Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Akan Aku Hapus!


__ADS_3

Setelah mengantar ibu Laras, Ayah Jay, dan Nadia, pulang. Ray langsung mandi. Sementara Killa yang sudah mandi di sana hanya mengganti baju.


Killa malam ini ingin menjadi seorang istri yang baik untuk Ray. Killa akan membuang rasa canggung, malu atau apalah, akan dibuang jauh-jauh. Hus ... sanah!


Akan menjadi Istri yang sedap dipandang suami. Menyenangkan suaminya. Killa berpakain baju tidur berlengan pendek bercelana panjang. Killa tidak menggunakan hijab. Melepasnya. Killa akan menampakannya, karena sudah jadi hak untuk Ray. Uhuy! Ehem!


Killa Menyisir rambut agar terlihat rapih.


Killa terus menatapi wajahnya didepan cermin, senyam-senyum sembari pikirannya memantapkan kalau yang dilakukan itu benar.


Tanpa Killa sadari Ray sudah keluar dari kamar mandi.


"Syakilla." ucap Ray pelan, Ray terkejut melihat penampakan yang indah. Ini pertama kali Ray melihat rambut indah Killa, rambut lurus sebahu, dan ini pertama kalinya Ray melihat kulit mulus Killa dibagian lengan kebawah. Selama ini Ray hanya melihat telapak tangan dan wajahnya saja.


Ray yang masih memakai handuk dia berjalan menuju Killa yang sedang duduk di kursi rias.


"Killa," ucap Ray saat sudah berdiri tepat dibelakang Killa, dari kaca memantulkan tubuh Ray yang setengah telanjang.


"Tuan!" Killa kaget, mata terbelalak, sedikit-dikit mulut terbuka membentuk huruf o, melihat tubuh Ray yang masih menggunakan handuk, rambut yang masih basah, dan dada yang masih basah. Killa risih liat Ray yang masih bertelanjang dada seperti itu. Killa langsung menutup matanya menggunakan kedua telapak tangan.


"Kenapa? Kenapa harus ditutup?" Ray gemas dengan sifat Killa, Killa yang sudah memberi lampu hijau, kini malah seperti orang malu.


"Aku risih tuan seperti itu." masih menutup matanya.


"Baiklah, aku akan segera mengenakan pakaian." niat ingin memeluk sang istri dari arah belakang, diurungkan. Yah ... gagal.


Ray berlalu langsung masuk ke ruang ganti.


Sambil ganti baju Ray bergumam.


Kau sungguh menggemaskan, kau bukan anak gadis, Syakilla, tapi kenapa kau seperti anak gadis yang polos. Hanya melihat aku setengah telanjang kau malu? Bukanya kau sudah pernah melihat yang lebih dari ini.


Ahh ... sial!

__ADS_1


Piikiran Ray menuju ke Killa dan Putra, dulu. Ray kesal dan juga marah. Tubuh Killa dulu sudah dilahap dan dijamah oleh Putra. Membayangkan, Ray jadi murka. Ray mengepalkan tangan, menahan emosi.


"Tenang, Ray. Tarik napas keluarkan. Tarik napas keluarkan," ucap Ray pelan, sambil menarik napas dalam, terus keluarkan secara kasar.


"Tenang, Ray. Memang Killa bekas Putra, tapi kau bisa menghapus jejak itu semua."


Huft ... hembusan napas.


"Akan aku hapus!"


***


Ray keluar dari ruang ganti dalam keadaan sudah kondusif, api cemburu kemarahannya sudah mereda.


Ray mendekati Killa yang masih duduk di bangku rias.


"Boleh aku memelukmu?" sekarang Ray sudah berdiri dibelakang tubuh Killa, pandangan mata menuju ke kaca rias. Membuat Ray dan Killa saling beradu pandang lewat pantulan kaca.


Hati Killa yang dari tadi sudah dikuatkan kini melemah, pikiran canggung yang sudah diniatkan akan dihembuskan kini kembali lagi. Killa gugup, Killa segera menunduk dari pantulan kaca, bertatap mata dengan Ray, walau lewat kaca, buat jantung Killa tidak sehat. Berdetak lebih cepat dari seharusnya.


"Diam mu, pertanda mengizinkan," tanpa persetujuan, tangan Ray sudah melingkar di leher Killa. Meletakan janggutnya di kepala Killa. "Kamu, gugup?"


Tidak ada jawaban dari Killa. "Suara jantungmu begitu keras. Terimakasih kau mau menampakan rambutmu dihadapan ku, rambutmu indah, wangi."


