Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Terusik


__ADS_3

Sepulang dari minimarket, Killa masuk ke kamar. Menghitung ada berapa pelayan di rumah Ray dan di hitung-hitung semuanya ada 20, dengan penjaga rumah, supir, tukang kebun dan pak Haris.


"Wah pas 500 ribuan. Tidak ada sisa sama sekali ... Terus buat beli makanan ... makan siang dan makan malam gimana?" Killa mulai berpikir.


"Aha, aku ambil uang yang di kasih suamiku saja. Kan buat makan, tidak masalah toh? Iya, tidak masalah?" tanya Killa kesendiri dan di jawab Killa sendiri. "Uang suami uang istri, bukanya seperti itu?" Killa terkekeh berjalan kearah laci mengambil amplop, berlanjut ke lemari mengambil brankas, mengambil uang.


Uang 500ribu satu persatu di masukan ke amplop. Setelah selesai memasukan, Killa lupa, Reva tidak ke hitung. Killa berpikir apa ambil lagi uang yang dikasih Ray . Cuma 500ribu tak masalah kah?


"Ambillah istriku ..." suara Killa di buat-buat seperti suara cowo, mendengarnya Killa terkekeh geli. Killa berpikir akan memberi tahu Ray uang yang di kasih di pakai.


Sebenarnya bisa semuanya pake uang pemberian dari Ray. Tapi Killa tidak mau itu. Killa mau ngasih, pake uang sendiri.


Satu persatu Killa mengasih amplop berisi uang ke seluruh penghuni rumah. Semua menolak dengan alasan yang sama.


"Tuan Ray sudah memberinya tip, Non." tolak bi Siti. Contoh satu kasus, dan semua sama.


"Tak apa, bi. Ini dari saya. Tuan Ray sendiri, saya sendiri. Ini ucapan terimakasih sudah membantu kejutan kemarin. Bibi pasti capek." kata Killa.


Iya, tujuan Killa menyuruh para pelayan istirahat karena kemarin sudah berkerja keras. Pelayan rumah juga manusia, butuh istirahat.


***


Setelan sholat Dzuhur, makanan dan minuman yang di pesan sudah datang. Makanan dibagi dua untuk pegawai wanita dan pegawai pria.


Seperti ucapan Killa hari ini waktunya istirahat tidak berkerja untuk pelayan rumah Ray.


Killa sengaja makan tidak memindahkan ke piring, biar tidak ada cucian piring. Makan di tempat pembungkusnya langsung.


Makan bersama dibagi menjadi dua, satu di depan televisi, lesehan bareng Killa. Khusus wanita.


Dan yang satunya lagi di halaman depan, khusus pria bersama para penjaga gerbang.


Tidak ada niat sedikitpun Killa belagu seperti nyonya besar. Ini hanya tanda terimakasih.


[Maafkan Istrimu, Suamiku. Hari ini aku mengatur para pelayan rumah.] Pesan singkat dari Killa yang dikirim ke Ray dengan di iringi emot memamerkan gigi.


Sejak pesan itu dikirim, belum ada balasan dari Ray, pikir Killa mungkin Ray sibuk. Kini malah dapat pemberitahuan dari pak Haris dirinya tidak boleh menonton televisi. Maksudnya apa coba?


Hal itu mampu membuat hati Killa terusik.

__ADS_1


Killa tahu, pasti Ray sudah diberi tahukan oleh pak Haris tentang kesibukan dirinya hari ini.


"Oh ..." Killa membulatkan bibirnya menanggapi ucapan pak Haris. Raut wajah Killa terlihat sendu.


Apa aku salah melakukan hal ini? batin Killa. Pikiran buruk menyelimuti.


"Saya permisi dulu, Nona. Silahkan lanjutkan aktivitas, Nona." pamit pak Haris. Dan Killa mengiyakan.


Kegembiraan yang tadi terpancar kini musnah. Hati Killa terusik dan pikiran Killa menerka-nerka. Baru saja akan kembali melanjutkan kebersamaan dengan para pelayan. Dering suara telepon dari hape Killa membuat Killa izin pamit mengangkat telepon. Di layar hapenya terpampang nama 'Kesayanganku.' Ray menelpon.


"Hallo ...."


[Hallo, Sayang ... maafin aku nggak balas chat kamu.]


"Hmmm, nggak papa, pasti suamiku sibuk.]


[Sedikit, aku---] ucapan Ray terpotong dengan ucapan Killa.


