
Kini Killa dan Ray sedang beradu pandang. Segera Killa mengalihkan pandangannya ke atas langit
"Bintang jauh lebih cantik, dia menyinari malam yang panjang untuk penghuni bumi."
Killa dapat gombalan macam itu, nggak mempan.
"Bintang menyinari malam yang panjang untuk penghuni bumi, betul adanya. Tapi, kau menyinari malam ku yang panjang, pagi, siang dan sore." Mengusap-ngusap lengan Killa sambil mata ikut menatap ke langit.
"Tuan, bisa aja." Killa tersenyum.
"Boleh kah aku meminta sesuatu?"
"Apa?" ucap Killa pelan.
"Jangan panggil aku, tuan. Karena aku bukan tuanmu. Kau istriku dan aku suamimu."
"Terus aku manggilnya apa? Masa namanya? Enggak-nggak! nggak sopan!" Killa menggeleng-geleng tidak setuju.
"Panggil aku SAYANG! Begitu pun aku, akan memanggil mu sayang. Bukanya kita sudah bersuami istri?"
"Sayang?" Killa kaget.
"Apa?"
"Bukan manggil, maksudku aku manggil kamu Sayang? dan kau manggil aku Sayang?"
"Eh, iya." Ray menarik kepala Killa untuk bersandar ke lengannya. Ray menaruh janggutnya di kepala Killa. "Ingat, sayang! bukan tuan."
"Maksa?"
"Hmmm, sedikit. Hehe."
"Hmm, gimana ya?"
"Nggak ada gimana-gimana! Harus setuju!" Menghujani pucuk kepala Killa dengan kecupan.
"Tuan."
"Sayang! Kamu meledek, ya?"
"Hehe, nggak. Aku canggung."
"Buang rasa canggung atau apalah. Kau miliku dan aku milik mu." Menarik tangan Killa untuk melingkar ke pinggangnya. Killa manut, langsung memeluk pinggang suaminya. "Aku Sayang kamu, panggil aku sayang, ya. Jangan seperti Ifan."
"Emang kenapa dengan, tuan Ifan?" Killa mendongak dengan polosnya.
"Mau tau? Kita masuk dulu, ya. Dah larut, dingin." Ray dan Killa saling berbagi napas karena jarak yang sangat dekat.
"Ide bagus, badanku juga sudah terasa dingin."
__ADS_1
Killa baru saja mau melepaskan tangan yang melingkar, Ray langsung mengangkat tubuh mungil Killa ala Bridal Style.
"Tuan!" Killa terperanjat kaget.
"Tuan?" memandang wajah Killa, tidak setuju.
"Kenapa angkat tubuhku?" alih-alih bukanya jawab pandangan Ray yang tidak setuju memanggil tuan. Killa malah bertanya.
"Terserah aku, kau menggemaskan." Jangan panggil aku, tuan!" Ray jalan menuju ranjang sambil mengakat tubuh Killa. Sampai di ranjang, Ray menurunkan Killa dengan hati-hati. "Kau, ternyata berat, tapi boong, haha."
Killa tidak menghiraukan, Killa segera bangkit terus duduk bersandar di kepala ranjang. Ray duduk di tepi ranjang. Tanganya maju kearah kepala Killa.
"Mau apa, tuan?" Killa mengeryit.
"Mau melepas Hijabmu, sayang. Bukanya sekarang tidak ada yang akan lihat, kecuali aku."
Setelah Hijab terlepas, Ray beranjak. Menaruh Hijab di sofa. Kemudian kembali lagi ke tempat tidur, duduk menyebelahi Killa. Menepuk dadanya memberi kode untuk Killa mendekat, menidurkan kepalanya di dada Ray.
Killa bergeming.
"Kemarilah, sayang." Ray yang tidak sabar langsung menarik tubuh Killa untuk mendekat. "Jangan panggil aku, tuan, ya?" suara Ray lembut. Kini Killa sudah bersandar di bahu Ray, dan tangan Ray melingkar ke pinggang Killa. Duduk bersandar di kepala ranjang. "Rambutmu wangi." Ray mendengus-dengus bau wangi rambut Killa.
"Kenapa dengan tuan Ifan? sa--tuan." Killa merasa tenang, nyaman dalam samping Ray, meski jantungnya tidak bersahabat. Dah Dig Dug.
"Satuan?" mengeryit.
"Nah, gitu dong," senyuman Ray mengembang. "Jangan keras kepala seperti Ifan. Sudah beribu kali aku menyuruh dia jangan panggil aku tuan, tapi dia keras kepala. Tidak mendengarkan ucapanku, selalu saja manggil tuan."