Posisi Ray yang sekarang, dan mendengar ucapan Ray barusan yang tepat disisi telinganya membuat badan Killa serasa digletiki. Killa mendongak, memandang wajah Ray dari kaca, Ray melempar senyum.


"Sudah menjadi hak tuan untuk melihatnya." Killa berusaha menormalkan jiwanya yang bergejolak.


"Kamu, sangat cantik." selesai berucap Ray langsung mencium pipi kanan Killa.


Wajah Killa yang polos tanpa make up, mendengar pujian dan ciuman dari Ray. Wajah Killa bersemu merah.


Ray melepaskan pelukanya, mengakat kepalanya. Ray langsung menarik tangan Killa untuk bangkit. Killa hanya patuh, beranjak berdiri.

__ADS_1


"Mau kemana, tuan?"


"Kita nikmati malam yang indah ini. Cuaca yang terang di hiasi bintang dan bulan, cocok untuk Kita nikmati. Aku hanya ingin mengajak kau ke balkon." Ray terkekeh melihat expresi Killa yang canggung.


"Sebentar, tuan. Saya ambil hijab, bukanya dibawah ada pak penjaga?" Killa melepaskan genggaman Ray, jalan menuju lemari mengambil hijab.


"Ha, iya itu." Ray tersenyum, Ray sangat-sangat bersyukur mendapatkan istri yang bisa menjaga tubuhnya agar tidak dikonsumsi oleh semua orang, hanya orang tertentu yang bisa melihat keindahan tubuhnya.


Ray memandangi tubuh Killa dari arah belakang, senyumannya mengembang.


***


"Bintang itu cantik ya? Indah dan menarik dipandang?" Killa mengangguk, setuju dengan pendapat Ray.


Saat ini Ray dan Killa sudah berdiri di balkon. Tangan kanan Ray melingkar di pinggang ramping Killa, sementara Killa berpegangan ke pembatas besi.


"Begitu dengan kamu, cantik dan menarik dipandang."


"Jauh lebih cantikan Bintang," Killa tidak terkoceh dengan ucapan Ray. Jelas-jelas jauh lebih cantikan Bintang yang jauh diatas ketinggian. Killa masih menatap ke langit. Memandangi ciptaan tuhan yang begitu indah.


"Percayalah, kau jauh lebih cantik darinya, dan lebih-lebih dari Bintang."


Kali ini Killa tidak sependapat dengan Ray, mengalihkan pandangannya mendobgakke wajah Ray. Minta penjelasan.


Jauh lebih cantik gimana? Bohong juga ada batasnya, tuan. Jangan mentang-mentang sekarang aku ada disisimu dan Bintang jauh di angkasa, kau dengan enaknya berkata seperti itu hanya untuk menyenangkan aku.


Wajah polos Killa, pandangan mata yang kini berdekatan membuat Ray sedikit tidak normal, Ray lelaki normal. Berdekatan dengan Killa saja, sekuat tenaga Ray menahan gejolak hasratnya. Dan apa kali ini? Benar-benar menggoda. Mata Killa yang sedikit besar, bulat. Bulu mata yang lentik. Bibir yang ranum. Ah ... Ray berusaha menahannya. Sampai benar-benar nunggu Killa siap. Tanpa ada paksaan.


Yang dilakukan Ray menelan ludahnya kemudian menarik kedua sudut bibirnya keatas, membentuk senyuman yang indah, mata Ray berubah berbentuk seperti bulan sabit. Senyuman itu tanpa Ray sadari buat Killa terlena. Killa buru-buru menunduk. Tidak kuat iman, melihat makhluk ciptaan tuhan yang sekarang sedang memeluk tubuh mungilnya.


Ah, tuan Ray! Kenapa kau begitu rupawan? tidak ada celah kekurangan sedikitpun!


"Bintang memang indah dan cantik. Namun, sayang. Keindahannya dan kecantikannya, semua makhluk bebas memandangnya. Dan Bintang hanya bisa dilihat keindahannya dan kencantikanya hanya di malam hari. Sementara kamu, kecantikan dan keindahannya terjaga, hanya orang tertentu yang bisa memandang mu, dan kecantikan mu, bukan hanya malam saja. Terpancar setiap waktu, pagi, siang, sore, dan malam."

__ADS_1


Ray menarik pelan kepala Killa, untuk saling bertatap kembali dengannya.


Bersambung ...


__ADS_2