
"Sa--sayang! Ini nggak seperti yang kamu lihat," ucap Ray terbata. Ray maju berusaha mengejar sang istri. Berhasil mencekal pergelangan Killa.
Namun, Killa menepis kasar tangan sang suami tapi gagal, cengkeraman Ray terlalu kuat. Ray menarik tubuh Killa, mendekap memberi ketenangan.
"Aku belum buta! Mataku masih bisa melihat dengan jelas," sahutnya rendah dengan suara bergetar menahan tangis.
Ray menggeleng cepat, "Tidak, Sayang. Kamu salah paham," Killa tidak percaya, Killa memberontak berusaha melepaskan pelukan Ray. Pelukan Ray mengetat seiring kuatnya penolakan sang istri. Akan tetapi, sakit yang telanjur tersayat di dalam dada membuat kekuatan Killa meningkat berkali-kali lipat. Killa mendorong tubuh Ray, hingga pelukan terlepas.
"Tidak salah lagi, ini kan tujuan mu menyuruhku kemari? Kau ingin membalas dendam saat dulu aku mengacuhkan cinta mu? Kau sama saja seperti Putra! Jahat!" Killa berjalan mundur pelan.
Ray menarik pergelangan tangan Killa lagi kemudian menangkup wajah Killa dengan kedua tanganya, saling menatap, Killa menatap penuh dengan kebencian, sementara Ray menatap penuh dengan merasa bersalah. Killa menangis, Ray tidak rela.
"Tidak seperti itu, Sayang. Percayalah, tatap wajahku, aku beda dari Putra, jangan samakan aku dengan si brengsek itu. Jelas beda!" Ray tidak rela Killa menyebut Putra, Ray langsung membungkam mulut Killa . Berusaha menenangkan.
Alih-alih tenang, tindakan Ray seperti bensin mengobarkan api yang sudah tersulut di dalam dada. Killa menggigit bibir Ray, marah. Rasa sakitnya menjadi-jadi, Killa jadi teringat ucapan Ray tadi pagi 'tidak ada kucing yang akan menolak jika disungguhkan ikan segar.'
Tersenyum getir terukir di wajah Killa.
Aku hanya seperti ikan yang dilempar ke kucing kelaparan!
Ray ingin menyakitinya tapi dengan tidak mau menyia-nyiakan hidangan segar. Jika bisa menikmati dulu kenapa tidak dinikmati dulu baru nanti dihempaskan ditengah laut atau ke jurang yang ke dalamnya tidak terukur, begitu pikiran yang Killa tangkap.
Jika dulu Putra tidak mau menyentuhnya mungkin karena jijik ke dirinya, sekarang Ray menyetuh dirinya hanya karena untuk menumpahkan hasratnya. Bukan cinta!
Sama-sama sakit, tapi ini jauh lagi lebih sakit. Kedua kali Killa dikhianati, dicurangi.
Kemudian sebuah tamparan Killa layangkan ke pipi Ray, sangat keras, bahkan mengejutkan diri Killa sendiri.
"Iya beda! Kau ingin menghancurkan aku jauh lebih menyakitkan dari Putra. Aku bukan tempat pembuangan kotoranmu! Kau jauh lebih brengsek dari Putra!" ucapanya dengan intonasi tinggi, air mata bercucuran deras, Killa bukan wanita hebat yang jago menyembunyikan rasa sedihnya.
Ray terpaku, darahnya membeku, pikirannya bleng, sakit.
__ADS_1
Sakit?
Pertama karena Killa menggigitnya.
Kedua karena Killa menamparnya.
Ketiga karena ini pertama kali Ray mendengar Killa berkata kasar. Brengsek. Itu menandakan Killa sangat marah.
Dan paling menyakitkan karena Ray melihat Killa menangis, begitu menyedihkan. Hati Ray sakit melihat Killa menangis karena sedih, bukan karena terharu bahagia, hal yang tidak Ray inginkan Killa menangis, apalagi karena ulahnya.
Killa bersegera menuju ke lift. Berbarengan dengan Ifan yang baru keluar ruangan setelah memberi pelajaran ke Raisa.
Sedetik.
Dua detik.
Tiga detik.
Empat detik
Ray baru bergerak setelah terpaku, mengejar Killa. "Sayang, tunggu."
