Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Kesempatan.


__ADS_3

Didalam mobil hanya tercipta hening. Daffa tidak bertanya apapun, memilih diam sambil fokus mengendarai mobilnya, sesekali Daffa melirik kearah Killa yang sedang menunduk.


Rasanya Daffa ingin bertanya kepada Killa, ada masalah apa yang membuat Killa sesedih itu, tapi urung. Killa mau diajak pergi dari pantai saja sudah sangat bersyukur bagi Daffa.


Mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, menerobos jalanan Ibukota yang saat ini dilanda kemacetan.


Daffa tau saat ini apa yang tepat untuk Killa, ya ... pertemukan Killa dan Nisa. Pas saat ini Nisa shift malam.


Mobil terparkir apik diperkarangan cafe. Daffa keluar mobil dengan cepat dan membawa sandal jepit yang ada didalam mobil.


Membuka pintu mobil untuk Killa dan meletakan sandal jepit dibawah, " kamu pakai ini ya, kakimu telanjang." ucap Daffa lembut.


"Makasih, tuan." jawab Killa pelan dan langsung memakai sandalnya. "kenapa kemari, tuan?" imbuh Killa yang pertama kali bingung kenapa bawa dirinya ke cafe milik Daffa.


"Kau sepertinya butuh teman curhat, dan ka Nisa tepat untuk mencurahkan isi hati kamu," jawab Daffa tersenyum.


Killa tertegun. Tuan Daffa mengerti apa yang di inginkan Killa. Dengan sebab itu Killa pernah suka dengan tuan Daffa. Bukan suka cinta, Bukan! Melainkan suka kagum. Tuan Daffa mudah mengertiin karyawannya dan tuan Daffa orangnya tidak terlalu kepo, meski dirinya ingin tahu apa yang terjadi, tapi tuan Daffa bisa menahan diri agar tidak mencerca minta tahu.


***


Senja meninggalkan cakrawala, sang jingga pun terbenam digantikan gelapnya malam dihiasi bulan dan kerlip bintang.


Angin malam bergemuruh kencang dan dinginnya menusuk daging kulit Ray dan Ifan sampai dinginnya terasa ke tulang. Namun Ray tidak mempedulikan. Ray tetap menangis di tepi pantai, duduk berlutut sambil memaki Ifan dan air pantai.


"Tuan!" terdengar suara yang tidak asing di telinga Ifan dan Ray. Orang yang memanggil lari tergopoh-gopoh menghampiri Ifan dan Ray.


Tiga orang yang berpakaian serba hitam berbadan tegap dan kekar. Ray hanya melirik sebentar kemudian kembali menatap air laut yang sudah tega menggulung tubuh kecil Killa lalu menenggelamkan wanita yang dicintainya.


Tiga orang tersebut ngos-ngosan mengatur napas sebelum menjelaskan info.

__ADS_1


"Nona Killa---," ucap salah satu pengawal menggantung di udara di potong dengan suara Ray.


"Belum tahu keberadaannya," potong Ray dengan nada bergetar. "Kalian dan Ifan sama-sama bodoh! Mencari satu wanita saja sampai wanita itu tenggelam di laut. Berapa pasukan yang kalian gerakan untuk mencari istriku? hah! Sampai terlambat menemukan keberadaan istriku, bahkan aku yang pertama menemukan keberadaannya meski aku tidak melihat raganya." lanjut Ray, dan sekarang Ray berdiri menghadap tiga pengawal. Suaranya bergetar, air mata dengan lancang masih terus keluar.


"Kami sudah menemukan nona, dan Nona tidak menenggelamkan diri ke pantai, tuan," jawab Ricko cepat--salah satu tiga pengawal.


"Kau mau menipuku? haha ...,"


"Tidak, tuan."


Ricko menjelaskan detail soal Nona mudanya. Ricko orang cerdas, saat di beritahu untuk mencari istri tuannya. Ricko langsung melacak no Killa, mencari keberadaannya.


Ricko sengaja tidak memberitahu ke Ray jika dirinya sudah menemukan Killa di pantai. Ricko akan memberi tahukan jika posisi Killa sudah tidak di pinggir pantai. Ricko takut jika memberi tahu, takut Ray dan Killa berantem hebat di pinggir laut dan berakhir akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Ricko mengerti jika wanita sedang marah butuh kesendirian atau butuh teman untuk menenangkan, Bukan teman yang sedang membuat kesal dan naik darah.


Ricko mengetahui semuanya saat Killa menangis menjerit sambil memaki Ray dan Ricko tahu betul kedatangan Daffa bak malaikat penolong.


Beberapa kali Ricko menghubungi Ifan dan Ray ingin memberitahukan kabar gembira ini. Namun seribu namun, Ray dan Ifan tidak mengangkat panggilan teleponnya, hingga akhirnya Ricko melihat mobil Ray terparkir di area pantai.


