
Setelah tak sadarkan diri di ranjang kesakitan selama dua minggu. Kini Putra sadar dari komanya.
"Killa! Killa mana?" ucap Putra lemah saat baru sadar. Pertama kali yang dicari Putra, Killa! bukan orang tuanya atau Bella atau adiknya atau kakanya.
Ada rasa nyeri didada Bella, dua minggu sudah dia yang nemenin Putra, sampai jatuh sakit, tapi kenapa yang dicari duluan Killa, bukan dirinya.
"Alhamdulillah kau sudah siuman, nak,"ibu Putra bersyukur kemudian mengelus rambut Putra. Ayah Putra yang sedang duduk disofa bangkit mendekat.
"Killa, Killa mana bu?" Bangkit, duduk, menengok ke arah kanan kiri, seperti mencari sesuatu.
"Lupakan Killa, " Ayah Putra kini yang berkata.
"Apa maksud, ayah?" menengok kearah ayah, "Killa istriku! Kenapa aku harus melupakannya?" Menyipitkan mata, dahi berkerut.
"Karena kau tidak bisa bersama lagi! Kau dan Killa akan bercerai."
Air muka Putra berubah murka.
"Cerai? Aku tidak mau cerai! Ayah dan Ibu sama saja! Jika kalian berdua tidak menyetujui hubungan aku dengan Killa, tidak masalah, karena aku tidak butuh itu! Tapi jangan berharap bisa pisahkan aku dengannya!"
Putra mencabut selang infus secara kasar, ingin turun dari ranjang, mencari Killa. Tapi ditahan Ibu dan Ayah.
"Tetaplah disini, nak. Kau tidak bisa bersama Killa lagi." Ibu berusaha menahan Putra.
Aku tidak bisa bersama lagi dengan Killa? Enak saja! Dia wanita ku, istriku!
Putra tidak menghiraukan, memberontak. Putra berjalan tertatatih.
"Apa yang kau harapkan lagi dari Killa? setelah kau melukainya! Kau bilang tidak mau pisah, tapi kau berkelakuan ingin pisah darinya. Sekarang tidak ada harapan apa-apa lagi! Orang tua Killa dan tuan Ray yang menginginkan kau pisah, mereka yang mengajukan gugatan cerai! Apa masih punya harapan?" Ayah Putra berkata jujur sedikit bersuara membentak.
Putra berhenti melangkah, rasa nyeri didada terasa sangat menyakitkan. Ucapan ayahnya barusan membuat hatinya seakan digletiki menggunakan pisau tajam.
"Sekarang yang harus kau pikirkan Bella, kekasih gelapmu! Dia sekarang sedang mengandung anak mu." Ayah melangkah mendekat ke Putra.
Sementara Putra menengok ke arah Bella yang sedang menunduk. Putra menyipitkan mata. Menyesal.
"Ah, sial!" Putra menganyunkan tangan ke udara, seperti sedang memukul. Kemudian menjambak rambutnya, kesal, emosi. Menggelosor ke lantai, bingung, frustasi.
Putra lupa! Jika Putra dan Bella pernah berhubungan badan layaknya suami istri, dulu. Putra kebablasan, otak dan pikiran Putra dipenuhi ke frustasiaan hingga membuat kejadian itu terjadi. Saat di situasi yang menyakitkan. Dimana tiga bulan sudah Killa belum ditemukan keberadaannya.
__ADS_1
Sepulang dari kuliah, Putra mengajak Bella ke rumahnya. Menemani Putra minum-minuman sialan, alkohol.
Berawal hanya coba-coba, Putra yang selama ini tidak pernah minum alkohol, jadi saat pertama kali meminum, merasakan efek yang sangat memabukkan.
Putra dan Bella satu jurusan, teman sekampusnya. Putra yang memiliki paras rupawan ganteng, tinggi badan yang ideal, berkulit putih, senyum yang manis. Membuat Bella memganggumi, menyukainya. Bukan Bella saja, hampir semua mahasiswi atau wanita yang melihat Putra pasti tersihir dengan ketampanan Putra, makhluk ciptaan tuhan yang indah dipandang.
Sudah mengenal lama dengan Putra, tapi Bella baru berusaha bersahabat dengan Putra. Mendekati, memberi perhatian kecil hingga berlanjut memberi perhatian besar. Bella tidak tahu jika Putra sedang memiliki masalah tentang percintaannya dengan wanita lain.
Satu bulan Bella melewati berjuang berteman dekat dengan Putra, hingga akhirnya membuahkan hasil. Bella dan Putra resmi jadian berpacaran.
