
Sebagai seorang lelaki akan sangat bersyukur jika dia yang menikmati keperawanan seorang wanita yang sudah dinikahi.
Begitu pun dengan Ray. Ray bersyukur, senang, bahagia. Ternyata dirinya yang menikmati keperawanan Killa. Ray tidak menyangka jika Killa masih tersegel. Masih perawan.
Rasa bahagia, senang, bersyukur bercampur aduk dengan rasa sakit hati, kesal, dan marah.
Sakit hati, kesal, dan marah ke Putra. Betapa teganya Putra memperlakukan Killa, sampai Killa tidak tersentuh.
Ray memandangi wajah Killa, yang sekarang sudah terlelap tidur dipelukanya.
Rasa ngilu dihati menjalar ke ubun-ubun. Ray membayangkan betapa sakit hatinya Killa menjadi Istri tidak tersentuh. Pasti sangat sakit.
Sebagai seorang wanita yang dinikahi tanpa disentuh akan sangat merasakan sakit. Nyesek! Merasa diri banyak kekurangan, merasa diri seperti sampah sehingga sang suami tidak mau menyentuhnya.
"Kau begitu terluka, sayang?" mengusap pipi Killa.
Mata Ray berkaca-kaca. Merasakan sakit hati, membayangkan betapa penderitaan yang Killa alami. Ray mengepalkan tangannya. Emosi.
Sedetik kemudian pikiran Ray berpikir. Ray harus berterimakasih ke Putra atau harus marah.
Berterimskasih ke Putra karena tidak menyentuh Killa sehingga dirinya yang menikmati manisnya keperawanan Killa. Atau harus marah karena Putra memberi luka yang begitu sakit mendalam dihati Killa. Diselingkuhi dan tidak disentuh.
Coba bayangkan jika di posisi Killa. Pasti akan merasa sakit hati dan hancur-sehancur-hancurnya.
"Luka yang kau rasa begitu menyakitkan. Pantas saja kau sampai melakukan bunuh diri. Maafkan aku yang tidak bisa melindungi mu dari itu." Ray melingkarkan tangan satunya memeluk tubuh Killa dengan erat.
Ray jadi menyesal, andai dulu saat Killa dan Putra akan menikah, Ray mencegahnya. Pasti rasa luka itu tidak akan terjadi.
Percayalah, aku akan menghapus rasa sakit yang pernah kau rasakan. Akan aku ganti dengan kebahagiaan. Aku akan berusaha membahagiakanmu, selalu. Sampai luka masa lalumu hilang dengan sendirinya di pikiran mu, tanpa tersisa. Kau akan hidup bahagia tanpa mengingat masa lalu itu. Akan tertutup dengan kebahagian.
Gumam Ray kemudian nengecup pucuk kepala Killa. Memberi sentuhan hangat kepada sang istri. Sebagai bentuk suami yang akan sigap melindungi sang istri dari hal-hal buruk yanga akan terjadi.
Ray jadi mengingat Ifan--sosok sahabat--yang selalu ada untuk dirinya dan berusaha melindungi dirinya dari marah bahaya. Dua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.
Kau pahlawanku, Fan. Kau melindungi kejantanan ku, sehingga aku masih tersegel. Andai waktu itu kau tidak mencegahnya, mungkin saat ini Killa bukan yang pertama untukku. Kau terbaik.
Ray benar-benar sangat beruntung mempunyai Ifan. Ifan yang dulu menyelamatkan dirinya yang ingin menumpahkan hasratnya ke perempuan bayaran. Ralat! Bukan menumpahkan hasrat, tapi menumpahkan rasa sedih, cemburu ke wanita bayaran.
***
Alarm hape berbunyi. Killa lupa mematikan Alarm sebelum tidur.
Suara Alarm hape yang terletak di nakas sangat nyaring di telinga. Membuat membangunkan sang pemilik dan penghuni kamar.
Killa membuka matanya, begitupun Ray, membuka mata. Tidur yang masih dalam pelukan membuat bangun tidur Ray dan Killa langsung beradu pandang.
__ADS_1
Ray melempar senyum. Dengan mata yang masih berat untuk dibuka.
"Maaf, sayang. Aku lupa mematikan Alarm, jadi buat kau terganggu tidurnya." ucap Killa, merasa tidak enak hati, karena lupanya buat menggagu Ray tidur.
Killa ingin bangkit, ingin segera mematikan suara hapenya. Namun, ditahan oleh Ray.
