Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Bingung


__ADS_3

Killa selalu minta pulang sama Dokter Frans. padahal Killa belum pulih, Frans tidak mengizinkan Killa pulang walau Killa merengek-rengek ke Frans, tapi Frans kekeh tidak mengizinkan, membuat Killa sedih, khawatir, cemas.


Pasalnya Killa takut jika tidak sanggup membayar biaya rumah sakit, Killa tahu betul ruangan yang sekarang yang ia kenakan biaya sewanya mahal dan nanti setelah keluar rumah sakit Killa juga harus memikirkan cari tempat tinggal yang harus keluar biaya lagi. membuat Killa sedih dan khawatir. Didalam buku tabungan yang Killa punya isinya tidak terlalu banyak hanya terisi beberapa juta saja.


Sudah enam hari Killa dirawat dirumah sakit, enam hari juga tuan Ray selalu tidur di rumah sakit, menemani Killa.


"Hey," sapa tuan Ray dengan mengibaskan tangan didepan muka Killa.


Killa hanya terdiam, Killa tidak menggubris ucapan Ray, Killa sedang melamun.


"Hallo, apa kau dengar saya! " ucap Ray lagi, dengan nada sedikit keras.


"Eh, Tuan , i--iya Tuan ada apa? maaf saya tidak dengar Tuan bilang apa? " jawab Killa gelagapan.


"Kau kenapa? Kenapa melamun? Mikirin apa, Kill? " tanya Ray lembut.


"Mmm ... nggak papa ko Tuan, nggak mikirin apa-apa, cuma sudah bosan aja disini." jawab Killa tersenyum berbohong.


"Kamu sudah bosan, tenang lah kau besok pulang." jawab Ray senyum merekah.


"Hah..." membuka mulut, segera mungkin Killa menutup mulutnya dengan kedua tangan, "maaf, pulang? bukanya kata dokter saya belum boleh pulang?" jawab Killa tidak percaya.


"Memang belum boleh, tapi karena kau yang merengek! " ucap Ray dengan menekan kata merengek.


Aish. kenapa Dokter Frans memberitahu ke Tuan Ray? Ihh Dokter Frans kok nyebelin! Aku kan jadi malu.Tapi tak apa lah, yang penting bisa pulang dan hemat budget. Hihihi.


"Tapi kau harus rawat jalan dirumah dan kau harus memakai kursi roda, karena tulang kaki kamu masih lemah." imbuh Ray yang sedang mengupas buah apel


"Apa? Rawat jalan?" mulut Killa terbuka mengangah, "dan harus pakai kursi roda?" masih kaget dan shock "Tidak perlu Tuan, saya kuat ko, untuk jalan dan saya sudah sembuh, jadi tidak perlu harus rawat jalan dirumah." Jawab Killa dengan tersenyum manis.


"Itu kalau kamu mau cepat keluar dari rumah sakit," menyodorkan potongan apel ke Killa, Killa mau tidak mau menerimanya.


"Kalau tidak mau, yasudah harus rawat inap di rumah sakit." jawab tuan Ray dengan tersenyum pekik. "Dan kau tidak usah khawatir, yang akan membantu kau rawat jalan di rumah Dokter Frans dan asistennya."

__ADS_1


Harus rawat jalan di rumah? Sama aja bohong! harus ngeluarin uang lagi! sedangkan uang belum tentu cukup bayar biaya rumah sakit ini. Ditambah harus rawat jalan di rumah, lebih parahnya lagi, Killa belum punya tempat Tinggal,


Duh! kenapa serumit ini sih? Killa bingung harus bagaimana.


***


Keesokan harinya.


"Kau sudah siap, ayok kita pulang, biar aku yang dorong." ucap Tuan Ray dengan mengambil alih gagang dorongan kursi yang sedang di pegang perawat.


Killa saat ini sudah tidak ada infus yang tertancap di tanganya, karena sudah dicopot. akan dipasang lagi nanti jika kekurangan cairan atau lemah.


Dalam hati, Killa berkecamuk, Killa bingung harus pulang kemana? Apalagi mau di antar, benar-benar bingung. Nggak mungkin kan harus pulang kampung? Jauh!


Ahh ... rasanya ingin ku pindah planet saja! ke Mars atau Juventus? pikiran tak waras pun muncul


"Sus, bisa kau antarkan saya ke tempat pembayaran? Saya belum membayar semua biaya rumah sakit? " ucap Killa mengalihkan pembicaraan dengan Tuan Ray dan mau menghindar dengan Tuan Ray, agar bisa pulang tanpa di antar(kabur). Killa akan menemui Tuan Ray lagi nanti ketika sudah sembuh dan sudah dapat kerjaan. Killa akan berterimakasih sebanyak-banyaknya ke Tuan Ray. Tapi tidak tuk saat ini. Saat ini lebih baik kabur seperti maling yang akan ditangkap polisi.


Semua barang Killa sudah dikembalikan termasuk Ktp yang diambil Sekretaris Ifan. Jadi Killa berani nanyain administrasi karena Killa punya kartu tabungan. Killa tipe orang yang tidak suka mengharapkan pemberian orang lain, Kalau bisa sendiri, ya akan dilakukan sendiri. Kecuali kalau benar-benar Killa tidak bisa, baru minta bantuan orang lain


"Hah! " Killa kaget "siapa yang bayar, sus? saya saja belum bayar?" celetuk Killa.