Dan saat ini, dimana Bella sedang menemani Putra meminum alkohol, setelah hubungan pacaran sudah berjalan baru satu minggu. Bella tidak tahu kenapa Putra sampai sefrustasi itu. Bella mengira jika Putra seperti itu karena tuntutan tugas yang menumpuk, dan tutuntan kerjaan, membantu ayahnya.
Ayah Putra yang memiliki kebun yang luas, berhektar-hektar. Hewan ternak yang banyak, ternak bebek, ternak ayam, ternak kambing, ternak sapi. Membuat Putra turut andil membantu sang ayah untuk mengelola.
Putra yang dikuasai alkohol. Putra tidak bisa mengendalikan diri. Dia mencium Bella. Bella yang sama sedang mabuk, Bella menerima ciuman Putra.
Saling membalas, membuat ciuman itu semangkin menjadi-jadi, menjadi liar, panas. Putra membopong Bella masuk kekamar, meletakan Bella dengan hati-hati di ranjang. Dan berakhir Putra berhasil merenggut mahkota kesucian Bella.
Berhubungan badan sekali dengan Bella, membuat Putra candu. Setiap bertemu dengan Bella, pikiran Putra jadi kotor, memikirkan dari sabang sampai merauke.
Dan jika suasana memungkinkan Putra langsung beraksi. Walau hanya sekedar berciuman. Meminta, merayu dengan seribu jurusan agar Bella mau berhubungan lagi.
Hari libur hari yang disukai Putra.
Putra dan Bella bisa bebas, Putra memakan Bella tanpa ampun. Menghabiskan sisa-sisa waktu berdua.
Setelah Killa kembali, Putra tidak pernah lagi melakukan hal itu. Hanya berciuman, dan berciuman saja hanya didepan mata Killa.
Bodohnya Putra, Putra saat melakukan hal itu tanpa pengaman. Dan jadilah hal yang tidak diinginkan. Ya ... begitulah lelaki, maunya enaknya saja, untuk bertanggung jawab, enggan. Jika mau bertanggung jawab karena sudah kepalang, kecolongan! Ah. Dasar lelaki!
Kehamilan Bella pun baru diketahui dua hari yang lalu, saat Bella pingsan karena kecapean. Disitu baru ketahuan jika Bella sudah berbadan dua, umur janinnya berusia satu bulan.
***
Ayah Putra memegang kedua bahu Putra. Kemudian memberi tahukan jika Killa sekarang sudah dibawa pergi oleh tuan Ray ke Ibukota. Begitu pun keluarga Killa. Killa mengalami luka yang serius, membuat Killa koma.
Ray memilih membawa Killa pindah ke rumah sakit miliknya yang ibukota, dengan alat medis yang lebih menjamin.
"Kau mencintai Bella, bukan?"
__ADS_1
"Sedikit?"
"Hanya sedikit?" menatap Putranya heran, sedikit tapi sampai menghamili? begitu pikir ayah Putra.
"Iya, karena aku lebih mencintai Killa! Dia segala-segalanya."
Ayah Putra menghempaskan napas
"Mulai sekarang, cinta kau untuk Killa, limpahkan ke Bella. Karena dia yang berhak mendapatkan cinta mu, dia sudah mengandung anak mu."
Bagaimana bisa! Kenapa kau hamil, Bella?
Putra mengepalkan tangannya, bangkit, berdiri. Berjalan menuju kearah ibu Putra.
"Semua ini salah ibu! Ibu menghancurkan, aku!" suara mengelagar, rasa amarah memuncak. Berkata didepan wajah ibu. Membuat ibu meringsut ketakutan.
Bara, kaka Putra tidak terima sang ibu yang disalahkan. Maju mendekat ke Putra.
Jelas-jelas yang salah Putra, kenapa jadi ibu yang disalahkan. Pikir Bara.
"Enak sekali, kau! Kau yang berbuat, ibu yang kau salahkan? Ibu salah dimana?" napas bergemuruh naik turun.
"Jika ibu tidak mencaci maki, tidak menghina Killa, ini semua tidak akan TERJADI!" menyurung jari telunjuk kearah lantai "Aku tahu semuanya, gara-gara ibu ... Killa pergi menjelang pernikahan kita berdua! Karena itu aku sampai kehilangan akal dan buat Bella hamil. Puas!"
"Ahh ...!!!" Putra memporak-porandakan semua yang ada di meja.
Bella memilih pergi lari keluar ruangan, sakit. Kehamilannya, Putra tidak menginginkannya, dan sakit jika Putra jauh lebih mencintai Killa di banding dirinya. Lari sambil menangis.
Lina, adik Putra. Lari mengejar Bella, takut Bella kenapa-kenapa!
Bersambung ...
.
.
Woro-woro.
Novel ini ganti cover, tapi ntah berapa lama masa review, semoga saja cepat.
__ADS_1