Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Get well Soon.


__ADS_3

Rumah sakit Pusat 'BIAS Hospital' sedang panik, setelah mendapatkan telephon dari Ifan. Frans yang sebagai kepala Rumah sakit mengumpulkan para pembesar Rumah sakit untuk menyambut kedatangan Ray, memberi intruksi "jangan sampai ada yang membuat masalah atau kesalahan didepan Tuan Ray maupun keluarganya!" para pembesar rumah sakit mengiyakan, dalam hati para pembesar berucap mana berani membuat masalah kepadanya. Mereka akan berkerja semaksimal mungkin untuk memuaskan tuan Ray.


Frans mondar mandir Menyuruh para pembesar menyiapkan apapun yang terbaik untuk tuan Ray, Frans menyiapKan beberapa dokter wanita yang hebat untuk menyambut kedatangan Killa, meski sang dokter tersebut sedang menangani pasien, Frans menariknya, menyuruh untuk stay diruangan yang akan dipakai Killa, sehingga digantikan oleh dokter yang lain. Menata ruangan VVIP khusus keluarga pemilik Rumah sakit. Menjadi lebih baik lagi, serapih mungkin, dan senyaman mungkin. Ruangan yang sudah bersih pun di bersihin lagi, memastikan tidak ada debu secuil apapun diruangan itu.


Para pembesar Rumah sakit dan Frans Mensterilkan lorong Ruangan itu, bahkan mengokosongkan ruangan disampinya, memindahkan pasien yang ada disamping Ruangan ke ruangan VVIP lain yang kosong. Meski ada lawanan dari keluarga pasien, tapi Frans bisa mengatasinya, memberi pengertian ke keluarga pasien dengan sabar akhirnya sang keluarga pasien pun mengiyakan. Salah satu pembesar Menyuruh beberapa perawat wanita untuk stay didepan pintu masuk rumah sakit, agar nanti ketika datang bisa langsung dibawa ke ruangan yang sudah disiapkan tanpa harus menunggu.


Killa langsung mendapatkan perawatan di Rumah sakit, dan ditangani langsung oleh empat dokter wanita yang terbaik di Rumah sakit, Ray yang sudah percaya ke Frans pun memberi izin agar Frans ikut serta memeriksa Killa. Jadi total dokter 5.


Ray mondar mandir didepan ruangan Killa, seperti setrika rusak. "Tuan tenanglah, nona Killa pasti baik baik saja." Ifan menenangkan Ray seraya menepuk bahu Ray.


"Bagaimana bisa tenang! Killa sedang kesakitan bahkan dia pingsan dan itu semua karena aku, Fan! Aku yang membuat Killa terluka lagi!" Mata Ray sudah bengkak karena sendari tadi menangis. R.asa cemas, khawatir, takut, merasa bersalah, frustasi karena dirinya melukai Killa lagi. Semua rasa itu menjadi satu dalam pikiran Ray. Kedua kalinya Ifan melihat Ray menangis karena Killa. Kemana Sifat Ray yang tegar? yang tidak mudah menangis, kenapa cengeng seperti itu?


***


Karena sedari tadi Nadia sampai, dia tidak menengok ke arah lain, cuma melihat ke arah Killa lewat kaca pintu. Nadia menengok ke arah Ray, amarah yang tadi dipendam rasanya ingin di luapkan, Nadia mengurungkan niatnya karena melihat Ray begitu sangat khawatir, Ray sesekali menjambak rambutnya dan mondar mandir seperti setrika rusak, terlihat jelas orang frustasi dan merasa bersalah.


Jangan marah Nad... ka Ray tidak sengaja. Ok, jangan marah kepadanya.


Nadia menarik nafas panjang lalu mengeluarkan dengan kasar.


Pintu ruangan terbuka Frans keluar dengan diikuti empat dokter dan 3 perawat, Ray langsung menghampirinya dengan memberi pertanyaan " bagaiman keadaan Killa Frans? Dia tidak apa apa kan? " tanya Ray panik, karena Frans keluar dengan muka menunduk.


Sebelum Frans menjawab, Frans menyuruh dokter dan perawat pergi meninggalkannya, para dokter dan perawat pun mengiyakan, mereka pergi dengan berucap "permisi tuan" serempak dan menundukkan badan hormat.


"Nona Killa tidak apa-apa tuan, saya melihat ada bekas luka di pipi nona seperti bekas tamparan yang sangat keras, apa itu yang terjadi?

