Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Tidak Terima


__ADS_3

Mobil Ray sudah sampai dihalaman. Raisa dan Nadia saling tatap. Dan saat Ray keluar dari mobil Raisa berpikir keras membuat alasan yang tepat untuk beralasan.


"Lepaskan dia." melangkah mendekat ke Nadia.


"Baik, Tuan."


"Mau apa kalian kemari?" menatap adik kandungnya tajam.


"Mau melabrak pelakor!" Jawab Nadia geram. Nadia langsung berucap keintinya. "Awww. Sakit ka!" Pekik Nadia karena kakinya di injak Raisa.


"Mmm. Maaf tidak sengaja." Raisa meringis.


"Kita berdua kemari, ingin berjumpa dengan kamu. Iya, kan, Nadia?" Tersenyum lalu Menyenggol badan Nadia.


"Apaan sih, Ka! Kita kan kemari ingin memberi pelajaran ke Pelakor." Nadia menghadap ke Ray. Padahal Raisa sudah memberi kedipan mata, tapi Nadia tidak paham dengan kedipan mata dari Raisa.


"Siapa yang pelakor?" Ray menatap tajam ke arah dua perempuan dihadapanya bergantian.


Raisa mengumpulkan keberaniannya. Dia yang awalnya ingin bersikap manis, tapi tidak bisa tahan. Api kemarahnya lebih besar untuk berkobar, apalagi Ray yang pura-pura tidak tahu maksud dari pelakor? Malah tanya siapa yang pelakor? Bikin kesal?


"Kamu jahat, Ray!" ucap Raisa dengan terisak. Mau memukul badan Ray, tapi Ray segera menepisnya.


"Jahat! Jahat apanya?" Ray santai, dengan nada membentak.


"Kaka! Kaka keterlaluan! Aku gak menyangka seorang kaka Ray yang terhormat melakukan hal yang menjijikan! Kaka selingkuh dan ketika pacar kaka yang sah memarahi kaka, kaka malah membentak! Dimanah hati kaka! Bahkan kaka melarang adik kaka sendiri untuk masuk hanya demi seoarang wanita pelakor! Menjijikan! Aku benci sama kaka!" Nadia yang berdiri disamping Raisa langsung maju didepan Raisa berhadapan dekat dengan Ray. Api kemarahnya memuncak.


"Jaga ucapanmu!" Mata Ray membesar, api kemarahannya sudah di ubun-ubun, siap untuk diledakkan.

__ADS_1


"Haha, jaga! Sedangkan kaka tidak jaga perbuatan kaka yang menjijikan? ka! Nadia perempuan. Apa yang dirasakan Ka Raisa, Nadia pun merasakan sakit juga!"


"Siapa yang selingkuh? Dan siapa yang jadi pelakor? Kau tak tahu menahu, Nadia!"


Raisa hanya diam, dia terus terusan mengeluarkan air mata. Raisa tak menyangka Ray membentak dirinya. Berpacaran selama ini Ray tidak pernah membentaknya, tapi sekarang?


Secepat itukah cinta mu hilang Ray? Kamu jahat Ray! Kenapa semudah itu Cinta yang kau berikan ke padaku hilang? Ray! Gak mungkin, kau masih cinta kan sama aku? batin Raisa Lalu mengusap air matanya dengan kasar.


"Bener, yah, mana ada maling yang mau ngaku! Nadia benci sama kaka!


Ayok, Ka, kita pulang. Ka Ray tak pantas mendapatkan cinta kaka yang tulus!" Nadia langsung menarik tangan Raisa, hendak melangkahkan kakinya keluar dari halaman rumah Ray. Ray segera mencegahnya, menarik tangan Nadia.


"Kamu salah paham, kaka tidak akan membiarkan kamu pergi. Tunggu penjelasan kaka, Kaka tidak mau kau berpikir buruk sama kaka." Nada bicara Ray dilembutkan, Ray menahan amarahnya demi Nadia. Dia tidak mau Nadia semangkin salah paham kepadanya.


"Salah paham? Salah paham apa! Jelas-jelas di dalam ada selingkuhan, kaka! dia menginap di Rumah kaka!"


"Bisa ya, kaka memutar balikan fakta! Nadia memang tidak suka bahkan benci sama ka Raisa! tapi itu dulu, Nadia benci sama ka Raisa bukan orangnya! tapi sifatnya ka Raisa dan kelakuan." Nadia menjeda ucapannya, dia menarik napas panjang. "Namun Nadia tidak akan membantu atau membela orang yang melakukan perbuatan perselingkuhan! Nadia perempuan, ka!" Nadia meronta, berusaha melepaskan


tanganya dari Ray, Ray pun melepaskan.


