk menusukan kebadan Killa, bukan ke Putra.
[Ada apa dengan, Nona?] ucap Gustaf dan Arga. Tapi tidak ada jawaban dari Reva. Hanya terdengar wush-wush, gemesrek angin.
Gustaf dan Arga yang sudah stay didepan langsung masuk kerumah Putra, merasa ada yang tidak beres.
Baru saja diambang pintu, Arga dan Gustaf melihat Killa sedang diangkat oleh Putra. Diikuti dengan Reva dan Bella dibelangkanya.
"Reva, tolong bukakan pintu!" teriak Putra. Putra mengesampingkan pikirannya yang bertanya kenapa Reva ada didalam rumahnya. Sekarang bagi Putra yang terpenting menyelamatkan nyawa Killa.
Reva segera mungkin membuka pintu mobil, kemudian masuk kedalam, duduk paling ujung. Bella berperan memegang pintu mobil agar jangan tertutup lagi. Killa dimasukan ke mobil dengan hati-hati. Kepala Killa dipangku sama Reva.
Gustaf dan Arga tidak banyak bertanya. Kenapa dengan nona Killa, kenapa nona sampai seperti itu. Tidak! Arga dan Gustaf tidak bertanya seperti itu. Mereka berdua lebih memilih lari menuju mobil miliknya yang terparkir didepan rumah. Mengikuti mobil Putra.
"Ada apa ini? Kenapa dengan Killa?" tanya Ibu Laras. Tapi tidak ada jawaban. Putra dan Bella langsung berlalu masuk ke mobil.
Ibu dan ayah Putra yang pas banget datang, dia kebingungan.
***
Helikopter mendarat apik dilapangan yang dekat dengan rumah sakit Permata.
__ADS_1
Pengawal, staf tinggi Bias Group cabang dan anggota polisi sudah stay dilapangan.
Dari lapangan langsung menuju ke rumah sakit Permata. Dikawal langsung oleh petugas kepolisian, membuat perjalanan tanpa ada kendala.
Rombongan Ray sudah sampai di halaman rumah sakit. Puluhan mata tertuju kearah rombongan. Merasa tidak menyangka bisa melihat orang terkenal. Tak ada yang berani mendekat. Hanya berani memandang dan pikiran menerka-nerka. 'Ada perlu apa tuan Ray di rumah sakit ini? Apa ada anggota keluarganya yang dirawat?'
Kepala dan petinggi rumah sakit sudah stay dari tadi di loby. Menyambut kedatangan Ray dan rombongan.
Ray berjalan cepat dengan dipimpin kepala Rumah sakit.
Didepan ruang operasi semua orang dalam keadaan tegang, takut, sedih, berkecamuk menjadi satu.
Kedua orang tua Killa dan Vino sudah ada ditempat. Terlihat jelas rasa cemas menyelimutinya. Duduk dikursi panjang yang tersedia didepan ruangan. Bapak Killa mendekap sang istri memberi kekuatan dan menguatkan.
'Bahwa Killa pasti akan selamat.' Itu ucapan bapak yang dari tadi untuk menguatkan Ibu.
Bella sedang menggigit jarinya. Sementara Putra mondar-mandir seperti setrika usang.
Kedatangan Ray membuat orang yang berada disitu kaget. Kecuali Reva dan genknya tidak kaget. Karena mereka yang memberi tahu.
Frans, dua dokter ahli bedah dirumah sakit Bias Hospital pusat dan kepala rumah sakit segera masuk ke ruangan operasi. Ingin membantu berjalannya operasi.
"Frans!" ucap Ray, mencegah Frans yang akan lenyap masuk keruangan. Frans berhenti melangkah. Menoleh kearah Ray. "Tolong selamatkan Killa karena aku. Tolong selamatkan!" suara Ray bergetar menahan isak tangisnya.
"Saya akan usahakan, tuan." kemudian langsung berlalu masuk ke ruang operasi.
Plak! Plak! Plak!
Ray menampar satu persatu orang suruhanya.
"Aku menyuruh kalian untuk menjaga Killa! Kenapa hal ini sampai terjadi!" saat ini Ray diselimuti kabut kemarahan. Menatap tajam kearah lawan bicaranya.
"Maafkan kami, tuan." ucap berserempak.
Bugh! Bugh! Plak!
Ifan memukul Arga dan Gustaf. Mau memukul Reva rasanya tidak pantas. Reva perempuan. Akhirnya Ifan menampar Reva. Mereka bertiga tidak ada yang bergeming melawan, hanya menunduk. Pasrah.
"Jelaskan kepada tuan Ray, kenapa nona Killa sampai melakukan hal itu?"
"Reva yang mengetahui semuanya, tuan?" jawab Gustaf dan Arga berbarengan.
Ray maju, lebih mendekat ke Reva.
"Jelaskan!"
"A--a--nu, tuan." Reva sulit berbicara. Rasa shock dan takut penyebabnya.
"Anu apa?" kini Ifan yang berbicara. "Jelaskan yang lebih jelas!"
__ADS_1
"Nona Killa melakukan hal itu karena melihat Putra sedang berselingkuh dengan wanita itu," nenujuk kearah Bella, "didepan mata nona Killa." ucap Reva sambil memejamkan kedua matanya dan meremas-remas jari-jemarinya.
Bersambung ...