
"Aku buka penutup matanya. Kamu jangan langsung buka mata, penjamkan matamu dulu. Nunggu Aku hitung sampai tiga."
"Apa harus nunggu sampai tiga."
"Humm."
"Baiklah."
"Satu ... Dua ... Tiga ...." Ray menghitung sembari mengangkat jemari satu persatu seusai yang diucap.
Perlahan Killa membuka matanya. Sebuah pemandangan yang indah. Halaman belakang rumah sudah dekor. Kolam renang yang di hiasin balon besar. Pohon, batangnya dililit dikasih kertas krep dan ada juga yang dikasih balon. Tanaman yang ada sekitar semuanya dihiasi. Termasuk tempat meja dan kursi santai di hias.
Sebuah ledakan lalu di sambut dengan berhamburan kertas kecil warna-warni bertebaran dan juga balon warna-warni bertebaran.
Dari atas balkon orang yang sudah ditugaskan, mereka menurunkan spanduk besar yang bertulisan ' I Love You, Istriku.'
Sebuah keluarga besar pun keluar dari arah pintu samping, menebar senyum terbaiknya. Semua masing-masing membawa sebuket bungah. Berpakain senada berwarna silver.
Killa membalas senyumannya, senyuman Killa merekah. Tidak menyangka Ray memberi kejutan macam ini.
Baru saja ingin mengucap terimakasih ke Ray. Ray yang berada dibelakang, dia berlutut dihadapan Killa sembari menyodorkan sebuket bungah besar.
Hal yang selama ini tidak pernah Ray lakukan, berlutut dihadapan perempuan. Ini pertama kali dalam sejarah hidupnya. Bagi Ray, laki-laki yang sampai berlutut di depan wanita, lelaki yang tidak ada harga dirinya. Tapi sekarang Ray kemakan ucapanya.
"Apa yang kamu lakukan, Sayang? Berdiri!" perintah Killa sembari memegang lengan Ray agar segera bangkit.
"Aku, mau minta maaf padamu. Maafkan Aku sudah buat kau terluka, kemarin." alih-alih bangkit Ray malah bergeming.
"Bukannya Aku sudah memaafkannya? Hayu lah Sayang. Jangan seperti ini." masih berusaha menarik lengan sang suami.
"Aku ingin meminta maaf lagi. Dan jika kau memaafkan, Aku, terimalah bunga ini."
__ADS_1
Killa menerima bunganya, Ray segera bangkit. Killa dengan antusias menciumi bau harum bunga. Mengucapkan terimakasih lalu Killa langsung memeluk sang suami. "Makasih, Sayang. Ini terlalu berlebihan."
"Tapi kamu suka, kan?" Ray membalas pelukanya.
"Sangat suka."
Ray mendorong pelan tubuh Killa, untuk menjauh. Ray menangkup wajah Killa dengan kedua tanganya. Membuat Killa dan Ray saling bertatap. Membiarkan masuk dan berenang di manik coklat madu itu. Seolah Ray meminta Killa untuk mencari sesuatu didalam manik matanya. Apakah Ray berbohong atau tidak.
"Tataplah wajahku, kau bisa menilai sendiri. Apa aku masih punya rasa ke mantan kekasihku? Seperti yang kau tanyakan semalam."
Killa menatapnya penuh dengan penilaian.
"Dia hanya masa lalu ku. Sedikitpun rasa untuknya sudah tidak ada. Hatiku---" Ray menarik tangan Killa untuk memegang dadanya. "---hanya berdetak cepat ketika bersamamu. Kau ... sekarang yang mengisi semua ruang hatiku. Maaf, jika kehadiran orang masa lalu ku, mengusik hatimu. Tidak ada niat sedikitpun aku menyakitimu."
Killa melihatnya tidak ada sedikitpun celah kebohongan. Killa membeku. Otaknya kosong. Sementara detak jantung semangkin menggila. Beberapa detik Killa menetralkan hati dan pikirannya.
