Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Lagi!


__ADS_3

Killa tersenyum, mengakat tubuhnya agar tegak duduk, kemudian memajukan kepalanya mencium pipi kanan-kiri dan kening Ray.


"Dah ... buruan bangun gih,nanti keburu Shubuh, " meletakan tangan di pipi Ray.


Ray tersenyum lebar, pagi-pagi dapat hal terindah, "ini nggak?" tanya Ray sambil mengerucutkan. Manyun.


"Hah ... itu juga?" tanya balik Killa, mulut terbuka. Ray mengangguk masih dengan tampang manyun. Tanpa ragu Killa langsung mencium. Niat Killa hanya ingin mencium sekilas, tapi bibir Ray membungkam mulut Killa, menekan tengkuk Killa. Killa terbelalak.


"Apa yang kamu lakukan!?" cetus Killa begitu Ray melepaskannya.


"Hanya membalas permainan kamu saja, Sayang." Ray bangkit dengan senyum penuh kemenangan.


"Permainan apa?" Dahi Killa berkerut.


"Kau yang memulai menciumku, tidak ada kucing yang akan menolak jika disungguhkan ikan segar."


"Kau yang menyuruh!" mata Killa melotot, menarik wajahnya menjauh dari Ray, tapi Ray lebih gesit. Ray menarik tengkuk Killa lagi. Kembali mencium.


Dengan terpaksa Ray melepaskannya setelah dada Ray dan Killa merasa sesak kehabisan oksigen. Ray menyatukan keningnya.


"Kau membuat aku gila, bolehkah?" bisik Ray serak.


Killa tahu apa permintaan dari Ray. Killa menggeleng, "maaf!"


"Kenapa? Bukanya semalam aku belum dapat?" suaranya masih serak. Sehabis dari rumah baru orang tua Killa. Ray tidak berani memintanya. Melihat Killa letih Ray tidak tega. Ray membiarkan Killa langsung terlelap tidur.


"Bentar lagi shubuh, sayang." alasan Killa. Jujur Killa masih sedikit malu jika harus seperti itu lagi. Masih canggung.


"Hanya sebentar, boleh yah?"


Melihat expresi Ray, Killa tidak tega. Napas Ray begitu sangat bergemuruh. Akhirnya Killa mengangguk.


***


Killa berdiri didepan cermin, memantulkan tubuhnya yang sudah berpakaian rapi. Terukir senyuman dibibir Killa. 10 menit yang lalu Ray menelpon, menyuruh Killa untuk datang ke kantornya. Ini pertama kalinya Killa akan masuk ke kantor Ray.

__ADS_1


Karena tidak mau lama-lama Killa bersegera menyambar tasnya jalan menuju lemari mengambil uang di brankas yang Ray beri. Ray bukan memberi brankas yang berisi uang saja, tapi Ray juga memberi Killa kartu Atm. Dengan no pin yang sama--tanggal lahir Killa.


Turun ke bawah, Killa mampir ke dapur dulu, mengambil tuperware lalu di isi makanan masakan pelayan. Killa ingin terkesan baik dimata Ray. Membawakan makanan untuk makan siang, meski Ray tidak menyuruh.


Bi Siti sudah menawarkan jasa memasukan makanan ke dalam tuperware, tapi Killa menolak. Killa ingin yang mengerjakan, toh kerjaan yang gampang.


Reva--sekarang bertugas menjadi pengawal pribadi Killa, membuka pintu mobil saat Killa sudah terlihat, "selamat siang, non." Reva membungkuk hormat. Diikuti penjaga rumah yang ada disekitar.


"Siang," Killa tersenyum merekah. Ada rasa canggung Killa di hormati seperti itu. Waktu Ray memutuskan memberi pengawal pribadi. Killa menolak, tapi Ray kekeh. Katanya demi kebaikan Killa.


Killa masuk ke mobil. Reva dengan pelan menutup pintu mobil, memutar, masuk ke mobil duduk di kursi kendali. Melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


***


Ray tersenyum memandangi foto Killa yang diam-diam Ray ambil saat Killa terlelap tidur. Terlihat sosok Killa yang sedang terlelap tidur dengan sedikit mulut terbuka dan ada beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantiknya.


Tangan Ray menelusuri wajah polos Killa. Killa semakin terlihat menarik, apalagi ... Ray terkekeh menyadari betapa kotor pikirannya saat ini.


Dasar otak mesum! umpat Ray geli. Ray sudah tidak sabar menunggu kedatangan Killa.


Ifan yang sedang duduk disofa sambil berkutat dengan laptopnya, Ifan tersenyum saat melihat Ray tersenyum sambil memandangi ponselnya. Ifan yakin jika yang sedang di lihat Ray, itu pasti foto Istri tercintanya.