__ADS_1


Jika iya, itulah yang membuat menggetarkan saraf kepalanya terguncang. Luka didalam kepala Nona belum seratus persen stabil. Bukanya sudah saya beritahu! didaerah kepala Nona jangan sampai terbentur keras maupun ringan, itu akan mempengaruhi fungsi sarafnya, dan bisa membuat geger otak. Tapi beruntunglah, itu tidak sampai terjadi, Apa Tuan tidak ingat perkataan saya?" Frans seberani itu berucap dengan Ray? cuma karena satu, Frans tahu Ray tidak akan marah.


"Saya ingat! Apa kau pikir aku sudah tua? sehingga aku tidak Ingat ucapanmu, Hah!" menunjuk Frans dan sorot mata yang membunuh.


"Maafkan ucapan saya yang meremehkan Tuan. Jika tuan ingin menemuinya , silahkan." mempersilahkan Ray masuk dengan membuka pintu lebar-lebar. "Karena tidak ada luka yang serius, nona Killa sebentar lagi juga akan sadar. Dia pingsan karena tidak bisa menyeimbangkan diri." imbuh Frans yang paham kalau Ray ingin melihat Killa, karna raut wajah Ray yang begitu sangat khawatir. Apalagi Frans tahu betapa marahnya saat Killa dimarahin oleh dirinya. Killa dimarahin sampai ketakutan saja tidak terima. Apalagi ini sampai Killa pingsan, pasti rasa cemasnya berkali-kali lipat.


Ray menatap nanar wajah gadis dihadapanya, menggerutu dirinya dan menggerutu kepada Killa.


Kenapa kau bodoh sekali si Kill? Kenapa kau menghalangi aku untuk menampar Raisa?


jari- jemari Ray menyelusup ke jari-jari Killa.


Padahal jelas jelas aku sedang memberi pelajaran dan kau hampir buat aku gila Kill.


mengusap kepala Killa.


Kemana rasa acuh aku kepada orang lain? Kenapa aku seperti orang yang takut kehilangan kamu dan kenapa aku merasa kau adalah segala-galanya? padahal kita baru beberapa hari bersama, tapi kehadiran mu membuat ku berubah, ku mohon kau cepat sadar, Get Well Soon. Maafkan aku."


Ray menciumi tangan mungil Killa, menghirup bau wangi di tangan Killa membuat jejak di indra penciumannya. Mencium tangan Killa membuat hatinya bergejolak, bergemuruh hebat, jantung seakan-akan mau lepas dari tempatnya. Ray tidak sadar andai Killa tahu pasti Killa akan marah kepadanya karena berani mencium punggung tangan miliknya.


"Kaka gak usah merasa bersalah, kan kaka tidak sengaja. Doakan saja ka Killa cepat sadar." Nadia melingkarkan tangannya di leher Ray.


Killa membuka mata sedikit demi sedikit, Ray yang melihat Killa sudah sadar. langsung sumringah.


" Killa, kau sudah sadar. Alhamdulillah. maafkan aku ya?" Ray sudah melepaskan tangan Killa sejak tadi, jadi Killa tak mengetahui.

__ADS_1


Killa tak menggubris ucapan Ray, dia menatap keatas, mengingat apa yang sudah terjadi pada dirinya. Sehingga dirinya sampai masuk ke rumah sakit lagi. Selang infus yang menancap ditanganya membuat Killa paham ada dimana.


Killa mengingat kejadian tadi, kata pelakor mengiang di telinganya.


"Kill."


"Ka Killa."


"Hey." tidak ada respon.


"Kenapa kamu diam saja? Apa masih sakit?Maafkan aku, aku tidak sengaja. Kenapa kau lakukan hal bodoh itu? membuat kamu terluka parah akibat dua tamparan keras mendarat di pipi kamu." deretan pertanyaan yang keluar dari mulut Ray.


Nadia tersenyum lebar menatap kearah Killa,


"ka Killa ku akhirnya siuman." Langsung berhambur memeluk Killa.


"Apa aku pelakor? Tapi aku tidak menggoda pria siapa-siapapun?" Nadia mendongak lalu dia melepaskan pelukanya, mengangkat tubuhnya agar berdiri tegak.


Ray yang mendengarkan ucapan Killa, mengeryitkan dahi, tangan dibawah ranjang mengepal, rasa amarahnya memuncak di ubun-ubun siap untuk diledakkan.


"Kaka bukan Pelakor! maafkan ibu aku yang salah paham, ini terjadi karena kesalahan pahaman, jangan dimasukin hati ya, please maafkan ibu aku, dia salah paham." raut wajah Nadia sedih.


Brakkk.. Ray menendang meja, mengingat kejadian tadi pagi, amarah memburuh, Ray sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran ke Raisa dan ibunya. Ray tidak mengingat jika ada Killa.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2