"Killa bersama Daffa?" ucap Ray sambil mengeryitkan dahi, dari raut wajahnya ada rasa lega dan juga cemburu.


Apa benar dunia ini hanya selebar daun kelor? Berputar sesempit ini, kenapa nona Killa harus bertemu dengan Daffa diwaktu seperti ini. Daffa lelaki yang memiliki rasa ke nona. Batin Ifan.


"Iya, tuan," jawab Ricko sambil mengangguk.


Ray ingin segera menghampiri Killa, tapi urung ditahan Ifan. Ifan memberi saran agar Ray membersihkan diri dulu.


"Tidak mungkin kan, tuan bertemu dengan nona dan Daffa mantan saingan tuan? Dalam keadaan tuan seperti ini?"


Keadaan Ray seperti orang gelandangan, masih terlihat ganteng si, namanya juga orang ganteng, di apa-apain tetap ganteng, tapi berantakan saja. Rambut yang acak-acakan, badan yang bau keringat dan juga celana yang basah terkena air laut.

__ADS_1


Daffa, saingan Ray yang tidak begitu sulit untuk Ray kalahkan. Karena saingan yang berat adalah hati Killa yang sudah mati rasa.


Ray lelaki dan Daffa juga lelaki. Sesama lelaki, Ray tahu gelagat Daffa yang suka dengan Killa. Meski Daffa memilih mencintai dalam diam, tapi Ray tahu. Daffa berbeda dengan Ray. Jika Ray berjuang dengan terus terang mengungkapkan rasa sukanya ke Killa, berbeda dengan Daffa. Daffa memilih diam tidak membuka suaranya jika dirinya suka dengan Killa.


Daffa pengecut? Mungkin, tapi ada alasan lain. Daffa melakukan kesalahan yang sama, memilih diam dan berharap Killa mengetahui dengan sendirinya, nyatanya ... alih-alih mengetahui ternyata Killa tidak peka dengan sinyal yang diberi Daffa. Killa mendeskripsikan jika Daffa berbuat baik ke dirinya karena sifat Daffa seperti itu, baik dan pengertian.


***


Setelah beberapa menit Killa hanya diam dan ka Nisa setia menemani, tanpa memaksa Killa untuk segera membuka apa yang di rasa. Hal itulah yang buat Killa nyaman dengan ka Nisa.


Ka Nisa tau, kapan orang butuh diam dan dirinya hanya menjadi teman diamnya, dan ka Nisa tahu kapan jadi teman curhat, pendengar dan penasihat yang baik.


Killa menceritakan betapa sakitnya mendapatkan luka yang sama, dari mata Nisa terlihat berkaca-kaca. Memeluk erat tubuh mungil Killa yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.


"Hampir satu tahun aku mengenal dia suka denganku. Dia hangat, memberi ketenangan dan kenyamanan yang hilang dariku sejak aku tersadar dari koma. Ku pikir, aku tidak akan jatuh cinta lagi. Namun keberadaannya perlahan mampu menyembuhkan lukaku. Bahkan tanpa kusadari rasa itu masuk ke dalam ulu hatiku. Tapi kenapa dia tega melukai aku, dengan kasus yang sama yang aku alami," ucap Killa lirih, tapi masih bisa terdengar oleh Daffa yang sedang berdiri di balik pintu kamar yang terbuka sedikit.


Sekarang Killa berada di lantai tiga, dimana di lantai itu tempat khusus untuk istirahat karyawan dan ruangan kerja Daffa. Daffa sengaja menjadikan lantai tiga dijadikan tempat istirahat dan kamar inap untuk karyawan cafe yang shift malam. Daffa tidak mau karyawannya yang berjadwal malam harus menerobos gelapnya malam untuk pulang ke tempat tinggal. Daffa tidak mau, kejahatan di malam hari sering terjadi dan rawan. Sebab itulah lantai tiga dijadikan tempat istirahat. Para karyawan yang bershift malam bisa pulang ketika matahari sudah terbit, jauh lebih aman.


"Apa! Tuan Ray selingkuh?" ucap Daffa pelan. Daffa kaget dan tidak percaya.


Jika tuan Ray selingkuh, berarti ini yang kedua kalinya Killa disakiti dikasus yang sama? gumam Daffa. Tangan mengepal sempurna.


Ada rasa kasian dan juga ada rasa suka menyelimuti hati dan pikirannya.


Apa ini yang dinamakan skenario tuhan yang indah? Apa ini jawaban atas doa yang dipanjatkan. Tuhan memberi kesempatan ketiga untuk aku memperjuangkan cintaku.


gumam Daffa lagi dan kali ini dua sudut bibir Daffa tertarik keatas, membuat lengkungan indah dan mata membentuk bulan sabit.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2