Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Kemarahan.


__ADS_3

Apa! Ternyata Reva dan Arga orang suruhan tuan Ray. Putra kaget


Ray mengepalkan tangan, emosi kini tersulut memuncak. Darah mengalir cepat.


Bapak Killa yang mendengar ucapan Reva, tak percaya. Tidak Ada seorang ayah yang akan rela anak perempuannya disakiti.


Bapak melepaskan dekapannya yang sedang memeluk Istri. Bapak memaju dulu sebelum Ray sampai ke Putra.


Bugh! satu bogem mentah berhasil mendarat di pipi Putra. Putra meringis kesakitan. Putra tidak menghindar atau melawan. Putra sadar, bahwa dirinya salah. Putra baru sadar, jika dendamnya terlalu sadis.


Ibu juga berjalan menuju kearah wanita yang ditunjuk Reva.


Plak! Ibu menampar keras pipi Bella.


"Kau wanita, dimana hati kamu? Kau bermesraan dengan lelaki suami orang didepan mata sang istrinya. Apa kau tidak punya hati!"


Plak! satu tamparan lagi mendarat di pipi Bella.


"Maafkan aku." Hanya itu cara pembelaan Bella. Untuk melindungi diri. Bella menangis sampai sesegukan. Merasa saki, takut, dan terpojok.


"Aku tidak percaya kau begitu kejam kepada putriku. Anak wanita ku yang sudah dirawat penuh kasih sayang. Kau mengambil Killa disaat Killa sudah besar, kau tidak perlu merawatnya sejak kecil! Tapi kenapa kau sakiti anakku?" Bapak mencekram baju Putra bagian leher. Amarah berkobar.


"Maafkan aku, pak. Aku juga tidak menyangka jika Killa akan melakukan hal ini. Aku tidak menyangka!" awalnya Putra melemah, tapi dikata tidak menyangka, Putra emosi. Putra menyesal.


"Tidak menyangka! kau bilang tidak menyangka. Kau bermesraan dengan wanita lain didepan mata anakku. Kau bilang tidak menyangka! Aku yakin seyakin-yakinnya kau bermesraan dengan perempuan lain bukan kali ini saja! kau sering melakukannya, kan? Killa tidak akan bertindak sejauh ini jika luka yang dirasa hanya sedikit." Menatap tajam kearah lawan bicaranya.


"Bapak betul, aku membuat luka ini sejak pertamanya pindah ke rumah ku." Putra memilih untuk jujur.


"Brengsek!"


Ray yang sudah tidak tahan, Ray langsung menarik Putra yang masih dalam jeratan bapak.


Bugh! Putra jatuh tersungkur ke lantai. Ray menarik baju atas Putra lagi untuk bangkit.


Bugh! Ray kembali memukul Putra. Putra tidak melawannya. Putra mengaku salah.


Dalam hati, Putra bertanya, kenapa tuan sampai segitunya?


"Kau melukai Killaku, B*******!" menarik baju atas Putra lagi. Siap ingin memukul lagi. tapi ditepis Putra.

__ADS_1


"Killaku? Killa istri ku, dan aku suaminya. Killa bukan milikmu, tuan!" Putra tidak rela. Tuan Ray bilang Killaku. Enak saja, siapa Ray!


"Masih pantaskah kau bilang, kau suaminya? Suami macam apa? Kau melukainya sejak pertama kali awal pernikahan, brengsek!


Suami biadab! Untuk apa kau menikahinya tapi hanya untuk disakiti!" Nafas Ray bergemuruh hebat, bola mata Ray diselimuti kabut kemarahan yang sangat pekat.


"Tuan, tidak tahu! Aku melakukannya hanya untuk membuat Killa jera. Akupun tidak menyangka jika Killa akan melakukan hal ini. Ekspektasi ku bukan seperti ini." Putra masih kuat menahan kepalan tangan besar Ray.


"Jera? Sebesar apa kesalahan Killa hingga Kau melakukan hal ini. Kau mencari dalih lain untuk menyelamatkan dirimu. Kau selingkuh, kau bermain terus terang didepannya!"


"Aku, tidak mencari dalih, tujuanku bermain terus terang karena ingin membalas luka ku yang dalam yang pernah Killa buat. Akupun akan mengakhiri permainan ini, jika aku rasa cukup, rasa sakit yang aku rasa sudah terbayar! Aku akan mengakhirinya, tapi kenyataannya menjadi seperti ini. Tidak sedikit pun dalam benakku hal na'as ini akan terjadi."


"Jangan berbelit! jelaskan rasa sakit apa yang sudah Killa lakukan ke kamu?" Ray tidak suka Putra yang mencari pembenaran dalam kasus perselingkuhannya.