"Jika ucapan kamu, benar adanya. Aku sangat berterimakasih kepadamu, Sayang. Akan tetapi, jika ucapanmu hanya bulshit. Mungkin aku akan terima," ketawa kecil, tapi dua netranya berkaca-kaca. Ray menggeleng, mengekspresikan jika dirinya tidak bohong. "Itu hak mu, Aku tidak boleh egois. Aku belajar dari rasa sakit. Jika di dunia ini aku tidak bisa mengharapkan semuanya kepada suamiku. Dan aku bukan tuhan yang bisa mengendalikan hatimu agar hanya mencintai dan menyukaiku saja didunia ini. Agama memberi kesempatan empat kali seorang pria untuk menikah. Tapi aku berharap, jika kau ingin menikah lagi, carilah wanita yang baik. Baik untuk agamamu. Aku siap dimadu."
Killa mengangguk. Tidak ada yang tidak mau ke surga. Semua manusia ingin masuk surga. Apalagi bersama dengan orang yang dicinta, sangat mau.
"Kita berjuang bareng-bareng. Selalu disampingku, Sayang. Bantulah Aku menjadi imam yang baik."
"Dan bantulah Aku menjadi makmum yang baik,"
"Kita akan saling membantu." Ray menempelkan keningnya ke kening Killa.
Ifan berdecak kagum melihatnya. Merasa bersyukur tuanya mendapatkan wanita yang baik. Bukan Ifan saja yang berdecak kagum. Semua orang yang ada disitu pun kagum melihat keromantisan dua sejoli.
Nadia, Vanno dan kedua orang tua Killa dan Ray, melangkah mendekat ke arah Killa dan Ray. Mereka setempat memberikan sebuket bunga yang dibawa, membuat Killa kwalahan menampung semua bunganya. Dengan cekatan pelayan yang sudah diberi tugas datang menghampiri dengan mendorong meja roda. Ray menyuruh Killa untuk menaruh bunga-bunganya di atas meja sebelah menaruh bunga satu persatu Killa memeluk anggota keluarganya begitupun Ray. Killa mengucapkan terimakasih, Ray pun mengucapkan terimakasih sudah mau membantu memberikan kejutan untuk Killa.
Orang tua Killa juga mengucapkan terima kasih ke Ray, sudah mencintai putrinya begitu dalam. Berharap cinta Ray tak mudah pupus dan ucapan Ray benar adanya akan menjadikan Killa satu-satunya pendamping hidupnya.
__ADS_1
Tidak mau kalah, orang tua Ray pun mengucapkan terima kasih ke Killa. Sudah mau menerima dan mencintai putranya. Karena Killa Ray menjadi orang baik.
Ray membalik tubuhnya, menghadap ke Ifan. Mereka berdua saling berpelukan. Ray mengucapkan terimakasih ke Ifan. Kejutan ini tidak lain karena ide brilian dari Ifan.
"Tuan bahagia, Aku pun ikut bahagia. Semoga keinginan tuan tercapai. Dan semoga juga aku dan tuan tetap bersama sampai ke surga."
***
"Aku masih punya hadiah untukmu," ucap Ray setelah selesai makan bersama-sama--kedua orang tua Ray dan Killa, Nadia, Vanno dan Ifan. Dan semua pelayan. Mereka makan lesehan bersama di teras belakang.
"Hah, masih ada lagi?" tanya Killa sambil menyipitkan mata.
"Iya," Ray mengangguk, kemudian menghitung dari angka satu sampai tiga.
Killa tertawa lepas, melihat kejutan selanjutnya yang Ray beri.
Dua pelayan lelaki yang tadi msksn bersama, masuk kedalam dan keluar dengan mendorong lemari es khusus es krim.
"Sayang, ini tidak salah?" Killa mendekat ke lemari es. Lemari es penuh dengan es krim.
"Tidak."
"Haha, Sayang. Apa harus sebanyak ini? Dan apa harus lemari esnya juga dibeli?"
"Iya, kau kan penyuka es krim."
"Iya Aku suka, tapi nggak harus sebanyak ini juga. Aku tidak akan bisa menghabiskan es krim sebanyak ini."
"Aku tahu, maka itu aku membeli bersama lemari esnya. Dan kau kan bisa berbagi sama pelayan. Aku tahu sifatmu, suka berbagi. Suami saja mau dibagi apalagi ini hanya sebuah es krim."
Bersambung ...
__ADS_1