Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Putri Raja


__ADS_3

Saat sedang di Loby, didepan pintu utama rumah sakit, mau naik ke mobil yang sudah siap. Dokter Frans tidak sengaja menabrak Dokter laki-laki, memiliki tubuh kekar, tegap, dan tinggi rata-rata umum ukuran Pria dewasa.


"Kevin ..." ucap Frans saat saling tatap.


"Frans ..." jawabnya, lalu langsung merengkuh tubuh Frans.


"Lo, kerja disini?" tanya Frans dengan membalas pelukan. Lalu mengusap ngusap punggung Kevin.


"Iya. Tapi cuma dua hari. Besok aku kembali lagi ke asalnya. Haha," jawabnya dengan ketawa, lalu melepas pelukanya.


"Dua hari ..." mengangkat 2 jarinya keudara, "Lo tugas disini? berarti dari kemaren lo sudah disini? Kenapa aku tak melihat, kau? Aku disini sembilan hari. Kenapa tidak lihat?"


"Apa. Sembilan hari?"ikut kaget, "Kenapa tidak lihat ya? Padahal kemarin saya bolak balik. Malah hampir keliling rumah sakit ini. Haha," kerjaan yang di dapat Kevin sungguh sangat sibuk, masuk ke ruangan satu ke ruangan satu lagi.


"Mungkin belum waktunya. Hari kemarin saya juga cuma dikamar MELATI, tanpa kemana-mana. Mungkin itu sebabnya aku tak lihat kau dan kau tak lihat aku. Dan ini baru waktunya kita berjumpa."


"Seperti jodoh ya? padahal dekat tapi muter-muter nggak ketemu. Haha." begitulah Kevin suka meledek Frans.


"Kau!" menendang kaki Kevin, membuat kevin mengaduh kesakitan tapi sambil ketawa. "Suka sekali menyidirku." memasang wajah marah.


"Haha. canda." menepuk bahu Frans.


"Kamu disini tugas?" Pertanyaan itu sebenarnya aneh, karena Kevin tahu, kalau Frans kerja di rumah sakit pusat 'BIAS Hospital'. karena penasaran akhirnya bertanya.


"Biasa tugas."


"Itu, Tuan Ray, kan?" tanyanya lirih.


Kevin yang sedang bergurau langsung menutup mulutnya saat liat wajah orang terkenal.


"Iya, betul." sambil mengangguk.


Kevin ragu, rasanya ingin menyapa Ray, tapi takut. Ray kan sudah terkenal atas kedinginan dan keacuhanya, Kevin takut jika nanti dirinya diacuhkan, kan malu? Namun, tekad yang kuat tiba tiba muncul berkobar.

__ADS_1


"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Tuan." membungkukan badan hormat, "maaf Tuan, menggagu waktunya. Jika berkenan perkenalkan saya, Kevin." Ucap Kevin sambil mengulurkan tangannya.


"Ray." Dan akhirnya dibalas dengan Ray.


"Jangan berlebihan." Jawab Ray teesenyum.


Tidak seburuk orang-orang yang sering bicarakan. Nyatanya sekarang Tuan Ray tidak acuh, atau pura-pura tidak peduli, tidak menanggapi. Tidak-Tidak, Ray dengan sangat ramah menanggapi. Suatu kebanggaan buat Kevin sendiri.


Lalu Kevin juga berjaba tangan dengan sekretaris Ifan. Tapi saat mau berjaba tangan dengan Killa. Kevin menatapnya dengan serius, bahkan tanpa mengedipkan mata. Membuat Killa risih dan Ray kesal. Ray tidak suka Kevin menatap Killa seperti itu, ulu hati Ray terasa nyeri, ngilu, bahkan merangkak sampai ke ubun-ubun membuat amarah Ray menyala, Ray mengepalkan tangan, menyatukan kedua alisnya. Andai tidak ada Killa. Mungkin Dokter Kevin sudah dihajar oleh Ray.


Kenapa dia menatap Killaku seperti itu? Aish, aku tak suka dengannya! tatapan tak suka masih tertuju ke Kevin.


Killa ku? Sejak kapan Killa milik Ray?


Begitu juga dengan Ifan. Ifan melihat Raut wajah Ray tak suka. Membuat Ifan naik darah. Beruntung Frans paham dengan kondisi seperti itu. Frans menepuk bahu Kevin dan akhirnya Kevin mengalihkan tatapannya lalu mengulurkan tangan ingin berjaba tangan dengan Killa, "Kevin."


Namun, Killa menolaknya. Killa mengantupkan kedua tanganya dengan berucap. " Maaf tuan, saya Killa."


"Eh, Mmm, maaf. Saya tak tahu," ucapnya meringis, lalu langsung menarik tanganya cepat-cepat.


Kevin tak percaya melihat wajah Killa. Wajahnya benar-benar mirip dengan adik perempuannya.


Ray menatap Kevin dengan tatapan musuh, musuh yang siap dieksekusi. membuat Kevin kebingungan dan takut.


Apa aku melakukan kesalahan? Perasaan tidak. Tapi kenapa Tuan Ray menatapku seperti itu?


