
Karena Killa lah, Ray berhenti marah, dan berjanji tidak akan mebalas kesalahan Raisa, tapi rasa kesal dan bencinya masih ada dihati Ray.
"Tuan, kenapa tuan kesal kepadanya? wajar kan nona Raisa melakukan hal itu? meski nona Raisa mantan tuan, pasti rasa sayang dan cinta masih ada, begitu juga dengan Tuan yang masih punya sisa rasa kepadanya. Jangan marah atau melakukan hal yang aneh kepadanya, hanya demi melindungi saya. Saya tahu, tuan marah kepadanya bukan karena saya disakiti olehnya, melainkan ada rasa sakit hati dipojok hati Tuan. Tuan kesal dan ingin meluapkan amarah kepadanya di momen ini untuk membuat nona cemburu dan kesal, kan?" Bukanya seperti itu kan hubungan mantan? akan saling kesal, acuh dan benci kepadanya, padahal ma dihati yang paling dalam masih ada rasa cinta dan sayang satu sama lain, tapi sering kali sang mantan jual mahal.
"Nona Raisa melakukan itu karena Nona tidak tahu siapa saya dan apa posisi saya disamping tuan. Andai tahu, nona Raisa tidak akan marah. Saya hanya pekerja yang mengikut tuan, bukan wanita simpanan tuan, mungkin jika saya di posisi nona Raisa, saya akan melakukan hal serupa. Jangan pura-pura marah kepadanya. Meski tuan pura-pura, nona Raisa pasti merasakan sakit hati yang mendalam. Bukanya Tuan berikrar ingin jadi orang yang lebih baik lagi. Jadikan momen ini untuk berbaikan saja, tuan." Setelah mendengar penjelasan dari Nadia Killa memberanikan diri untuk mencegah Ray. Melihat raut wajah Ray dan amarah Ray yang sudah memporak porandakan ruangan mengingatkan kejadian dimana Ray dengan brutal memukul David. Killa tahu meski nanti Ray memberi pelajaran ke Raisa hanya pura-pura untuk memanas manasin saja.
Ray dengan patuh mengiyakan sambil menganggukan kepala. Ray tidak mau dianggap oleh Killa sebagai penjahat!
Karena Killa lah, Ifan menelpon Rico, untuk membebaskan Raisa dan ibu Eva dari sekapan rumah Ray.
Setelah mendapat Izin Killa dibolehin pulang dari Frans, Ray mengantar Killa pulang.
Karena Killa lah Ray masuk ke toko buku untuk beli buku-buku islam. Setelah mengantar Killa pulang kerumah. Dirinya pergi ke toko buku.
Dalam perjalanan, Ray menatap jalanan dabalik kaca mobil sambil bergelut dengan argumennya, Ray tak mengerti dengan dirinya, kenapa dirinya lebih peduli dengan Killa dibanding Raisa? Wanita yang sudah bertahun-tahun disampingnya? Ray mendengar ucapan Killa di perkataan masih ada rasa cinta dan sayang kepadanya dan mau marah hanya pura-pura saja bukan untuk melindungi Killa. Rasanya Ray bertolak belakang, Ray sudah tidak ada sedikit pun rasa ke Raisa, kenangan-kenangan indah yang pernah dibangun bersama pun hilang, niat untuk minta balikan pun lenyap dan tergantikan ingin berjuang mendapatkan Cintanya Killa. Marah, benci, dan kesal kepadanya pun awalnya tidak ada, meski Raisa memutuskan satu pihak. Ray tidak marah maupun benci kepadanya, tapi saat Raisa melukai Killa dengan memperalatkan Ibunya. Rasa kesal, benci muncul di hatinya.
Kenapa aku seperti ini? Semudah itukah aku melupakan Raisa? Wanita yang kubangga- banggakan, wanita yang kucintai, wanita yang aku perjuangkan seluruh nyawaku, wanita yang mengisi hari-hariku, wanita yang menghibur aku ketika aku terpuruk. Kenapa aku hampir melupakannya?
Bukannya aku berniat untuk balikan kepadanya, Tapi kenapa niat itu raib? Kenapa rasa itu tergantikan dengan Killa?
Kenapa aku merasa nyaman dekat dengannya? semudah itu kah aku jatuh cinta kepada wanita lain?
Karena Killa lah.. aku melupakan hubungan ku dengan Raisa yang masih bisa diselamatkan, bahkan sehabis ku putus dengannya aku tidak pernah memberikan kabar kepadanya, chat,tlp, mencari kabar tentang dia pun tidak, nama Raisa seakan-akan hilang dari ingatan ku, andai dia tidak muncul dihadapanku, mungkin aku lupa dengannya! Aku egois! Aku jahat! Tapi apa daya hatiku sudah berkata seperti itu.. Apa---.
__ADS_1
"Tuan." Lamunan Ray buyar, mobil sudah terparkir apik, Ifan sudah menunggu lama namun Ray tidak bergeming, membuat Ifan menepuk bahu Ray.
