Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Menolak.


__ADS_3

Dering ponsel Killa memecah konsentrasi Killa yang sedang menulis diatas buku coretannya. Killa suka menulis, menulis apa saja sesuai isi hatinya. Ketika tidak ada kerjaan selalu buku dan pulpen tempat pelarian Killa untuk membunuh waktu.


Killa beranjak menuju hape yang terletak diatas nakas disamping tempat tidur.


Dahi Killa berkerut melihat nama pemanggil "Kesayanganku," ucap Killa bingung. Pasalnya Killa tidak pernah menyimpan nama itu di kontaknya.


Sekilas Killa melihat nomer yang terpapar dibawah tulisan Kesayanganku.


Hah. Kapan? dimana?


Killa kaget, itu nomer tuan Ray. Killa belum pernah mengganti nama kontak Ray menjadi Kesayanganku.


Sekilat mungkin Killa menepis pikiran itu, mengesampingkan perubahan nama. Wajah Killa pias bahagia mendapatkan telepon dari suami tercinta. Hatinya berbunga-bunga.


Killa langsung menggeser tanda bulat berwarna hijau yang di tengahnya bergambar telepon.


"Hallo, Assalmuallaikum," Killa mengulum senyum bahagia. Duduk di tepi ranjang meraih bantal untuk dipangku.


[Waallaikumussallamm, lagi ngapain, sayang?]


Killa menggigit bibir bawahnya, gugup dan senang.


"Lagi telepon kamu," Killa cecengesan, setelah berucap Killa menggigit jarinya.


[Sebelumnya ngapain, hmm?]


"Nggak ngapain-ngapain, nggak ada kerjaan." jawab Killa sendu. Killa merebahkan tubuhnya ke ranjang. Perintah Ray, Killa tidak boleh kerja lagi. Meski Killa sudah berusaha membujuk, meminta supaya dibolehin kerja lagi di toko perhiasan. Ray kekeh dengan penderiannya melarang keras Killa kerja lagi.


[Jenuh?] tanya Ray lembut. Mendengar suara Killa sedikit lemah buat Ray mengerti jika hati Killa sedih.

__ADS_1


"Sedikit, hehe."


[Bersisp-siap lah, aku segera pulang. Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat.]


"Hah, Pergi? Kemana?" Killa terperanjat kaget langsung bangkit duduk.


[Rahasia. Tunggu 15 menit aku sampe. Dah ... Love you. muach. Assalamualaikum.]


Ray langsung memutus sambungan teleponnya tanpa harus menunggu Killa berucap. Sementara Killa di kasih kecupan jauh dari sana membuat muka Killa berubah seperti udang rebus. Dua sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan. Killa menepuk-nepuk pipinya. Killa suka.


***


Ucapan ka Nisa mampu membuat Killa tidak marah lagi, tidak teriak teriak lagi, tidak menangi-nangis lagi. Karena masih diberi kesempatan untuk hidup.


Killa malah menyesal melakukan hal bodoh itu. Killa malu. Bukan malu ke ka Nisa atau ke orang lain. Bukan! Killa malu kepada Allah. Malu karena menantang takdir.


Killa bangkit dari keterpurukan itu. Semangat untuk hidupnya tersulut. Membuat langkah untuk kesembuhan Killa menjadi baik. Hari demi hari kondisi Killa membaik.


***


Tuan Ray memboyong Killa ke rumah sakit miliknya yang jauh lebih baik. Tuan Ray pun memboyong Keluarga Killa---ayah---ibu---Vino ke Ibukota. Keluarga Killa muak jika masih tetap berada di kampung halamannya. Membuat mengingat kemanisan yang pernah Putra ciptakan, nyatanya manis didalamnya mengandung racun mematikan.


Pak Jay menjual aset miliknya. Rumah, kebun dan kendaraannya---motor kesayangannya. Tujuan menjual semua asetnya untuk berobat Killa dan untuk membeli rumah kecil di Ibukota. Pak Jay dan ibu Ami akan beradu nasib di Ibukota. Akan mencari kerjaan untuk menyambung hidupnya dan untuk membayar biaya rumah sakit yang tiap hari makin bertambah.


Namun, ekspektasi tidak sesuai realita.