"Ssst." meletakan telunjuk ke bibir Killa. "Aku tidak terganggu. Jangan minta maaf."
Baru. Ray melepaskan pelukanya. Ray bangkit, duduk, meraih hape Killa. Mematikan Alarm. Kemudian merebahkan tubuhnya. Memeluk tubuh sang istri lagi.
"Masih jam 3. Bisa tidur lagi."
"Aku ingin ke kamar mandi." ucap Killa.
"Oh." Ray melepaskan pelukanya.
Killa bangkit dari tidurnya. Menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Tidak mempedulikan Ray. Toh, Ray sudah mengenakan celana boxer pendek.
Saat kaki satu digerakan turun ke bawah ranjang. Killa merasakan sakit.
Kenapa sesakit ini? batin Killa sambil expresi wajah meringis kesakitan.
Ray yang memperhatikan, dia segera bangkit.
"Kenapa? Sakit?"
Mendudukan tubuh Killa di atas closet.
Ray berdiri didepan Killa tanpa ada niatan untuk keluar.
"Kenapa masih disini, sayang?" Killa mengeryitkan dahi.
"Menunggu mu sampai selesai. Biar nanti aku angkat tubuh kamu lagi kembali ke kasur." jawab Ray santai dengan bersandar ke dinding.
"Aku sepertinya akan lama, kembalilah. Jangan menunggu."
"Lama? Emang mau ngapain?"
Mau makan dan masak! Killa sedikit gemas ke Ray.
"Ini kamar mandi, sayang. Namanya kamar mandi kalau nggak buang air kecil ya buang air besar atau mandi."
"Terus apa yang mau kamu lakukan? Nggak mungkin mandi, kan? Seberapa lama si buang kotoran. Gapapa aku nunggu disini."
"Betul, memang Aku mau mandi."
__ADS_1
"Mandi?" Ray menyipitkan mata, "Masih jam 3, mandinya bisa ntar, sayang. Jangan sekarang."
Apa kamu lupa? Kalau aku dan kau perlu mandi junub? Kalau nanti, keburu Shubuh. Killa gemas.
Killa menjelaskan jika dirinya hendak mandi junub dan hendak mengucek sprei dari bercak darah yang menempel. Jika masih ada sisa waktu Killa hendak sholat tahajud terlebih dahulu sebelum waktu Shubuh tiba.
Ray lupa, jika sekarang sepertiga malam. Waktu yang baik untuk menjalankan sholat sunnah malam.
"Kalau begitu kita mandi bareng."
Apa!
Killa terbelalak, kaget.
"Tidak masalah bukan? Untuk menyikat waktu?" Ray mengerti expresi wajah Killa yang kaget.
"Jangan, kalau gitu tuan eh sayang yang mandi dulu. Aku bisa belakangan."
"Kenapa?"
Tanya kenapa? Jelas aku malu.
"A--aku malu, tuan." Menyengir.
"Kenapa harus malu, bukanya semalam kita sudah sama-sama saling melihat dan sudah saling mengetahui. Jadi untuk apa malu."
Ray langsung mengangkat tubuh Killa akan dibawa dibawah shower.
Ah, rasanya ingin pindah planet.
Ray Menyalakan shower dengan suhu panas sedang.
Menarik selimut yang dari tadi menyusahkan. Killa mempertahankan selimut tebal itu. Tapi tenaga Killa kalah dengan tenaga Ray. Ray Melempar selimut secara kasar ke lantai.
Ray segera bergabung masuk kedalam aliran air shower. Mandi bersama Istri. Sepasang suami istri yang mandi bersama.
Killa dan Ray melakukan tata cara mandi junub dibawah guyuran air shower.
***
Sama seperti dulu. Dimana Killa masih menumpang di rumah Ray. Makan sarapan bertiga. Ray, Killa dan Ifan. Namun, kali ini berbeda.
Dulu akan makan sambil mengobrol ringan tanpa dibumbuin seperti masa sekarang.
Ya, dibumbuin Ray setia menyuapin sang istri sesuap demi sesuap. Rasa risih, malu ke Ifan, Killa rasakan. Tapi sepertinya Ray tidak merasakan malu atas ketindakanya di depan Ifan.
__ADS_1
Sementara Ifan Merasa bahagia. Akhirnya Ray. Merasakan kebahagiaan yang Ray inginkan. Ifan bahagia, Ray hidup bahagia. Karena itu prinsip Ifan. Akan melakukan apa saja demi kebahagiaan Ray.
Bersambung ...