Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Kesiangan


__ADS_3

Mentari pagi sudah muncul, menyinari pagi yang cerah tanpa tertutup awan yang gelap. Sinar yang terang masuk ke celah penutup jendela yang terbuka sedikit di kamar utama.


Sepasang kekasih masih terlelap dalam tidurnya, merasakan silau sang suami mengulet, matanya perlahan terbuka.


Bertapa terkejutnya Ray melihat waktu yang sudah pagi. Segera Ray membangunkan sang Istri yang masih terlelap tidur di pelukanya.


"Sayang, bangun." ucap Ray lembut. Ray maupun Killa masih sama-sama polos, tidak menggunakan baju hanya selimut sebagai penutup.


"Hmmm," balasan Killa hanya bergumam sambil badan bergerak sedikit kemudian tertidur lagi.


"Sayang, bangun ... Kita kesiangan, ketinggalan sholat Shubuh."


"Apa!" Killa langsung terbangun kaget, bangkit duduk diatas ranjang. "Astagfirullah, jam berapa sekarang? Lupa semalam tidak nyalain alarm!" Mata Killa menengok ke nakas melihat jam yang terletak di atas nakas, "hah, jam delapan ..."


Ray ikut bangkit duduk disebelah sang Istri. "Terus gimana, Sayang? Kita tidak sholat Shubuh??"


"Cepetan Kita ambil wudhu. Kita langsung sholat." Killa segera bangkit, tidak mempedulikan badanya yang polos terekspos dan Ray melihatnya, Killa menyambar handuk yang tergeletak di lantai untuk menutupi dirinya dan mengambil ikat rambut yang terletak di atas nakas, mengikatnya asal sebelum berlalu masuk ke kamar mandi.


"Waktunya sudah habis, memang masih boleh?" Ray bergeming, menatap sang Istri bingung.


"Boleh, kita tidak sengaja meninggalkannya."


Ray langsung bangkit, berjalan sambil melilitkan delimut dibadannyamengikuti sang Istri masuk ke kamar mandi. Di kamar mandi Ray langsung ambil wudhu.


"Sayang, gosok gigi dulu. Masa iya mau shol dalam keadaan mulut bau?" Killa menyerahkan gosok gigi yang sudah di kasih odol ke Ray. Killa sengaja mengucapkan kata sholat hanya shol. Karena sedang berada didalam kamar mandi.


"Sudah siang, Sayang. Tak usah gosok gigi tak apalah?" protes Ray.


"Tetap harus gosok gigi, walau kesiangan, kita tidak sengaja melalaikanya."


Mereka langsung gosok gigi, setelah itu ambil wudhu. Ray dan Killa keluar kamar mandi, sama-sama menggunakan handuk kimono. Karena panik Ray maupun Killa melupakan sesuatu hajat yang harus ditunaikan terlebih dahulu.


Killa segera mengambil baju didalam lemari untuk Ray dan untuknya. Dengan cekatan memakai pakaian kemudian Killa menggunakan mukenah lalu menggelar sajadah. Sama-sama sudah siap, sudah berdiri di atas sajadah tinggal langsung sholat. Baru saja Killa menengok kearah samping melihat baju Ray yang tercecer di lantai. Killa baru ingat hajatnya yang belum ditunaikan.


"Sayang, kita belum mandi junub ...." ucap Killa frustasi, lemas, menggelosor ke bawah. Matanya berkaca-kaca. Killa sedih, dosa apa yang sudah dibuat sehingga dirinya di hukum seperti ini. Dan ini sedih betapa bisanya dirinya melalaikan sholat meski tanpa sengaja.

__ADS_1


"Astagfirullah, iya. Terus gimana?" Ikut menggelosor duduk di depan Killa. "Maaf, karena aku telah buat kita bergadang. Jadi kita kesiangan." lanjut Ray sendu.


"Bukan salah kamu doang, Sayang. Ini salah kita berdua." mengelus pipi Ray. "Dah, ayo buruan mandi terus sholat."


***


Ifan datang dari jam tujuh pagi, bertujuan biar bisa ikut sarapan bersama, nyatanya ... dirinya sudah menunggu satu jam lebih, tuan Ray maupun nona Killa belum keluar dari kamar.


Menunggu Ray yang lama membuat secangkir kopi dan setangkep roti tawar isi selai nanas sudah habis di lahap Ifan. Mendahului sarapan.