Namun, Killa menulikan telinganya. Killa terus berlari tidak peduli panggilan Ray. Killa masuk ke lift yang pintunya sudah terbuka, menekan tombol menuju lantai dasar sebelum Ray atau Ifan berhasil mengejar.
"Ah, sial!" Ray mengumpat kesal, pintu lift sudah tertutup.
Killa bersandar ke dinding lift. Membekap mulutnya agar tidak ada suara yang keluar.
Namun, gagal, tangis Killa pecah juga. Sekuat apapun Killa menyangkal tetap saja hatinya sakit mengingat Ray bersama wanita lain merasa di khiaanati dan di curangi lagi. Tangis Killa bercampur tawa getir, Killa menertawakan dirinya. Kenapa begitu percaya dengan Ray sampai dengan mudahnya membuka hatinya untuk mencintai Ray.
'Ting' deting lift mengantarkan Killa ke lantai dasar. Killa melangkah gontai keluar lift. Tidak pedulikan orang-orang yang menatapnya.
__ADS_1
Apa yang terjadi dengannya, atau karena nona liat bos sedang bersama mantan kekasihnya. Batin karyawan yang lihat Raisa tadi datang ke kantor.
Air mata Killa tak kunjung surut, seolah-olah hendak meluapkan perih yang menikam hati.
Killa keluar gedung kantor menghentikan taksi yang pas lewat, Killa tidak mempedulikan sang satpam atau memberi salam hormat dan berniat membantu Killa.
Killa juga tidak mempedulikan Reva yang memanggil dan mengejar.
'Ting' dering lift membawa Ray dan Ifan ke lantai dasar. Matanya menyapu mencari keberadaan Killa. Ray dan Ifan segera keluar gedung kantor, didepan sang satpam memberi tahu jika Killa tadi naik taksi.
Ifan dan Ray bersegera menuju mobilnya setelah merampas kunci dari sang supir. Ray mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, tanganya memegang kemudi erat. Wajahnya mengeras dengan rahang terkatup rapat. Ray marah dan juga khawatir Killa kenapa-kenapa atau Killa melakukan hal yang seperti dulu. Membayangkan jika Killa melalukan percobaan bunuh diri lagi Ray mengemudikan mobil seperti kesetanan.
Ifan dan Ray kebingungan taksi mana yang dinaiki Killa. Ifan segera menelpon sang satpam bertanya, tapi sial sang satpam lupa tidak mengingat no plat taksinya.
Ray kesal, marah meluapkannya dengan memukul-mukul kemudi.
***
Didalam taksi Killa masih menangis, Killa tidak mempedulikan sang supir taksi yang memperhatikan. Killa tahu jika sang supir memperhatikannya lewat spion kaca tapi Killa tidak peduli. Rasa sakit yang dirasa menghilangkan rasa malu.
Sang supir taksi tidak menyangka jika dirinya akan jadi driver dari sang istri orang terkenal istri Ray--yang baru kemarin-kemarin menikah Namun diwaktu bersamaan sang supir membatin 'Apa yang terjadi dengan nona Ray? Kenapa sampai nangis sebegitu.' Sang supir mau bertanya takut bukan tanya tentang kenapa nona Ray menangis bukan tanya itu, tapi mau bertanya mau sampai tujuan kemana, sang supir bingung. Dan akhirnya yang dilakukan terus mengemudi walau tidak tahu kemana tujuannya.
Tanpa pamit, minta. Killa main ambil tisu milik sang supir taksi. Hati Killa terlalu sesak, untuk berbicara minta tisue Killa tidak sanggup.
Killa jadi mengingat ucapan orang-orang yang sering didengarnya.
"Orang kaya itu biasanya perselingkuh. Kau kan tahu seberapa banyak uangnya dan mereka bisa melakukan apa saja yang mereka mau dengan uang yang dimiliki. Hidupnya selalu dikelilingi wanita-wanita cantik dan jika sudah bosan maka akan ditendang. Wanitanya salalu buat permainan. Jika nikah, hanya untuk status."
Mengingat itu Killa jadi menangis tambah kenceng membuat sang supir kebingungan.
Killa menyesal se menyesalnya telah membuka hati untuk Ray. Killa membodohi diri sendiri.
__ADS_1
Jejak pikiran perjuangan Ray meluluhkan hatinya yang masih terekam jelas sekarang berputar dipikiranya.
Bersambung ...