
Killa sudah tahu jika Ray suka dengannya. Dari tingkah laku perbuatannya, tapi Killa pura-pura tidak tahu. Beberapa kali Ray ngasih kode, Killa pun berpura-pura tidak menangkap sinyal kode dari Ray.
Saat Ray mengungkapkan rasa sukanya, Killa dengan terus terang menolak secara baik, Hati Killa sudah mati rasa, hatinya sudah tidak percaya lagi dengan cinta.
Bukan Ray namanya jika nyerah begitu saja meski sudah ditolak oleh Killa. Ray masih tetap berjuang meluluhkan hati Killa.
***
Kiara--sebagai sahabatnya pun tidak mau diam melihat Killa yang mati rasa, yang takut jatuh cinta lagi. Kiara yang tahu jika Ray suka dengan Killa dan Kiara melihat Ray tulus suka dengan Killa. Kiara berusaha meyakinkan jika Ray beda dari Putra.
"Jangan pukul sama rata sifat pria, Kill. Tidak semua pria bersifat bejad, seperti mantan suamimu. Apa iya kamu mau sampai mati tidak nikah lagi?" nasihat Kiara, dan saat ini Kiara dan Killa sedang nongkrong di cafe. Tempat yang cocok untuk menenangkan pikiran Killa apalagi ditemani segelas es Capucinno dan roti bakar rasa coklat.
"Hal yang akan membuat wanita kehilangan minat dan susah jatuh cinta adalah telah hilangnya rasa kepercayaan, trauma, dan takut tersakiti. Hal itu yang aku rasa! Aku takut terluka lagi, Ra." jawab Killa sambil mengaduk-ngaduk es Capucinno pake sedotan.
"Coba lagi, kill. Jangan takut. Bukanya kau sering menasihati aku jika hidup ini adalah ujian. Selalu ada ujian. Aku lihat Ray beda dari Putra. Coba kau buka hati untuk Ray. Dia tulus mencintai mu." Menatap Killa yang sedang menunduk.
"Memang betul hidup ini adalah ujian, akan selalu ada ujian. Tetapi aku takut terluka lagi. Dan aku tidak pantas bersanding dengan Ray, Ra. Dia gunung sementara aku hanya lembah. Kau kan tahu dengan Putra saja orang tuanya tidak merestuinya karena aku derajatnya dibawah Putra. Apalagi ini Ray jauh lebih tinggi dari Putra." jawab Killa sendu, lalu Ray menidurkan kepalanya di meja.
Killa pun bingung dengan perasaannya. Ada rasa suka dengan Ray, apalagi selama ini Ray berbuat baik buat hati Killa sedikit terbuka, tapi disisi bersamaan Killa trauma. Trauma yang menyelimutinya dan yang mengendalikan rasa Killa sekarang.
__ADS_1
"Apa kau tidak lihat keluarga Ray sangat setuju jika kau dengan Ray. Apalagi Nadia dia jauh lebih setuju. Keluarga Ray tidak seperti itu. Dari yang aku lihat mereka tidak memandang materi."
"Entah lah, Ra. Aku takut, kau tidak tahu apa yang ku rasa. Kau kan tahu aku janda, aku tidak pantas denganya." Mata Killa sudah berkaca-kaca, mengangkat kepalanya lalu mengambil sehelai tisu di meja. Menyeka mata yang ada titik bening di sudut mata.
***
Di hari libur Ray mengajak Killa pergi jalan-jalan, seperti biasa Killa akan jaga jarak. Ray hari ini mau niat mencoba lagi, mencoba ngomong kalau dirinya ingin menikahi Killa. Ray akan menerima apapun konsekuensinya meski nanti hatinya patah kembali jika ditolak oleh Killa.
Pantai tempat tujuan Ray mengajak Killa jalan. Bersama Ifan Ray dan Killa berjalan menyusuri bibir pantai.
"Hmmm, Kill, boleh aku ngomong sesuatu ke kamu?" ucap Ray ragu-ragu.