"Tuan Ray dari jam berapa belum keluar dari kamar?" tanya Ifan ke pak Haris yang saat itu Ifan sedang menaruh gelas dan piring di wastafel dapur.


"Dari malam, Tuan."


"Apa! Memang, Tuan tidak sholat Shubuh di Masjid?" tanya Ifan kaget.


"Tidak, Tuan. Sepertinya tuan Ray sholat berjamaah bareng Nona di kamar."


"Oh, baik lah terimakasih." Ifan kembali ke ruang tengah. Mendudukkan tubuhnya di sofa. Menarik napas panjang dan dalam.


Apa yang Tuan lakukan di kamar bersama Nona? Ini sudah siang, Tuan ... Apa seperti itu kalau sudah beristri, malas keluar kamar? batin Ifan menerka-nerka.


Ifan membuka hapenya, ingin mengundurkan jadwal yang sudah tertata di pagi ini, Ifan berpikir tuan Ray bakal lama lagi keluar kamarnya.


Ifan berdecih kesal mendapatkan chat laporan dari orang bawahannya.


[Selidiki lebih detail siapa yang buat. Saya beri waktu 30 menit.]


Setelah mengirim pesan Ifan melempar asal hape di sampingnya.


Apa yang akan terjadi jika nona Killa mengetahuinya?


"Huuu. Masalah lagi."


***

__ADS_1


Ray sudah berangkat ke kantor tadi jam sepuluh. Setelah mengantar Ray sampai pintu utama, Killa pergi ke dapur bicara ke bi Siti untuk tidak masak, entah masak untuk di belakang atau untuk di depan. Dan menyuruh para pelayan hari ini tidak usah bekerja. Waktunya istirahat. Tidak masalah hari ini rumah tidak dibersihkan toh rumah juga sudah bersih, tiap hari di bersihin jadi tidak masalah satu hari tidak dibersihkan. Yang sudah terlanjur sedang beberes Killa menyuruh untuk berhenti, waktunya istirahat.


Killa hari ini punya rencana. Killa mengecek saldo tabungan miliknya. Hasil kerja dulu sebelum nikah sama Ray.


"Sepuluh juta ... lumayan." Killa tersenyum puas.


[Sayang, bolehkah aku keluar sebentar ke minimarket?] pesan singkat yang dikirim ke Ray. Tujuannya Killa ingin ambil uang di mesin atm di beberapa minimarket. Penginya si langsung ke kantor Bank, tapi Killa tidak mau Ray tahu, terus tidak mungkin Ray bakal beri izin jika Killa izin ingin ke Bank. Akan di kasih pertanyaan banyak. 'Mau apa ke Bank? ada keperluan apa?' ah ribet jawab pertanyaan dari Ray.


Alih-alih dibalas pesannya, justru Ray malah nelpon. Pergi ke minimarket saja Ray nelpon apalagi ke Bank?


'[Mau apa beli apa? Kalau butuh apa-apa tinggal bilang ke pak Haris.] Itu ucapan dari Ray setelah mengucap say hello.


"Nggak mau beli apa si. Cuma mau keluar rumah saja jalan-jalan. Siapa tau nanti di minimarket tertarik sesuatu dan akhirnya beli." jawab Killa. Killa tidak berkata yang sesungguhnya tujuan ke mini market.


[Oh gitu ya ....] Ray menggantungkan jawabannya menginzinkan atau tidak, sepertinya Ray memikirkan sesuatu.


"Iya. Gimana, Sayang, boleh kah?" harap Killa


[Boleh dong, tapi sama Reva.]


"Siap, terimakasih, Sayang."


***


Seperti ucapan Killa hari ini waktunya istirahat tidak berkerja untuk pelayan rumah Ray.


Killa mengajak para pelayan untuk bersantai bersama, menikmati manisnya es krim dan makanan yang Killa beli di minimarket dan makanan yang di order lewat aplikasi.


Saat sedang mengobrol, bercanda sambil nonton Televisi di ruang tengah. Pak Haris menghampirinya langsung mengambil remote Televisi, mematikan.


"Maaf nona, tuan Ray melarang nona hari ini untuk nonton Tv." ucap pak Haris sopan.


"Hah, kenapa Pak?" tanya heran Killa.


"Saya tidak tahu, Nona. Tuan hanya menyuruh seperti itu tanpa menjelaskan sebabnya."

__ADS_1


Bersambung ....


Mohon maaf, dua hari kemarin gak update🙏


__ADS_2