"Iya apa?"
"Sudah sampai."
"Hmmm."
Karena Killa lah... Ray membaca buku sampai bergadang, dia larut dalam mendalami ilmu agama, membaca dan juga mendengarkan video tausiyah islam. Ray malu ke Killa dirinya minim tentang agama, sedangkan Killa? dia jauh lebih paham darinya. Ray tidak mau nanti ketika jadi imam Killa, Ray tidak tahu apa-apa tentang agama, masa iya Killa nanti yang jadi imamnya! kan tidak mungkin seperti itu? Ray mau dirinya lah yang akan jadi imam terbaik untuk Killa.
***
Seperti biasa, Killa ingin menyiapkan air untuk mandi bayi besarnya, eh... salah tuan Ray maksudnya, hehe.
"Apa kamu sudah sembuh? beneran kamu sanggup? biarlah, jangan kau lakukan biar pak Haris yang melakukannya." Ray memperingatkan Killa agar jangan melakukannya.
"Tuan, saya sanggup, saya sudah sehat. Saya bisa, kan cuma nyiapin air buat mandi, saya sanggup tuan."
Kalau boleh jujur, aku ingin kau yang nyiapin air buat mandi ku, kau tahu? air yang kau siapkan rasanya berbeda buat mandi dibanding yang disiapkan pak Haris, tapi aku tidak boleh egois, kau baru sembuh.
"Killa, sudah jangan!" Mata Ray terbelalak melihat Killa yang jalan didepanya. "Killa! tunggu... apa kau sedang datang bulan?" Ray melihat ada bercak darah didelakang tubuh Killa, saat itu Killa sedang menggunakan gamis abu-abu sehingga membuat bercak merah itu terlihat jelas.
Mata Killa membulat, wajah memerah seperti tomat, Killa berhadap membelakangi dinding, "Jangan mendekat! saya tidak tahu kalau saya, Ahhhhh... "
__ADS_1
Bodoh! Kenapa aku tidak menyadarinya ini kan tanggal tamu bulanan ku datang. Kenapa datangnya sekarang didepan tuan Ray si? ahh! bikin Malu.
"Kill, maafkan aku ya? biar aku gendong tubuh kamu, iya aku tahu pasti sakit, nyeri kan? aku tahu tidak boleh memegang yang bukan mahram, tapi ini kondisinya darurat, jangan tahan sakitnya, biar aku bantu." Ray berjalan mendekat, rasa khawatir kini memburu di badan Ray. yang Ray tahu wanita yang datang bulan itu sakit, nyeri di perut, seperti yang sering Nadia dan Raisa rasakan jika datang bulan. Mereka berdua akan mengaduh kesakitan sampai menangis.
"Tuan jangan mendekat, ini tidak sakit---" belum selesai berucap, tubuh Killa sudah terangkat ke udara "ahhh, tuan... lepaskan! turunkan aku, tuan! tuan, aku mohon turunkan," berusaha melepaskan diri, tapi usahanya sia sia.
"Maafkan aku Kill, iya ini salah, tapi daripada kamu kesakitan." Ray mengakat tubuh Killa dengan kuat.
Teriakan Killa membuat Frans yang sedang mau gosok gigi mengurungkan niat, dia buru-buru keluar kamar. Demikian juga dengan Ifan, Ifan yang sedang mau pake baju dia mengurungkan niat, keluar tanpa busana hanya ada lilitan handuk putih yang melekat di pinggangnya, sehingga menampakan dada bidang miliknya. Nadia yang hendak keluar berpaspasan dengan Ray yang sedang mengakat tubuh Killa di ambang pintu.
"Ada apa dengan Ka Killa?" Ray merobos masuk, membuat Nadia mematung di ambang pintu.
"Nona Nadia, ada apa dengannya?" Tanya Ifan.
"Aku pun tidak tahu, aku tanya tidak dijawab." melirik sebentar ke Ifan. "ihh! ka Ifan kenapa telanjang dada si?"
"Maaf, tadi saya buru-buru."
"Apa kamu mau seperti itu, aku juga kuat lho ngangkat tubuh kamu, calon istriku." datang dari mana tiba-tiba sudah disamping Nadia lalu berbicara pelan ditelinga Nadia.
"Ka Frans! bikin kaget aja." memukul lengan Frans. "Tadi kaka bilang apa? bisa ngangkat tubuhku? masa si? kalau bisa ngangkat tubuhku kenapa tidak bisa angkat bau naga di mulut kaka!", berucap keras, Nadia tidak suka dengan Frans selalu bilang calon istri.
Memang aku calon istrinya napa! Dokter playboy cap kakap! Aku laporin ke ka Ray!
__ADS_1
Frans pun langsung menutup mulutnya dengan kedua tanganya sementara Ifan ketawa mengejek.
Bersambung...