Nyatanya, Ray memberi satu rumah mewah untuk keluarga Killa. Mengasih cuma-cuma tanpa minta imbalan. Ray ikhlas. Tagihan rumah sakit pun gratis tidak membayar sepersen pun. Ray menanggungnya. Toh, itu rumah sakit miliknya.


Bukan itu saja, Ray memberi satu unit mobil dan motor untuk kendaraan keluarga Killa. Memberi pelayan dan supir untuk membantu, Dan memberi uang tiap bulan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga Killa.

__ADS_1


Uang hasil penjulan aset, Ray menyuruh untuk disimpan saja.


Itu yang terjadi selama Killa terbaring tak sadarkan diri di ranjang kesakitan dan selama Killa dirawat untuk kesembuhan totalnya.


Setelah Killa sembuh, Killa menolak mentah-mentah apa yang sudah Ray beri ke keluarga Killa.


Beberapa hari Killa menginap di rumah pemberian dari Ray. Setelah Killa mengetahui semuanya, Killa memohon kepada ayah dan ibunya untuk keluar dari rumah pemberian dari Ray.


Bagi Killa, Killa dan keluarga tidak pantas mendapatkan itu semua dari Ray. Ray bukan siapa-siapanya. Ray sudah banyak membantu dan Killa sudah banyak merepotkan.


Hal serupa itupun pernah dilakukan oleh keluarga Killa, menolak pemberian dari Ray yang terlalu besar. Namun, Ray memaksa sampai keluarga Killa tidak ada celah untuk menolak. Dan juga karena keadaan yang mendesak membuat keluarga Killa menerima.


Kali ini beda. Ray sudah berusaha memaksa agar Killa mau menerima tidak mengembalikan sedikit harta pemberiannya.


Ray lemah, Ray tidak bisa membantah dihadapan Killa. Dengan berat hati, Ray membiarkan Killa dan keluarga menginap dirumah kecil, rumah yang dibeli dari harta penjual aset dulu yang disimpan. Rumah minimalis ada tiga kamar berukuran kecil, ruang tamu berukuran kecil, dapur yang kecil dan juga hanya ada kamar mandi satu, berukuran kecil juga. Berbeda jauh dari rumah pemberian dari Ray.


Bukan sampai disitu saja. Killa dan bapak Killa juga menolak, pak Agus---bapak Killa ditawarkan kerjaan. Pak Agus lebih memilih jadi tukang ojek online untuk menunjang hidupnya dan keluarganya. Begitupun Killa, Killa menolak kerjaan yang Ray tawarkan. Killa berusaha mencari kerjaan sendiri hingga akhirnya Killa mendapatkan kerjaan jadi karyawan toko perhiasan.


Tanpa Killa sadari pun itu berkat Ray. Ray memberi satu lembar kertas browser membutuhkan lowongan kerja ke Kiara untuk diberi tahukan ke Killa. Tanpa sepengetahuan dari Killa jika browser itu dari Ray.


Ray menyogok pemilik toko perhiasan untuk menerima Killa jadi karyawannya yang hanya bermodal ijazah Sekolah Menengah Keatas. Padahal untuk bisa kerja di toko perhiasan mewah itu minimal lulusan D3. Dan aslinya toko perhiasan itupun tidak membutuhkan karyawan baru. Itu hanya manipulasi Ray.


Killa kerja disitu yang gaji juga Ray, bukan pemilik toko perhiasan, gajinya 5 kali lipat dari gaji asli menjadi pelayan toko. Pemilik toko perhiasan hanya perantaraan menyerahkan uang gaji.


Ulah Killa yang bikin Ray kesal dan gemas bukan sampai disitu saja. Killa selalu memberi setengah gajinya untuk Ray. Membayar kebaikan yang pernah Ray lakukan untuk dirinya dan keluarganya. Uang hasil narik ojek online yang bapak Killa jalani pun tiap akhir bulan selalu memberi setengah hasilnya ke Ray. Tujuan yang sama.


Sekolah Vino pun pindah ke sekolah Negeri yang biayanya jauh lebih murah dari pada sekolah swasta yang Ray biayain. Killa dan keluarganya menolak tegas pemberian dari Ray. Bukan karena tidak bersyukur hanya tidak mau selalu merepotkan Ray. Terlalu banyak bantuan yang Ray beri, hingga susah untuk membalas budi.


Ray kesal bukan main. Beribu cara Ray berusaha, tapi selalu gagal.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2