Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Mertua


__ADS_3

Setelah Kiara pulang, Putra berubah jadi cuek, dingin, tak peduli. Tidak selembut dan sesayang waktu ada Kiara.


Ditambah siang ini, ibu dan ayah Putra datang berkunjung kerumah. Membuat suasana hati Killa tambah sedih.


"Aku tidak tahu, apa yang membuat Putra tergila-gila dengan mu! Padahal kau sudah memberikan luka terdalam buat Putra," ibu Laras meletakan gelas diwastafel.


Putra bukan tergila-gila dengan ku, asal ibu tahu! Dia hanya ingin membalas dendam.


Killa berkata dalam hati sambil masih fokus ngalap piring yang basah.


"Aku bingung, apa yang bisa aku banggakan dari dirimu, ck. Ada si, satu. Kau dekat dengan tuan Ray. Dia sampai rela datang ke acara pernikahan, tapi habis tuh, apa lagi?"


Killa hanya menuduk, berhenti mengelap piring. Begitulah ibu Putra. Memang dari awal beliau tidak setuju dengan hubungan Killa dan Putra.


"Apa kau lupa berkaca! Siapa kau dan siapa Putra? Aku berharap kau dan Putra segera bercerai. Aku tidak sudi harus punya cucu darimu!"


"Ibu!" Putra yang baru saja masuk ke dapur, harus mendengarkan perkataan yang tidak mengenakan di hati, "kami baru menikah, dan ibu nyuruh kami berdua bercerai?"


"Gimana ya, Put? Ibu tidak sudi punya keturunan dari wanita itu! Lebih cepat lebih baik kau bercerai!" cuek, sambil mengelap tangan dilain lap yang menggantung.


Putra sekilas melirik Killa, terlihat jelas raut wajah Killa penuh dengan kesedihan. Putra menyatukan jari-jemarinya ke jari Killa. Memperkuat.


"Kami akan tetap bersama, meski ibu tidak suka. Dan jika ibu tidak mau keturunan dari kami, aku juga tidak pedulikan! Karena anakku kelak tidak butuh pengakuan nenek ke ibu!"


"Ibu heran sama kamu! Apa yang di harapkan dari wanita itu?" menunjuk kearah Killa. "Kenapa kau memilih dia jadi pendampingmu? Berapa banyak wanita cantik, kaya raya. Yang ingin dengan mu! Kau malah memilih wanita rendahan seperti dia, cih! Matamu dibutakan! Sadar Put!"


"Bukan mata aku yang buta, tapi mata ibu yang dibutakan dengan harta kekayaan. Ibu selalu melihat orang dengan uang, uang dan uang! Sekali saja bu, lihat orang dari sudut yang lain, Killa wanita baik, beda dari yang lain!" mata Putra melotot.


"Baik! Baik apanya? Hah! Dia dulu ninggalin kamu menjelang pernikahan, hampir kau gila! itu yang namanya baik?"


"Killa pergi juga karena ibu!" Putra memang benci dengan kelakuan Killa yang dulu, pergi begitu saja menjelang pernikahan dan Putra berencana ingin menyakiti balik, tapi bukan berarti Putra rela Killa disakiti oleh orang lain. Cukup Putra saja yang membalas kesakitan ini. Dan jika sudah terbayar Putra akan berhubungan baik dengan Killa, tidak akan menyakiti hati Killa lagi dengan cara berselingkuh.

__ADS_1


Tunggu! Putra masih bingung dengan perasaannya. Bella itu awalnya hanya untuk pelampiasan, tapi dengan berjalannya waktu Putra merasa nyaman dengan Bella. Bella yang punya sifat hampir mirip dengan Killa. Itu yang jadi sebab Putra berpacaran dengan Bella.


Ibu dan Putra terus berdebat, hingga akhirnya ayah Putra yang memisahkan, dan membawa Ibu pulang.


Putra memeluk Killa dengan hangat, penuh kasih sayang, dan memperkuatkan, "maafkan ibuku, aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu. Percayalah."


Killa tidak menjawab, badan Killa hanya bergetar menangis. Killa merasa sedih dan juga bahagia. Killa sedih karena sang mertua tidak menyukainya, dan bahagia karena Putra membela dan melindunginya.


