
Killa terlihat sangat bahagia menyambut para tamu yang datang ke acara. Demikian juga dengan Putra.
David, Daffa dan Ray. Didalam pikirannya dan hatinya berkata 'harusnya aku yang di samping Killa, dampinginya, menyambut para tamu undangan dengan penuh bahagia bersama.'
Tiga Pria tersebut berusaha kuat melihat itu semua. meski hatinya sakit, terseset-seset.
Acara pernikahan Putra Dan Killa sangat meriah, semua terlihat sangat menikmati pesta pernikahan itu, termasuk David, untuk mengalihkan rasa sakitnya, David menggoda gadis-gadis cantik yang ada di pesta, gadis gadis itu merespon rayuan gombalan David,
Semua para undangan fokus ke Ray, daya tarik semuanya tertuju ke Ray. Sang pengantin malah terkalahkan oleh Ray. Keberadaan Ray membuat orang pada fokus ke Ray. Para wanita rasanya ingin mendekat ke Ray, meski hanya sekedar ngobrol, tapi nyalinya tidak berani. Ray yang tahu sedang di perhatikan dan lihattin oleh para tamu undangan, Ray hanya memasang senyum manisnya yang di miliki. Padahal didalam hatinya hancur!
Bisik bisik obrolan pun terdengar.
"Killa beruntung bisa kenal dengan tuan Ray."
"Iya betul, beruntung sekali. nikahnya saja sampai tuan Ray datang. andai aku yang di posisi Killa, pasti sangat sangat bahagia."
"Resepsi pernikahan yang luar biasa."
"Aku iri dengan Killa. Haha." dan masih banyak lagi yang memuji Ray dan mengatakan keberuntungan untuk Killa.
Ray dan rombonganya naik ke panggung pelaminan untuk mengucapkan selamat dan mendoakan kebaikan dengan mengasih kado untuk Killa.
"Selamat atas pernikahan kalian, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah," ucap selamat dan mendoakan kebaikan untuk Killa dan Putra.
"Aamiin, makasih tuan sudah mau datang ke Acara kami. sebuah kehormatan," jawab Killa dan Putra berbarengan, saat di ucapan kami, Putra memegang tangan Killa penuh dengan kasih sayang, memamerkan kemesraanya. Nembuat hati Ray bergejolak, tapi Ray hebat, bisa bersandiwara, malah menggoda pengantin baru.
"Wah-wah-wah, romantisnya, jangan bikin Ifan dan Nadia iri," balas Ray dengan candaan.
"Kaka! kenapa aku? kaka kali yang iri, Haha." Killa dan Putra dan orang yang berada diatas panggung yang mendengar hanya tersenyum-senyum. Sedangkan Ifan hanya diam, memasang wajah datar, Ifan tidak mau tersenyum diatas sandiwara yang dibikin oleh tuanya.
__ADS_1
"Haha, kaka ma bentar lagi nyusul, jadi tidak iri. Haha, yaudah ya, Killa, Putra saya dan keluarga izin pamit pulang,"
"Iya tuan, sekali lagi terimakasih banyak sudah datang," jawab Killa dan Putra dan kedua orang tua Killa dan Putra.
"Jangan lupa produksi anak yang banyak, Haha," goda Ray, kemudian Ray langsung lari kecil, menghindar amukan Killa, takut Killa malu dengan ucapanya.
Ray bersenda gurau dengan Putra dan Killa, ketawa-ketawa-seakan-akan dirinya baik-baik dan seakan-akan bahagia. Memang benar yah? dunia itu topeng sandiwara.
***
Menikah dan berjodoh dengan orang yang kita cintai itu sebuah keberuntungan yang luar biasa yang tak terhingga.
Sedangkan ditinggal nikah sama orang yang dicintai itu sebuah kesakitan yang luar biasa. Yang bisa membuat hidup tak berwarna dan tak berarti lagi. Bisa membuat berpikir jadi dangkal dan ingin meakhiri hidupnya. Bisa membuat menjadi Gila, tidak bisa berpikir jernih lagi.
Perjalanan dari ibukota sampai ke kampung halaman Killa memerlukan waktu 4-6 jam. Waktu yang lumayan, membuat Ray menggunaka helikopter sebagai kendaraanya. Dari acara pesta ke tempat helikopter, Ray dan rombongan di antar oleh pengawal bawahannya, staf, pejabat tinggi di kantor Bias cabang dan pejabat-pejabat negara yang ada di kota itu.