"Semua sudah dibayar oleh orang, Non." jawab suster singkat.


Tentu orang, masa syaitan! Please deh sus, jangan bercanda!


" Iya orang, orangnya siapa? " Ucap Killa sedikit kesal.


"Sudah-sudah. yang bayar saya,


Kau bisa tunjukan dimana alamat rumah kamu, Kill?" ucap tuan Ray dengan mendorong kursi roda.


"Apa! Tuan yang bayar? kenapa Tuan lakukan itu? tuan, seharusnya tidak usah melakukan itu, aku sudah banyak merepotkan Tuan, Tuan tiap hari sudah menemani saya, ditambah bayar biaya rumah sakit. Tuan biar saya ganti, berapa semua biaya rumah sakit? " ucap Killa beruntun dan dengan menyodorkan kartu atm ke Tuan Ray.

__ADS_1


"Dan kalau uang di kartu itu tidak cukup, saya akan ganti di lain waktu, percayalah, aku akan ganti. Kalau Tuan tidak percaya, Tuan boleh nahan ktp saya. Sebagai jaminan." imbuh Killa dengan mengoyakan kartu atm-nya.


"Kau bicara apa si? Sudah lah, simpanlah kartumu, saya tidak butuh uangmu, kau tidak perlu ganti, ini sudah tanggung jawab saya. Titik tidak boleh kau bantah! " ucap tuan Ray tegas. "Oh iya, dimana rumah kamu, bisa kau tunjukan alamatnya." tanya Tuan Ray lagi. padahal Ray tau kalau gadis didepanya itu tidak punya tempat tinggal di Ibukota.


"Eh, Iya. Alamat rumah." Tampang Killa berubah seperti orang bodoh "aku, Emmm--" jawab Killa kebingungan nuding-nuding ke udara.


Harus jawab apa dong? Bingung kan. Kalau bilang tidak punya tempat tinggal, nggak mungkin kan? Lalu aku jawab apa?


Ray langsung melangkahkan kakinya ke depan kursi roda yang diduduki Killa, dengan memberi kode kepada perawat, Ifan, dan Dokter Frans, agar meninggalkannya berduaan dengan Killa. Setelah mereka pergi Ray langsung jongkok didepan Killa. Killa shock melihat Ray jongkok didepanya, sangkin kagetnya mulut Killa terbuka mata terbuka lebar.


Apa yang akan dilakukan Tuan Ray?


"Kau bingung mau pulang kemana? Tenang lah, aku sudah mempersiapkan untukmu, aku tahu kamu kabur dari rumah dan kau belum ada tempat tinggal Di sini." Killa semangkin Kaget dengar penjelasan dari Ray.


"Karena kau baru sampai di Ibukota, kau mengalami kecelakaan, kecelakaan karena ulah saya. Dan kau belum sempat mencari tempat tinggal. Karena sebab itulah kau sakit, tidak ada keluarga yang jenguk kamu, dan aku pun tidak memberitahukan kepada keluarga kamu, aku takut salah ambil keputusan. Maafkan aku tidak mengabari keluarga kamu." kemudian Ray menunduk.


Hah! tunggu, kenapa Tuan tahu tentang ini? Bukanya aku tidak memberitahu kepadanya?


"Bagaimana Tuan tahu tentang hal itu? " tanya Killa keheranan. Frustasi akhirnya ditanyakan.


Dia bukan penyihir yang bisa meramal kan? Kenapa dia sampai tahu?


"Untuk mencari tentang hal seperti itu, perkerjaan yang mudah bagi saya." Ray tersenyum. "Awalnya saya ingin memberi tahukan kekeluarga kamu, tapi tidak jadi." Ray ingin bangkit dari jongkoknya tapi tidak jadi.


"Aku takut salah ambil tindakan, maafkan aku." ucap Ray lalu mengatupkan keduan tanganya. Ray serba salah, memberi tahu kekeluarga Killa nanti salah. Killa aja kabur dari rumah, tidak memberikan tahu kasian Killa. Sakit tidak ada keluarga yang nenemani. "Kamu sakit tidak ditemani oleh keluarga kamu. Maafkan aku." imbuh Ray dengan menundukkan kepala lagi.


"Tuan." Killa nambah shock. "Tuan tidak usah minta maaf, Tuan tidak salah. Saya berterima kasih banyak kepada Tuan, saya berhutang budi dengan Tuan. Tuan terimakasih untuk semuanya, saya janji saya akan membalas semuanya, Insya Allah." jawab Killa dengan tersenyum. Killa bingung mau apa, berterimakasih seperti apa yang pantas untuk Ray. Ray sangat baik, bahkan sangat baik sekali. Killa terharu bisa bertemu dengan orang baik seperti Ray, sangking terharunya Killa meneteskan air mata.


"Hey, kau bicara apa?" mendongak berhadapan muka dengan Killa "kenapa kau menangis?" Ray kaget melihat Killa meneteskan air mata. "Apa ada yang sakit? mana yang sakit?" mata Ray menelusuri dari atas kebawah mencari rasa sakit yang Killa rasa.


""Tidak, Tidak." Killa menggeleng sambil mengibaskan tangan.


"Frans!" teriaknya khawatir dengan Killa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2