"Tuan tidak tahu, betapa sakitnya ditinggal oleh orang yang kita cintai menjelang pernikahan. Hal itulah yang buat aku ingin membalas sakit yang ku rasa terlebih dahulu, sebelum aku jalani bahtera rumah tangga dengan baik!"


"Hanya sekecil itu yang Killa lakukan, dan kau membalasnya jauh lebih sadis, brengsek!"


Ray sudah tidak bisa menahan emosinya.


Bugh! Ray memukul perut Putra, sampai Putra terpental ke kursi.


"Sebesar apa cintamu ke Killa? Jika kau benar-benar cinta dengan Killa. Tidak akan ada drama macam seperti ini. Cintamu ... Bulshit! Bilang saja kau tidak cukup dengan satu wanita!"


Bugh! Pukul, angkat.


Bugh! Pukul, terpental.


Putra sudah sekarat, tergeletak di lantai, muka penuh dengan pukulan, darah segar sudah terlihat mengalir. Andai bukan karena ibu dan Ayah Putra yang memohon untuk berhenti memukul Putra, bersujud didepan Ray. Sudah dipastikan nyawa Putra akan melayang dintangan Ray detik itu juga


***


Didepan ruangan operasi kini kembali hening lagi, Bergelut dengan pikirannya yang cemas, khawatir ke Killa.


Sudah beberapa jam menunggu, belum ada satupun dokter atau suster yang keluar dari ruangan operasi.


Ruangan operasi yang kedap suara membuat keributan yang terjadi beberapa menit yang lalu tidak menggagu jalanya operasi. Mungkin hanya saja mengganggu kamar rawat sebelah-sebelahnya.


Petugas atau staf rumah sakit dan petinggi rumah sakit tidak ada yang berani memberhentikan aksi Ray tadi. Semua hanya diam terpaku, menyaksikan.

__ADS_1


"Killa pasti akan selamatkan, Fan?" tanya Ray ke Ifan. Pikiran lari kearah Killa akan menghembuskan nafas terakhirnya diruangan operasi, sama seperti mimpi yang Ray alami beberapa hari yang lalu.


"Nona pasti selamat, tuan tenanglah." jawab Ifan, berusaha menenangkan Ray. kemudian menyuruh Ray untuk duduk.


Bapak Killa mengajak Istrinya, Vino dan Ray, dan rombongan Ray, untuk ikut ke musholla. Sholat dan berdoa meminta pertolongan kepada sang pencipta.


Ray dengan semangat mengiyakan ajakan bapak Killa.


Dalam pikiran Ray, benar! Saat ini yang dibutuhkan bantuan dari sang pencipta. Dokter hanya bisa mengobati, tapi tidak bisa menyelamatkan, semuanya ditangan kehendak sang pencipta.


Setelah dari Mushola, kembali lagi ke depan ruangan operasi, dan masih sama. Belum ada dokter dan perawat yang keluar.


Lima menit ...


Sepuluh menit ...


Lima belas menit ...


Pengawal suruhan Ifan baru sampai setelah membeli beberapa makanan dan minuman untuk dibagikan ke semua orang yang sedang menunggu Killa.


Setelah habis dari Mushola, rasa cemas berkurang. Hingga akhirnya ibu, bapak, dan Vino, sedikit berselera makan.


Ifan melakukan itu karena Ifan mengajak pergi ke kantin tidak ada yang mau, jadi Ifan menyuruh pengawal untuk beli makanan.


"Tuan, makan sedikit saja, tuan. Untuk menjaga imun, tuan." rayu Ifan.


Awalnya Ray enggan untuk makan, tapi rasa lapar dan ingin menjaga imun membuat Ray memakan sedikit.


Krekkk! suara pintu ruangan operasi terbuka. Semua bersegera beranjak.


Terlihat Frans keluar masih dengan lengkap menggunakan pakaian operasi. Frans menurunkan maskernya. Terlihat jelas rasa letih dan capek dari raut wajah Frans.


"Bagaimana dengan operasinya, Frans?" tanya Ray segera.


"Operasinya berjalan dengan lancar, tuan. Dan nona Killa masih diberi kesempatan untuk hidup." guratan wajah Frans bahagia dan juga khawatir.


Ray mendengar kabar itu. Ray langsung bersujud syukur kepada sang Illahi. Merasa sangat bersyukur.


Begitupun dengan bapak, ibu dan Vino. Melakuan ritual yang sama.

__ADS_1


Tangisan bersyukur bercampur dengan rasa bahagia bersyukur dalam bersujud syukur.


Bersambung...


__ADS_2