Kisah Cinta CEO Muda

Kisah Cinta CEO Muda
Cium paginya mana?


__ADS_3

Mobil yang dinaiki Killa, Ray, dan Ifan memasuki rumah mewah tiga lantai dengan empat pilar utama, itu terlihat sangat megah.


Killa terbengong, bukan karena kemewahan rumah tersebut, tapi Killa bengong mau apa kerumah ini? Bukanya Ray ingin mengajak ke suatu tempat. Apa ini? Ke suatu tempat bermain ke rumah seseorang yang entah siapa pemilik rumah tersebut.


"Sayang," Killa menarik lengan Ray, menatap, minta penjelasan. "Mau ngapain dan ini rumah siapa? Aku takut," ucapnya pelan.


"Dah, tenang," Ray melepas jeratan dari Killa, "nanti kamu tahu." Ray beranjak keluar mobil. Memutar, membuka pintu mobil untuk Killa. Mengulurkan tangan ke arah Killa.


Killa ragu-ragu. Tidak mau menerima uluran tangan Ray. Killa bergeming. Killa takut jika rumah itu rumah temannya Ray. Killa minder.


"Ayok turun," ucap Ray lembut.


Killa masih tetap bergeming. Akhirnya setengah badan Ray masuk ke mobil, "kenapa nggak mau turun, hmm?"


"Ini rumah siapa? Rekan bisnis kamu? Aku masih belum siap jika bertemu dengan teman bisnismu," ucap Killa sendu.


Saat acara pernikahannya, Killa memandang tamu undangan rata-rata orang yang berkelas. Jadi buat Killa minder kalau mau bertemu dengan rekan Ray.


"Ini bukan rumah temanku," mencium pucuk kepala Killa. "Ayok turun, jangan minder!"


Akhirnya dengan penuh keraguan Killa turun dari mobil. Menggenggam jari jemari Ray kuat-kuat.


Baru keluar, Killa menengok kearah gerbang melihat mobil sedan hitam yang baru masuk. Tepat didepan Killa dan Ray mobil berhenti. Orang yang berpakain serba hitam langsung menghampiri mobil, membuka pintu mobil. Mata Killa terbelalak kaget.


Itu keluarganya--Ibu, Bapak, dan Vino. Ray menyambut sang mertua dan adik ipar dengan hangat. Segera menghampirinya lalu mencium punggung tangan pak Agus lanjut mencium punggung tangan Ibu. Killa pun melakukan hal yang sama cuma bedanya Killa berpelukan. Di Vino, Vino yang mencium punggung tangan Ray dan Killa.


Killa langsung memeluk Vino. Adek kesayangannya.


***

__ADS_1


Tidak menyangka, ternyata rumah yang sekarang dipinjaki itu buat orang tua Killa.


Ibu, Bapak, Vino, dan Killa juga kaget. Ray baru jadi menantunya, langsung memberikan rumah semewah ini.


"Apa ini tidak salah, nak Ray?" tanya bapak.


"Iya, nak. Ini terlalu berlebihan," timpal ibu.


Ray tersenyum. "Tidak sama sekali. Ibu dan bapak sudah menjadi orang tua saya. Ini hanya secuil rasa bhakti saya. Saya akan berusaha membahagiakan Ibu, Bapak dan Vino sebisa saya. Sebagaimana ibu, Bapak dan Vino membahagiakan istri saya." Ray melingkarkan tangan ke pinggang Killa. Memamerkan ke orang tua Killa dan Vino. Jika dirinya sangat menyayangi Killa.


"Sayang, apa ini tidak berlebihan?" ucap Killa pelan. Killa bukan tidak senang orang tuanya di kasih rumah mewah, hanya saja Killa ragu dan tidak enak hati ke Ray.


"Tidak!" Ray memperketat pelukannya di pinggang ramping Killa. "Bahkan ini belum ada apa-apanya, Sayang. Dulu kau menolak rumah pemberianku karena aku bukan siapa-siapanya. Dan sekarang aku suamimu dan menantunya. Sudah kewajiban aku membahagiakan keluarga mu. Keluarga mu keluargaku. Aku mengambil anak perempuannya untuk menjadikan istriku. Anak yang dibesarkan penuh dengan kasih sayang. Ini hanya sedikit membalas jasanya.


Dan apa kau tega ibu dan bapak tinggal dirumah sederhana, sementara kita tinggal dirumah mewah nan megah?"


