Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Alasannya.


__ADS_3

Daffa masuk ke ruang kerjaannya, tidak kuat melihat Killa menangis, rasanya Daffa ingin menggantikan posisi Nisa. Memeluk tubuh Killa.


Daffa jadi mengingat orang kanannya Ray--Ifan. Daffa tidak tahu kenapa Ifan sampai tahu jika dirinya suka dengan Killa.


Ifan memberi peringatan ke dirinya jangan sampai menggagu pernikahan Killa dan Putra, apalagi sampai merusak hubungannya. Padahal baru saja Daffa berniat ingin jadi pembinor, tapi urung dengan ancaman Ifan yang menakutkan.


Lamunan Daffa buyar ketika mengingat ketulusan Ray ke Killa. Daffa bersandar ke kepala kursi kerjanya sambil bermain jari jemarinya. Otaknya menerka-nerka.


"Apa benar tuan Ray selingkuh? Sepertinya tidak mungkin, tapi tadi Killa bilang, dia lihat sendiri dengan kedua matanya, Ray bermesraan dengan perempuan lain."


"Jika benar ... ini kesempatan untuk aku. Jodoh memang tidak akan kemana, sejauh apapun terbentang jarak, pada akhirnya akan menyatu, Aku tidak akan menyia-menyiakan kesempatan ini," ucap Daffa sendu. Daffa bahagia dan juga sedih dan kecewa.


Pertama. Sedih dan kecewa karena menyesal, andai dulu Daffa bertindak terbuka mengungkapkan rasanya, mungkin Killa tidak akan merasakan sakit dan patah hati, di khiaanati oleh Putra.


Kedua. Sedih dan kecewa karena menyesal melakukan hal yang sama, bodoh memang! Andai dulu Daffa tidak menyerah, dan tetap bersaing dengan Ray secara sehat, dan menampakan kalau dirinya suka dengan Killa, mungkin Killa sudah jadi miliknya dan tidak akan terluka seperti ini, dikhianati oleh Ray.


Mendengar kabar duka dari Nisa, yang tentang Killa bunuh diri tapi masih bisa diselamatkan nyawanya dan sekarang Killa dirawat di rumah sakit Bias Hospital, bisa membuat badan Daffa melemas, melemas tidak percaya Killa melakukan senekad itu. Tapi di sisi lain bersyukur Killa masih bisa diselamatkan..


Daffa memilih diam dan berharap Killa mengetahui dengan sendirinya jika dirinya suka padanya, ini alasanya. Karena Daffa merasa Ray jauh lebih pantas untuk Killa. Daffa memilih mundur sedikit di dalam perang.


Ray yang banyak berjuang untuk Killa, sementara dirinya tidak ada apa-apanya dalam membantu Killa, hanya sesekali menjenguk. Sementara Ray ... ah susah di ungkapkan semua kebaikan Ray. Terlalu banyak!


Dan Daffa sadar diri, saingannya Ray! Dari segi apapun Ray yang lebih unggul. Gantengannya, kedudukan dan kekayaannya dan perjuangan extranya membantu Killa dan melindunginya.


"Bodoh!" umpat Daffa kesal sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya secara kasar. Daffa kesal mengingat kebodohannya yang kedua.


Kenapa aku memilih mundur? Andai tidak mundur, hal ini tidak akan terjadi!

__ADS_1


***


Suara gerbang membuka dan diikuti suara mobil membuat Nadia yang berada diruang tamu sedari tadi, langsung lari tergopoh-gopoh ke halaman rumah.


Baru saja Ray nyampe rumah, dan baru saja turun dari mobil sudah dihadang Nadia.


"Ka Killa dimana?" tanya Nadia langsung tanpa basa-basi, dengan mimik wajah kesal dan terlihat sedih. Nadia tidak ngeh dengan penampilan Ray yang berantakan, yang terpenting keberadaan Killa.


"Lagi di luar," jawab Ray singkat dan langsung berjalan cepat, masuk ke rumah. Ray tidak mau menjelaskan jika dirinya dan Killa sedang ada masalah.