***


Dua minggu sudah, Ray menghabiskan waktunya dikamar. Menangis, ketawa, melamun, tidur, duduk, minum-minuman keras, marah, teriak-teriak. Sangat memprihatinkan keadaan Ray. Badan Ray jadi kurus. Ray mirip seperti orang yang gila.


Ray sangat tersiksa dengan perasaanya.


Sudah beberapa kali dokter psikiater untuk mengobati Ray, tapi belum ada perubahan.


Aktivitas yang rutin Ray lakukan hanya itu, tidak pernah keluar kamar.


Perkerjaan di Kantor semuanya ditangani Ifan dan juga pak Jay ikut andil membantu. Ifan luar biasa, disisi lain pikirannya memikirkan nasib tuanya, dan disisi lain, Ifan juga memikirkan kerjaan yang sangat numpuk. Capek badan dan capek pikiran sudah pasti Ifan merasakannya, tapi itu tidak masalah bagi Ifan.


Suasana rumah kini sangat menyedihkan, dimana didalam rumah tidak ada ketawa ataupun senyum. Semua berwajah sedih, hati terluka melihat keadaan Ray.


Dan pagi hari ini semua orang dirumah dibuat kaget melihat Ray keluar kamar dan sudah perpakain formal. Bergabung bersama untuk sarapan di meja makan.


Tidak ada senyum yang terpancar dari wajah Ray. Ray kembali menjadi Ray yang dulu, berwajah dingin, datar dan sangar. Padahal semua orang yang berada di meja makan tersenyum kearah Ray. Ray tidak membalas senyuman itu.


Ray memutuskan untuk bersikap sibuk, sampai tidak punya waktu untuk memikirkan kesedihannya.


Dengan sebab itulah Ray berniat ingin ke Kantor untuk membunuh waktu. Ray tidak mau terlalu larut dalam kesedihannya. Ada tanggung jawab yang harus Ray emban.


"Sayang, kamu mau sarapan pake apa?" Ibu Ray sudah memegang piring, siap mengambilkan makanan untuk Ray. Mata ibu berkaca-kaca, bahagia.

__ADS_1


Akhirnya sang anak bangkit juga dari ketupurakannya.


"Tidak perlu bu," Ray menolak mentah-mentah. Ray hanya mengambil roti kemudian mengoles selai kacang, selai yang Killa suka. Memakan Roti dan meminum susu itu sudah sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, kemarin-kemarin Ray hanya makan sesuap nasi setiap hari satu kali. Menakutkan?


Hening. Tidak ada obrolan ringan saat sarapan. Semua orang memilih untuk diam. Hanya ada suara garpu, sendok dan piring berbenturan. Bergabungnya Ray untuk sarapan itu sudah menjadi kado terindah yang tuhan beri.


Perubahan Ray yang pernah jadi baik kini sudah sirna. Ray yang suka tebar senyum ke karyawannya, menyapa dengan hangat, kini sudah tidak ada. Disapa pun Ray tidak menyapa balik, muka datar dan sangar. Membuat orang kantor kebingungan, dan juga takut. Baru kemarin-kemarin wajah Ray menyenangkan dan kini wajah galak dan dingin terlukis kembali diwajah Ray.


Peraturan yang Ray buat, tentang sepuluh menit menjelang adzan kerjaan harus sudah berhenti. Kini petaturan itu sudah tidak berlaku.


Ray cuek terhadap hal itu, waktu jam Dzuhur sebentar lagi akan habis dan akan berganti masuk ke Ashar, Ray masih tetap melanjutkan meetingnya. Tidak pedulikan.


Ray benci takdir!


Takdir tidak adil!


Dan apa kabar rencana yang akan membangun masjid masjid didepan kantor? itupun terbelalai. Tidak di lanjut pembangunannya.


Kasus ini siapa yang harus disalahkan? Jawabannya Ray.


Ray satu-satunya orang yang harus disalahkan.


Kenapa?


Karena Ray perubahanya bukan karena Allah. Ray berubah karena Killa. Jadi sekali di uji akan terlihat jelas kebohongan yang Ray buat.


Kerjaan yang numpuk berhasil membuat Ray tidak memikirkan Killa, tapi setelah kerjaan selesai bayangan Killa kembali bertebaran di pikirannya. Hingga akhirnya didalam kamar Ray meluapkannya dengan meminum alkohol sampai tidak sadarkan diri.


Gitu terus yang Ray lakukan, sampai sudah berjalan dua bulan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2