
Nasib yang harus diterima, mencintai orang yang orang tersebut didalam hatinya sudah terisi orang lain. Tragis nasibnya, miris.
Kedua orangtua Ray, Ifan dan Nadia juga mengucapkan selamat atas berita gembira itu ke Killa, Putra dan kedua orang tua Killa.
Nadia dan kedua orang tua Ray juga sudah tahu, kalau Killa pergi dari Rumah menjelang pernikahan, tapi tidak tahu apa alasanya kenapa Killa pergi meninggalkannya. Karena Ray juga yang memberi tahu berita itu dan Ray juga tidak tahu. Baru tahu tadi ketika Killa menjelaskan.
Dalam pikiran Ray, Ifan, Nadia, dan kedua orang tua Ray. Kalau Killa pergi menjelang hari pernikahannya karena Killa tidak Cinta dengan calon mempelai prianya. Dengan sebab itulah Ray berniat untuk melamar Killa. Ternyata pikiran itu salah.
***
Ray saat ini sedang di infus, dirawat di Rumah. Ray jatuh sakit. Ray benar benar sangat terpukul, terpuruk.
Saat perjalanan menuju pulang, Ray hanya diam, membisu tak berkata sepatah katapun. Dan ketika di rest area pun Ray tidak makan apapun, meski sudah ditawarkan untuk memakan secuil makanan, Ray menolak, yang dilakukan Ray hanya diam menunduk.
Pak Jay memeluk Ray, pak Jay tidak tega melihat anaknya seperti itu. Dipeluk ayahnya, Ray langsung menumpahkan tangisannya yang sedari tadi ditahan, Ray meluapkan kesedihannya yang begitu dalam yang sangat menyakitkan.
Sampai rumah pun, Ray langsung masuk ke kamar lalu mengunci pintu kamar, didalam kamar Ray meluapkan kesedihannya dengan marah, didalam kamar Ray mengacak-ngacak kamar, membanting apa yang bisa dibanting, tapi ada satu bungkus kotak kecil yang terletak dinakas tidak ikut di banting, disenggol saja tidak. Padahal disamping samping kotak kecil itu sudah hancur di lempar, dibanting.
Ifan, kedua orang tua Ray dan Nadia yang khawatir dengan Ray. Ifan dan pak Jay berusaha keras membuka pintu kamar dengan mendobrak kamar, saat pintu kamar sudah Rusak dan bisa untuk masuk, mereka berempat langsung masuk dan mendapati kamar sudah seperti kapal pecah dan mendapati Ray yang sedang duduk di lantai bersandar ke dinding, terlihat sangat frustasi, menyedihkan, tak berdaya dan terlebih memilukan tangan jari jemari Ray terluka mengeluarkan darah karena bekas memukul kaca lemari.
Melihat tuanya seperti itu, Ifan lemas, sedih, cemas, ulu hatinya ter iris, terasa ngilu, nyeri yang menjalar ke ubun-ubun. Ini pertama kalinya Ifan melihat Ray sangat rapuh. Ifan tak tega melihat tuanya seperti itu. Apa yang Ray rasakan Ifan juga merasakan sakitnya, bahkan lebih sakit dari Ray. Ifan merasa bersalah, Ifan gagal menjaga Ray.
__ADS_1
Ifan manusia yang sulit menangis kini dia menangis, dia tidak sanggup melihat Ray seperti itu. Ifan sudah menganggap Ray adalah separuh jiwanya dan raganya. Ray adalah orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Ray penolong dalam hidupnya. Jasa Ray begitu sangat banyak dan besar ke Ifan.
Ray satu satunya orang yang peduli dengan Ifan saat Ifan dalam keadaan di titik terendah. Ray pahlawan dalam hidupnya. Ifan sudah berikrar akan menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk Menjaga Ray, membuat Ray bahagia. Tapi itu gagal! Ifan gagal. Kini tuanya lagi-lagi tersakiti, bahkan ini jauh lebih sangat menyakitkan untuk Ray, dari banyaknya masalah yang sudah dilalui.
