Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Terbongkar.


__ADS_3

Orang suruhan Ifan, bukan orang biasa.


Arga dan Reva orang pintar, cerdas.


Tidak mungkin Ifan menyuruh orang yang asal-asalan. Pasti orang suruhan Ifan, orang yang bisa diandalkan.


Arga dan Reva mencium kecurigaan gelagat aneh dirumah tangga Killa. Dari raut wajah Killa terlihat jelas seperti memikirkan sesuatu.


Saat belanja sayur, Killa tidak banyak bicara, disapa dijawab, nggak disapa diam. Senyum yang terpancar dari wajah Killa seperti terpaksa. Reva yang memperhatikannya dengan detail. Bukan satu kasus ini saja, masih beberapa kasus yang sudah dikantongi Reva dan Arga.


Hingga kecurigaan itu disampaikan ke Ifan.


[Awasi terus, Jaga nona Killa, jangan sampai nona Killa kenapa-kenapa, kalian lengah sedikit. Kelar!


Saya percayakan ke kalian, gunakan akal kalian. Saya akan mengirim orang lagi untuk membantu, laporkan apapun itu, sekecil apapun kau harus lapor!]


Langsung menutup telephone, Ifan tidak memberi kesempatan Arga dan Reva untuk ngomong.


Hingga Akhirnya Ifan menyuruh Gustaf untuk ikut andil mencari kebenaran. Membongkar kecurigaan.


Reva, Arga, dan Gustaf, memutar otak mencari ide brilian agar terbongkar kecurigaan yang dirasa Reva dan Arga.


Beberapa menit kemudian, Gustaf menemukan Ide brilian meluncur bebas di pikirannya. Reva satu-satunya orang yang harus masuk ke rumah Putra, mencari kebenaran.


Killa dan Putra yang malam ini pergi kerumah orang tua Killa. Kesempatan itu diambil untuk menyelusup masuk ke rumah Putra.


Entah sebuah keberuntungan atau kebetulan? Jendela rumah tidak terkunci, membuka sedikit. Dengan mudah Reva bisa masuk.


Baru saja masuk, mobil Putra sudah terdengar. Segera mungkin Reva mencari persembunyian.


"Astagfirullah!" Killa yang baru keluar dari mobil dibuat kaget melihat jendela rumah membuka sedikit.


"Kenapa?" Putra sibuk membuka kunci pintu rumah.


"Aku lupa mengunci jendela!" Ketakutan.


Putra buru-buru masuk rumah, mengecek keadaan rumah.


"Bodoh! Istri tidak becus!" suara sangat membentak dan sambil Mengintip kolong kursi.


Reva yang sedang ngumpet digorden tidak percaya mendengar bentakan Putra. Putra yang sering terlihat hangat, lembut, romantis kini bertolak belakang.


Apa ini sebabnya? kurang ajar!


"Maaf, namanya lupa jadi tidak ingat." Killa ketakutan, tapi tetap membantu mengecek.


******! Mati gue, rencana bakal gagal.


Reva tahan nafas, hatinya berdebar. Takut ketahuan, dimana Killa sekarang sedang jalan menuju gorden di sudut ruangan.

__ADS_1


Gustaf! Arga! Tolong bantu aku, aku berharap kalian bisa menyelamatkan aku. Jangan sampai gagal rencana ini.


Reva memejamkan matanya, berharap jangan sampai ketahuan.


Ya Tuhan ...


Tuhan tolong bantu aku, selamatkan aku.


Masih memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya.


"Assalamuallaikum," suara Arga terdengar.


"Waalaikumussallam," Killa membalikkan badan, menuju ke pintu.


Selamat! Reva mengeluarkan nafas lega, Pinter juga kamu Arga.


"Mas Arga," Killa tersenyum manis, "ada apa mas? Ayok silahkan masuk."


"Siapa yang datang, sayang?" Teriakan Putra dari arah dalam.


"Mas Arga, mas."


"Nggak usah, ini saya cuma mau ngasih kue, buatan Reva, icip-icip," mengulurkan satu toples kue cookies. Bohong Arga, padahal itu kue beli disupermarket. Reva bikin kue? Gak banget deh. Masak ceplok telur aja, dia kagak bisa. Boro-boro kue! Bisa hancur lembur deh tuh dapur.


"Masya Allah, terimakasih sangat lho mas," menerima setoples cookiesnya dengan malu-malu, "ini mba Reva yang bikin?"


"Iya, dia tuh suka banget bikin makanan, dan makanannya enak lagi, hehe. Maaf beelebihan memuji dia."