"Mungkin tuan Ifan tidak enak hati saja kali, tu--sayang." menepuk mulutnya.
Ah ... mulutku.
"Sayang! Apalagi posisi tuan Ifan sekretaris kamu. Ingin berkerja secara professional."
Mendengar Killa memanggil nama sayang secara gamblang, hati Ray berbunga-bunga bahagia.
"Dia memang sekretaris ku, tapi dia sahabat terbaik ku dari dulu, rasanya tidak pantas dia selalu manggil aku, tuan. Tidak perlu Formal segala. Menurutku tidak perlu. Tapi ya gitu, dia keras kepala, kekeh dengan penderiannya. Dan aku tidak mau kau keras kepala macam dia. Kau istri ku, aku bukan tuan mu. Kau bidadari ku, bukan budakku."
Bidadari? Ah ... Kenapa kamu bisa banget buat aku terlena bahagia, si!
Killa senang bukan main dibilang bidadari.
"Bidadari? Apa tidak salah?"
Killa mendongak ke wajah Ray.
"Tidak! Kau memang bidadari. Bidadari yang tuhan kirim untukku." memandang lekat-lekat wajah Killa yang bersemu merah.
Ah ... sial!
__ADS_1
Ray tidak tahan. Tangannya langsung meluncur memegang pipi Killa. Ray menggrutuki perbuatanya, tapi mata dan pikirannya dalam kuasa diluar kendali. Ray tidak mengangkat tanganya malah memaikannya.
Mata Killa terbelalak. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari sebelumnya. Killa tidak marah posisi tangan Ray yang sekarang. Killa bukan gadis polos, Killa tahu apa maksud Ray. Ada rasa malu, tapi senang. Campur aduk. Tidak karuan. Ada rasa belum siap.
Melihat Killa tidak menolak, tidak marah. Ray benar-benar seperti mendapatkan lampu hijau untuk maju.
Tidak-tidak! Killa pasti belum siap? Tapi,
Apa malam ini? Apa Killa sudah siap?
Apa Killa akan mengijinkan? Atau akan menolak? Killa aku takut kau menolaknya!
Ahh ... sial.
Ray berusaha sekuat tenaga untuk menahan gejolaknya. Menepis jauh jauh keinginannya, meski sakit. Tapi melihat Killa tidak menghindar buat jiwa yang sudah di tepis kini menggelora. Ray tidak bisa menahannya.
Tangan sialan! Kenapa kau tidak mau hengkang dari situ si? Ya Tuhan ...Killa, ku berharap kau tidak menolak.
"Bolehkah?" ucap Ray serak dengan napas tidak kondusif. Rasanya Ray pengin langsung melahap, tapi Ray tidak mau Killa kecewa, marah dengan tindakannya. Jadi Ray perlu izin ke pemiliknya. Tangan masih sama di posisi itu. Tangan tidak ada akhlak, bukannya melepas, malah masih memainkan. Mengusap-ngusap pelan tanpa ada niat ingin melepasnya.
Kini aku sudah menjadi istrinya. Sudah kewajibannya bukan?
Killa bergumam, bergelut dengan argumennya. Iya, tidak, iya, tidak, mengizinkan atau menolak.
Akhirnya ...
Killa mengangguk, pertanda mengizinkan.
Rasa berdebar hati Ray takut tidak diizinkan langsung merasa lega, bahagia, bersyukur. Bentar lagi Killa akan menjadi miliknya. Utuh! Secara pernikahan dan tubuh.
Ray langsung memcium Killa dengan pelan dan lembut. Killa tidak menolak, tidak juga menerima.
Ada rasa kesal dihati Ray. Bukan karena tidak ada reaksi dari Killa. Bukan! Bukan itu! Tapi rasa kesal dirinya bukan yang pertama. Merasa iri dengan Putra.
Kau beruntung, Put! Kau yang mendahului.
Killa, kaku. Killa tidak bisa bernapas. Ray merasa aneh dengan Killa, kenapa Killa sekaku itu? Seperti orang yang baru pertama kali. Ray melepas pelan, memberi ruang untuk Killa bernapas.
Berlanjut, Hingga tangan Ray sudah menjalar kemana-mana. Ray menghapus jejak semua kepemilikan dari Putra.
Killa utuh menjadi miliku!
Malam itu, mejadi malam yang panjang buat Ray dan Killa. Malam yang berharga. Malam yang indah dan ruangan kamar menjadi saksi bisu untuk keindahan Ray dan Killa.
Bersambung ...
.
.
__ADS_1