"Maafkan, aku. Sudah lancang mengatur pelayan rumah kamu, sayang. Maaf membuatmu tidak suka, maaf aku sok ngatur." ucap Killa bergetar. Yang Killa tangkap jika Ray tidak suka dengan tindakannya maka sebab itu lah Ray melarang dirinya tidak boleh nonton Televisi.


[Hus, bicara apa si kamu? Justru aku sangat suka dan bangga. Kau pengertian dengan pelayan rumah.]


[Tuh kan ... kamu salah paham. Maka sebab itu lah aku menelpon. Aku melarangmu karena waktunya istirahat, Sayang. Bukanya kau sendiri yang menyuruh para pelayan istirahat? Lalu kenapa kau mengajaknya menonton. Jadi isirahatnya terganggu. Dan kamu juga perlu istirahat, tidur siang.]


"Jadi itu alasannya." senyum bahagia terukir. Rasa gelisah yang tadi menggerogoti kini sirnah sudah.


[Iya, kalau bukan itu ... terus apa?


"Aku kira kamu tidak suka dengan perbuatanku." cekikikan.


[Mana mungkin. Yaudah kamu istirahat, jangan main hape tidak usah main medsos! ya, Sayang,] penekanan dikata medsos Ray sengaja. Karena berita yang sedang viral lebih marak di medsos.


"Siap laksanakan, suamiku." jawab Killa dengan penuh semangat 45.


[Kamu yakin kan, kalau aku sangat sayang sama kamu? Aku mencintaimu semuanya ... bahkan jempol kakimu pun, aku suka.]


"Sayang, kamu kenapa. Kok tiba-tiba bilang begini." Penuturan Ray justru mengusik ketenangannya lagi.


[Nggak papa, ini cuma meyakinkan kamu saja, Sayang. Kalau aku sangat sayang sama istriku. Selamat istirahat bidadariku. I love You.]

__ADS_1


Deg.


Hati Killa beebunga-bunga. Perkataan Ray mampu membuat Killa melayang, sederhana tapi menyenangkan. Killa mengatupkan bibirnya, wajahnya terpancar bahagia.


"Love you to. Selamat bekerja suamiku. Semangat! Kutunggu kepulangannya."


[Siap laksanakan, nyonya Ray. Bersiaplah untuk nanti malam.] jawab Ray sambil ketawa renyah, setelah selesai berucap Ray langsung memutuskan panggilan teleponnya. Ray yakin jika sekarang wajah Killa memerah merona, malu dan senang menjadi satu.


***


Killa menyuruh Nadia untuk main biar bisa makan malam bersama dan Nadia janji, kalau pulang kuliah akan mampir ke rumah. Bilangnya si kuliah selesai jam tiga sore.


Nyatanya jam masih menunjukan pukul dua, Nadia sudah sampai di halaman rumah. Nadia sengaja pulang lebih cepat. Nadia tidak mengikuti mata pelajaran terakhirnya.


Dengas-dengus berita yang lagi viral, heboh di kampusnya dan hal itu lah yang buat Nadia pulang lebih awal. Nadia takut terjadi apa-apa ke kaka iparnya dan hubungannya dengan ka Ray.


Bukanya perempuan itu hatinya ibarat tisu, lembut dan rapuh. Mudah tertawa, mudah terluka, mudah kecewa dan mudah mengalirkan air mata. Perempuan mudah memainkan hatinya. Mainannya pake perasaan .


Tok tok tok.


Nadia mengetuk pintu kamar utama.


Killa yang sedang membaca buku di sofa kamar bangkit ingin membuka pintu. Killa mengira yang mengetuk pintu itu pelayan rumah, tapi pas dibuka buat, Killa kaget.


"Nadia ... Kamu dah kemari? Bukanya kamu selesai kuliah jam tiga, ko sekarang sudah disini." tanyanya menyelidik.


"Iya, ka," Nadia meraih tangan kanan Killa mencium punggung tangannya. " Nadia sengaja pulang awal, kaka baik-baik saja kan?" Nadia mengamati tubuh Killa dari bawah sampai atas.


"Kaka nggak kenapa-kenapa, kamu kenapa seperti khawatir ke kaka. Aneh."


Nadia menghempaskan napasnya lega.


Sepertinya ka Killa belum tahu beritanya. batin Nadia.


"Haha, nggak papa. Siapa tau kaka sudah kangen banget sama aku, dan buat kaka sakit. Jhaa." Nadia sengaja berkilah dengan dibumbui bercanda.


"Bisa aja kamu. Sini peluk," Killa membuka kedua tangannya lebar-lebar.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2