"Kenapa ditelephone nggak di angkat? Padahal aku hanya ingin mengingatkan jangan sampai ka Killa lupa, tapi apa! di telepon nggak di angkat!" lanjutnya dengan mengikuti langkah Ray yang cepat.


"Ka Killa tidak bawa hape, hapenya di kaka. Emang mengingatkan apa?" tanya balik Ray, yang masih terus berjalan.


"Ka Ray dan ka Killa kan sudah janji sama Ibu dan Ayah mau makan malam di rumah dan mau menginap di sana, sebelum malam datang kaka ngijinin aku dan ka Killa siangnya boleh keluar rumah untuk jalan-jalan. Masalah jalan-jalan kalau nggak jadi tidak apa-apa, tapi masa iya makan malam juga nggak jadi, kasian Ibu dan Ayah yang sudah berharap. Apalagi Ibu sudah masak banyak dan ada ayam kecapnnya," ucap Nadia dengan suara meninggi. Dan ucapan Nadia buat Ray terpaku berhenti melangkah.


Ah sial! umpat Ray dalam hati.


"Telepon Ibu sekarang, katakan kaka dan ka Killa tidak jadi. Tidak bisa. Kaka dan ka Killa sedang ada masalah," ucap Ray dan Ray langsung lari masuk ke kamar ingin bersegera membersihkan diri.


"Masalah, masalah apa ka?" tanya Nadia dengan nada teriak. Namun teriakan Nadia, Ray sepertinya tidak mendengar, sudah masuk ke kamar. Mendengar ada masalah, hati Nadia jadi tidak enak.


"Nanti nona juga akan tahu, tuk saat ini biarlah tuan Ray dan nona Killa membereskan masalahnya terlebih dahulu." jawab Ifan yang sedari tadi posisi dibelakang. "saya permisi, nona," lanjutnya lalu berlalu pergi meninggalkan Nadia menuju ke kamarnya.


Nadia terbengong, kalut, pikirannya menerka-nerka ke hal yang buruk.


Tunggu, tadi keadaan kaka dan ka Ifan sangat berantakan, apa yang terjadi sebenarnya? batin Nadia dan Nadia baru ngeh tampilan kakanya dan Ifan.

__ADS_1


***


Ka Nisa sedang membersihkan meja bekas pengunjung, merapikan agar nanti ketika ada pengunjung baru bisa menempatinya.


Tuan Daffa sedang jalan menuruni tangga, di tangga nomor dua terakhir pintu masuk terbuka dan masuk lah orang yang tidak asing--Ray, dan ditemani oleh orang setianya-- dan 2 pengawal.


Ray berpakain casual. Celana panjang chino diatas mata kaki berwarna navy, kaos putih yang ditambahkan outerwear berbahan ringan. Sneakers berwarna hitam ada corak putih, dilengkapi jam tangan yang melekat di perngelang. Tatanan rambut yang rapih. Wajah Ray yang sudah tampan ditambah dengan gaya yang oke membuat ketampanannya bertambah, membuat kaum hawa yang melihat bisa langsung terpana jatuh cinta dengan ketampananya.


Kedatangan Ray berhasil membuat pengunjung cafe menatapnya penuh dengan kegembiraannya, tidak menyangka akan melihat orang terkenal. Apalagi kaum hawa, meleleh melihat ketampananya.


"Tuan Ray!" ucap Daffa lirih dengan mata menyipit.


Hati Daffa panas melihat lelaki yang sudah menyakiti wanita yang dicintainya.


"Ada apa dia kemari?"


Tangan Daffa mengepal. Bodoh! Sedetik kemudian Daffa baru ingat, Ray kan punya banyak mata-mata, jadi dia kemari karena Killa.


Daffa berjalan lumayan cepat menghampiri Ray dan rombongannya.


Bisik-bisik pengunjung yang membicarakan Ray buat kening ka Nisa berkerut. Ka Nisa melirik kearah pengunjung yang tepat di sebelahnya, kemudian mengikuti arah pandang pengunjung.


"Tuan Ray!"


Dengan rasa kecewa dan marah, Nisa meletakan peralatan perangnya secara kasar di meja. Berjalan cepat menghampiri Ray.


Nisa menatap dengan tatapan elang kearah Ray, seperti mengintimidasi.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2