Jam menunjukan pukul 10 malam, Ray keluar dari kamar dengan tergesa- gesa.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ifan, yang memngikuti langkah Ray.
"Siapkan mobil segera, kita pergi segera." jawabnya dengan berjalan cepat menuju halaman rumah. Ifan tanpa bertanya mau kemana, dan mau apa, Ifan langsung berjalan mendahui Ray untuk menyiapkan mobil.
Saat keluar dari kamar dan Ray jalan melewati kedua orang tuanya, Nadia, dan Frans, Ray tidak menyapanya. Membuat mereka khawatir dengan Ray. Untung saja Ray mempunyai sekretaris yang handal, yang tanggap, yang cekatan.
"Nak, kamu mau kemana?" tanya ibu Ray. Yang juga mengikuti jejak jalan Ray.
"Ray hanya keluar bu, mencari ketenangan dan kesenangan. Ibu dan ayah jangan khawatir, Ray pergi dulu." Ray segera berlalu masuk kedalam mobil. Ifan menutup pintu mobil dengan pelan. Kemudian membuka pintu mobil depan untuk dirinya.
"Tante dan paman, jangan khawatir. Ada saya yang akan menjaga tuan Ray." ucapnya penuh menyakinkan.
__ADS_1
"Kau Frans, Jangan pergi. Tetaplah disini." Setelah mengucapkan, Ifan masuk kedalam mobil. Ifan juga tidak tahu tuanya akan kemana, dengan dirinya ikut itu bisa membuat dirinya tidak terlalu cemas, dan tujuan menyuruh Frans tetap stay, hanya satu, takut Ray ada apa-apa. Seperti yang di ketahui, saat ini keadaan tuan Ray sedang tidak baik.
Takut Ray melakukan hal- hal yang tidak di inginkan, kan sudah ada Frans yang akan langsung mengobatinya.
"Ke tempat biasa, Alex dan teman- teman sudah menunggu." ucap Ray memberi tahukan ke supir.
Mendengar itu Ifan kaget, shock.
"Ke tempat biasa?" tanya Ifan tidak percaya, Ray yang sudah berubah jadi baik, yang sudah membuang semua minuman keras yang di miliki dan sudah berikrar tidak akan minum minuman lagi, tapi kenapa ini mau ke club malam? Yang bisa memungkinkan Ray akan minum-minuman seperti sebelum-sebelumnya sampai mabuk, tidak sadarkan diri.
"Iya, kau pasti kecewa, begitu pun aku, aku juga sangat kecewa dengan diriku. tapi aku butuh penenang, aku butuh hiburan untuk menghilangkan ini sejenak." jawab Ray berat, Ray paham apa maksud pertanyaan Ifan.
Ifan mengerti apa yang di rasa tuannya, sangat menyakitkan. Ifan tidak berkomentar apa-apa. Selain mengiyakan kemauan tuannya, menurut Ifan lebih baik Ray minum-minuman sampai mabuk dan tidak sadarkan diri, dibanding Ray seperti beberapa hari yang lalu, yang hampir membunuh dirinya sendiri dan tidak ada rasa ingin hidup lagi.
Sesampainya di ruangan VVIP di club, yang ruang VVIP tersebut itu privasi dan juga dilengkapi kamar yang indah, nyaman. Semua yang berada disitu menyambut kedatangan Ray yang sudah lama tidak pernah datang.
"Sudah kau siapkan, Lex?" tanya Ray ke Alex.
"Sudah, sesuai yang kau inginkan." jawabnya penuh ketidak yakinnan.
Ifan dan yang lain tidak mengerti apa maksud yang di obrolan oleh Alex dan Ray. Kecuali Gio.
"Bagus, mana ituhnya ?" permintaan Ray. Alex mengambil satu tablet obat dan satu plastik kecil didalam saku celananya. Sebelum Ray menerimanya, Ifan sudah menyerobot itu terlebih dahulu.
"Kembalikan," ucap Ray dingin "Lancang sekali Kau." Ifan tidak mengembalikan, Ifan melihat barang yang dari Alex.
"Tuan, ini... untuk apa ini tuan? Lalu ni obat apa Lex? Kamu sudah bosan hidup? Untuk apa kau memberikan obat-obatan macam ini kepadanya?" Tangan Ifan sudah menarik baju atas Alex, geram. Ifan mengira kalau satu tablet obat yang di berikan oleh Alex itu, obat-obatan terlarang.
Bersambung...
__ADS_1