"Hehe, nggak usah. Oh iya saya juga mau ngasih tahu. Lain kali jangan lupa kalau mau pergi dicek dulu rumahnya, tadi saya kebetulan pas lagi duduk diteras liat jendela terbuka. Untung saya lihat dan saya pantau sampai kalian pulang, takut kan nanti ada yang masuk? Bahaya."


Cerdas kamu, Arga!


Dua sudut bibir Reva tertarik keatas membentuk senyuman kagum.


"Ya Allah, mas Arga. Makasih banyak lho mas, udah rela pantau rumah kami, nggak tahu deh kalau nggak ada mas? Mungkin rumah sudah kemalingan." ucap Killa.


"Makasih loh, Ar. Baik benar kamu. Tadi istri saya lupa ngunci. Maklumlah, manusiawi suka lupa," ucap Putra tersenyum tidak ada guratan marah, kemudian melingkarkan tangannya ke bahu Killa. Bersifat lembut!


Cih! Bersandiwara kamu lelaki brengsek! Tadi lo marahi nona Killa, sekarang ada orang pura-pura baik, tidak marah. Dasar lelaki bermuka dua!


Reva meremas gorden, gemas, marah!


***


Reva merenggangkan kedua tangan.


Jedug!


Kepala Reva terbentur. Mata yang masih ngantuk langsung hilang seketika.

__ADS_1


"Auw ... sial!" Mengusap-ngusap bekas kepala yang terbentur. Reva lupa kalau dia sedang berada di kolong meja.


Reva membukan hape. Reva terbelalak kaget, dimana layar depan menujukan sudah jam sepuluh pagi. Reva menggeser ikon kunci. Reva mangkin kaget, ada banyak panggilan telepon dari Gustaf dan Arga. Segera mangkin Reva telepon baik.


"Hallo?" Reva bersuara sekecil mungkin sambil tangan satu menutup mulu, tapi berjarak. Kemduian memasang earphone di telinga.


[Dari mana kamu? Hah?] suara keras Arga.


"Jangan keras-keras bodoh! Gue baru bangun!"


[Hah! Lo baru bangun! Gila kamu? Bukanya jalani tugas dengan baik, malah baru bangun!"]


"Sori, jangan marah-marah si. Gue terlalu keenakan, jadi baru bangun. Maklum baru pertama kali tidur di kolong."


[Lo tidur di kolong?] kini suara Gustaf yang terdengar.


"Iya, kalau gue tidak tidur di kolong, terus gue tidur dimana, bodoh?"


[Itu nggak penting, yang terpenting buruan kamu cek. Dari tadi wanita yang kita curigai sudah didalam.] suara Gustaf menekan dan keras.


Reva dan Arga memang curiga dengan wanita yang keluar masuk di rumah Putra. Pas ditanya, Putra menjawab bahwa wanita itu adik sepupu, tapi Arga dan Reva tidak percaya.


Mana ada, sepupu sering banget main? Kebiasaannya kan, saudara main kalau ada perlu, nggak mungkin hampir tiap hari dong.


Lha ini hampir tiap hari! Kadang pagi, kadang malam, dan pas banget kalau main selalu ada Putra, pas banget atau memang kebetulan?


Reva celingak-celinguk, memeriksa keadaan apa dirinya bisa keluar dari kolong atau nggak.


Saat dirasa kondisinya memungkinkan, Reva segera keluar.


Mata Reva dibuat kaget saat lihat Killa sedang berdiri dibalik pintu tengah, sedikit mengintip menghadap ke ruang tamu.


Samar-samar Reva mendengar ketawa perempuan.


Apa itu Bella? kalau Bella kenapa nona Killa tidak ikut bergabung untuk mengobrol bersama? Betul! ada yang tidak beres.


Reva semangkin penasaran. Karena saat ini Reva tidak bisa melihat kearah ruang tamu. Reva berjalan pelan kearah lemari es untuk bersembunyi dan agar bisa melilihat jelas apa yang terjadi.


Mata Reva melotot, mulut terbuka lebar melihat Putra sedang tiduran di paha Bella, Dan Bella sedang memaikan rambut Putra.


Reva sedikit tidak percaya. Detik kemudian Bella menunduk berakhir mereka berdua saling berciuman.


Brengsek! Apa itu yang namanya adik sepupu?


Reva mengepalkan tangan menahan emosi. Kemudian menengok kearah Killa. Terlihat jelas raut wajah Killa sangat terpukul, sedih!


"Nona Killa."


Bersambung ....

__ADS_1


Maaf ada keterlambatan dalam upload.


__ADS_2