Bulu kuduknya bergidik ngeri. Kevin menunduk. Tidak berani menatap wajah Ray yang sangat menakutkan sekali.


***


Mobil yang di naiki Ray, sekretaris Ifan, Killa, dan Suster sudah sampai di halaman rumah mewah berlantai tiga. Dari halaman sudah terlihat kalau rumah ini sangat indah, berwarna putih, dikelilingi oleh taman yang berisi bunga-bunga dan tanaman-tanaman indah yang tertata rapih. Gerbang yang menjulang tinggi dan dijaga ketat oleh orang-orang berbadan tegap dan kekar.


Terlihat ada beberapa penjaga di rumah itu, ketika mobil Ray sudah terparkir dan mobil Frans juga sudah terparkir apik di halaman, para penjaga langsung berjalan menuju mobil hendak membukakan pintu mobil, belum sampai, Tuan Ray, sekretaris Ifan sudah turun dari pintu depan mobil dan seorang perawat yang duduk di kursi belakang pun turun berbarengan dengan Dokter Frans di mobil yang satu.

__ADS_1


Ray langsung meraih kursi roda yang di taro dibagasi mobil, sementara Ifan dan Suster membantu Killa turun, tapi sayangnya Killa menolak Ifan dengan sopan dan lembut, Killa hanya mau dibantu oleh perawat perempuan yang bernama Susi, Ifan pun mengiyakan.


"Tuan apa saya tidak merepotkan?" tanya Killa, tidak enak hati. Bukanya ini sebuah orang yang tidak tahu diri? Rumah sakit di bayarin, dan diberi tempat tinggal pula. Meski numpang, tapikan tidak enak? Tidak perlu bayar uang sewa. Andai bayar uang sewa, apa Killa mampu bayar? Kan tidak, uang tabungannya tidak akan cukup untuk membayar uang sewa rumah semegah ini.


"Tidak! tidak sama sekali. Saya merasa tidak direpotkan oleh kau, Malah saya senang." jawab Ray sambil mendorong kursi Roda untuk masuk kedalam Rumah.


Killa hanya terbengong setelah dirinya masuk ke rumah Ray, rumah yang begitu mewah dan di sapa dengan hormat oleh para pelayan. Mata Killa dibuat takjub dengan interior rumah Ray yang terlihat megah nan mewah. ini rumah kan? bukan istana dongeng yang sering Killa lihat waktu kecil? Ternyata ada rumah semegah seperti istana? Luuar biasa. batin dalam pikiran Killa.


***


Killa merasa risih ketika dirinya diperlakukan seperti putri raja. Dilayani oleh para pelayan setiap hari, setiap kali Killa menolak selalu tidak di gubris oleh para pelayan.


Dua minggu sudah Killa tinggal di rumah Ray, Killa pun sudah sembuh sekarang Killa tidak memakai kursi roda lagi, sudah sembuh total. Bahkan Killa sudah tidak didampingi perawat lagi.


Killa tak menyangka rumah sebesar itu ternyata hanya Ray yang menepati dan para pekerjanya saja. Entah kemana keluarganya Ray? Selama Killa tinggal di Rumah Ray, Killa tak pernah melihat keluarga Ray. Untuk mencari tahu pun rasanya tidak sopan.


"Selamat pagi. Apa ada yang bisa saya bantu?" sapa Killa kepada bi Siti yang lagi di dapur. Killa berinisiatif membantu para pekerja. Killa kan cuma orang numpang. Jadi tidak pantas jika dirinya enak-enakan diatas ranjang sambil nunggu pelayan atau Ray manggil untuk makan.


"Pagi Nona, Nona mau apa? biar Bibi bantu," saut Bi Siti balik tanya. Bibi kaget, ini pertama kalinya Killa memasuki Dapur di jam masih sibuk memasak. Nona Killa selama ini hanya di dalam kamar, dia akan keluar kamar jika dia makan saja. Dan keperluan Killa sudah terlengkapi, apa ada hal yang belum dilengkapi oleh pelayan, sehingga pagi-pagi buta Killa ke dapur? Apa air minum yang disediakan habis atau apa? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala Bi Siti.


"Enggak, Bi. Saya bosan di kamar, apa saya boleh bantu Bibi masak? " ucap Killa dengan memelas. memasang wajah melas, kan bisa buat cara jitu untuk meminta belah kasihan.


Bagaimana mungkin mau bantu, sedangkan kerjaan sudah dikerjain oleh pihak masing-masing. Lalu bantu apa? Bi Siti bergumam.


Bibi melarang, tapi Killa meminta kerjaan dan bibi kekeh tidak ngebolehin Killa.


Raut wajah Killa jadi sedih. Killa bingung mau ngapain? Dia disini hanya numpang, bahkan posisi Killa dengan Bi Siti, lebih baikan Bi Siti.


"Pagi." suara laki laki. yang Entah sejak kapan laki laki itu sudah berdiri di dapur, sebuah kebetulan yang tidak sengaja. Dimana Pagi-pagi juga Ray masuk ke dapur.


Killa, bibi dan pelayan yang berada di dapur , mendengar suara tidak asing di telinganya langsung menengok ke arah empunya suara.


"Tuan Ray ...."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2