Ifan langsung berhambur memeluk Ray yang sudah tak berdaya. Ifan memukul-mukul pipi Ray dengan lembut, " Tuan, ku mohon bertahan, Tuan Ku mohon! tuan Ku mohon bertahan. tuan Maafkan aku Tuan. Tuan...." suara berat Ifan. Suara tangisan itu pecah memenuhi ruangan kamar, bukan Ifan saja yang terluka, ada Nadia dan kedua orang tuanya yang ikut terluka. Ifan dengan susah payah mengambil hape yang berada di saku celana untuk menelepon Frans.
***
Aneh tapi nyata.
Sesakit itu kah?
Se cinta itu kah?
Ini aneh sangat aneh, saat Ray di putusin Raisa Ray tak terpuruk seperti ini, ya! memang Ray sedih sampai menangis, tapi tangisan Ray masih di batasan standar.
Tapi kenapa dengan ini? Ray baru pdkt lho? Atau Ray masih di tahap cinta dalam diam. Dan kenal baru 4 bulanan?
Bukanya seharusnya hal ini terjadi dulu ketika Ray di putusin Raisa?
Ray dan Raisa berpacaran sudah lama, Raisa yang selalu menemani Ray, kesehariannya. Tapi kenapa hal ini terjadi ketika Ray ditinggal Killa.
__ADS_1
Kondisi Ray semangkin menurun hingga Ray dilarikan ke rumah sakit dan kini sudah dirawat selama 2 hari, meski sudah dibawa ke Rumah sakit, tapi kondisi Ray semangkin drop di karena kan Ray tidak mau makan, setiap disuruh makan Ray benar-benar membungkam mulutnya.
Dibujuk siapa pun Ray tidak mau makan, Hingga semua orang yang membujuk stres, khawatir kondisi Ray yang semangkin lemah. Ketika Ray mau makan dia hanya makan satu suap. Dan selebihnya dia tidak mau lagi. Hingga kini orang-orang terdekat berusaha keras membujuk Ray agar makan lebih banyak. Jika Ray tidak mau makan, dikhawatirkan Ray akan semangkin lemah dan akan semangkin lama untuk sembuh.
"Tuan, makan lah, tuan jangan seperti ini. Apa tuan tidak mau sembuh?" Bujuk rayuan Ifan.
"Iya ka, makan ya." bujuk Nadia.
"Iya nak, please makan ya, makan demi ibu. Kamu harus sembuh nak." bujuk Ibu Ray.
"Buat apa aku sembuh? Hah!" Meski sedang sakit tapi ketegasan Ray masih ada.
"Killa, Demi nona Killa." tiba tiba muncul di benak pikiran Ifan secara spontan.
"Apa tuan tidak mau melihat hari bahagianya nona Killa?"
Dan ucapan Ifan berhasil membuat Semangat hidup Ray yang sudah redup kini bangkit, Perkataan Ifan itu membuat Ray semangat lagi. Ray berpikir dia harus datang ke hari bahagianya Killa, harus! Hari spesial orang di cinta, orang yang disayang harus datang.
Tiga hari kemudian kini Ray sudah sembuh, kondisi badan Ray sudah membaik tinggal luka yang di tangan yang masih diperban. Dan Frans pun mengizinkan Ray untuk pulang. Sepulang dari Rumah sakit Ray langsung masuk ke kamar yang dulu ditepati Killa.
Ray mendapati secarik kertas diatas nakas, Ray meraih kertas itu kemudian membacanya.
__ADS_1
Ray kaget membaca surat terimakasih yang ditulis Killa untuk dirinya, Ray tak menyangka. Ray langsung membuka lemari dan ternyata benar, Killa tidak membawa barang barang yang sudah pernah Ray belikan melalui Nadia. Killa hanya membawa sebuah boneka Teddy bear kecil warna pink. yang saat itu Ray sendiri yang membelikan, selain boneka semuanya tidak ada yang dibawa, mulai baju, tas, sepatu dan hape pun Killa tidak membawanya. Bahkan uang gajian Killa menjadi asisten pribadi Ray yang tiap bulan dikasih pun tidak dibawa, tersimpan rapi di dalam amplop coklat. Pantas saja saat Killa pulang barang bawaannya sedikit.
Bersambung...