Saat Nadia sedang jalan keluar dengan menarik tangan Raisa, Ifan mencegahnya, dia mencengkeram penggelangan tangan Nadia.


"Sudah, Fan! Jangan kau halangi, biarkan pergi!"


***


Gelap malam yang terang benderang tersinari oleh bulan yang bulat dan bintang-bintang yang berkelip. Tidak ada hujan di malam ini. Angin malam yang lembut, sungguh malam ini sangat indah, syahdu. Tapi tidak menurut Putra, bagi Putra, malam ini amat gelap gulita, tidak ada sinar yang menyinari malam ini. Begitu kelabu sedihnya hati Putra.

__ADS_1


Di meja makan Putra hanya diam tak bersuara, makanan pun tidak dimakan, hanya diaduk-aduk, tatapan mata kosong.


Orang tua mana yang tega lihat kondisi anaknya seperti itu? selalu melamun, tatapan kosong. Semenjak Killa pergi, Putra seperti manusia yang tidak semangat lagi dalam hidupnya. Mayit yang hidup! Terkadang kalau tidur pun, Putra teriak-teriak menyebut nama Killa.


"Sayang ..." ucap Ibu Putra, tapi tak dapat respon dari anaknya.


"Put," timpal Ayah Putra, tetap sama Putra tak menjawab, Hanya tatapan kosong. Pikirannya kemana-mana. Ayah Putra dan Ibu Putra saling menatap seperti berkata 'kenapa anak kita selalu seperti ini?',mata Ibu Putra sudah berkaca-kaca, hati beliau sakit melihat kondisi anaknya seperti itu, hampir tiap hari. Membuat rasa kesal, marah dan ingin balas dendam ke Killa terbesit di pikiran Ibu Putra.


"Nak." imbuh ibu Putra dengan menyentuh tangan Putra.


"Haa," gelapan," Iya bu." menengok ke arah ibu.


"Kamu jangan gitu sayang, kamu kenapa? Apa kamu masih mikirin Killa?" Ibu Laras mengusap ngusap tangan Putra.


"Bu." menunduk menyembunyikan agar tidak terlihat air mata yang sudah terbendung berebutan ingin keluar, "Putra kepikiran Killa. Putra takut Killa kenapa-kenapa? apalagi tadi, Ibu Ami merasakan tak enak hati. Seorang ibu kan peka terhadap anaknya. Hati anak dan ibu kan mudah terkonek." Putra sedih, menarik tangan ibunya ke pipi Putra. Apa salah Putra seperti itu? Putra sangat mencintai Killa, rasa khawatir,cemas, tanda tanya kenapa Killa pergi meninggalkannya selalu muncul di pikiran Putra.


"Sudahlah, Put! Kenapa kamu masih mikirin wanita itu! Yang tak punya perasaan! Dia tak pantas kau pikirkan. Masih banyak wanita yang mau sama kamu. Dia mau mati, ngapain kamu mempedulikannya." emosi Ayah Fandi, ayahnya Putra.


"Aku sayang dan cinta sama Killa, Yah!" teriak Putra. Emosi meluap.


"Makan Tuh cinta! Kau cinta sama dia, tapi dia apa? Tidak Cinta sama kamu!" tidak mau kalah marahnya.


Putra bungkam dia tak bisa jawab. Apa benar Killa tak cinta denganya? Apa ini sebabnya Killa meninggalkan menjelang hari pernikahannya? jika iya itu benar, tapi kenapa Killa waktu itu berkata bahwa dirinya cinta Sama Putra? Apa itu cuma berbohong berucap? sejahat itukah Killa? plesetan-plesetan pertanyaan itu bertebaran di pikiran Putra.


" Put. Benar kata Ayah, jangan pikirkan dia lagi ya,nak. Cinta bertepuk sebelah tangan itu tak enak nak. Carilah wanita yang mencintai kamu, biar dia bisa bhakti sama kamu. Kalau kau mencintai wanita, tapi wanita itu tak mencintai kamu. Apa kamu mau nanti tidak dihargai? Dan cinta kamu tak terbalas? Mama tidak mau kau terluka lebih dalam nak." ibu mengelus tangan Putra. Ibu berharap dengan kata katanya yang baru terucap, Putra jadi sadar dan tidak memikirkan Killa lagi.


Putra tak merespon. Dia beranjak pergi tanpa permisi, masuk kekamar menutup pintu kamar dengan keras.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2