"Hei, Ray apa kabar?" tanya Raisa hendak memeluk Ray, tapi urung karna Ray berdiri dan berjalan memutari meja kerjanya.


Senyum Raisa memudar. "Kenapa, kamu sekarang berubah? Aku kangen kamu yang dulu," Raisa mendekati Ray perlahan, jemari lentiknya memainkan dasi Ray. "Dua tahun jauh dari kamu buat aku sadar kalau aku cinta banget sama kamu. Jangan tolak aku terus," ucapnya menatap Ray sendu.


Pertemuan terakhir Ray dan Raisa dulu terkesan buruk, dimana Ray dengan jelas dan tegas memutus hubungan apapun, entah teman atau apalah. Ray menyuruh kalau Raisa disuruh tidak pernah mengenal Ray.


Raisa disuruh seperti itu mana bisa. Raisa sakit hati. Raisa tidak ada celah lagi untuk mendekati Ray.


Hingga akhirnya saat Raisa mendengar kabar dari Nadia jika Ray frustasi karena Killa menikah dengan pria lain. Raisa sepeti dapat udara segar, bisa mendekati Ray lagi. Nyatanya tidak bisa.


Keputusan Raisa akhirnya pergi ke luar Negeri. Berharap jika kepergiannya bisa buat Ray merasa kehilangan. Lagi-lagi Ray tidak merasa kehilangan. Marah dan kesal sudah pasti Raisa rasakan.


Raisa pulang kembali lagi ke tempat tinggalnya karena melihat berita Ray akan menikah, dan sialnya Ray menikah dengan wanita yang sama--Killa!

__ADS_1


Tekad Raisa bulat, jika Ray dulu mencampakannya, saatnya sekarang kembali lagi dengan niat licik. Ingin menghancurkan hubungan Ray dan Killa. Cukup dulu menyerah, tapi maaf saat ini tidak ada kata menyerah. Begitu niat licik Raisa.


Tangan Ray menangkap tangan Raisa yang mulai merangkak naik ke pipinya.


"Apa kamu tidak tau arti jangan menggangguku. Dulu-dulu, sekarang-sekarang. Sekarang ada wanita lain yang kucintai. Jadi menyingkirlah," geram Ray pelan, tapi sorot matanya membuat Raisa bergidik.


***


Killa sudah sampai di kantor. Semua karyawan yang lihat Killa tersenyum, menyapa dan membungkuk hormat. Mereka sudah tau siapa Killa. Tau saat hari pernikahannya, membuat masih terekam jelas wajah Killa di pikiran para karyawan.


Karyawan yang tadi liat Raisa datang merasa cemas. Istri bosnya datang sementara mantan kekasihnya masih didalam kantor.


Ting! Lift terbuka. Killa da Reva keluar. Seperti pesan Ifan, nona Killa disuruh masuk langsung tanpa harus mengetok pintu.


Saat Killa sudah didepan pintu hendak membuka pintu Reva permisi, pergi. Kembali ke mobil.


Killa dengan ragu-ragu membuka pintu.


***


Masih dengan niat awal, Raisa tidak mau menyerah. Tangan satu Raisa menarik tengkuk Ray, mencium Ray. Raisa inging seperti dulu, yang melakukan ciuman berbagi kasih sayang dan cinta.


"Sa---," suara Killa terpotong. Dia tercekat melihat pemandangan di depannya. Keduanya terlihat intim berciuman dengan tangan Raisa ditengkuk Ray, sementara Ray sedang menggenggam tangan wanita itu.


Mendengar suara Killa, Ray menarik tubuhnya menjauh kemudian langsung mendorong tubuh Raisa.


Raisa tersenyum licik. Dia tidak menyangka Killa akan melihat ini, sebuah kebetulan yang beruntung, ingin memanfaatkan situasi dengan memancing kemarahan Killa. Jika Raisa ditolak maka Ray tidak boleh bahagia langgeng dengan wanita itu.


"Killa, ini---" kata-kata Ray terjeda ketika sebuah tuperware yang dipegang Killa jatuh ke lantai.


Lagi!


Dalam kasus yang sama!


Hanya beda orang, apa dunia sebercanda ini? Takdir begitu mempermainkan!

__ADS_1


Mata Killa memanas, dada terasa sesak, Killa merasa sulit menghirup oksigen. Kaki melemah, darah menaik. Sekuat tenaga Killa memutar tubuhnya, keluar. Sakit! Berlalu keluar ruangan dengan berbarengan air mata keluar deras membuat aliran sungai dipipi.


Bersambung ...


__ADS_2