"Boleh, silahkan mau ngmng apa?" ucap Killa pelan.
Ray menghempaskan napas secara perlahan merilekskan tubuh untuk lanjut bicara.
"Sebelumnya aku mau minta maaf, aku akan mengulangi pertanyaan yang sama yang dulu pernah aku ucapkan." Killa semangkin penasaran kemudian menghentikan langkahnya.
"Kamu mau nggak jadi pendamping hidup ku." imbuhnya.
__ADS_1
Killa mengeryitkan dahi, Ray kan dah tahu jika dirinya tidak mau.
"Maaf," tersenyum getir. "Bukanya kau dah tahu jika aku tidak bisa, aku tidak pantas dan aku takut terluka lagi. Kasta kita berbeda dan aku janda. Diluaran sana masih banyak wanita yang jauh lebih baik dari aku, tuan. Yang mau ngantri jadi pendamping hidup tuan." Killa bersedekap, mengelus-ngeluh lengan sambil menghadap langit yang menampakan suasana senja.
Ray tersenyum, maju berdiri disamping Killa sambil menatap langit. "Kamu tahu nggak kenapa senja menyenangkan?" mengalihkan pandangan ke Killa meminta jawaban dan Killa tidak menjawab pertanyaan Ray. "kadang ia merah merekah bahagia, kadang ia gelap berduka. Namun, langit selalu menerima senja apa adanya. Begitupun aku, aku menerima kamu apa adanya. Aku tidak peduli jika kau janda dan kasta kita berbeda. Cinta tetap cinta, aku suka kamu dari kekurangan mu dan kelebihan. Jadi apa kamu mau jadi pendamping hidup ku. Tidak perlu jawab sekarang kau mau atau tidak. Kau jawab saja nanti malam aku dan keluarga akan datang untuk melamar kamu. Disituh kau bisa jawab mau atau tidak."
***
"Berilah aku kesempatan untuk mengisi hati kamu, Kill. Aku berjanji tidak akan menyakiti kamu. Aku akan berusaha melindungi kamu. Jika aku sampai melukai mu, kau boleh membunuh aku." ucap Ray di malam hari spesial, Ray ingin melamar Killa. Dan saat ini Ray sedang di rumah Killa bersama keluarganya.
Killa menimang-nimang. Diam membisu hanya menunduk, merenungi iya atau tidak. Killa pun harus berjuang bergelut dengan argumennya. Disisi lain dia ada rasa ke Ray tapi di sisi lain Killa takut, trauma. Itu selalu yang Killa pikirkan. Dan ucapan Ray kali ini benar-benar mengguncangkan hatinya. Killa tidak melihat celah kebohongan dari Ray, yang terlihat ketulusan nyata.
"Aku tahu Kau mengalami trauma berat tapi coba lah kau buka hatimu sedikit ... saja. Disini, di depanmu ada orang yang mencintai kamu dengan tulus, menyayangi mu serius segenap jiwa dan ragaku. Dan sekarang aku buktikan dengan membawa orang tua ku lagi meski aku pernah ditolak, aku tidak dendam atau membenci mu, itu aku artikan sebagai perjuangan memperjuangkan cinta ku." menyesal ucapan untuk menarik napas panjang dan dalam.
"Aku serahkan keputusan mu, aku terima apapun keputusan mu. Jika kau menerima ku aku sangat bersyukur, tapi jika kau tidak menerimanya aku terima dengan lapang dada, dan kau ingat aku tidak akan berhenti sampai disini untuk mencintaimu, aku akan tetap mencintaimu selamanya, Bukanya cinta jangan harap dapat balasan? jika aku harap dapat balasan cinta, itu bukan namanya cinta, tapi jual beli. Sama-sama pihak minta untung. Karena Cinta tidak sama dengan bisnis. Dimana ada kesempatan, disitu ada laba yang dikejar."
Dan akhirmya ucapan Ray yang seperti itu berhasil membuat Killa mendongak kepalanya lalu berucao jika Killa mwu jadi pendamping hidup Ray.
Bersambung ...
__ADS_1