"Nah, kamu saja tidak tega. Begitupun aku." imbuh Ray.


"Harusnya aku yang memberikan rumah untuk orang tuaku. Bukan kau. Aku anaknya, aku anak tidak becus, rumah kecil saja belum bisa aku membelikannya, malah aku banyak menyusahkan."


"Hush!" Ray mengusap air mata Killa yang mengalir pelan di pipi. "Kau bukan tidak becus, hanya saja belum kesampaian. Maka itulah aku yang mewujudkan keinginanmu. Aku menyuruhmu untuk berhenti berkerja, berarti kewajiban aku menggantikan posisi mu memberi rezeki yang seharusnya ibu dan bapak dapat dari kau, ketika kamu berkerja."


"Terimakasih banyak, Sayang," Killa lansung memeluk Ray. Menenggelamkan wajah di dada Ray. Ketakutannya tentang tidak bisa ngasih uang lagi ke keluarganya karena tidak boleh berkerja, Killa bisa ngasih kecuali jika Ray mengizinkan kalau Rat tidak mengizinkan terus bagaimana keadaan ekonomi keluarganya yang membutuhkan dana banyak untuk sekolah Vino? Apa akan terbelalai? Apalagi sang ayah hanya berkerja ojek online.


"Tidak perlu berterimakasih, Sayang. Sudah kewajiban aku." Ray mengusap-ngusap punggung Killa dan mencium pucuk kepala Killa.


Killa tidak menjawab, dia terlarut dalam kebahagiaan. Mempererat pelukanya.


"Dan, bapak, tidak perlu berkerja lagi, pak. Saya yang akan menanggung kebutuhan sehari-harinya termasuk pendidikan Vino. Sudah cukup bapak berkerja. Waktunya bapak beristirahat." ucap Ray lagi.

__ADS_1


Killa mendongak.


"Jangan bilang ini beelebihan," penekanan Ray yang tau kalau Killa akan memprotes. Ray menunduk, saling bertatap dengan Killa. "Bagaimana aku bisa membiarkan bapak bekerja. Sementara perkerjaan bapak ... Aku penanam saham terbesar di perusahaan ojek online, hmm. Cukup dulu aku tidak bisa berkutik, tapi sekarang aku tidak mau diam." menggesek-gesekan hidungnya ke hidung Killa.


"Aku bukan hanya ingin jadi suami yang, baik, tapi aku juga ingin jadi menantu yang baik. Sudahlah, jangan ngerasa tidak enak hati atau tidak pantas," lanjutnya. Ray mendorong bahu Killa untuk menjauh. Kemudian menggandeng tangan Killa mengajak masuk melihat-melihat isi dalam rumah.


***


Killa sudah selesai menjalankan sholat malam, tapi Ray belum juga bangun. Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat shubuh.


Killa berniat membangunkan suaminya. Berjalan menuju ranjang. Duduk di tepi ranjang. Killa tidak langsung membangunkan Ray. Killa memandangi wajah Ray. Mengusap-ngusap pelan rambut Ray.


Killa tidak menyangka jika dirinya akhirnya jadi istri Ray. Tidak pernah terbenak sedikit pun dipikiranya. Killa pun tidak percaya, bisa luluh hatinya, dengan mudah menerima cinta Ray yang kelihatan tulus dalam hati. Hati Killa yang sudah mati rasa, bisa disembuhkan dengan perjuangan Ray yang luar biasa.


Killa juga tidak percaya, jika dirinya sangat dicintai oleh Ray. Padahal Ray orang kaya, rupawan--sudah pasti banyak wanita cantik yang mengantri ingin menjadi kekasihnya.


Namun, Ray malah mencintai Killa. Wanita biasa, jauh lebih cantik wanita diluaran sana.


Apa yang membuat Ray suka ke dirinya? Tanda tanya besar itu selalu menyelimuti pikiran Killa.


Tidak mau memandang lama-lama wajah sang suami. Killa dengan lembut dan pelan membangunkan Ray.


Ray Menggeliat, membuka sedikit matanya sambil tersenyum kearah Killa. Alih-alih bukanya bangkit bangun. Ray malah menarik tangan Killa sampai Killa jatuh didada Ray, langsung memeluknya seenak jidat. Kepalanya ngusel-ngusel di pundak Killa.


"Cium paginya mana?" ucapnya dengan bersuara serak.


Bersambung ...


Baper nggak?

__ADS_1


__ADS_2